Wati: The Baby


CHAPTER 5

Setelah larutan gula garam itu bercampur dengan larutan kimia 69 lalu bereaksi dan meledak dahsyat, suatu keanehan terjadi. Telah terbentuk sebuah telur super besar. Telur itu tergeletak begitu saja di samping Wati yang tak sadarkan diri. Begitupun dengan yang lain, tak ada satupun yang tersadar usai ledakan dahsyat itu. Telur misterius itu berbentuk seperti telur ya iyalah masa bentuknya kotak? Cuma saja ukurannya yang jauh lebih besar dari pada ukuran telur pada umumnya. Telur itu berwarna putih bersih seukuran dengan Bola Basket tetapi lebih besar sekitar 69% dari ukuran Bola Basket pada umumnya.

Telur itu perlahan melayang dan berpendar memancarkan cahaya menyilaukan ketika Wati mulai tersadar dari pingsannya. Wati perlahan bangkit dan berusaha menghalau kilauan cahaya dari Telur misterius itu dengan tangannya agar tak langsung mengenai matanya. Ia merapikan poni Maria Mercedes-nya kemudian bangkit dan melihat sekelilingnya yang telah porak poranda. Merapikan pakaiannya yang compang camping dari debu yang melekatinya. Sekelilingnya bertebaran mayat yang bergelimpangan tak beraturan.

“Temen-temen gue? Ningsih? Udin? Cowok cakep kelas sebelah? Ibu Mingce? Jangan tinggalkan gue!!!” Teriak Wati histeris.

Telur aneh itu meredupkan cahayanya dan melayang mendekati Wati yang sedang menangis.

“Ta? Ugiugiya? Ta?” Suara Telur itu menyapa Wati.

“Telur bisa ngomong? Wow keren.” Dengan cepat Wati mengusap air matanya yang bercucuran dan memegang Telur sebesar Bola Basket itu.

“Ta ta ta?”

“Apa? Gue dikasih 3 permintaan? Eh tapi kok gue bisa ngerti bahasa Telur? Emang ini telur apa sih?” Wati menggoyang-goyangkan Telur itu sekuat tenaga.

“TAAAAAA!!!!!”

“Eh maaf, kamu pusing ya? Ya maaf.”

“Ta ugiyauga ta!”

“Baiklah gue bakal nyebutin permintaan gue. hmm apa ya? Yang pertama gue mau temen-temen gue hidup kembali.” Wati mulai mengucurkan air mata ketika ia mengingat teman-temannya dan para korban yang tewas bergelimpangan karena ledakan dahsyat itu. “Terus yang kedua gue minta keadaan dibalikin seperti semula seperti bangunan-bangunan yang hancur lebur ini. Lalu yang ketiga gue minta tiga permohonan lagi. Yang pertama gue pengen es krim soalnya gue lagi haus banget lalu yang kedua gue minta mie rebus, gyaaa udah lama gue nggak makan mie rebus dan yang terakhir gue minta tiga permohonan lagi. Yang pertama gue minta…”

“TAAAAAAAA!!!!! TATATATA BAM RATATATA!!”

“Ih wow biasa aja kali Lur, apa? Cuma dapet ngabulin satu aja? Ih suka PHP-in gue deh. Tapi nggak apa-apa sih yang penting keadaan bisa balik seperti semula.”

“Ta ta ta”

“Oke gue tutup mata.”

Wati memejamkan mata. Mengintip sedikit.

“TAAAA!!!”

“Oke oke bawel.”

Telur itu kembali memancarkan kilauannya yang menyilaukan. Hanya dalam lima detik kemudian semua kembali normal. Bangunan-bangunan yang porak poranda telah kembali seperti keadaan semula seolah tak pernah terjadi apapun. Tanpa sadar, Wati kemudian mendapati dirinya di kelasnya. Ia melongo menatap sekelilingnya. Menengok Udin dan Cowok cakep kelas sebelah sedang saling menatap. Melihat Ningsih yang sedang mengunyah Abon Kebo di sampingnya.

“Kenapa lo? Mau?” Lirik Ningsih sambil menekan kacamata bulatnya yang melorot di atas hidungnya yang pesek. Mulutnya asik bergeol mengunyah Abon Kebo rasa Strawberry saus Tomat yang dibumbui dengan rempah-rempah warisan nenek moyang.

“HUAAA cyiin!!!!” Teriak Wati histeris sambil memeluk Ningsih dan menangis sejadi-jadinya.

“Lo kenapa sih?”

***

“Hmm..jadi gitu? Tapi kok gue nggak ngerasa apa-apa sih karena emang nggak terjadi apa-apa.” Kata Ningsih sambil ngunyah Keripik Pohon Beringin dengan santai.

“Ya gue juga nggak ngerti. Anehnya gue kok bisa ngerti apa yang diucapkan sama Telur ini.” Wati menyodorkan Telur yang besarnya 69% dari Bola Basket itu.

“Wah besarnya.” Ningsih terkesima, “Kira-kira kalau di dadar jadi berapa porsi ya?”

“TAAAA!!!” Teriak Telur itu sambil mendekat ke arah Wati.

“Katanya dia takut kalau dengar kata dadar.” Jelas Wati.

“Dadar..dadar..dadar..!!!” Ningsih mengucapkan kata itu berulang-ulang.

Telur itu tiba-tiba mengecilkan ukurannya sambil memancarkan kilau merah berkedap kedip. Wati kemudian membuat Telur itu menjadi gantungan kunci tas jeruknya yang mungil.

