Review Film: War for the Planet of the Apes (2017)


thumb-128656

Film War for the Planet of the Apes adalah film ketiga dari seri Planet of the Apes. Awalnya gue belum pernah menonton dua film sebelumnya yaitu Rise of the Planet of the Apes (2011) dan Dawn of the Planet of the Apes (2014) karena gue mikirnya ini adalah film seri berkepanjangan ala-ala Star Wars jadi buat ngikutin filmnya dari awal rada males. Sampai suatu malam beberapa waktu lalu salah satu stasiun TV menayangkan film yang pertama, Rise of the Planet of the Apes dan gue tonton secara nggak sengaja.

Ternyata bagus! Yampun! Gue kok nggak tau film sebagus ini! Jadilah gue nyesel nggak ngikutin filmnya apa lagi tahun 2017 ini rilis film ke tiga ditambah lagi Lombok udah punya bioskop! Damn!

War for the Planet of the Apes melanjutkan kisah Caesar (Andy Serkis), si raja kera yang memimpin kawanannya menyepi di hutan. Sebenarnya sih Caesar pengen banget tinggal berdampingan sama manusia apalagi kalo inget kasih sayang tuannya di film pertama yang dulu diperankan James Franco tapi kayaknya emang nggak bisa. Malah Caesar dan kaumnya diburu terus sama militer.

Yang paling nyes ketika Caesar mendapati orang tersayangnya terbunuh oleh seorang Kolonel (Woody Harrelson) yang bikin dia dendam setengah mati. Caesar lalu memerintahkan rakyatnya buat ngungsi dan dianya mau nyusul Kolonel buat balas dendam. Ada karakter baru di sini yaitu Bad Ape (Steve Zahn) yang seekor kera yang lawakannya garing banget! Lalu seorang gadis kecil yang nantinya dikenal dengan nama Nova (Amiah Miller) seorang bisu penderita wabah Simian.

Kalo ngeliat kata “War” di awal judul filmnya pasti kebayang sama pertempuran maha dahsyat antara kera dan manusia. Ada sih perangnya tapi didominasi sama perang batin. Perang perasaan. Pokoknya drama banget tapi drama yang luar biasa keren! Filmnya bikin kita lebih cenderung iba dan berpihak sama kera. Gue suka banget sama Caesar. Pemimpin yang benar-benar bertanggung jawab dan rela berkorban demi rakyatnya. Dia juga sebenarnya nggak pernah mau berperang tapi karena dendam, dia kemudian akhirnya menyadari kalo dia nggak ubahnya seperti Koba. Efek spesialnya udah nggak bisa diragukan lagi kerennya. Kera-kera yang menenteng senjata keliatan sangat nyata! Seolah-olah they’re real ape! Tatapan mata Caesar yang tajam memang udah menarik perhatian dari film pertama. Keliatan banget perkembangan Caesar dari yang awalnya ngomong beberapa kata, di film ini udah lancar berbicara.

Meski menurut gue film ini lebih drama ketimbang dua film sebelumnya, War for the Planet of the Apes adalah film drama yang keren! Ceritanya kuat dan emosional. Nggak melulu film bagus itu adalah tentang efek spesial canggih dan megah kalo ceritanya cheesy ya bikin bosen tapi War for the Planet of the Apes ini adalah contoh film yang mencangkup semuanya!

Tiga setengah!

 

 

 

 

 

Iklan

Review Film: Power Rangers (2017)


Sejak pertama kali digembar-gemborkan bahwa film Power Rangers akan diproduksi, gue excited banget. Sebagai insan dunia yang masa anak-anaknya di era 90-an, adalah sebuah hal yang membahagiakan banget bisa bernostalgia dengan masa-masa itu.

Gue inget banget ketika masih SD serial Mighty Morphin Power Rangers dengan Power-Rangers-thing-nya. Gerakan berubahnya, kostumnya, robot-robotnya dan gue rasa generasi 90-an rata-rata memiliki feel yang sama dengan gue tentang Power Rangers.

