Wati:Cerdas Cermat


CHAPTER 4

Wajah Wati merona setiap kali ia mengingat kejadian itu. Kejadian paling berani seumur hidupnya: menyatakan cinta kepada cowok yang dia sukai sejak lama. Ditambah lagi ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan alias cintanya berbalas, menurutnya.

“Terus gimana cyin?” Tanya Ningsih penasaran disuatu pagi yang cerah.

“Ya gitu deh, Udin ternyata nerima cinta gue. Tahu gitu gue udah nyatain dari dulu.”

“Aaah so sweet..” Ningsih memeluk sahabatnya itu dengan kuat sambil membenarkan posisi kacamata tebalnya, “tapi lo serius kan?”

“Masa gue bohong sih?” Wati melepaskan pelukan kuat Ningsih ketika ia melihat sosok Udin sedang berjalan berdua dengan cowok cakep kelas sebelah dari kejauhan, “lo liat aja nih gue buktiin”

Wati merapikan poni Maria Mercedes-nya.

“Hai, Din.” Sapa Wati sok asik.

Udin terdiam dingin saling pandang dengan cowok cakep kelas sebelah.

“Eh, nanti malam kan ada film bagus Din, kita nonton yuk.” Ajak Wati manja sambil menarik-narik lengan Udin.

“Maaf Wati, gue nggak bisa, soalnya beberapa hari lagi kan gue ada cerdas cermat jadi gue harus belajar”

“Oh ya! Gue lupa! Lo kan udah terpilih buat wakilin SMA kita buat ikutan cerdas cermat tingkat kabupaten. Kok bisa sih gue lupa gini? Tapi lo nggak perlu khawatir, gue nggak bakal gangguin lo untuk saat ini. Lo mesti fokus sama cerdas cermat ini ya kan Din?”

Udin telah berlalu ditemani cowok cakep kelas sebelah beberapa detik yang lalu. Angin bertiup sepoi meniup dedaunan yang ada di belakang Wati.

“Ahahahaha…!” Ningsih tertawa heboh, “Masih yakin Udin suka sama lo? Dingin gitu sama lo.”

“Pasti dong. Lo nggak liat barusan gue pegangin lengannya dia diem aja dan ada benarnya juga sih, dia kan wakilin sekolah ini buat ikutan cerdas cermat jadi sudah sepatutnya dia belajar giat demi sekolah tercinta kita ini dan bukan nonton film bareng gue.”

“Ya udah lah, suka-suka lo deh. Tapi gue ingetin aja sih, Udin sepertinya nggak suka sama lo. Tatapannya itu dingin banget tapi nggak cuma sama lo doang sih, sama cewek yang lain juga dingin banget. Gue sebenarnya agak nggak percaya aja kalo dia udah nerima cinta lo.”

“Just wait and see! Gue bakal umbar kemesraan nantinya biar semua sekolah tau kalo kita udah jadian.”

Bel berbunyi empat kali, pertanda akan ada pengumuman yang akan disampaikan.

“Perhatian anak-anakku tercinta. Hari ini ibu guru akan mengumumkan sebuah berita penting, ehem, ” suara wanita yang berasal dari pengeras suara terdengar sedikit genit itu berdehem . Wati langsung menyadari bahwa itu adalah suara Ibu Mingce, guru pelajaran sejarah.

Ibu Mingce adalah seorang guru pelajaran sejarah yang modis dengan dandanan menor. Wanita itu bertubuh pendek dan sedikit gemuk. Bila berjalan akan mengeluarkan suara “tok tok” yang khas dari sepatunya. Ia mengenakan jilbab dan sebuah kacamata yang tak biasa. Kacamata bulat? Itu biasa. Kacamata oval? Biasa juga. Kacamata bulan separuh? Biasa. Ibu Mingce menggunakan kacamata berbentuk bintang yang ditaburi batu Swarovski berkilau di setiap pinggirannya yang jika ditotal berjumlah 69 biji. Ia juga hobi mengenakan baju dengan warna senada. Entah dari warna Baju, Kerudung, Tas, Lisptick dan Sepatu begitu juga kacamata yang tak biasa itu akan berganti sesuai warna baju yang ia kenakan. Selain itu ibu Mingce gemar memakai barang-barang bermerk.