Malamnya, Telur itu masuk ke dalam mimpi Wati yang kala itu sedang bermimpi mencuci 3 benda paling tak disukainya untuk dicuci: Jeans, Sprei dan Handuk. Dalam mimpi aneh itu, telur itu bisa menetas bila ia di dekap oleh 2 orang dengan jenis kelamin berbeda selama 1 menit 9 detik. Bahkan telur itu sendiri menjelaskan kepada Wati bahwa ia adalah sesuatu yang seolah tak berwujud. Ia bisa menetas menjadi apa saja yang diharapkan oleh orang yang menetasinya.

Keesokan harinya di pagi yang dingin, Wati ditemani Ningsih bersama-sama masuk ke ruang kelasnya. Disana ia melihat Siti dan Ijah sedang asyik mengobrol. Obrolan mereka terhenti begitu melihat Wati dan Ningsih memasuki kelas.

Siti adalah siswi tercantik dan terpopuler di sekolah Wati. Siti adalah teman sekelas Wati. Ia adalah salah satu siswi terkaya di sekolah. Memiliki tinggi setara dengan Wati. Rambutnya hitam pendek model bob tanpa poni. Keningnya yang mulus sedikit maju, kadang dia dipanggil “Bunyuk” karena keningnya yang begitu maju sedangkan matanya sedikit menjorok kedalam. Ia berprofesi sebagai Model serta Bintang iklan dan beberapa bulan terakhir ia memulai mencoba peruntungan di dunia seni peran dengan membintangi beberapa serial drama dan film. Ia juga tak lama lagi akan menjajal dunia tarik suara serta akan mengeluarkan album solo perdananya. Bisa dikatakan sosok Siti adalah jelmaan gadis sempurna yang memiliki segalanya. Pintar, Cantik, Seksi dan kaya. Namun satu hal yang membuatnya kurang adalah cinta tak berbalasnya kepada Udin.

Sedangkan Ijah adalah sahabat baik Siti. Persis seperti persahabatan Wati dan Ningsih Tapi lebih tepat disebut pelayan dari pada sahabat karena Ijah cenderung melayani segala kebutuhan Siti. Orang tua Ijah bekerja sebagai pelayan selama bertahun-tahun di keluarga Siti. Meski diperlakukan seperti pembantu dimana saja, Ijah tetap setia dan menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk melayani Siti. Semacam aura pelayan telah mendarah daging dalam tubuhnya. Tubuh Ijah kurus dengan tinggi melebihi Siti. Bentuk mukanya yang lonjong berdagu lancip serta tulang pipi yang menonjol seolah menegaskan tampangnya yang judes. Jika Siti memakai model rambut dengan gaya Bob, lain halnya dengan Ijah yang menggunakan gaya kepang dua.

“Mau apa kalian?” Tanya Siti yang kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Wati lalu melipat kedua tangannya di depan dada dengan tatapan sinis.

“Mau masuk kelas kak.” Jawab Wati dengan imut sambil merapikan poni Maria Mercedes-nya dan berlalu menuju mejanya.

“Apa ini?” Siti meraih gantungan kunci berbentuk telur dengan kedipan berwarna merah yang menggantung di tas punggung jeruk mini Wati. Karena tarikan Siti begitu kuat membuat gantungan kunci itu terlepas dari tasnya.

“Kembalikan, itu hanya gantungan kunci biasa.” Wati berusaha merebutnya dari tangan Siti tapi sayang Dia jelas-jelas dengan sengaja melemparnya ke luar tepat melalui Pintu kelas mereka.

“Oops.”

Namun ketika Telur itu melewati Pintu kelas, Udin dan Cowok Cakep Kelas Sebelah melewatinya dan secara reflek menangkapnya. Telur itu tiba-tiba membesar seperti ukuran semula.

“Udin..itu milikku.” Kata Wati hendak mengambil Telur tersebut.

Wati menangkupkan kedua tangannya pada permukaan Telur itu ketika Udin hendak menyerahkannya dengan ekspresi datar.

Tepat ketika Udin dan Wati memegang Telur itu bersamaan, 1 menit 9 detik kemudian tiba-tiba saja tangan mereka tak bisa dilepaskan dan beberapa detik kemudian telur itu bergetar hebat. Muncul retakan-retakan kecil yang kemudian membesar dan meluas. Telur itu menetas.

Sesosok bayi mungil keluar dari cangkang telur raksasa itu dan melayang-layang di antara Udin dan Wati. Sesaat mereka saling adu pandang tanpa kedipan sampai bayi mungil itu mulai menggeliat-menguap dan mulai membuka matanya yang bening. Bulu matanya yang lentik bergerak pelan begitu ia memandang wajah Wati seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Mama.” Ucap bayi mungil itu dengan suara imut. Tangannya yg mungil menyentuh pipi Wati.

Bayi itu mengalihkan pandangan ke arah Udin sambil melayang mendekatinya. Tangan mungilnya menyentuh pipi Udin. “Papa.”

“AAAAAAAAAAAAA!!!!!!!” Semua berteriak.

Iklan

3 Komentar

  1. astie said,

    06/10/2012 pada 11:38 AM

    uuuhh..kyknya bayinya luchuw u,u

  2. aztee said,

    06/10/2012 pada 7:37 PM

    Aww makasyiih.. u,u *merona*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: