Wati:Gadis Penjual Korek Kuping (Edisi Special)


EDISI SPECIAL

Namaku Wati. Umurku sekitar 6-9 tahun. Aku sendiri tak begitu ingat berapa tepatnya umurku saat ini. Jadi aku hanya bisa mengatakan umurku berkisar antar 6-9 tahun. Aku tinggal bersama ibu tiriku yang jahat. Dia selalu menyiksaku dan memaksaku bekerja sepanjang hari untuknya. Aku tak bisa melawan, karena dialah keluargaku satu-satunya.

Aku sangat merindukan Ibu dan Ayahku. Andai saja ibu dan ayah tak pergi begitu cepat ke surga pasti aku takkan hidup semenderita ini. Tapi pesan ibu, aku harus jadi gadis yang kuat. Gadis yang kuat bertahan untuk tak tertawa ketika seseorang menggelitiki lubang hidung atau kupingmu. Ya gadis yang kuat.

Aku memiliki 2 Saudara tiri bernama Siti dan Ijah. Aku kadang iri dengan mereka. Mereka begitu dimanja dan tak pernah ikut bekerja dan itu sangat menyebalkan. Mereka selalu dibelikan semua yang mereka inginkan. Baju, Sepatu, Sandal, Album K-Pop, DVD K-Drama, DVD Bollywood dan masih banyak lagi. Mereka juga diizinkan bersekolah. Sedangkan aku harus tetap bekerja agar bisa mendapatkan jatah makan dari Ibu tiriku.

Ibu tiriku mempunyai sebuah usaha yang setiap harinya aku kerjakan. Ibu tiriku adalah pembuat Korek Kuping. Jadi aku memiliki tugas untuk menjual Korek Kuping ke beberapa desa setiap harinya, sampai habis. Ya sampai habis. Kalau tidak, aku takkan mendapat jatah makan. Orang-orang mengenalku dengan sebutan “Gadis Penjual Korek Kuping”.

Pagi yang dingin menyambutku ketika aku dibangunkan dengan paksa oleh ibu tiriku. Aku di perintahkan untuk segera bersiap-siap pergi menjual Korek Kuping yang telah ia siapkan. Pagi yang bersalju pikirku ketika aku melihat tumpukkan putih di Jendela. Aku bangkit dari sehelai tikar yang ujung-ujungnya telah robek dikunyah tikus. Memakai baju rombeng beberapa lapis dan mengenakan sepatu yang tak kalah robeknya. Tak lupa aku memakai kerudung kuning jaket hitam andalanku yang telah lama diberikan seorang lelaki kurus yang sangat tampan. Ia tak mau menyebutkan namanya. Ia hanya mengatakan kalau jaket ini adalah jaket HPF. Jaket yang terdapat logo unik di sebelah kanan atas dan bertuliskan “Potterheads Indonesia” di bagian belakangnya. Jaket yang benar-benar hangat. Benar-benar orang yang mesterius tapi tampan gumamku.

“Hari ini tidak ada sarapan untukmu, ini sebagai hukuman karena kemarin kau tak menjual habis Korek Kuping-nya.” Kata ibu tiriku dengan ketus. Aku hanya terdiam sambil merapikan poni yang aku sebut poni Maria Mercedes dan dengan cepat meraih keranjang yang berisikan tumpukan Korek Kuping siap jual. Sepintas aku melihat Siti dan Ijah sedang asik mengolesi roti gandum mereka dengan tertawa penuh kepuasan ketika aku berlari keluar rumah yang bersalju.

“Kalau hari ini Korek Kupingnya tak habis terjual, kau juga takkan mendapat makan malam! Ingat itu!” Teriak ibu tiriku di ambang pintu dan langsung menutupnya dengan suara menjeblak.

Aku tak kuasa menahan air mataku. Sekuat tenaga aku menahannya sambil berjalan di jalan yang penuh dengan tumpukkan salju namun aku tak sanggup. Padahal ibuku selalu berpesan kepadaku agar aku menjadi gadis yang tak gampang menangis. Gadis yang takkan menangis meski sedang mengiris bawang sekarung.

