Wati:The First Love


CHAPTER 3

Hari itu cerah. Tak seperti hari-hari belakangan ini. Wati duduk santai di kantin ditemani sobat dekatnya yang bertubuh gemuk, Ningsih. Sesekali ia merapikan poni Maria Mercedes-nya lalu menyendok kuah bakso-nya yang masih panas. Meniupnya pelan sambil menatap seseorang di meja yang berada tak jauh dari mejanya.

“Liat apa lo cyin?” Tanya Ningsih. Pandangannya tak beralih dari bakso-nya. “Serius amat”

“Nggak ada sih, cuma ada yang menarik perhatian gue di seberang sana”

“Siapa sih?” Ningsih dibuat penasaran. Dia mengikuti arah pandangan Wati dan melihatnya.

“Buset!! Ganteng banget!! Pantas aja lo sampe nggak kedip liat cowok itu. Dia bukannya anak kelas sebelah ya?”

“Ia sih cakep, cuma yang gue liat bukan cowok yang itu. Tapi noh yang di seberang”

Cowok. Berkulit hitam. Menjajakan lollypop bulet-gepeng-sebesar-kipas.

“Lah, sejak kapan lo demen sama mamang-mamang jualan Lollypop?”

“Bukan! Tapi gue pengen beli Lollypo-nya. Gue kan lagi demen-demennya sama K-Pop. Berasa kurang eksis kalo nanti kita potoan nggak pakai Lolly gede” jelas Wati dengan ekspresi manja.

“Tinggal beli doang lo ribet amat”

“Masalahnya gue lagi sakit gigi makanya agak dilema buat beli”

“Eh ngomong-ngomong lo lagi deket sama siapa sekarang cyin? Cerita dong” Pinta Ningsih sambil merapatkan Kursinya ke samping Wati. Ia menjauhkan Mangkuk bakso-nya yang telah dilahap habis beserta kuahnya dari hadapannya.

“Hmmm..kalau gue sih emang udah suka banget sama seseorang dari dulu. Lo gimana?” Wati bertanya balik.

“Gue…ada sih cuma sekarang kan part lo. Jadi lo yang cerita duluan. Gue nggak enak sama author-nya, nanti gue dibilang tukang rebut part orang lagi” jelas Ningsih dengan nada malas. Memutar bola matanya.

“Oke deh”

“Terus..terus siapa cowok itu?”

“Dia….,” Pandangan Wati mulai menerawang. Wajahnya merona tersipu malu. Wajah Ningsih nampak serius mendengarkan sambil mengunyah kerupuk Merk “Sedang Ingin”. “Cowok itu tinggi, putih, badan-nya proporsional. Pokoknya cakep banget. Dia juga baik hati dan nggak sombong meski dia nggak rajin menabung tapi gue tetap suka. Senyumnya, matanya ah the way he talk, the way he move bikin gue melting deh. Dia adalah cinta pertama gue”. Tutur Wati dengan dramatis. Sayup-sayup terdengar lagu Fisrt Love-nya Utada Hikaru dari gerobak mamang-mamang Cilok yang sedang lewat.

“Terus sekarang doski ada dimana buug?” Tanya Ningsih dengan wajah keseriusan yang meningkat hingga 69%. Mulutnya masih asik mengunyah kerupuk.

“Dia ada di sekitar kita. Kita satu kelas dengan dia. Sekarang cowok itu sedang duduk dengan cowok paling cakep dari kelas sebelah”. Telunjuk Wati menunjuk sesosok cowok yang sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya di seberang meja mereka. Ningsih ternganga. Terkesima. Terpesona dan terpana melihat cowok itu. Bahkan ketampanannya melebihi tampan-nya cowok kelas sebelah. Dari kejauhan, ia melihatnya dengan gerakan slow motion. Mulutnya menganga menumpahkan remah-remah kerupuk yang baru saja dikunyahnya. Ningsih sampai sesekali menghalangi wajahnya dari kilauan yang dipancarkan cowok tersebut.

“Si..si..U..Udin?” Tanya Ningsih terbata-bata tak percaya. “Co..cowok paling oke, pa..paling cakep, paling po..populer di sekolah kita?”

