Amazing 25


Eh lo tau nggak hari selasa kemaren tanggal berapa? Nggak tau? Ya udah kalau nggak tau. Padahal hari selasa kemaren itu tanggal 30 Oktober loh. Lo tau kan tanggal 30 Oktober itu hari apa? Nggak tau juga? Padahal kan hari itu hari ulang tahun gue loh. Hiks. Happy birthday to me…happy birthday to me…happy birthday to me…happy birthday to me…. Yeeeeey!!!! *tiup lilin*

Nggak kerasa banget ya umur gue udah 25 tahun. Seperempat abad dan gue belum jadi apa-apa. Tapi gue seneng banget loh dititik ini. Kan katanya ya nanti kalo kita udah meninggal terus pas kita dibangkitin pas udah kiamat gitu umur semua umat manusia di bumi sama rata. Yaitu 25 tahun. Entah dia meninggal pas baby atau udah meninggal pas udah tua semua pada dipukul rata, umurnya bakal jadi 25 tahun. So, pada titik ini bisa dibilang sedang mekar-mekarnya gitu. Titik dimana ketika lo bakal ngerasa paling oke, kece, seksi, fabulous, bergairah, pokoknya sedang beekilau- kilaunya. Sama kayak ketika lo menginjak usia 17 tahun. Menurut gue ya, pas 17 tahun juga sedang mekar-mekarnya. Entah gimanapun tampang lo tapi pas umur 17 tahun itu gue ngerasa oke banget tiada tandingan. Jadi titik 17 tahun dan 25 tahun adalah titik paling menyenangkan dalam hidup gue. Kalo kalian gimana?

Oke kita bahas ultah gue kemaren. Dari tahun ke tahun sebenarnya nggak pernah ya special-special amat. Karena sejak kecil ibu gue nggak pernah ngebiasain mesti ngerayain ulang tahun. Tahulah di kampung gitu dan juga jarang banget ada yang ngerayain ulang tahun di kampung gue. Dari 25 tahun eksistensi gue di dunia yang fana dan kejam ini cuma beberapa kali aja gue ngerayain ulang tahun.

Seingat gue pertama kali ada yang ngerayain ulang tahun gue pas jaman SMP. Nggak tau dari mana temen-temen gue tahu ulang tahun gue eh guenya tiba-tiba dapet hadiah gitu. Lo tahu nggak isinya apaan? Biskuat. Ya isinya biskuit Biskuat yang harganya seribuan! Hehehe… Tapi yang bikin gue imperesip ya mereka tau aja hari ulang tahun gue. Gue nggak mikirin hadiahnya apaan. Nggak kayak sekarang, memang pada rame ngucapin selamat ultah dan gue harus berterimakasih sama Facebook. Berkatnya semua pada tahu kapan gue atau temen-temen ulang tahun tanpa harus capek-capek nginget.

Terus yang kedua pas gue SMA. Selain alesan yang gue bilang tadi, pada titik 17 tahun ini gue dapet kejutan!!!! Temen-temen gue yang tergabung dalang Geng Komik telah nyiapin kejutan buat gue ternyata. Jadi gini pas udah pulang sekolah gitu Geng Komik pada janjian mau ke Perpustakaan desa gitu. Dari awal sih gue nggak ada curiga sama sekali. Awalnya malah gue mau pulang duluan abisnya anggota geng nggak komplit yang ternyata sebagian anggota geng paling kece ini udah ada yang nungguin di perpustakaan desa. Nah saking didesak gitu gue akhirnya pergi juga. Sampe disana belom aja apa-apa udah pasa mau pulang. Pura-puranya mereka ada kegiatan gitu terus gue ditinggalin keluar. Pas gue ngejer mereka keluar eh semua kok pada ngilang gitu. Terus gue cari di sekitar area parkir nggak ada juga. Dan pas gue mau balik ke dalem perpus eh gue langsung dilemparin sama telur dan tepung. Gyaaaaaa..!!!! Seru banget. Meski nggak ada gift tapi kejutan dari Geng Komik benar-benar keren. Best birthday ever deh pokoknya. Kangen banget sama mereka. Hiks.

Dan yang terakhir ya pas ultah gue yang ke 25 ini. Nggak ada kejutan memang. Malah ngebetein. “Sekumpulan orang” itu tiba-tiba saja menghilang tanpa alasan yang jelas. Gue ditinggalin sendirian di dunia maya ini. Okelah nggak apa-apa gue nggak dikasih ucapan selamat tapi jangan gue diginiin coba. Dicuekin terus pada ngilang entah kemana. Tapi nggak apa-apa juga sih, gue udah seneng banget bisa idup sampe seperempat abad gini. Apalagi di Twitter, gara-gara salah seorang follower gue ngucapin selamat ke gue terus gue retweet eh berhasil mempertemukan dua sahabat lama loh. Maksud gue gini, ada follower gue si @TityErlita ngasi selamat ke gue terus gue say thanks gitu pake retweet eh retweet itu diliat sama follower gue yang lain si @zaniulfi. Faktanya mereka adalah sahabat lama tepatnya temen pas SD. Gue pikir wow banget. Gue udah lama kenal sama @zaniulfi dan kemudian kenal dengan @Tityerlita gara-gara acara TV gitu. si @zaniulfi bilang berkah ulang tahun gue. ia kali hahahaha…

 
image

image

Gue, si manusia seperempat abad ini nggak punya wish macem-macem. Kalo gue sebutin wish gue ya bejibun banget. Nggak bakal bisa abis gue sebutin satu-satu. Tau kan manusia itu nggal pernah puas dan banyak maunya. Gue cuma minta kesehatan aja sama ALLAH. Karena kesehatan itu sangat penting menurut gue. Dengan sehat gue bisa melakukan apa aja sesuka hati dan tetap bisa semangat buat ngejar cita-cita gue. Terus gue juga minta bisa makin rajin ibadah. Makin berbakti sama ibu gue. Eh ya, gue juga ngarep banget bisa nyelesein buku gue yang pending entah sampai kapan. Buku gaje yang gue sendiri kapan bisa selese dan diterbitin. Kalo masalah jodoh ya gue tetep sih ngarep juga. Tapi kalo untuk sekarang-sekarang ini belum terpikirkan banget. Gue sibuk buat karir dulu sama fokus buat ngurusin adek gue yang masih sekolah dulu. Masalah yang satu ini gue serahin aja sama ALLAH. Biarkan saja DIA yang mengatur semuanya. Yang penting gue udah usaha. Nggak ada kebetulan di dunia ini, yang ada hanya takdir kalo kata bik Yuuko.

Lalu gue juga dapet kue. Kue ulang tahun dari seseorang. Gyaaaaaa..!!!!

This is my #amazing25.

image

Iklan

RR


Akhirnya aku memutuskan untuk memainkannya. Dengan perlahan dan sangat hati-hati tanganku meraih pistol itu lalu menarik pelatuknya. Dengan moncong pistol tepat diatas pelipisku, aku mulai menghitung sampai tiga. Kurasakan keringat di tubuhku mengucur deras tapi memang tak ada waktu untuk berfikir lagi karena inilah giliranku.

DORRRRRRR!!!!

Briwish


Aku dibombardir oleh puluhan pertanyaan yang belum sempat ku jawab siang itu. Biasa, pertanyaan klasik. Pertanyaan mengenai sudah atau belumkah aku memiliki seorang kekasih. Jujur, aku memang belum memiliki pacar sampai detik ini. Selama 18 tahun menjomblo tanpa pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang pacar. Aku hanya pernah merasakan indahnya jatuh cinta ketika aku masih duduk di bangku SD. Tapi apakah itu benar-benar cinta yang sesungguhnya atau hanya cinta monyet belaka? Entahlah. Tapi aku pikir itu adalah cinta pertamaku. Cinta yang belum sempat aku utarakan. Perasaan unik yang menggetarkan jiwaku kala aku melihat wajah gadis itu untuk pertama kalinya. Perasaan yang belum sempat aku utarakan hingga kini. Sampai saat inipun perasaan itu tak pernah berubah meski aku telah bertahun-tahun berpisah dengannya. Oke, kali ini aku takkan membahas tentang gadis yang kusebut sebagai cinta pertamaku itu.

Sekarang aku bingung bagaimana cara keluar dari masalah ini.Asal tahu saja, beberapa hari lagi akan diadakan acara pawai untuk memperingati hari kemerdekaan negara kami yang diadakan rutin setiap tahunnya. Tradisi di kota Purtown adalah seluruh penduduk kota akan mengadakan pawai besar-besaran berkeliling kota dengan Bundaran Clove sebagai finishnya. Bundaran Clove adalah sebuah taman di tengah kota Purtown yang terletak di pusatnya. Ditengah-tengah bundaran tersebut tumbuh sebuah pohon Briwish yang sangat besar dan telah berumur ratusan tahun. Pohon Briwish di kota Purtown merupakan salah satu pohon tertua yang konon dipercaya mampu mengabulkan permohonan sejak berabad-abad yang lalu. Bahkan ada yang mengatakan kalau pada zaman dahulu kayu dari pohon yang memiliki akar gantung ini dipakai sebagai bahan pembuat tongkat sihir dan mampu mengabulkan permohonan hanya dengan mengikat akarnya. Dan khusunya anak-anak muda sepertiku–yang masih single–akan berlomba-lomba mencari pasangan untuk diajak dalam pawai tersebut dan bila kau berhasil mengajak pasangan dalam pawai sampai Bundaran Clove serta mengikatkan akarnya, kau akan berjodoh dengannya. Katanya. Kedua bola mataku akan berputar setiap mendengar cerita ini. Syukur-syukur ada yang mau diajak olehku. Tapi aku takut. Aku belum pernah dating sekalipun. Aku benar-benar pengecut.