Film Power Rangers yang disutradarai oleh Dean Israelite ini menceritakan tentang 5 orang teenagers, Jason (Dacre Montgomery), Kimberly (Naomi Scott), Billy (RJ Cyler), Zack (Ludi Lin) dan Trini (Becky G) yang secara kebetulan bertemu di sebuah tambang dan mendapatkan beberapa koin misterius yang kemudian membawa mereka ke sebuah pesawat luar angkasa. Di dalamnya ternyata ada sebuah robot bernama Alpha 5 (Bill Hader) dan semacam hologram di tembok bernama Zordon (Bryan Cranston) untuk membangkitkan kembali para Rangers demi melawan Rita Repulsa (Elizabeth Banks) yang berencana ingin menguasai dunia.

Cukstaw, film ini sangat jauh berbeda dengan versi serialnya. Yang gue tau anak-anak rangers ini nggak punya kekuatan super tapi di film ini mereka punya! Ya, something like a superhero! Kalau di serial, Zack (Ranger Hitam) berkulit hitam, di sini justru Billy (Ranger Biru) yang berkulit hitam. Belum lagi kostumnya yang menurut gue ewh banget. Apalagi zord dan megazord-nya nggak kalah ewh! Gue kurang suka. Robot Alpha 5 udah keliatan kayak kodok dan gue kudu yakinin diri sampai mendekati ending kalo film yang gue tonton ini adalah film Power Rangers. Nggak ada tuh adegan henshin/berubah (disebut Morphing di film ini) ala-ala mereka seperti di serialnya sambil teriak “Saatnya berubah!” atau “It’s morphin time!”. Bahkan ketika gue liat zord dan megazord-nya ada semacam Transformers vibes cuma dengan adegan fighting yang lambat dan payah banget. Efek visualnya juga nggak terlihat begitu nyata.

Film Power Rangers ini lebih tepatnya adalah film superhero rasa Transformers dan menurut gue nostalgic-nya cuma pas lagu “Go Go Power Rangers!” berkumandang di tengah film dan kejutan banget sama cameo Jason David Frank (Tommy/Ranger Putih) dan Amy Jo Johnson (Kimberly/Ranger Pink) di serial Mighty Morphin Power Rangers.

Dua setengah!

Swa


Hi, aku pengen share sesuatu. Hari ini, aku lumayan sibuk dan akan selalu sibuk terus menerus ke depannya.

Beberapa waktu lalu ada orang yang bersedia membantuku menyelesaikan pekerjaan. Meringankan pekerjaan tepatnya. Aku sebenarnya tipikal single fighter, yang terbiasa mengerjakan sesuatu itu sendiri tapi kalau ada yang mau bantuin, silakan. Nggak juga nggak masalah.

Berhubung orang ini kekeuh banget mau bantuin dan berjanji akan konsisten karena pekerjaan tersebut berjangka panjang, akhirnya aku setuju. Di bulan pertama, kerjaanku sangat terbantu. Aku jadi bisa lebih fokus menyelesaikannya tanpa harus ribet mikirin ini itu setiap harinya karena memang ada yang menyelesaikannya. Tapi beberapa hari terakhir, tidak ada lagi bantuan. Tidak ada lagi penyelesaian. Aku mulai bingung. Padahal aku telah mulai terbiasa dengan bantuannya.

Sebenarnya nggak apa-apa juga dia berhenti bantuin karena pada dasarnya aku udah terbiasa bekerja sendiri. Aku masih bisa menyelesaikan semuanya. Makanya dari dulu aku selalu meyakinkan diri untuk nggak pernah tergantung sama orang lain. Bergantung sama orang itu nggak enak banget. 

Ketika berbagai macam hal bisa ku selesaikan sendiri, ada rasa kepuasan. Kepuasan dan kebanggaan terhadap diri sendiri. Perasaan free karena nggak ngerepotin siapapun. Kalaupun nanti ada kesalahan, nggak akan ada yang disalahkan selain diri sendiri. Semua tergantung sama diri sendiri.

Terima kasih telah membantuku selama ini.

Belajar Bahasa Indonesia (Lagi)


Setiap orang udah pasti punya pelajaran favorit ketika masih sekolah. Termasuk gue. Pas SD, gue paling suka pelajaran IPA. Pas SMP, gue jadi suka pelajaran Bahasa Indonesia dan untuk IPA, mengerucut ke Biologi. Pas SMA, gue masih demen sama pelajaran Bahasa Indonesia. Makin demen malah apalagi gue anak mading.

Suka baca, nulis dan ngomik gue berasa ngepas aja kalo masuk kelas bahasa. Tapi sedari kecil gue bercita-cita pengen jadi dokter. Serius! Ini bukan cita-cita cheesy khas anak sekolah dasar. Masuk SMP lalu ke SMA, di dalem hati, gue masih berangan-angan kalo kelak bisa jadi dokter. #pret

Faktanya, di SMA nilai Bahasa Indonesia gue yahut loh. Malah nilai pengetahuan alam gue yang jeblok apalagi fisika paling parah. Ketika pembagian jurusan, guru kesiswaan gue malah jeblosin gue ke kelas bahasa. Bete banget tau nggak sih lo. Di opsi penjuruan, pilihan pertama dan kedua gue kelas IPA no matter what! Eh, malah dijeblosin ke kelas bahasa! Aduh gue ngerasa kecewa banget sampe akhirnya gue protes dong dan well masuk kelas IPA juga gue.

Belasan tahun kemudian, gue malah kerja di media. Kalau tau di masa depan bakal kerja di media kenapa nggak masuk kelas bahasa cobak? Gue masih percaya sama mimpi sih. Gue jadi inget penjelasan guru kesiswaan gue di SMA. Lupa namanya.

“Kenapa ibu jeblosin kamu, eh, masukin kamu ke kelas bahasa, karena nilai bahasa kamu bagus. Coba liat nilai Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris kamu, sun bright banget! Like a diamond in the sky!” sambil nyodorin rapor gue yang berkilau.

“Tapi buug, pilihan pertama dan kedua saya IPA. Pokoknya kelas IPA!”

“Kamu bisa berhasil loh nantinya kalo masuk kelas bahasa.”

Lama-lama guru gue udah kayak sorting hat-nya Hogwarts di cerita Harry Potter. Nyanyi-nyanyi sambil menimbang-nimbang kira-kira siswanya mau dijeblosin ke asrama yang mana.

Selama tiga tahun di SMA, gue makin cinta sama pelajaran Bahasa Indonesia. Termasuk guru-gurunya. Gue makin sering menulis, bikin komik dan bikin cerpen.

Gue akhirnya nyadar, kalo gue emang suit-nya di kelas bahasa. Gue ngebayangin kalo dulu gue ambil kelas bahasa, at least ilmunya bisa langsung gue praktekin di real life kayak sekarang tapi ya udahlah. Emang udah jalannya demikian jadi dinikmati aja.

Daaannn kemaren gue dapet undangan dari Kantor Bahasa Indonesia NTB buat belajar lagi. Seru banget! Banyak pelajaran yang gue dapetin. Mungkin lo juga udah pernah dapet tuh broadcast beberapa kata baru di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Nih gue kasih beberapa kata baru di KBBI yang gue copy paste dan ternyata masih jarang digunakan. Lucu-lucu loh kata-katanya.

Gawai

Gawai adalah kata yang digunakan untuk menggantikan kata Gadget. Jangan terkejut, karena gawai juga memiliki arti sebagai perkakas atau alat.

Ponsel, laptop, tab, komputer dan sebagainya secara tidak langsung juga berupa alat atau perkakas. Kata Gadget, atau sering dieja gejed, sudah terlalu terbiasa diucapkan oleh masyarakat Indonesia. Saat ini, media cetak dan daring nasional sudah mulai menggunakan kata Gawai untuk menggantikan Gadget.

Pramusiwi

Masih terbiasa menyebut kata babysitter untuk penjaga dan pengasuh bayi? Tenang. Dalam Bahasa Indonesia, babysitter berarti Pramusiwi.