“Pagi manis.” Sapa seseorang belakangku.

Aku menoleh kebelakang dengan dramatis. Poni Maria Mercedes dibawah kerudungku yang kuning berayun dengan slow motion.

“Udin.” Gumamku lirih. Bola mataku berbinar melihat bocah laki-laki tampan yang telah lama aku sukai itu.

“Sudah laku berapa?” Tanyanya sambil merapikan topinya.

“Belum ada satupun yang laku, aku baru saja keluar untuk berjualan.” Kataku sambil mengangkat bahu. Aku berusaha mengalihkan pandanganku karena aku belum sanggup menatap wajahnya yang tampan.

“Kau pasti belum sarapan..” Udin mengeluarkan sesuatu dari saku celananya yang berwarna cokelat. “Makanlah roti ini, aku tahu pasti wanita monster itu tak memberimu sarapan seperti biasanya.”

“Terimakasih.” Aku meraih roti itu dan langsung memakannya dengan lahap. Aku melihat Udin ternsenyum memperhatikanku mengunyah roti tersebut.

“Maaf.” Kataku malu.

“Tak apa, makanlah.”

Aku menghabiskan roti pemberian udin itu dengan lahap. Aku memang jarang mendapat jatah makan dari ibu tiriku sehingga makanan yang aku makan terasa sangat lezat saking laparnya bahkan meski hanya sebuah roti tawar biasa.

“Hari ini kamu rencananya berjualan ke daerah mana?” Tanya Udin yang berjalan di sampingku.

“Ya paling disekitar sini saja. Apalagi hari bersalju seperti ini aku tak sanggup untuk berjualan lebih jauh lagi.”

“Sebenarnya aku ingin ikut membantumu berjualan, tapi hari ini aku ada janji.”

“Janji?” Aku menghentikan langkahku. “Dengan siapa?”

“Dengan dia.” Udin menunjuk bocah laki-laki tampan sedang menunggunya di perempatan jalan yang bersalju. Dia adalah Cowok Cakep Daerah Sebelah.

Menurut sepengetahuanku, mereka telah bersahabat sejak lama. Aku kerap melihat mereka selalu berdua. Aku bisa merasakan aura persahabat mereka sangat kuat sekali bahkan melebihi saudara kandung sekalipun.

“Esok hari, aku akan membawakanmu roti lagi tak peduli kau mendapat jatah sarapan atau tidak.” Bisik Udin lalu melangkah mendekati Cowok Cakep Daerah Sebelah.

“Sampai ketemu lagi, dan tangkap ini.” Udin melemparkan sesuatu ke arahku. Dengan sigap aku menangkapnya. Ternyata sebuah permen berwarna merah. Permen Rujak rasa sambel goreng. Salah satu permen favoritku. Setidaknya rasa pedasnya akan mampu menghangatkan tenggororkanku di hari yang bersalju ini kataku dalam hati seraya memasukkan permen rujak itu ke dalam mulutku. Ahh.. Hangatnya.

Salju turun makin lebat membuat suasana sekitar makin dingin. Sesekali aku menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku dan meniupnya. Lumayan menghangatkan meski hanya beberapa detik saja.

“Korek..korek..” Kataku dengan suara serak menjajakan daganganku.

“Beli koreknya nak.” Seorang yang tua memberhentikan kereta kudanya.

“Mau rasa apa pak?”

“Kamu jual korek apa nak?”

“Aku menjual Korek Kuping pak.”

“Aku pikir kamu menjual Korek Api.” Orang tua itu berlalu dengan kereta kudanya.

Udara semakin mendingin. Tubuhku terasa membeku. Aku bersandar disebuah toko cokelat yang menjajakan berbagai macam cokelat di etalasenya. Terlihat sangat lezat. Beberapa kali aku menelan ludah melihatnya.

“Apa yang kau lakukan disini?? Pengemis sialan!!!” Teriak seorang laki-laki tinggi besar. Ia mengusirku dengan paksa dan menendangku dengan kasar hingga aku terjatuh. Keranjang Korek Kuping-ku terjatuh dengan isinya yang berhamburan. Belum sempat aku mengumpulkannya, kereta kuda melindas keranjangku dan beberapa Korek Kuping-ku hancur olehnya. Aku berusaha mengumpulkan sisa Korek Kuping yang masih utuh dan meletakkannya ke dalam keranjangku yang telah bengkok tak beraturan.