Di sekolahku banyak terdapat gadis cantik padahal. Banyak pilihan. Kau akan merasa seperti pembeli sayuran ketika menengok ke kelasku, ada banyak gadis manis dan segar yang aku yakin akan membuat padanganmu menjadi fresh seketika. Si Llea misalnya, gadis berkulit putih dengan rambut panjang dan lurus seperti habis dicrembath yang bila ia tersenyum akan membuat es abadi mencair. Lain lagi dengan Michele dan Rachel, duo kembar yang selalu menjadi pusat perhatian disetiap langkahnya. Mungkin aku hanya terlalu menganggap hal ini begitu sulit. Padahal aku sering berkata pada diriku sendiri bahwa masing-masing orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengungkapkan perasaan kepada orang disukainya. Lagipula orang bilang aku memiliki paras yang tak terlalu jelek tapi satu hal yang sangat aku takutkan:Penolakan. Ya, takut ditolak padahal belum mengungkapkan perasaan. Sungguh pengecut.

“Bagaimana kalau kau mengajak Bebo?” Saran Bill, teman sekelasku yang berambut ikal dengan wajah kotak.

“Bebo? Si muka tembok? Aku tak bisa membayangkan jika aku mengajaknya. Bisa-bisa bedaknya menempel di wajahku saat kami berciuman. Gadis yang menor.”

Bill tertawa hebat sambil memegang perutnya.

“Bagaimana dengan Lylo?”

“Lylo sebenarnya gadis yang manis, tapi aku tak tahan dengan kutu rambutnya. Ia juga suka sekali mengibas-ngibaskan rambutnya dimana-mana.”

Bill kembali terbahak begitu melihatku menirukan gaya Lylo yang sedang mengibaskan rambut.

“Aku sudah memutuskan akan mengajak Cindy.”

“Apa? Gadis hitam dan pendek itu?”

Bill tak kuasa menahan tawanya lagi.

Pelajaran Matematika dimulai. Pelajaran yang kurang aku sukai. Selain membosankan, gurunya juga menyebalkan. Dia selalu memberi kami PR yang banyak. Untuk itu pada kesempatan yang membosankan ini, aku akan mengatakan keinginanku pada Cindy, gadis yang dulu pernah suka padaku.

Beberapa waktu lalu Cindy pernah menyatakan cintanya padaku tapi ku tolak. Bukannya sok atau apa, tapi bila kau diharuskan menjalani hubungan yang kau sendiri tak memiliki rasa sedikitpun aku lebih baik mati dari pada harus berpura-pura menyukainya. Itu akan sangat menyakitkan hati seorang gadis. Makanya aku lebih memilih untuk menolaknya.

Seperti yang telah aku rencanakan, aku duduk tepat disamping Cindy. Guru matematikaku sibuk menerangkan pelajaran yang tak aku mengerti. pikiranku melayang entah kemana. Antara deg-degan, takut, dan mulut terkunci rapat tanpa tahu harus memulai dari mana. Mataku memandang ke arah papan tulis dan sesekali melirik ke arah Cindy dengan cepat. Aku berusaha mencari saat yang tepat untuk memulainya. Setiap kali mulutku mulai terbuka, bola mata guruku mengarah kepadaku. Membuatku seakan ingin mengurungkan niatku ini. Ya, dan aku mulai berkeringat. Aku mulai merasakan aliran keringat dingin membasahi punggungku.

“Cindy, ma..maukah kau err..pergi denganku di pawai tahun ini?” Ucapku terbata-bata.

Dan apa yang terjadi selanjutnya adalah aku tiba-tiba saja berada di depan papan tulis harus segera menyelesaikan soal yang tak ku mengerti sama sekali.

Sial!

Hari itu tiba. Salah satu perayaan terbesar dan termegah tahun ini. Semua orang di kota Purtown bersuka cita menyambutnya. Berbagai macam kostum warna-warni bertebaran hampir di sepanjang jalan. Tak lupa bendera kebangsaan berkibar di setiap sudut kota . Dan yang paling menyenangkan adalah Cindy ternyata menerima ajakanku. Dia kini telah siap dengan kostum gadis super berjilbab putih seperti serial drama fantasi D’Jilbabs yang memang sedang trend belakangan ini. Aku pun tak mau kalah. Aku mengenakan kostum ala Sorbanokishi, pemuda super berjubah dengan sorban berkalung di lehernya yang juga terdapat dalam serial fantasi D’Jilbabs. Aku sengaja memakai kostum ini agar terlihat lebih serasi dengan Cindy.