“Hu um,” angguk Wati dengan imut sambil menyentil Poni Maria Mercedes-nya. “Dia dulu satu SD loh sama gue. Dari pertama liat dulu pas masih SD doski imutnya minta ampun dan gue langsung jatuh cinta. Makin kesininya dia makin cakep kyaaaaaa…”

“Kalo dia sih gue juga suka. Cakep gitu. Eh, tapi lo udah bilang suka nggak sama dia? Eh, tapi masa lo yang bilang suka?” Ningsih melanjutkan ritual makan kerupuknya.

“Hari ini, rencananya gue mau ngomong sama dia, gue udah nggak tahan nyimpen perasaan gue bertahun-tahun. Dan gue nggak mau masalah ini berlarut-larut. Gue pengen move-on. Gue nggak mau galau lagi gara-gara si Udin.” Semangat Wati berapi-api. Ibu kantin sampai numpang meminta api untuk menyalakan kompor dari semangat Wati yang berkobar.

“Bener tuh buug, mending lo ungkapin deh dari pada keduluan yang lain, misalnya sama gue gitu”.

“Maksud lo? Lo jangan ikutan suka sama si Udin. Sebagai sobat terbaik gue, lo harusnya dukung gue, bukan nusuk gue dari belakang.”

“Lah cuma becanda kali, kan gue udah bilang tadi gue juga udah punya cowok yang gue suka.”

Wati tersenyum. Dia memeluk tubuh Ningsih yang gemuk. Melepaskan pelukannya dan mencubit kedua pipi sahabatnya yang chubby. Dari rambut Ningsih yang bergelombang, berdebam beberapa kutu. Terus kenapa? Ya, nggak ada. Cuma pengen kasi tau aja sih.

Tepat pukul satu siang bel pulang berbunyi. Beberapa siswa terlihat berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Berdua, bertiga dan ada juga yang sendirian melewati koridor sekolah. Ningsih menunggu Wati yang sedang berlari menuju parkiran di depan gerbang sekolah. Wati berniat menumpahkan isi hatinya kepada Udin di parkiran. Udin biasanya keluar sekolah paling akhir karena spertinya ia mempunyai semacam klub dengan siswa cakep-cowok kelas sebelah- dan Wati berpikir mereka adalah sahabat akrab. Dimana saja Wati melihat Udin, ia tentunya melihat keberadaan cowok kelas sebelah yang cakep itu.

Suasana parkiran tampak lengang. Tak ada seorang pun di tempat itu. Dari balik tembok muncullah sosok Udin memakai Hoodie berwarna abu-abu yang menutupi semua kepalanya. Kedua tangannya di masukkan ke dalam kantong Hoodie yang berada persis di depan perutnya. Dengan kilauan ketampanan yang memukau. Di sekitar wajahnya muncul cahaya sparkling-sparkling dan sesekali tersenyum. Dari kejauhan, Wati dibuat melting hanya dengan menatapnya.

“OMG! Bahkan kalau gue diciptakan sebagai es abadi, gue yakin, gue pasti langsung meleleh diterpa senyuman itu” ucap Wati lirih.

Udin tak melihatnya mendekat. Ia baru saja menyentuh Stang motornya ketika Wati menepuk punggungnya. Udin berbalik. Mengangkat kedua alisnya. Dan tersenyum.

Sedetik kemudian, Wati meleleh dan meresap langsung ke dalam tanah hanya memandang wajah itu dari jarak yang sangat dekat.

“Umm…gini Din, Umm… Apa ya?,” Wajah Wati mulai memerah, memanas, dan sangat gugup. ia tak sanggup mengucapkannya sambil bertatap muka. Ia lalu memunggungi Udin. Meremas tali tas penggung berbentuk Jeruk mini-nya yang berwarna Kuning. “Gue.. Se..sebenarnya suka sama lo Din, lo tau kan kita udah temenan lama. Sejak pertama liat lo di SD dulu, gue langsung suka sama lo. Gue serius,” tatapan mata Wati menerawang ke langit-langit dan kembali mengingat-ingat masa lalunya. ” Entah kenapa setiap mikirin lo, selera makan gue ilang. Gue nggak enak makan, nggak enak tidur. Soalnya lauknya cuma pakai Garam doang. Dan ketika gue tidur, gue digangguin tikus mulu. Eh lo ingat kan waktu pertama kita kenal lo nabrak-nabrak gue gituh. Emang banyak sih yang doyan nabrak gue karena terpesona akan kecantikan gue. Eh ya lo ingat dong pas kita main dokter-dokteran? Lo sampai nyuntik gue pake suntikan sapi. Sakit sih emang sampai gue di lariin ke Rumah Sakit cuma gue pikir itu adalah tanda kasih sayang lo ke gue. Terus pas kita main mama-mamaan. Lo rela masakin gue upil segde duku hanya buat gue. Dan itu romantis banget tau nggak. Pada akhirnya gue akhirnya ngeberaniin diri gue buat ngungkapin perasaan gue sama lo. Hati mungil gue berkata kalau lo juga punya perasaan yang sama dengan gue kan, Din”