Tetikus

Kata ini untuk mengganti kata mouse-nya komputer

– Warganet

Warganet muncul untuk menggantikan kata Netizen. Sebelumnya, kata Netizen juga muncul sebagai plesetan dari kata Citizen di internet. Jadi, siap-siap mendirikan RW (Rukun Warganet) di grup Facebook Anda.

– Pranala

Kata Pranala muncul untuk menggantikan kata Hyperlink atau Link, yang sudah terbiasa disebut dalam bahasa IT.

– Daring dan Luring

Daring muncul untuk menggantikan online. Daring juga akronim dari dalam jaringan. Sedangkan Luring adalah akronim dari luar jaringan muncul untuk menggantikan kata offline.

– Swafoto

Swafoto berarti foto sendiri, atau mengambil foto dengan usaha sendiri. Kata ini muncul untuk menggantikan kata selfie.

– Peladen

Mirip profesi seseorang yang bertugas untuk meladeni. Tapi, faktanya kata peladen muncul untuk menggantikan kata server.

– Komedi Tunggal

Frase ini muncul untuk menggantikan frase stand up comedy yang sebenarnya kalau dialihbahasakan menjadi komedi berdiri.

– Saltik

Saltik itu Salah Ketik buat gantiin kata Typo.

– Derau

Noise yang sebenarnya berarti ribut, sering pula digunakan untuk suara yang tidak diperlukan dalam satu rekaman suara atau video. Kata noise itu digantikan oleh kata Derau.

– Pratayang

Anda masih sering menggunakan kata Preview? Silakan gantikan dengan kata Pratayang.

– Hektare

Ini sebenarnya kata lama, hektar, tapi perbedaannya adalah huruf ‘e’, untuk kata ini tetap ditulis dan tetap dibaca.

– Portofon

Kata ini muncul untuk menyebut Handy Talkie (atau HT) dalam bahasa Indonesia.

– Mangkus dan Sangkil

Kalian tahu, mangkus berarti efektif, sangkil berarti efisien. Begitu saja singkatnya.

– Narahubung

Kata ini digunakan untuk menggantikan frasa contact person.

– Pelantang

Kata ini digunakan untuk menggantikan kata Microphone.

Nah, itu dia beberapa kata baru di KBBI. Masih belum familiar yah. Makanya biar familiar, lo pake dong di daily life lo. Awalnya pasti berasa aneh bin canggung atau malah diketawain tapi no problemo, nanti juga lama-lama terbiasa.

Salah satu cara melestarikan bahasa adalah dengan cara mempergunakan bahasa tersebut. Siapa lagi coba yang bakal pake Bahasa Indonesia kalo bukan orang Indonesia itu sendiri? Ya Nggak sih? Cukstaw ya, ada lebih kurang 56 negara di dunia udah mempelajari Bahasa Indonesia loh dan denger-denger Bahasa Indonesia bakal jadi bahasa internasional ke delapan! Proud banget dong! Katanya sih. Udah deh mending diaminin aja.

Aamiin.

The last, yang mau gue bilang ko lo, cepet-cepet deh nyadar sama passion lo. Hobi, kesukaan, kegemaran lo mulai sekarang lo fokusin. Zaman udah maju. Udah nggak musim lagi lo dikotak-kotakin sama kemauan orang tua lo. Dengerin kata hati lo, lo mau jadi apa kelak. Karena yang bakal menjalani kehidupan kan lo sendiri bukan orang tua lo.

Dan inget, bekerja sesuai passion itu sangat menyenangkan loh. Kerja rasa main! Udah gitu dibayar pula!

Ebatan


Kayaknya udah keseringan gue bahas deh ya. Yup!  Ini namanya EBATAN. Dari kata EBAT yang kalo nggak salah berarti cincang. Koreksi ya kalo salah. Ya karena bahan-bahannya memang dicincang gitu. Nemu Ebatan di hari biasa susah loh karena biasanya dimasak pas ada hajatan atau BEGAWE dalam bahasa sasaknya. Tapi biasanya ada juga sih warung atau rumah makan yang nyediain menu Ebatan cuma jarang.