Bill mengenakan kostum Tuxedo bertopeng seperti dalam serial kartun yang sangat digemari pacaranya, Jessie. Mereka juga terlihat begitu serasi apalagi Bill terlihat begitu pas dengan setelan Tuxedo hitamnya.

Kami mulai berjalan bergandengan dengan pasangan masing-masing diiringi oleh musik Kecimol, musik tradisional di kota Purtown. Dengan 4 buah Tambur besar dan 6 drum kecil yang ditabuh berirama sesuai dengan lagu yang sedang didendangkan. Mereka berjalan dengan dua baris dimana dua penabuh Tambur berada paling depan diikuti 6 orang penabuh drum kecil dibelakangnya dan diurutan terakhir berdiri 2 penabuh Tambur yang tersisa. Tepat di belakang barisan itu seorang penyanyi perempuan berambut keriting sedang mendendangkan sebuah lagu dengan riang gembira. Di kedua sisi jalan banyak penduduk kota berjejer menyaksikan pawai yang sedang berlangsung. Beberapa anak tertawa senang sambil menaburkan Confetti berwarna-warni ke angkasa menambah semarak pawai sore itu.

Aku hanya tersenyum melihat keindahan yang hanya bisa disaksikan sekali setahun itu tanpa menghiraukan Cindy yang sejak awal terus menggelayut digandenganku dengan wajah cemberut tak terurus. Siapa peduli. Asal aku terlihat seperti memiliki pasangan menurutku sudah cukup. Si pengecut yang jahat.

Dan apa yang aku lihat berikutnya adalah pemandangan yang sangat mencengangkan. Bundaran Clove terlihat begitu megah dengan berbagai macam hiasan khas hari kemerdekan. Dan yang paling menarik perhatianku adalah pohon Briwish. Pohon itu sangat besar dan tinggi. Akar gantunngnya yang lebat telah dihias sedemikian rupa dengan lampu-lampu warna warni persis seperti pohon natal. Terdapat banyak pita yang juga berwarna-warni di setiap akar gantung itu. Pita-pita tersebut pastilah ikatan-ikatan harapan sang pengikatnya. Aku memang jarang berkunjung ke tempat ini ya paling tidak sekali setahun. Tapi entah kenapa saat ini aku seperti melihat pemandangan yang belum pernah ku lihat sebelumnya.

Tanpa sadar aku melepaskan tangan Cindy yang masih bergelayut dan melangkah lebih dekat ke arah akar gantung yang penuh oleh orang-orang yang berusaha mengikatkan pita harapan mereka. Seorang anak laki-laki mendekatiku dan menawariku untuk membeli Pitanya.

Aku mulai memegang akar gantung pohon Briwish. Melihatnya dengan seksama dan sesekali menciuminya.

“Apa benar?” Gumamku lirih. Ada semacam dorongan perasaan tak percaya berkecamuk dipikiranku selama ini. Dan aku pikir hal ini tak ubahnya hanya sebuah mitos belaka.

“Ikat saja, siapa tahu benar-benar terjadi.” Ucap seseorang di belakangku yang ternyata adalah Bill dan Jessie.

“Kami juga telah mengikatkan harapan kami pada pohon Briwish ini,” sesaat Bill dan Jessie saling memandang “..dan harapan itu akan menjadi nyata karena kami percaya. Begitu juga denganmu, asal kau percaya asa itu akan menjadi nyata maka hal itu pasti benar-benar terjadi.”

Terdiam sejenak berusaha mencerna ucapan Bill, aku memejamkan mataku. Jari jemariku mulai mengikat pita berwarna kuning pada akar gantung pohon Briwish seraya menyebutkan keiinginanku dalam hati. Dan ketika aku membuka kedua kelopak mataku, aku melihat sosok seorang gadis dengan rambut panjang persis dihadapanku.

“Anna..” Ucapku lirih. Jantungku mendadak berdegup kencang.

“Keith..” Anna tertawa renyah dengan ekspresi sedikit terkejut ketika ia melihatku. Wajahnya terlihat merona.

Kami bertatapan dalam diam. Saling menatap dengan salah tingkah tak tahu harus memulai dari mana.

Hari mulai gelap. Lampu-lampu warna warni pada pohon Briwish mulai menyala. Sebentar lagi kembang api akan dinyalakan. Dengan perasaan canggung aku mulai memecah kesunyian di antara kami.

“Err..bagaimana kabarmu?”