“Hmm..oke, baiklah” Jawab Udin.

Kedua mata Wati membesar. Mulutnya menganga. Sedikit shock tapi membahagiakan. Ia tak kuasa menahan air matanya yang beberapa detik lalu berlinang lalu berurai dan sekarang mengucur deras seperti pompa air tetangga sebelah.

Meski demikian ia masih belum mampu menatap Udin secara langsung. Wati masih saja memunggunginya.

“Berarti kita resmi jadian dong ya?”

“Oke”

“Tapi lo beneran suka kan sama gue?”

“Pastinya”

“Seperti yang gue harapkan. Karena gue selalu yakin dan percaya suatu hari nanti hari yang cerah dan indah berkilau akan menanti kita” angin berhembus kencang menerpanya diikuti suara deburan ombak yang dramatis. Rambutnya yang lurus berayun anggun.

Wati bahkan tak menyadari bahwa semua yang baru saja ia katakan tak satupun di dengar oleh Udin. Kenyataannya, kedua telinganya yang tersembunyi di balik Hoodie-nya sedang asik mendengarkan suara orang yang menelponnya.

Apapun yang terjadi, Wati kini sangat bahagia. Menurutnya, ia dan Udin kini resmi berpacaran. Tapi entahlah sampai kapan hal ini akan terus berlanjut.

Wati:The Profesor


CHAPTER 2

Laboratorium itu gelap. Tak ada secercah cahaya lampu sedikitpun. banyak terlihat botol-botol dan gelas reaksi mengeluarkan asap yang mengeluarkan bunyi BLUP BLUP BLUP beserta peralatan lainnya. Dibeberapa sudut ruangan terdapat patung anatomi manusia yang sudah terlihat usang dan berdebu. Sarang laba-laba menyelimuti beberapa benda di sekitarnya. Diluar langit mendung namun belum ada setetes gerimis pun berjatuhan. Udara sekitar mendingin. Hanya kilatan-kilatan cahaya dari langit sesekali berpendar dan menampilkan siluet 2 sosok misterius dlm kegelapan ruangan.

Sosok pertama terlihat pendek dengan rambut panjang bergelombang tanpa poni. Tubuhnya sedikit gemuk. Ia tampak mengenakan kacamata tebal bergagang hitam dan sesekali terlihat mengkilap diterpa kilatan-kilatan di langit. Sosok kedua, memiliki postur tubuh tinggi yang proporsional. Rambutnya panjang dan berponi. Ia juga tampak mengenakan kacamata tebal bergagang hitam.

Dalam keheningan ruangan itu, terdengar suara percakapan lirih antara mereka berdua.

“Bagaimana Profesor Wati? Apakah semuanya sudah beres?” Tanya sosok yang bertubuh gemuk dengan nada sedikit berbisik.

“Sepertinya begitu Profesor Ningsih, Gue yakin penemuan kita kali ini bakal bikin kita kaya” kata sosok tinggi berponi yang dipanggil dengan sebutan Profesor Wati.

“Hmm..” Profesor Ningsih menjepit dagunya dengan sela ibu jari dan telunjuknya seraya bergumam dengan tatapan serius “Berhubung kita telah menjadi Profesor, bagaimana kalau kata “lo gue” tidak perlu kita pakai untuk saat ini”

“Ide bagus Profesor Ningsih” Jawab Profesor Wati sambil membenarkan posisi kacamatanya.

“Seminggu lagi kita akan jadi kaya raya dan terkenal dengan penemuan ini. Pada acara minggu depan di TV, kita akan memamerkan hasil penemuan kita ke seluruh dunia! Hahaha”

“Benar sekali. Ini adalah titik balik dalam hidup gue, eh aku. Setelah berjuang bertahun-tahun akhirnya kita bisa menyelesaikan penemuan fenomenal ini. Banyak keringat dan air mata telah kita korbankan demi ini. Aku tak habis pikir bagaimana reaksi teman-teman gue, keluarga gue, tetangga sebelah gue yang TV-nya flat dan kucing gue yang belang bisa melihat keberhasilan ini” Seru Profesor Wati sambil berlinang lalu berurai air mata.

“Gue-nya Profesor Wati, tolong dihilangkan, saya ingatkan”

Setelah melakukan uji coba penemuannya, akhirnya tibalah saat-saat yang mereka tunggu.

Mereka mempersiapkan diri dengan matang. Mereka akan mempresentasikan hasil penemuan mereka di depan banyak orang dan akan disiarkan secara langsung di 69 negara pada pukul 06.09 dengan juri sebanyak 69 orang.

Dengan senyum menawan, Profesor Wati dan Profesor Ningsih telah siap dengan pose unik mereka di depan Kamera. Mereka sama-sama mengenakan setelah jubah berwarna putih bersih.

“Action!” Teriak salah seorang di belakang kamera yang menyorot mereka.

“Selamat pagi pemirsa..” Profesor Wati memulai acara tersebut dengan merapikan poni Maria Marcedes-nya “Kali ini kami akan memamerkan hasil penelitan tergress kami selama beberapa tahun terkahir. Bukankah begitu Profesor Ningsih?”

“Benar sekali Profesor Wati, kami telah melewati berbagai macam aral rintangan menghadang. Mendaki gunung, melewati lembah dan sungai mengalir indah ke Samudera bersama teman bertualang..hei Ninja Gozaru!!”

“Kita juga telah banyak mengorbankan keringat dan air mata dan finally kita berhasil menemukan sebuah penemuan mutakhir yang akan mengubah dunia” sambung Profesor Wati.

“Apa saja itu, Prof?”

“Anda pernah datang bulan?”

“Pernah”

“Pernah pakai pembalut dong?”

“Pasti”

“Kalau makan pembalut?”

“Alhamdulillah belum pernah”

“Pastilah anda pernah mengalami pembalut bocor dan berkerut?”

Profesor Ningsih mengangguk imut sambil menangkupkan kedua tangannya pada kedua pipinya yang chubby. Dia berkedip-kedip manja.

“Anda tak perlu khawatir. Kini telah ditemukan sebuah pembalut masa kini. Hasil penelitian bertahun-tahun dengan perpaduan ilmu pengetahuan maka terciptalah TRIPLEX! Pembalut pertama yang benar-benar anti kerut dan anti bocor”

Terdengar suara WOW panjang dari penontong yang menonton langsung demonstrasi tersebut.

“Untuk lebih meyakinkan, rekan saya akan menampilkan rekaman testimoni konsumen yang pertama kali mencobanya. Silakan Profesor Ningsih”

“Dan baiklah kita akan menyaksikan video testimoni berikut ini” Profesor Ningsih memencet sebuah Remote Control ke arah layar sebesar gawang sepak bola tepat di belakang Profesor Wati.

Video menampilkan gadis gemuk yang agak mirip sekali dengan Profesor Ningsih tapi berambut pirang.

“Aku anggota Cherleader, kadang nggak pede kalo lagi tembus. Apalagi pas lagi nge-cheer dan di tonton banyak orang. Biasanya aku pake pembalut merk SOF*EX tapi suka bocor dan bikin malu. Namun setelah memakai TRIPLEX bye-bye bocor dan kerut. Benar-benar anti kerut dan bocor. Saking anti kerutnya, membuatku jalan ngangkang. Terimakasih TRIPLEX”

“WOOOOOOOOOW” audiens ber-WOW panjang menyaksikan Video testimoni.

“Tapi..tapi..”Lanjut Profesor Ningsih “Bagaimana kalau ternyata bocor juga? Kan tidak ada yang sempurna di dunia ini?”

Audiens yang menonton terdengar ribut bergumam dengan teman disampingnya.