Makanan khas dari Lombok ini emang enak banget guys. Dibuat dari campuran berbagai macam bahan. Mulai dari daun belimbing, pisang batu,  kelapa, daging dan lain-lain dengan bumbu rempah-rempah yang kompleks banget.

Kalo main ke Lombok jangan lupa cobain Ebatan yah!  #Ebatan #Lombok #Food #Yum #fun #yay #excited #explorelombok

Festival Peresean


Salah satu agenda Bulan Budaya Lombok Sumbawa 2016 adalah Festival Peresean yang diadakan di Pantai Senggigi.
FYI, Peresean adalah pertarungan antara dua lelaki yang bersenjatakan PENJALIN (Rotan) dan berperisai kulit kerbau yang tebal dan keras atau biasa disebut ENDE. Menurut Wikipedia sih.

Tradisi Peresean dilakukan oleh masyarakat suku Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Peresean juga termasuk dalam seni tari daerah Lombok. Petarung dalam Peresean biasanya disebut PEPADU dan wasit disebut PAKEMBAR.

Kalo jaman dulu Peresean dipake buat melatih ketangkasan suku Sasak untuk melawan para penjajah. Selain itu, tradisi ini juga merupakan media yang dipake sama para PEPADU untuk melatih ketangkasan, ketangguhan, keberanian dalam bertanding. Konon, Peresean juga dipakai sebagai upacara memohon hujan bagi suku Sasak di musim kemarau. Pantesan tadi baru mulai pertandingan bentar aja langsung turun hujan! #abaikan

Tapi kalo jaman sekarang, tradisi Peresean dipake buat nyambut tamu atau wisatawan yang datang ke Lombok. Yuk buat temen-temen yang pengen liat Peresean, bisa langsung dateng ke Lombok. Cepetan yah! #peresean #bulanbudaya #bulanbudayalomboksumbawa2016#lombok #sasak #nusatenggarabarat #explorelombok #culture #fun #yay #excited

Review Film: Lights Out (2016)


Sejak memutuskan nonton film Lights Out, gue udah sugesti diri gue kalo gue nggak bakal gampang ditakut-takuti. This-is-just-a-movie! Selain gue jarang nonton film horor, genre ini juga bukan favorit gue tapi bukannya anti loh ya. Apa sih yang bakal gue liat di film horor? Paling setannya gitu-gitu doang kan ya.

Film Lights Out bercerita tentang sebuah keluarga yang abis ditinggal mati suaminya karena ulah “sesuatu” yang bernama “Diana” yang bikin seorang anak laki-laki jadi nggak bisa tidur gegara sering digangguin olehnya. Akibatnya dia sering ketiduran di kelas. Di sinilah masalah muncul buat mengungkap siapa sih sebenarnya Diana itu. Sekedar informasi nih, film Lights Out diproduseri sama James Wan! Itu loh yang bikin film The Conjuring.

Sesuai judulnya, Lights Out, film ini memang tentang mati lampu. Di awal film dijelasin rule di film ini, setannya bakal muncul dalam gelap dan ngilang kalo ada cahaya entah itu siang atau malam. Filmnya bikin penasaran dan misterius banget sekaligus mendebarkan. Nggak tau ya ini memamg efek suara dari filmnya atau dari bioskopnya ya beberapa suara seperti sengaja nggak stereo sampe @maaymooy pikir ada speaker yang rusak karena berasa kayak di sekitar kita. Pas setannya garuk-garuk lantai gue sampai berkali-kali lirik ke kiri atas kemudian ngeliat ke langit-langit dan well memang efek suara dari filmnya. It feel so real dan waktu itu gue nontonnya di @cinemaxxtheater @lombokcitycenter Oke, dan ternyata beberapa adegan di film ini akhirnya sukses bikin gue kaget sampe teriak berkali-kali.
Bisa dibilang Lights Out film ngagetin. Mainannya tempat gelap dengan efek suara mengagetkan cuma durasinya dikit banget padahal gue suka ceritanya.

Buat lo yang pengen yang kaget-kaget pas banget nonton film ini #LightsOut #Review #TukangKomen #Movie #Film #Horor #Lombok #Mataram #JamesWan #Diana #Cinemaxx #fun #yay #excited

Review Film: 3 Srikandi (2016)


Ada beberapa alasan yang akhirnya bikin gue nonton film ini. Yang pertama, trailernya keren dan menjanjikan. Kedua, Reza Rahadian. Jaminan mutu deh kalo filmnya doi. Ketiga, momennya pas banget. Lagi beneran ada Olimpiade dan bulan Agustus pula. Berasa nasionalis banget lah menonton film lokal dengan tema Indonesiable di bulan Indonesia akan berulang tahun.

Menurut gue nih, film 3 Srikandi kurang greget! Nggak sesuai sama ekspektasi gue dari trailernya. Filmnya cenderung komedi padahal banyak momen-momen yang bisa dimanfaatkan biar filmnya jadi lebih dramatis lagi. Contohnya pas seleksi pemanah, berasa nggak masuk akal dan main-main eh tiba-tiba ketiganya kepilih gitu aja kayak nggak ada perjuangan berarti padahal untuk seleksi sekelas Olimpiade. Yah meski di cerita aslinya memang mereka lolos seleksi. Seolah-olah penonton disuruh cepet-cepet dan langsung digiring ke ending begitu aja karena memang yang paling keren pas ending.

Beneran deh, pas bagian akhir, pas semua orang yelling “INDONESIA” itu bikin merinding. Nasionalismenya berasa banget. Gue berasa Indonesia banget. Ada kebanggaan tersendiri jadi warga negara Indonesia meski kenyataannya negara kita lagi porak-poranda-ancur-lebur-berantakan kayak sekarang meski speech Reza Rahadian ketika ngasi semangat nggak begitu cetar-cetar amat tapi gue ngebayangin lagi beneran nonton pertandingan olahraga melawan negara lain di final. That’s make Indonesia’s Indonesia.

Terus set filmnya juga sepertinya bodo amat. Kalo nggak salah settingnya sekitar tahun 80-an. Sesekali keliatan retronya dengan menampilkan beberapa benda di era itu. Ada lagu Ratu Sejagat-nya tante Vina Panduwinata yang katanya lagi hits kala itu diputar di radio tapi di beberapa kesempatan keliatan kekinian ditambah lagi ada orang pake jaket Lilo & Stitch #LOL terus ada penampakan boneka Elsa-nya Frozen yang let it go.. Let it go itu loh #LOL 

Udahan ah, nggak usah terlalu kritis. Mending lo nonton sendiri gih. Filmnya menghibur kok. Maju terus film Indonesia! INDONESIA! INDONESIA! #3srikandi #review #adnan #movieoftheday #tukangkomen #indonesia #movie #film #rezarahadian #bcl #chelseaislan #lombok #yay #fun #excited

Review Film: The Secret Life of Pets (2016)


Gimana jadinya ya kalo hewan  piaraan pas ditinggal sama majikannya? Bisa jadi kayak di film The Secret Life of Pets ini.

Film ini bercerita tentang  kehidupan seekor anjing bernama Max yang berubah pas pemiliknya membawa pulang anjing lain bernama Duke. Tapi kemudian mereka harus bersatu, saat seekor fluffy bunny bernama Snowball mengumpulkan pasukan dari peliharaan yang terlantar untuk membalas dendam pada peliharaan yang bahagia beserta pemiliknya. Familiar? Yup agak sedikit mirip sama cerita Toy Story-nya Disney.

Filmnya lucu dan sekaligus agak menyeramkan kalo ditonton anak-anak meski beberapa karakter juga keliatan fluffy banget minta diuyel-uyel apalagi kucing gendut Chloe sama Gidget. Tingkah laku para hewan ini bikin ngakak tapi banyak adegan kekerasan dan kata-kata kotor ditambah lagi karakter-karakter hewannya banyak yang disgusting. Buat para orang tua, om, tante, paman, bibi atau siapa aja yang punya anak kecil dampingin aja kalo pengen nonton film ini karena TIDAK SEMUA FILM KARTUN ATAU ANIMASI COCOK DITONTON ANAK-ANAK. Jadi harus beneran selektif memilih filmnya dan jangan lupa liat-liat ratingnya.

Selain ceritanya yang agak sedikit mirip dengan animasi sebelah, pengisi suaranya juga familiar. Suara si elang misalnya. Yup! Dubbernya sama dengan dubber Marlin, bapaknya Nemo di Finding Nemo terus si Gidget, dubbernya sama dengan Miss Bellwheter di Zootopia. Belum lagi ada kemunculan poster film animasi terbaru dari studio si empunya film ini yang berjudul SING dan akan dirilis akhir tahun ini juga! Can’t wait.

Eh, ya karena ini studio film juga yang bikin Despicable Me dan Minion, jadi ada film pendek Minion sebelum filmnya dimulai loh.

#Review #thesecretlifeofpets #movieoftheday #tukangkomen #minion #adnan #gidget #chloe #max #movie #film #animasi #kartun #animation #fun #yay #excited

Cowok Ribet


Gue masih betek aja cuma gara-gara ulah seseorang ritme hidup gue jadi berantakan #eaaaaa yang awalnya berjalan sesuai rencana dan jadwal malah sekarang jadi nggak jelas. Semacam lo lagi nyusun kardus bekas mie instant menjulang ke atas kemudian ada yang menarik kardusnya di tengah-tengah pondasi, mau nggak mau susunannya jadi berantakan. Roboh. Ancur lebur. Menyebalkan.

Hampir satu bulan tapi masih belum terbiasa. Gue yakin pasti bisa kok cuma butuh waktu aja buat ngikutin ritme hidup gue yang baru.

BTW, gue kok lama-lama berasa kayak robot ya. Bangun tidur berangkat kerja. Pulang kerja langsung tidur. Begitu seterusnya. Nggak pernah ngalamin hal-hal luar biasa akhir-akhir ini. Padahal banyak hal-hal keren terjadi di sekitar gue tapi gue kok berasanya biasa aja dan nggak bisa menarik minat gue. Lempeng gitu aja. Gue berasa kayak jadi Pi di film Life of Pi, berasa di tengah lautan di atas sekoci tanpa tau arah tujuan ke mana. Ya ngikutin ombaknya ke mana aja membawa gue. Bedanya gue nggak sama harimau di dalam sekocinya. Nggak jelas. Meraba-raba. Melayang-layang. Mengawang-awang bak layang-layang di lautan seberang #eaaa #maksa

Apa guenya aja kali ya ngebawa idup terlalu serius? Apa perlu gue santai kayak di pantai lalu berlari ke hutan dan berteriak,

“PECAHKAN SAJA GELASNYA! BIAR RAMAI! BIAR MENGADUH SAMPAI GADUH!”

Tapi gue nggak mau. Sayang gelasnya. Nanti dimarahin mom Channets apalagi itu bonus dari sabun colek favoritnya.

Tapi ya emang tipikal gue juga sih. Beda-beda. Gue kalo lagi ngadepin sesuatu harus yang beneran fokus dan nggak boleh keganggu kalo nggak ya bisa berantakan. Gue bukan orang yang mampu ngadepin banyak hal dalam sekali eksyen. Yang ada gue nanti malah kolaps. Diibaratkan gue hape yang RAM-nya cuma 64 MB tapi dipaksa menjalankan puluhan aplikasi gede-gede dan berat ya jatohnya lemot. Kadang ngelag, sesekali freeze lalu not responding dan parahnya ngehang akhirnya mati total. Ew!

Itu kalo hape. Bedanya gue kan manusia. Gue harus lebih oke ketimbang hape. Masa iya kalah sama hape?

« Older entries