“Baik…kamu?” Anna balas menanyaiku. Wajahnya kembali terlihat merona. Ia tersenyum.

“Ya seperti yang kau lihat, hanya saja aku tak kunjung gemuk. Tetap seperti 6 tahun lalu.”

“Oh ya, kau datang dengan siapa?”

“Oh..aku..aku dengan teman sekelas..beramai-ramai. Kamu?” Aku berbohong. Aku berusaha menyamarkan kegugupanku.

“Aku datang dengan seseorang, namanya George. Tapi entahlah, sejak tadi dia pergi entah kemana.” Anna terlihat menoleh beberapa kali ke sekelilingnya memastikan apakah George ada dekitar sana.

Ada perasaan kecewa membuncah di dadaku.

“Hei lihat, kembang apinya.” Kataku menunjuk kearah langit yang kini dihiasi kilatan warna warni memukau. Wajah ana terlihat terpesona menyaksikannya.

“Indah sekali.” Gumam Anna tanpa mengalihkan pandanganya dari pendaran cahaya kembang api di langit.

Seorang laki-laki bertubuh tinggi mendekat ke arah kami, Sedikit lebih gemuk dibandingkan denganku.

“Anna, ini sudah malam. Sebaiknya kita..Hey! Siapa laki-laki ini?” Ucap laki-laki itu sinis sambil menatap ke arah ku.

“George! Dia..dia temanku..Mr.K!” Ucap Anna dengan nada sedikit membentak.

“Oh, sorry. George.” Ekspresi wajah George memancarkan keterkejutan sambil mengulurkan tangannya.

“Keith.” Balasku seraya meraih uluran tangannya.

“Sepertinya aku harus ke toilet, sejak tadi perutku terasa sedikit mulas.” Ucap Anna yang kemudian berlari menuju Toilet terdekat.

Aku bingung harus memulai pembicaraan dengan George. Beberapa menit yang lalu ada perasaan takut ketika ia tiba-tiba saja muncul dan memergoki kami berdua melihat kembang api kemudian cemburu. Awalnya aku pikir dia akan menghatam wajahku dengan tangannya yang terlihat lebih besar dari tanganku.

“Jadi kamu Mr.K, ah tidak, maksud aku Keith.” Ucapnya memulai pembicaraan.

“Tunggu dulu, Mr.K? Apa maksudnya?”

George terdiam sejenak.

“Kau terlalu membuang banyak waktu Mr.K, kau bahkan tak pernah menyadarinya. Bertahun-tahun yang lalu ketika kalian selalu bersama.”

“Aku tak mengerti?”

“Aku sangat menyayangi Anna, dia sepupuku. Dia juga begitu dekat denganku. Dia seperti adik kandungku. Kau tahu, sejak kepindahannya 6 tahun lalu, dia terus saja menceritakan segala hal tentangmu. Dari awal perjumpaan kalian, persahabatan kalian, semuanya. Sampai ia tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Ia jatuh cinta padamu Mr.K. Tidakkah kau menyadarinya?”

Bertepatan dengan kalimat terakhir George, terdengar suara ledakan kembang api yang kemudian memancarkan cahaya warna-warni di langit. Aku terdiam tak percaya atas apa yang dikatakannya. Jantungku berdegup kencang. Ada perasaan aneh muncul di sekujur tubuhku.

“Di hari perpisahan kalian, ia masih menunggumu. Menunggumu untuk mengatakannya. Tapi sayang Anna tak mendapatkannya. Ia sempat kecewa dan berusaha melupakan semuanya tapi ia tak mampu. Dan aku tahu pasti harapannya untuk sekedar bertemu dengan Mr.K yang ia ikatkan pada pohon Briwish telah terkabul. Ikatan itu akan segera terbuk karena permohonan telah terkabul.” George memandang Pohon Briwish yang dipenuhi lampu warna warni dan pendaran kembang api. “Kumohon Mr.K.” Wajahnya terlihat memelas.

Apa ini? Aku merasa begitu bodoh. Aku begitu pengecut. Hanya karena takut akan penolakan aku sampai tak menyadari ternyata bertahun-tahun yang lalu cintaku berbalas. Cintaku pada gadis yang selama ini diam-diam aku sukai yang juga ternyata diam-diam menyukaiku. Cintaku pada gadis yang selalu memikirkanku sepanjang waktu. Ada semacam dorongan semangat yang entah datangnya dari mana. Jantungku berdebar makin kencang.

Tanpa berpikir panjang lagi, aku berlari mencari Anna ke Toilet, namun tak menemukannya. Di beberapa sudut Bundaran Clove yang ramai juga ia tak tampak. Sampai aku melihatnya berdiri bersama kerumunan orang-orang di bawah pohon Briwish.

“Anna!” Kataku sambil berlari mendekatinya. Ia menoleh lalu tersenyum. Aku berusaha mengatur napasku yang ngos-ngosan karena berlari mengitari Bundaran Clove yang luas untuk mencarinya.

“Aku..aku..aku cinta padamu.” Kata-kata itu keluar begitu saja dengan lepas di sela napasku yang belum teratur.

DUARRR!!! Kembang api yang menurutku dengan suara paling dahsyat saat itu terdengar bertepatan usai aku mengutarakan perasaanku pada Anna.

Anna tertegun memandangi wajahku yang penuh keringat dengan ekpresi terkejut.

“Apa? Aku tak mendengarnya. Coba ulangi lagi dengan relax.” Anna terlihat sedikit histeris. Bola matanya terlihat berkaca-kaca.

“Oke. Tunggu sebentar.” Aku menarik napas beberapa kali berusaha untuk menstabilkan napasku. “Aku cinta padamu.”

Serta merta Anna memeluk tubuhku dengan erat. Aku melepaskannya. “Kau belum menjawabnya”.

“I love you too!!!” Anna berteriak histeris dan memelukku kembali.

Tanpa kami menghiraukan pendaran kembang api yang memukau di angkasa kami berciuman.

Ketakutan akan suatu hal tak akan membawamu kemana-mana sampai kamu mau mencoba melawan ketakutan itu sendiri.

Harapan itu terikat bersama akarnya dan ketika harapan itu terkabul, saat itu pula ikatan itu akan terbuka.

END.

Wati: The Baby


CHAPTER 5

Setelah larutan gula garam itu bercampur dengan larutan kimia 69 lalu bereaksi dan meledak dahsyat, suatu keanehan terjadi. Telah terbentuk sebuah telur super besar. Telur itu tergeletak begitu saja di samping Wati yang tak sadarkan diri. Begitupun dengan yang lain, tak ada satupun yang tersadar usai ledakan dahsyat itu. Telur misterius itu berbentuk seperti telur ya iyalah masa bentuknya kotak? Cuma saja ukurannya yang jauh lebih besar dari pada ukuran telur pada umumnya. Telur itu berwarna putih bersih seukuran dengan Bola Basket tetapi lebih besar sekitar 69% dari ukuran Bola Basket pada umumnya.

Telur itu perlahan melayang dan berpendar memancarkan cahaya menyilaukan ketika Wati mulai tersadar dari pingsannya. Wati perlahan bangkit dan berusaha menghalau kilauan cahaya dari Telur misterius itu dengan tangannya agar tak langsung mengenai matanya. Ia merapikan poni Maria Mercedes-nya kemudian bangkit dan melihat sekelilingnya yang telah porak poranda. Merapikan pakaiannya yang compang camping dari debu yang melekatinya. Sekelilingnya bertebaran mayat yang bergelimpangan tak beraturan.

“Temen-temen gue? Ningsih? Udin? Cowok cakep kelas sebelah? Ibu Mingce? Jangan tinggalkan gue!!!” Teriak Wati histeris.

Telur aneh itu meredupkan cahayanya dan melayang mendekati Wati yang sedang menangis.

“Ta? Ugiugiya? Ta?” Suara Telur itu menyapa Wati.

“Telur bisa ngomong? Wow keren.” Dengan cepat Wati mengusap air matanya yang bercucuran dan memegang Telur sebesar Bola Basket itu.

“Ta ta ta?”

“Apa? Gue dikasih 3 permintaan? Eh tapi kok gue bisa ngerti bahasa Telur? Emang ini telur apa sih?” Wati menggoyang-goyangkan Telur itu sekuat tenaga.

“TAAAAAA!!!!!”

“Eh maaf, kamu pusing ya? Ya maaf.”

“Ta ugiyauga ta!”

“Baiklah gue bakal nyebutin permintaan gue. hmm apa ya? Yang pertama gue mau temen-temen gue hidup kembali.” Wati mulai mengucurkan air mata ketika ia mengingat teman-temannya dan para korban yang tewas bergelimpangan karena ledakan dahsyat itu. “Terus yang kedua gue minta keadaan dibalikin seperti semula seperti bangunan-bangunan yang hancur lebur ini. Lalu yang ketiga gue minta tiga permohonan lagi. Yang pertama gue pengen es krim soalnya gue lagi haus banget lalu yang kedua gue minta mie rebus, gyaaa udah lama gue nggak makan mie rebus dan yang terakhir gue minta tiga permohonan lagi. Yang pertama gue minta…”

“TAAAAAAAA!!!!! TATATATA BAM RATATATA!!”

“Ih wow biasa aja kali Lur, apa? Cuma dapet ngabulin satu aja? Ih suka PHP-in gue deh. Tapi nggak apa-apa sih yang penting keadaan bisa balik seperti semula.”

“Ta ta ta”

“Oke gue tutup mata.”

Wati memejamkan mata. Mengintip sedikit.

“TAAAA!!!”

“Oke oke bawel.”

Telur itu kembali memancarkan kilauannya yang menyilaukan. Hanya dalam lima detik kemudian semua kembali normal. Bangunan-bangunan yang porak poranda telah kembali seperti keadaan semula seolah tak pernah terjadi apapun. Tanpa sadar, Wati kemudian mendapati dirinya di kelasnya. Ia melongo menatap sekelilingnya. Menengok Udin dan Cowok cakep kelas sebelah sedang saling menatap. Melihat Ningsih yang sedang mengunyah Abon Kebo di sampingnya.

“Kenapa lo? Mau?” Lirik Ningsih sambil menekan kacamata bulatnya yang melorot di atas hidungnya yang pesek. Mulutnya asik bergeol mengunyah Abon Kebo rasa Strawberry saus Tomat yang dibumbui dengan rempah-rempah warisan nenek moyang.

“HUAAA cyiin!!!!” Teriak Wati histeris sambil memeluk Ningsih dan menangis sejadi-jadinya.

“Lo kenapa sih?”

***

“Hmm..jadi gitu? Tapi kok gue nggak ngerasa apa-apa sih karena emang nggak terjadi apa-apa.” Kata Ningsih sambil ngunyah Keripik Pohon Beringin dengan santai.

“Ya gue juga nggak ngerti. Anehnya gue kok bisa ngerti apa yang diucapkan sama Telur ini.” Wati menyodorkan Telur yang besarnya 69% dari Bola Basket itu.

“Wah besarnya.” Ningsih terkesima, “Kira-kira kalau di dadar jadi berapa porsi ya?”

“TAAAA!!!” Teriak Telur itu sambil mendekat ke arah Wati.

“Katanya dia takut kalau dengar kata dadar.” Jelas Wati.

“Dadar..dadar..dadar..!!!” Ningsih mengucapkan kata itu berulang-ulang.

Telur itu tiba-tiba mengecilkan ukurannya sambil memancarkan kilau merah berkedap kedip. Wati kemudian membuat Telur itu menjadi gantungan kunci tas jeruknya yang mungil.

Malamnya, Telur itu masuk ke dalam mimpi Wati yang kala itu sedang bermimpi mencuci 3 benda paling tak disukainya untuk dicuci: Jeans, Sprei dan Handuk. Dalam mimpi aneh itu, telur itu bisa menetas bila ia di dekap oleh 2 orang dengan jenis kelamin berbeda selama 1 menit 9 detik. Bahkan telur itu sendiri menjelaskan kepada Wati bahwa ia adalah sesuatu yang seolah tak berwujud. Ia bisa menetas menjadi apa saja yang diharapkan oleh orang yang menetasinya.

Keesokan harinya di pagi yang dingin, Wati ditemani Ningsih bersama-sama masuk ke ruang kelasnya. Disana ia melihat Siti dan Ijah sedang asyik mengobrol. Obrolan mereka terhenti begitu melihat Wati dan Ningsih memasuki kelas.

Siti adalah siswi tercantik dan terpopuler di sekolah Wati. Siti adalah teman sekelas Wati. Ia adalah salah satu siswi terkaya di sekolah. Memiliki tinggi setara dengan Wati. Rambutnya hitam pendek model bob tanpa poni. Keningnya yang mulus sedikit maju, kadang dia dipanggil “Bunyuk” karena keningnya yang begitu maju sedangkan matanya sedikit menjorok kedalam. Ia berprofesi sebagai Model serta Bintang iklan dan beberapa bulan terakhir ia memulai mencoba peruntungan di dunia seni peran dengan membintangi beberapa serial drama dan film. Ia juga tak lama lagi akan menjajal dunia tarik suara serta akan mengeluarkan album solo perdananya. Bisa dikatakan sosok Siti adalah jelmaan gadis sempurna yang memiliki segalanya. Pintar, Cantik, Seksi dan kaya. Namun satu hal yang membuatnya kurang adalah cinta tak berbalasnya kepada Udin.

Sedangkan Ijah adalah sahabat baik Siti. Persis seperti persahabatan Wati dan Ningsih Tapi lebih tepat disebut pelayan dari pada sahabat karena Ijah cenderung melayani segala kebutuhan Siti. Orang tua Ijah bekerja sebagai pelayan selama bertahun-tahun di keluarga Siti. Meski diperlakukan seperti pembantu dimana saja, Ijah tetap setia dan menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk melayani Siti. Semacam aura pelayan telah mendarah daging dalam tubuhnya. Tubuh Ijah kurus dengan tinggi melebihi Siti. Bentuk mukanya yang lonjong berdagu lancip serta tulang pipi yang menonjol seolah menegaskan tampangnya yang judes. Jika Siti memakai model rambut dengan gaya Bob, lain halnya dengan Ijah yang menggunakan gaya kepang dua.

“Mau apa kalian?” Tanya Siti yang kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Wati lalu melipat kedua tangannya di depan dada dengan tatapan sinis.

“Mau masuk kelas kak.” Jawab Wati dengan imut sambil merapikan poni Maria Mercedes-nya dan berlalu menuju mejanya.

“Apa ini?” Siti meraih gantungan kunci berbentuk telur dengan kedipan berwarna merah yang menggantung di tas punggung jeruk mini Wati. Karena tarikan Siti begitu kuat membuat gantungan kunci itu terlepas dari tasnya.

“Kembalikan, itu hanya gantungan kunci biasa.” Wati berusaha merebutnya dari tangan Siti tapi sayang Dia jelas-jelas dengan sengaja melemparnya ke luar tepat melalui Pintu kelas mereka.

“Oops.”

Namun ketika Telur itu melewati Pintu kelas, Udin dan Cowok Cakep Kelas Sebelah melewatinya dan secara reflek menangkapnya. Telur itu tiba-tiba membesar seperti ukuran semula.

“Udin..itu milikku.” Kata Wati hendak mengambil Telur tersebut.

Wati menangkupkan kedua tangannya pada permukaan Telur itu ketika Udin hendak menyerahkannya dengan ekspresi datar.

Tepat ketika Udin dan Wati memegang Telur itu bersamaan, 1 menit 9 detik kemudian tiba-tiba saja tangan mereka tak bisa dilepaskan dan beberapa detik kemudian telur itu bergetar hebat. Muncul retakan-retakan kecil yang kemudian membesar dan meluas. Telur itu menetas.

Sesosok bayi mungil keluar dari cangkang telur raksasa itu dan melayang-layang di antara Udin dan Wati. Sesaat mereka saling adu pandang tanpa kedipan sampai bayi mungil itu mulai menggeliat-menguap dan mulai membuka matanya yang bening. Bulu matanya yang lentik bergerak pelan begitu ia memandang wajah Wati seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Mama.” Ucap bayi mungil itu dengan suara imut. Tangannya yg mungil menyentuh pipi Wati.

Bayi itu mengalihkan pandangan ke arah Udin sambil melayang mendekatinya. Tangan mungilnya menyentuh pipi Udin. “Papa.”

“AAAAAAAAAAAAA!!!!!!!” Semua berteriak.

The Day With Sun Everywhere


Hai, gue kembali dengan pengalaman gaje lainnya.

Eh eh pada berasa nggak sih akhir-akhir ini suasana kok panas banget. Berasa seperti Matahari membelah diri jadi banyak sehingga bikin suasana jadi panas membara. Gue jadi keinget sama film Kera Sakti pas dia ngelewatin suatu negeri yang memiliki 9 Matahari dan tak ada malam hari!!! Kebayang dong panasnya gimana?

Nah saat ini keadaannya paling nggak seperti itu. Panas. Gerah dan keringat dimana-mana. Jam delapan pagi aja udah kayak jam sepuluhan. Terang banget dan panas. Berasa Matahari makin dekat aja sama Bumi. Gue pikir sih nggak cuma Lombok aja yang panas. Gue liat di timeline Twitter aja banyak yang ngeluh-ngeluh panas. Selain panas, hujan juga nggak kunjung turun. Gue denger-denger beberapa daerah sudah mulai hujan cuma dengan volume yang jarang tapi lumayan juga sih buat ngademin suasana paling nggak.

Selain panas, ada lagi hal yang gue harus hadepin. Karena hujan nggak kunjung turun, sumur tetangga sebelah gue mengering!!! Ia! Mengering!! Me-nge-ring!!! *echoing*. Terus sungai di tempat gue biasanya mandi juga udah mulai dikit airnya. Gue suka kelabakan kalo udah pagi atau sore saat-saat gue mau berangkat kerja dan pulang kerja kan harus mandi dong. Oke lah sumur tetangga sebelah airnya nggak bisa naik pake mesin gue kan bisa nimba itung-itung latian buat gedein lengan tapi ini masalahnya airnya juga jadi keruh karena volume airnya surut mendekati dasar sumur. Nyesek banget coba!!!.

Gue harap aja sih hujan cepetan turunnya. Kasian tetangga sebelah gue sumurnya mau kering. Kasian gue juga sih jadi manja alias mandi jarang.