“Tenang saja. Setiap pembelian 1 set TRIPLEX akan kita berikan bonus berupa…selusin pembalut biasa”

“Wow Fantastis! Bombastis! Fenomenal” teriak Profesor Ningsih diikuti WOW panjang lagi dari penonton.

“Jadi tunggu apalagi, pesan sekarang juga di kosong delapan satu sembilan lima lima delapan puluh ribu”

“Dimana?”

“Di kosong delapan satu sembilan lima lima delapan puluh ribu”

“Dimana?”

“Di kosong delapan satu sembilan lima lima delapan puluh ribu”

Hening. Pesanan membludak.

Wati:Pelatih Senam


CHAPTER 1

Pagi yang mendung. Semendung wajah seorang gadis SMA bernama Wati. Rambutnya panjang dan hitam. Di depan keningnya berjejer poni yang ia sebut sebagai poni Maria Mercedes. Sedikit terinspirasi dari Telenovela semasa kecilnya. Tubuhnya tinggi dan lumayan proporsional. Wati adalah gadis yang modis dan feminin. Penampilan adalah nomer satu baginya. Salah satu ciri khasnya adalah selalu membawa tas punggung mini kuning berbentuk buah Jeruk. Dia kelas 2 SMA. Ia kini sedang duduk di sebuah ruangan sepi dengan cermin full di salah satu dindingnya. Sepertinya ia berada di sebuah Gym. Bola matanya yang hitam melirik pintu masuk yang terbuka lebar. Terpancar aura kejengkelan di wajahnya yang bulat. Beberapa kali ia mengibas-ngibaskan rambut panjangnya yang hitam sambil melirik ke dinding yang penuh cermin dan merapikan poni Maria Mercedes-nya. Ketika beberapa anak sebaya Wati–laki-laki dan perempuan–masuk ke dalam ruangan tersebut. Wati berdiri dengan kedua tangan disilangakan di depan dadanya.

“Dari mana kalian?” Tanya Wati dengan ketus. Bibirnya berubah segaris. Tatapan sinis menyapu wajah mereka satu persatu.

“Kita baru dateng” jawab salah seorang gadis berambut bob yang tubuhnya agak gemuk.

Wati mengibaskan rambutnya yang panjang sambil merapikan poni Maria Mercedes-nya.

“Apa? Baru dateng? Jam segini baru dateng? Coba kalian pikir kalau dalam lomba senam kali ini team dari SMA kita kalah, siapa coba yang bakal disalahin? Siapa coba? Gue! Gue yang memiliki tubuh proporsional dengan kecantikan luar dalam penuh pesona yang mampu memikat para lelaki di luar sana”

“Kok bisa? Bukannya yang jadi pelatih..”

“Eits, lo salah, Banci Kaleng..” Wati menjulurkan telunjuknya seraya mengoyang-goyangkannya di depan wajah pemuda kurus berambut Pink.”Coba tolong dicatat. Yang jadi pelatih kalian adalah gue, Wati. The fabulous girl in town 2012″

Beberapa anak berbisik-bisik dengan teman sebelahnya.

“Sebaiknya kita lebih cepat memulai latihannya, ayo”. Saran Wati sambil menepuk-nepuk tangannya.

“Tapi kok lo ga pake baju senam sih?” Tanya gadis kurus bermuka runcing dan berbibir monyong.

“Gini ya teman-teman, tugas gue itu sebagai pelatih senam ya nggak perlu lah gue ikutan pakai pakaian senam. Cukup pakai seragam putih abu saja toh yang akan ikutan lomba kan kalian bukan gue. Oke? Sebaiknya kalian rapikan barisan aja”

Tanpa instruksi lagi beberapa anak itu menuruti perintah terakhir Wati. Mereka berbaris rapi menghadap dinding bercermin. Wati melangkah ke depan mereka dengan anggun bak di atas catwalk.

“Oke teman-teman, sebelum memulai senam pasti dong ya kita butuh musik buat mengiringi senam kita supaya lebih semarak. Ada yang tahu musik yang biasa dipakai senam?”

“SKJ” Jawab gadis bertubuh paling gemuk. Perutnya terlihat bergelambir.

“Salah, Paus bunting. SKJ itu jaman 90-an dan berhubung sekarang lagi jamannya K-Pop jadi gue putusin buat pake musik K-Pop! Yeeei!!”

Hening. Saling pandang satu sama lain.

“Untuk menjuarai lomba senam tahun ini memang agak berat teman-teman. Selain kita harus menumbangkan juara bertahan, beberapa peserta baru juga bermuculan. Jadi kita harus berjuang sekuat tenaga sampai tetes darah penghabisan. Jadi gue udah nyiapin gerakan legendaris yang gue yakin bakal bikin kita juara”.

Wati menjelaskannya panjang lebar dengan semangat yang berapi-api.

“Coba..lo..” Wati menunjuk salah seorang pemuda di barisan kedua tepat di belakang gadis berbibir monyong.” ya. Lo yang cowok rambut Pink sini maju praktekin gerakan yang gue teorikan”

Pemuda berambut pink itu maju ke depan dengan lemah.

“Haduh ini kenapa milih cowok lemes gini sih buat ikutan lomba. Nama lo siapa?”

“Pinkzie”

Wati menangkupkan kedua telapak tangan di kedua pipinya yang merona. Melongo dengan mulut berbentuk huruf O. “Oh My God! Nama lo unyu banget, berikutnya gue ambil nama ini karena gue enggak mau ada yang lebih imut dari gue”

Wati merapikan poni Maria Mercedes-nya. Melirik sinis ke arah Pinkzie. Kedua tangannya kembali terlipat di depan dadanya.

“Lo masih inget gerakan yang gue teoriin barusan huh?”

“Masih, muter-muter-lompat-gulung-gulung-lompat-kayang kan?”

“Bagus, sekarang praktekin”

Pinkzie melakukan gerakan itu dengan senang hati. Gerakan memutarnya nyaris sempurna. Lompatannya pun demikian meski bagian gulung-gulung-lompat-nya terdapat kesalah sedikit. Tapi di bagian kayangnya…

KREKK!!!

Terdengar seperti ada yang patah. Ya dan memang ada yang patah. Tim Dokter sekolah mereka dengan sigap menaikan tubuh Pinkzie yang terlipat rapi. Wajah Pinkzie tampak bahagia dan puas. Dia tersenyum.

“Wajahnya menyiratkan kedamaian, Hiks” Wati berurai air mata.

Berikutnya. Gadis berwajah runcing dan bergigi monyong, Bimolee melakukan gerakan yang juga nyaris sempurna. Bimolee sangat pandai di gerakan melompat. Tapi sayang ketika ia melakukan lompatan terakhir, ia gagal untuk kembali. Giginya tersangkut di atap ruanga. Tim Dokter sekolahpun menandunya.

“Bahkan perjuangan terakhirnya yang menyakitkan ia tersenyum bahagia memamerkan giginya, so sweet, hiks” Wati kembali berurai air mata.

Berikutnya gadis bertubuh subur, Blutut juga mumulai aksinya memamerkan gerakan yang di teorikan oleh Wati. Seperti Pinkzie dan Bimolee, Blutut pun nyaris sempurna hanya saja ketika gerakan melompatnya membuat tempat latihan rubuh. Ia pun ditandu oleh tim Dokter sekolah.

“Benar-benar perjuangan yang hebat kalian” Wati menangis sejadi-jadinya.

Handphone Wati berdering di dalam tas punggung mini Jeruk miliknya. Ia meraih dan mengeceknya.

“Oke teman-teman latihan hari ini di cukupkan sampai disini saja karena gue ada keperluan mendadak. Ini benar-benar latihan terkeren yang pernah gue alamin seumur hidup. Serius. Sumpah. Gue nggak bakal lupain perjuangan teman-teman kita barusan yang telah berkorban dan berlatih keras demi lomba ini. Gue terharu. Gue berurai air mata. Dan gue yakin kita bakal menang di lomba kali ini. Gue…nggak bisa ngomong apa lagi..gue ..permisi”

Wati berlari-lari kecil sambil mengusap air matanya yang bercucuran meninggalkan teman-temannya yang telah terbaring kelelahan. Tempat latihan porak poranda. Hancur.

Sesosok lelaki botak tiba-tiba muncul.

“Selamat siang anak-anak. Saya adalah pelatih senam kalian dan mari kita mulai”

“AAAAAAAA!!!!”