Aku duduk di sebuah jalan sempit yang dipenuhi salju menatap barang daganganku yang tersisa. Aku tak tahu harus bagaimana kalau sampai hal ini diketahui oleh ibu tiriku. Jangankan jatah makan malam, aku bahkan akan disuruh tidur diluar rumah.

Aku mulai menangis ketika aku membayangkan wajah ibuku.

“Ibu…aku kangen. Aku ingin bersamamu.” Kataku lirih sambil terisak.

Tiba-tiba saja dari keranjangku yang penyok berpendar sinar keunguan. Aku terlonjak bangun dan mundur beberapa langkah. Sesosok wanita anggun dengan gaun bulu-bulu berwarna ungu muncul dari pendaran cahaya itu. Kedua tangannya memegang sebuah tongkat berwarna yang juga berwarna ungu mirip dengan Korek Kuping.

“Ka..ka..mu siapa?” Tanyaku gugup.

“Fufufu..aku adalah peri Korek Kuping. Aku datang untuk menolongmu anak manis.”

“Menolongku, ibu ibu peri..”

“Hmmm.. Sebaiknya jangan panggil aku Ibu Peri. Panggil aku Ceu Peri.”

“Baiklah Ceu Peri.”

“Kamu anak yang baik tapi kurang beruntung. Untuk itu Ceu Peri akan menolongmu. Ceu Peri akan membuatmu bahagia.”

“Bagaimana caranya Ceu Peri?”

“Kau perlu mengorek kupingmu dengan Korek Kuping ini. Maka kau akan bahagia. Setiap korekannya akan menimbulkan sensasi membahagiakan yang tiada tara. Cobalah.” Ceu Peri menyodorkan satu set Korek Kuping berwarna ungu. “Setelah kau melakukannya Ceu Peri bisa pastikan kau akan bahagia dan kau juga bisa bertemu dengan orang yang sangat kau rindukan.”

“Benarkah, Ceu Peri?”

“Percayalah, Ceu Peri pergi dulu karena ada beberapa hal yang harus dikorek eh dikerjakan.” Wajah Ceu Peri merona karena malu sebelum ia menghilang dari pandanganku.

“Benarkah Korek Kuping ini bisa membuatku bahagia? Benarkah benda ini bisa mempertemukanku dengan orang yang aku rindukan?” Aku meraih salah satu Korek Kuping ungu itu dan mulai mengorek kuping. Mataku sontak berbinar, berkaca-kaca, berlinang lalu berurai air mata. Perasaan ini benar-benar membahagiakan. Bahagia yang tiada duanya. Suasana dingin disekitarku tiba-tiba saja menghangat. Hangat sekali. Demikian seterusnya ketika aku mencoba mengorek kuping dengan Korek Kuping kedua, ketiga dan seterusnya sensasi luar biasa bahagianya makin meningkat. Tubuhku seperti melayang ke udara bebas ketika aku menggunakan Korek Kuping terakhir. Selain itu aku melihat sesosok yang sangat aku rindukan selama ini, Ibu.

“Ibu..apakah itu kau ibu?” Tanyaku

“Iya sayang, ini ibu.”

“Ibu aku rindu sekali.” Kataku sambil melayang ke arahnya.

“Apakah kau mau bersama ibu selamanya?”

“Aku mau ibu..aku mau bersama ibu selamanya. Aku tak mau berpisah dengan ibu.”

“Kalau begitu raihlah tangan ibu, begitu kau menyentuhnya, kita takkan terpisahkan. Selamanya.”

Aku meraih tangan itu. Aku mengenggamnya dengan kuat. Tubuhku terasa begitu ringan yang kemudian melayang-layang bersama dengan ibu menuju tempat yang sangat membahagiakan. Perasaanku begitu bahagia. Aku belum pernah merasakan perasaan sebahagia ini sebelumnya. Terimakasih Ceu Peri, sekarang aku bisa bahagia bersama ibuku selamanya.

Wati:Cerdas Cermat


CHAPTER 4

Wajah Wati merona setiap kali ia mengingat kejadian itu. Kejadian paling berani seumur hidupnya: menyatakan cinta kepada cowok yang dia sukai sejak lama. Ditambah lagi ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan alias cintanya berbalas, menurutnya.

“Terus gimana cyin?” Tanya Ningsih penasaran disuatu pagi yang cerah.

“Ya gitu deh, Udin ternyata nerima cinta gue. Tahu gitu gue udah nyatain dari dulu.”

“Aaah so sweet..” Ningsih memeluk sahabatnya itu dengan kuat sambil membenarkan posisi kacamata tebalnya, “tapi lo serius kan?”

“Masa gue bohong sih?” Wati melepaskan pelukan kuat Ningsih ketika ia melihat sosok Udin sedang berjalan berdua dengan cowok cakep kelas sebelah dari kejauhan, “lo liat aja nih gue buktiin”

Wati merapikan poni Maria Mercedes-nya.

“Hai, Din.” Sapa Wati sok asik.

Udin terdiam dingin saling pandang dengan cowok cakep kelas sebelah.

“Eh, nanti malam kan ada film bagus Din, kita nonton yuk.” Ajak Wati manja sambil menarik-narik lengan Udin.

“Maaf Wati, gue nggak bisa, soalnya beberapa hari lagi kan gue ada cerdas cermat jadi gue harus belajar”

“Oh ya! Gue lupa! Lo kan udah terpilih buat wakilin SMA kita buat ikutan cerdas cermat tingkat kabupaten. Kok bisa sih gue lupa gini? Tapi lo nggak perlu khawatir, gue nggak bakal gangguin lo untuk saat ini. Lo mesti fokus sama cerdas cermat ini ya kan Din?”

Udin telah berlalu ditemani cowok cakep kelas sebelah beberapa detik yang lalu. Angin bertiup sepoi meniup dedaunan yang ada di belakang Wati.

“Ahahahaha…!” Ningsih tertawa heboh, “Masih yakin Udin suka sama lo? Dingin gitu sama lo.”

“Pasti dong. Lo nggak liat barusan gue pegangin lengannya dia diem aja dan ada benarnya juga sih, dia kan wakilin sekolah ini buat ikutan cerdas cermat jadi sudah sepatutnya dia belajar giat demi sekolah tercinta kita ini dan bukan nonton film bareng gue.”

“Ya udah lah, suka-suka lo deh. Tapi gue ingetin aja sih, Udin sepertinya nggak suka sama lo. Tatapannya itu dingin banget tapi nggak cuma sama lo doang sih, sama cewek yang lain juga dingin banget. Gue sebenarnya agak nggak percaya aja kalo dia udah nerima cinta lo.”

“Just wait and see! Gue bakal umbar kemesraan nantinya biar semua sekolah tau kalo kita udah jadian.”

Bel berbunyi empat kali, pertanda akan ada pengumuman yang akan disampaikan.

“Perhatian anak-anakku tercinta. Hari ini ibu guru akan mengumumkan sebuah berita penting, ehem, ” suara wanita yang berasal dari pengeras suara terdengar sedikit genit itu berdehem . Wati langsung menyadari bahwa itu adalah suara Ibu Mingce, guru pelajaran sejarah.

Ibu Mingce adalah seorang guru pelajaran sejarah yang modis dengan dandanan menor. Wanita itu bertubuh pendek dan sedikit gemuk. Bila berjalan akan mengeluarkan suara “tok tok” yang khas dari sepatunya. Ia mengenakan jilbab dan sebuah kacamata yang tak biasa. Kacamata bulat? Itu biasa. Kacamata oval? Biasa juga. Kacamata bulan separuh? Biasa. Ibu Mingce menggunakan kacamata berbentuk bintang yang ditaburi batu Swarovski berkilau di setiap pinggirannya yang jika ditotal berjumlah 69 biji. Ia juga hobi mengenakan baju dengan warna senada. Entah dari warna Baju, Kerudung, Tas, Lisptick dan Sepatu begitu juga kacamata yang tak biasa itu akan berganti sesuai warna baju yang ia kenakan. Selain itu ibu Mingce gemar memakai barang-barang bermerk.

“Dari hasil kesepakatan kemarin,” ibu Mingce melanjutkan pengumumannya melalui pengeras suara masih dengan suara genit. “Telah terpilih tiga orang siswa yang akan mewakili sekolah kita untuk mengikuti cerdas cermat tingkat Kabupaten dan akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Mereka adalah Udin, Cowok cakep kelas sebelah, dan Ijah.”

“Oh ternyata cowok cakep kelas sebelah itu kepilih juga ya?” Gumam Ningsih lirih disebelah Wati yang sedang merapikan poni Maria Mercedes-nya.

Ibu Mingce melanjutkan, “Tapi berhubung Ijah sedang sakit maka sekolah telah menetapkan penggantinya yaitu Siti. Tapi berhubung Siti juga sedang ada syuting iklan, maka sekolah telah menetapkan penggantinya yaitu Wati.”

Wati dan Ningsih saling adu pandang dengan mata melotot masih tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Serempak mereka saling tampar dan berteriak heboh.

“KYAAAAAA!!!!”

***

Buguru Mingce memasuki kelas Wati dengan langkah teratur dan rapi. Hari ini ia memakai setelan warna kuning yang merupakan warna favoritnya. Suara “tok-tok” sepatunya memecah keheningan kelas itu. Dengan posisi kedua tangan di pinggang ia menyapa kelas itu.

“Selamat pagi anak-anak” Salamnya seraya merapikan gagang kacamata bintang berkilaunya. Lipstick kuningnya terlihat sangat aneh dan agak menyilaukan. “seperti yang ibu umumkan barusan, dikelas ini ada dua siswa yaitu Udin dan Wati akan mewakili sekolah kita dalam cerdas cermat yang akan diadakan beberapa hari lagi. Sebenarnya ibu telah berharap banyak pada Siti, tapi ibu tau juga jadual syutingnya sangat padat.” Ibu Mingce melangkah rapi bak di catwalk dengan “tok tok” khasnya mendekat ke meja Wati. Begitu ia tiba di depan mejanya, ia berkacak pinggang anggun dengan kaki dilebarkan sedikit. Persis pose poto model. Mata di balik kacamata bintang berkilau itu melirik tajam ke arah Wati. “Jadi jangan buat sekolah ini kecewa! ngerti!” Ibu Mingce membuang pandang dengan gemulai melangkah ke setiap sudut di kelas itu. Ia berhenti di beberapa sudut sambil berpose dengan pose yang bebeda.

“Oke, Udin dan Wati ikut ibu ke kantor, yang lain buka buku paket sejarah kalian halaman 69”

***

Ternyata di kantor ibu Mingce telah menunggu cowok cakep kelas sebelah. Ia tersenyum. Senyumnya begitu manis. Awalnya Wati berpikir senyum itu untuknya dan ternyata dia tersenyum untuk Udin yang dengan cepat mendahului Wati memasuki ruangan ibu Mingce dan langsung duduk di samping cowok cakep kelas sebelah. Wati kemudian duduk di samping Udin yang kini berada di antaranya dan cowok cakep kelas sebelah. Mereka sedang sibuk mengobrol tanpa menghiraukannya.

“Jadi begini..” Ibu Mingce memulai pembicaraan “tapi tunggu dulu, penglihatan ibu sedikit terganggu. Sepertinya ibu perlu mengganti kacamata dulu.”

Ibu Mingce melepas kacamata bintangnya yang berwarna kuning menyala. Dalam sekejap ia menggantinya dengan kacamata lain berwarna kuning dan bertabur kristal Swarovski tapi dengan bentuk berbeda:Kacamata Love.

Wati menyipitkan mata melihat kacamata baru ibu Mingce.

“Wati, kau tak perlu menghitung berapa jumlah kristal Swarovski-nya. Karena sudah pasti jumlahnya 69.” Ucap ibu Mingce dengan ketus sambil menatap bayangannya disebuah cermin berwarna kuning.

Ibu Mingce lalu menjelaskan segala sesuatunya dengan mendetail. Dari materi hingga posisi duduk mereka. Dia memutuskan posisi duduk Wati adalah diantara Udin dan cowok cakep kelas sebelah karena memang ia sendiri perempuan. Wati memperhatikan semburat kekecewaan dia wajah Udin dan cowok cakep kelas sebelah ketika mereka mendengar keputusan itu. Tangan mereka berdua saling menggenggam seolah tak mau dipisahkan. Tetapi bagi Wati, hanya dekat dengan Udin sudah bisa membuatnya bahagia apalagi sampai duduk disampingnya dengan durasi yang cukup lama sanggup membuatnya lupa segalanya. Bodo amat. Yang pasti Udin akan selalu mencintaiku sampai kapanpun. Dia telah resmi menjadi pacarku. Batinnya membenarkan.

Hari itu akhirnya tiba. Setelah melalu perjuangan keras, Udin cs berhasil memasuki babak final. Di sepanjang babak penyisihan entah kenapa Wati begitu jadi sangat bersemangat dan hampir berhasil menjawab semua pertanyaan tanpa bantuan Udin dan cowok cakep kelas sebelah. Mereka berdua hanya memancarkan wajah merana di sepanjang pertandingan. Mereka merasakan seolah ada dinding yang memisahkan mereka berdua. Meski begitu mereka berdua selalu berpegangan tangan dengan kuat dibelakang Wati. So sweet.

Di babak final tibalah saat peragaan busana eh soal peragaan.

Juri membacakan sebuah soal. “Pertolongan pertama pada penyakit Diare?”

“Membuat larutan gula garam” jawab Wati.

“Bisa dipraktekkan?”

“Eh, Din lo aja yang maju” Saran Wati ke Udin.

“Tapi kan?” Mata udin menatap cowok cakep kelas sebelah dengan memelas. Tangan mereka beradu berpegangan makin kuat.

“Atau lo aja yang maju praktekin hei cowok cakep kelas sebelah.” Ucap Wati berbalik menghadap ke arah cowok cakep kelas sebelah yang kemudian memamerkan wajah tak kalah memelas dan tak berdosa ke arahnya.

“Ah ribet! Gue aja yang maju!” Ucap Wati yang kemudian bangkit meninggalkan mereka yang saling memandang satu sama lain.

“Berjuanglah Wati!” Teriak Ningsih dikerumunan penonton dibelakang para juri sambil membawa pom-pom.

“Baiklah pemirsa kembali bersama dengan saya, Wati dalam acara..”

“Ini bukan acara TV woy!” Potong salah seorang Juri berambut kribo.

“Eh ya maaf.” Wajah Wati merah seperti warna cat tembok tetangga sebelah. “baiklah, bahan-bahan yang diperlukan adalah, gula, garam, dan air secukupnya. Pertama-tama tuangkan segelas air lalu masukkan satu sendok mujung gula dan setengah sendok garam lalu aduk yang rata. Jadilah larutan gula garam ala Chef Wati.”

“WOOOOOW” seluruh penonton serempak ber-WOW- melihat larutan gula garam buatan Wati yang berkilau.

“100 untuk regumu” Ucap salah satu Juri yang berkonde.

Wati kemudian menunduk memberi hormat dan hendak kembali ke tempat duduknya. Namun ia tak sengaja menyenggol sebuah botol berisi cairan berwarna hitam hingga terjatuh dan pecah.

“GAWAT!!!” Teriak juri yang rambutnya berdiri. “ITU ADALAH UNSUR KIMIA 69! KALAU SAMPAI ITU BERCAMPUR DENGAN LARUTAN GULA GARAM AKAN SANGAT BERBAHAYAAAAAAA!!!!”

“TIDAAAAK!!!!” Teriak Wati.

“WATIIIIII!!!!” Teriak Ningsih

“UDIIIIIN!!!” Teriak Ibu Mingce

“BAKSOOOOO!!!” Teriak mamang-mamang Bakso di luar ruangan.

DUARRRRRRRRRR!!!!!!!!!