“Dari hasil kesepakatan kemarin,” ibu Mingce melanjutkan pengumumannya melalui pengeras suara masih dengan suara genit. “Telah terpilih tiga orang siswa yang akan mewakili sekolah kita untuk mengikuti cerdas cermat tingkat Kabupaten dan akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Mereka adalah Udin, Cowok cakep kelas sebelah, dan Ijah.”

“Oh ternyata cowok cakep kelas sebelah itu kepilih juga ya?” Gumam Ningsih lirih disebelah Wati yang sedang merapikan poni Maria Mercedes-nya.

Ibu Mingce melanjutkan, “Tapi berhubung Ijah sedang sakit maka sekolah telah menetapkan penggantinya yaitu Siti. Tapi berhubung Siti juga sedang ada syuting iklan, maka sekolah telah menetapkan penggantinya yaitu Wati.”

Wati dan Ningsih saling adu pandang dengan mata melotot masih tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Serempak mereka saling tampar dan berteriak heboh.

“KYAAAAAA!!!!”

***

Buguru Mingce memasuki kelas Wati dengan langkah teratur dan rapi. Hari ini ia memakai setelan warna kuning yang merupakan warna favoritnya. Suara “tok-tok” sepatunya memecah keheningan kelas itu. Dengan posisi kedua tangan di pinggang ia menyapa kelas itu.

“Selamat pagi anak-anak” Salamnya seraya merapikan gagang kacamata bintang berkilaunya. Lipstick kuningnya terlihat sangat aneh dan agak menyilaukan. “seperti yang ibu umumkan barusan, dikelas ini ada dua siswa yaitu Udin dan Wati akan mewakili sekolah kita dalam cerdas cermat yang akan diadakan beberapa hari lagi. Sebenarnya ibu telah berharap banyak pada Siti, tapi ibu tau juga jadual syutingnya sangat padat.” Ibu Mingce melangkah rapi bak di catwalk dengan “tok tok” khasnya mendekat ke meja Wati. Begitu ia tiba di depan mejanya, ia berkacak pinggang anggun dengan kaki dilebarkan sedikit. Persis pose poto model. Mata di balik kacamata bintang berkilau itu melirik tajam ke arah Wati. “Jadi jangan buat sekolah ini kecewa! ngerti!” Ibu Mingce membuang pandang dengan gemulai melangkah ke setiap sudut di kelas itu. Ia berhenti di beberapa sudut sambil berpose dengan pose yang bebeda.

“Oke, Udin dan Wati ikut ibu ke kantor, yang lain buka buku paket sejarah kalian halaman 69”

***

Ternyata di kantor ibu Mingce telah menunggu cowok cakep kelas sebelah. Ia tersenyum. Senyumnya begitu manis. Awalnya Wati berpikir senyum itu untuknya dan ternyata dia tersenyum untuk Udin yang dengan cepat mendahului Wati memasuki ruangan ibu Mingce dan langsung duduk di samping cowok cakep kelas sebelah. Wati kemudian duduk di samping Udin yang kini berada di antaranya dan cowok cakep kelas sebelah. Mereka sedang sibuk mengobrol tanpa menghiraukannya.

“Jadi begini..” Ibu Mingce memulai pembicaraan “tapi tunggu dulu, penglihatan ibu sedikit terganggu. Sepertinya ibu perlu mengganti kacamata dulu.”

Ibu Mingce melepas kacamata bintangnya yang berwarna kuning menyala. Dalam sekejap ia menggantinya dengan kacamata lain berwarna kuning dan bertabur kristal Swarovski tapi dengan bentuk berbeda:Kacamata Love.

Wati menyipitkan mata melihat kacamata baru ibu Mingce.

“Wati, kau tak perlu menghitung berapa jumlah kristal Swarovski-nya. Karena sudah pasti jumlahnya 69.” Ucap ibu Mingce dengan ketus sambil menatap bayangannya disebuah cermin berwarna kuning.

Ibu Mingce lalu menjelaskan segala sesuatunya dengan mendetail. Dari materi hingga posisi duduk mereka. Dia memutuskan posisi duduk Wati adalah diantara Udin dan cowok cakep kelas sebelah karena memang ia sendiri perempuan. Wati memperhatikan semburat kekecewaan dia wajah Udin dan cowok cakep kelas sebelah ketika mereka mendengar keputusan itu. Tangan mereka berdua saling menggenggam seolah tak mau dipisahkan. Tetapi bagi Wati, hanya dekat dengan Udin sudah bisa membuatnya bahagia apalagi sampai duduk disampingnya dengan durasi yang cukup lama sanggup membuatnya lupa segalanya. Bodo amat. Yang pasti Udin akan selalu mencintaiku sampai kapanpun. Dia telah resmi menjadi pacarku. Batinnya membenarkan.

Hari itu akhirnya tiba. Setelah melalu perjuangan keras, Udin cs berhasil memasuki babak final. Di sepanjang babak penyisihan entah kenapa Wati begitu jadi sangat bersemangat dan hampir berhasil menjawab semua pertanyaan tanpa bantuan Udin dan cowok cakep kelas sebelah. Mereka berdua hanya memancarkan wajah merana di sepanjang pertandingan. Mereka merasakan seolah ada dinding yang memisahkan mereka berdua. Meski begitu mereka berdua selalu berpegangan tangan dengan kuat dibelakang Wati. So sweet.

Di babak final tibalah saat peragaan busana eh soal peragaan.

Juri membacakan sebuah soal. “Pertolongan pertama pada penyakit Diare?”

“Membuat larutan gula garam” jawab Wati.

“Bisa dipraktekkan?”

“Eh, Din lo aja yang maju” Saran Wati ke Udin.

“Tapi kan?” Mata udin menatap cowok cakep kelas sebelah dengan memelas. Tangan mereka beradu berpegangan makin kuat.

“Atau lo aja yang maju praktekin hei cowok cakep kelas sebelah.” Ucap Wati berbalik menghadap ke arah cowok cakep kelas sebelah yang kemudian memamerkan wajah tak kalah memelas dan tak berdosa ke arahnya.

“Ah ribet! Gue aja yang maju!” Ucap Wati yang kemudian bangkit meninggalkan mereka yang saling memandang satu sama lain.

“Berjuanglah Wati!” Teriak Ningsih dikerumunan penonton dibelakang para juri sambil membawa pom-pom.

“Baiklah pemirsa kembali bersama dengan saya, Wati dalam acara..”

“Ini bukan acara TV woy!” Potong salah seorang Juri berambut kribo.

“Eh ya maaf.” Wajah Wati merah seperti warna cat tembok tetangga sebelah. “baiklah, bahan-bahan yang diperlukan adalah, gula, garam, dan air secukupnya. Pertama-tama tuangkan segelas air lalu masukkan satu sendok mujung gula dan setengah sendok garam lalu aduk yang rata. Jadilah larutan gula garam ala Chef Wati.”

“WOOOOOW” seluruh penonton serempak ber-WOW- melihat larutan gula garam buatan Wati yang berkilau.

“100 untuk regumu” Ucap salah satu Juri yang berkonde.

Wati kemudian menunduk memberi hormat dan hendak kembali ke tempat duduknya. Namun ia tak sengaja menyenggol sebuah botol berisi cairan berwarna hitam hingga terjatuh dan pecah.

“GAWAT!!!” Teriak juri yang rambutnya berdiri. “ITU ADALAH UNSUR KIMIA 69! KALAU SAMPAI ITU BERCAMPUR DENGAN LARUTAN GULA GARAM AKAN SANGAT BERBAHAYAAAAAAA!!!!”

“TIDAAAAK!!!!” Teriak Wati.

“WATIIIIII!!!!” Teriak Ningsih

“UDIIIIIN!!!” Teriak Ibu Mingce

“BAKSOOOOO!!!” Teriak mamang-mamang Bakso di luar ruangan.

DUARRRRRRRRRR!!!!!!!!!

Iklan

2 Komentar

  1. aztee said,

    15/09/2012 pada 10:59 PM

    Maksudnya.. Udin dan cowo cakep itu…ehm.. ._.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: