Briwish


Aku dibombardir oleh puluhan pertanyaan yang belum sempat ku jawab siang itu. Biasa, pertanyaan klasik. Pertanyaan mengenai sudah atau belumkah aku memiliki seorang kekasih. Jujur, aku memang belum memiliki pacar sampai detik ini. Selama 18 tahun menjomblo tanpa pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang pacar. Aku hanya pernah merasakan indahnya jatuh cinta ketika aku masih duduk di bangku SD. Tapi apakah itu benar-benar cinta yang sesungguhnya atau hanya cinta monyet belaka? Entahlah. Tapi aku pikir itu adalah cinta pertamaku. Cinta yang belum sempat aku utarakan. Perasaan unik yang menggetarkan jiwaku kala aku melihat wajah gadis itu untuk pertama kalinya. Perasaan yang belum sempat aku utarakan hingga kini. Sampai saat inipun perasaan itu tak pernah berubah meski aku telah bertahun-tahun berpisah dengannya. Oke, kali ini aku takkan membahas tentang gadis yang kusebut sebagai cinta pertamaku itu.

Sekarang aku bingung bagaimana cara keluar dari masalah ini.Asal tahu saja, beberapa hari lagi akan diadakan acara pawai untuk memperingati hari kemerdekaan negara kami yang diadakan rutin setiap tahunnya. Tradisi di kota Purtown adalah seluruh penduduk kota akan mengadakan pawai besar-besaran berkeliling kota dengan Bundaran Clove sebagai finishnya. Bundaran Clove adalah sebuah taman di tengah kota Purtown yang terletak di pusatnya. Ditengah-tengah bundaran tersebut tumbuh sebuah pohon Briwish yang sangat besar dan telah berumur ratusan tahun. Pohon Briwish di kota Purtown merupakan salah satu pohon tertua yang konon dipercaya mampu mengabulkan permohonan sejak berabad-abad yang lalu. Bahkan ada yang mengatakan kalau pada zaman dahulu kayu dari pohon yang memiliki akar gantung ini dipakai sebagai bahan pembuat tongkat sihir dan mampu mengabulkan permohonan hanya dengan mengikat akarnya. Dan khusunya anak-anak muda sepertiku–yang masih single–akan berlomba-lomba mencari pasangan untuk diajak dalam pawai tersebut dan bila kau berhasil mengajak pasangan dalam pawai sampai Bundaran Clove serta mengikatkan akarnya, kau akan berjodoh dengannya. Katanya. Kedua bola mataku akan berputar setiap mendengar cerita ini. Syukur-syukur ada yang mau diajak olehku. Tapi aku takut. Aku belum pernah dating sekalipun. Aku benar-benar pengecut.

Di sekolahku banyak terdapat gadis cantik padahal. Banyak pilihan. Kau akan merasa seperti pembeli sayuran ketika menengok ke kelasku, ada banyak gadis manis dan segar yang aku yakin akan membuat padanganmu menjadi fresh seketika. Si Llea misalnya, gadis berkulit putih dengan rambut panjang dan lurus seperti habis dicrembath yang bila ia tersenyum akan membuat es abadi mencair. Lain lagi dengan Michele dan Rachel, duo kembar yang selalu menjadi pusat perhatian disetiap langkahnya. Mungkin aku hanya terlalu menganggap hal ini begitu sulit. Padahal aku sering berkata pada diriku sendiri bahwa masing-masing orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengungkapkan perasaan kepada orang disukainya. Lagipula orang bilang aku memiliki paras yang tak terlalu jelek tapi satu hal yang sangat aku takutkan:Penolakan. Ya, takut ditolak padahal belum mengungkapkan perasaan. Sungguh pengecut.

“Bagaimana kalau kau mengajak Bebo?” Saran Bill, teman sekelasku yang berambut ikal dengan wajah kotak.

“Bebo? Si muka tembok? Aku tak bisa membayangkan jika aku mengajaknya. Bisa-bisa bedaknya menempel di wajahku saat kami berciuman. Gadis yang menor.”

Bill tertawa hebat sambil memegang perutnya.

“Bagaimana dengan Lylo?”

“Lylo sebenarnya gadis yang manis, tapi aku tak tahan dengan kutu rambutnya. Ia juga suka sekali mengibas-ngibaskan rambutnya dimana-mana.”

Bill kembali terbahak begitu melihatku menirukan gaya Lylo yang sedang mengibaskan rambut.

“Aku sudah memutuskan akan mengajak Cindy.”

“Apa? Gadis hitam dan pendek itu?”

Bill tak kuasa menahan tawanya lagi.

Pelajaran Matematika dimulai. Pelajaran yang kurang aku sukai. Selain membosankan, gurunya juga menyebalkan. Dia selalu memberi kami PR yang banyak. Untuk itu pada kesempatan yang membosankan ini, aku akan mengatakan keinginanku pada Cindy, gadis yang dulu pernah suka padaku.

Beberapa waktu lalu Cindy pernah menyatakan cintanya padaku tapi ku tolak. Bukannya sok atau apa, tapi bila kau diharuskan menjalani hubungan yang kau sendiri tak memiliki rasa sedikitpun aku lebih baik mati dari pada harus berpura-pura menyukainya. Itu akan sangat menyakitkan hati seorang gadis. Makanya aku lebih memilih untuk menolaknya.

Seperti yang telah aku rencanakan, aku duduk tepat disamping Cindy. Guru matematikaku sibuk menerangkan pelajaran yang tak aku mengerti. pikiranku melayang entah kemana. Antara deg-degan, takut, dan mulut terkunci rapat tanpa tahu harus memulai dari mana. Mataku memandang ke arah papan tulis dan sesekali melirik ke arah Cindy dengan cepat. Aku berusaha mencari saat yang tepat untuk memulainya. Setiap kali mulutku mulai terbuka, bola mata guruku mengarah kepadaku. Membuatku seakan ingin mengurungkan niatku ini. Ya, dan aku mulai berkeringat. Aku mulai merasakan aliran keringat dingin membasahi punggungku.

“Cindy, ma..maukah kau err..pergi denganku di pawai tahun ini?” Ucapku terbata-bata.

Dan apa yang terjadi selanjutnya adalah aku tiba-tiba saja berada di depan papan tulis harus segera menyelesaikan soal yang tak ku mengerti sama sekali.

Sial!

Hari itu tiba. Salah satu perayaan terbesar dan termegah tahun ini. Semua orang di kota Purtown bersuka cita menyambutnya. Berbagai macam kostum warna-warni bertebaran hampir di sepanjang jalan. Tak lupa bendera kebangsaan berkibar di setiap sudut kota . Dan yang paling menyenangkan adalah Cindy ternyata menerima ajakanku. Dia kini telah siap dengan kostum gadis super berjilbab putih seperti serial drama fantasi D’Jilbabs yang memang sedang trend belakangan ini. Aku pun tak mau kalah. Aku mengenakan kostum ala Sorbanokishi, pemuda super berjubah dengan sorban berkalung di lehernya yang juga terdapat dalam serial fantasi D’Jilbabs. Aku sengaja memakai kostum ini agar terlihat lebih serasi dengan Cindy.

Bill mengenakan kostum Tuxedo bertopeng seperti dalam serial kartun yang sangat digemari pacaranya, Jessie. Mereka juga terlihat begitu serasi apalagi Bill terlihat begitu pas dengan setelan Tuxedo hitamnya.

Kami mulai berjalan bergandengan dengan pasangan masing-masing diiringi oleh musik Kecimol, musik tradisional di kota Purtown. Dengan 4 buah Tambur besar dan 6 drum kecil yang ditabuh berirama sesuai dengan lagu yang sedang didendangkan. Mereka berjalan dengan dua baris dimana dua penabuh Tambur berada paling depan diikuti 6 orang penabuh drum kecil dibelakangnya dan diurutan terakhir berdiri 2 penabuh Tambur yang tersisa. Tepat di belakang barisan itu seorang penyanyi perempuan berambut keriting sedang mendendangkan sebuah lagu dengan riang gembira. Di kedua sisi jalan banyak penduduk kota berjejer menyaksikan pawai yang sedang berlangsung. Beberapa anak tertawa senang sambil menaburkan Confetti berwarna-warni ke angkasa menambah semarak pawai sore itu.

Aku hanya tersenyum melihat keindahan yang hanya bisa disaksikan sekali setahun itu tanpa menghiraukan Cindy yang sejak awal terus menggelayut digandenganku dengan wajah cemberut tak terurus. Siapa peduli. Asal aku terlihat seperti memiliki pasangan menurutku sudah cukup. Si pengecut yang jahat.

Dan apa yang aku lihat berikutnya adalah pemandangan yang sangat mencengangkan. Bundaran Clove terlihat begitu megah dengan berbagai macam hiasan khas hari kemerdekan. Dan yang paling menarik perhatianku adalah pohon Briwish. Pohon itu sangat besar dan tinggi. Akar gantunngnya yang lebat telah dihias sedemikian rupa dengan lampu-lampu warna warni persis seperti pohon natal. Terdapat banyak pita yang juga berwarna-warni di setiap akar gantung itu. Pita-pita tersebut pastilah ikatan-ikatan harapan sang pengikatnya. Aku memang jarang berkunjung ke tempat ini ya paling tidak sekali setahun. Tapi entah kenapa saat ini aku seperti melihat pemandangan yang belum pernah ku lihat sebelumnya.

Tanpa sadar aku melepaskan tangan Cindy yang masih bergelayut dan melangkah lebih dekat ke arah akar gantung yang penuh oleh orang-orang yang berusaha mengikatkan pita harapan mereka. Seorang anak laki-laki mendekatiku dan menawariku untuk membeli Pitanya.

Aku mulai memegang akar gantung pohon Briwish. Melihatnya dengan seksama dan sesekali menciuminya.

“Apa benar?” Gumamku lirih. Ada semacam dorongan perasaan tak percaya berkecamuk dipikiranku selama ini. Dan aku pikir hal ini tak ubahnya hanya sebuah mitos belaka.

“Ikat saja, siapa tahu benar-benar terjadi.” Ucap seseorang di belakangku yang ternyata adalah Bill dan Jessie.

“Kami juga telah mengikatkan harapan kami pada pohon Briwish ini,” sesaat Bill dan Jessie saling memandang “..dan harapan itu akan menjadi nyata karena kami percaya. Begitu juga denganmu, asal kau percaya asa itu akan menjadi nyata maka hal itu pasti benar-benar terjadi.”

Terdiam sejenak berusaha mencerna ucapan Bill, aku memejamkan mataku. Jari jemariku mulai mengikat pita berwarna kuning pada akar gantung pohon Briwish seraya menyebutkan keiinginanku dalam hati. Dan ketika aku membuka kedua kelopak mataku, aku melihat sosok seorang gadis dengan rambut panjang persis dihadapanku.

“Anna..” Ucapku lirih. Jantungku mendadak berdegup kencang.

“Keith..” Anna tertawa renyah dengan ekspresi sedikit terkejut ketika ia melihatku. Wajahnya terlihat merona.

Kami bertatapan dalam diam. Saling menatap dengan salah tingkah tak tahu harus memulai dari mana.

Hari mulai gelap. Lampu-lampu warna warni pada pohon Briwish mulai menyala. Sebentar lagi kembang api akan dinyalakan. Dengan perasaan canggung aku mulai memecah kesunyian di antara kami.

“Err..bagaimana kabarmu?”

“Baik…kamu?” Anna balas menanyaiku. Wajahnya kembali terlihat merona. Ia tersenyum.

“Ya seperti yang kau lihat, hanya saja aku tak kunjung gemuk. Tetap seperti 6 tahun lalu.”

“Oh ya, kau datang dengan siapa?”

“Oh..aku..aku dengan teman sekelas..beramai-ramai. Kamu?” Aku berbohong. Aku berusaha menyamarkan kegugupanku.

“Aku datang dengan seseorang, namanya George. Tapi entahlah, sejak tadi dia pergi entah kemana.” Anna terlihat menoleh beberapa kali ke sekelilingnya memastikan apakah George ada dekitar sana.

Ada perasaan kecewa membuncah di dadaku.

“Hei lihat, kembang apinya.” Kataku menunjuk kearah langit yang kini dihiasi kilatan warna warni memukau. Wajah ana terlihat terpesona menyaksikannya.

“Indah sekali.” Gumam Anna tanpa mengalihkan pandanganya dari pendaran cahaya kembang api di langit.

Seorang laki-laki bertubuh tinggi mendekat ke arah kami, Sedikit lebih gemuk dibandingkan denganku.

“Anna, ini sudah malam. Sebaiknya kita..Hey! Siapa laki-laki ini?” Ucap laki-laki itu sinis sambil menatap ke arah ku.

“George! Dia..dia temanku..Mr.K!” Ucap Anna dengan nada sedikit membentak.

“Oh, sorry. George.” Ekspresi wajah George memancarkan keterkejutan sambil mengulurkan tangannya.

“Keith.” Balasku seraya meraih uluran tangannya.

“Sepertinya aku harus ke toilet, sejak tadi perutku terasa sedikit mulas.” Ucap Anna yang kemudian berlari menuju Toilet terdekat.

Aku bingung harus memulai pembicaraan dengan George. Beberapa menit yang lalu ada perasaan takut ketika ia tiba-tiba saja muncul dan memergoki kami berdua melihat kembang api kemudian cemburu. Awalnya aku pikir dia akan menghatam wajahku dengan tangannya yang terlihat lebih besar dari tanganku.

“Jadi kamu Mr.K, ah tidak, maksud aku Keith.” Ucapnya memulai pembicaraan.

“Tunggu dulu, Mr.K? Apa maksudnya?”

George terdiam sejenak.

“Kau terlalu membuang banyak waktu Mr.K, kau bahkan tak pernah menyadarinya. Bertahun-tahun yang lalu ketika kalian selalu bersama.”

“Aku tak mengerti?”

“Aku sangat menyayangi Anna, dia sepupuku. Dia juga begitu dekat denganku. Dia seperti adik kandungku. Kau tahu, sejak kepindahannya 6 tahun lalu, dia terus saja menceritakan segala hal tentangmu. Dari awal perjumpaan kalian, persahabatan kalian, semuanya. Sampai ia tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Ia jatuh cinta padamu Mr.K. Tidakkah kau menyadarinya?”

Bertepatan dengan kalimat terakhir George, terdengar suara ledakan kembang api yang kemudian memancarkan cahaya warna-warni di langit. Aku terdiam tak percaya atas apa yang dikatakannya. Jantungku berdegup kencang. Ada perasaan aneh muncul di sekujur tubuhku.

“Di hari perpisahan kalian, ia masih menunggumu. Menunggumu untuk mengatakannya. Tapi sayang Anna tak mendapatkannya. Ia sempat kecewa dan berusaha melupakan semuanya tapi ia tak mampu. Dan aku tahu pasti harapannya untuk sekedar bertemu dengan Mr.K yang ia ikatkan pada pohon Briwish telah terkabul. Ikatan itu akan segera terbuk karena permohonan telah terkabul.” George memandang Pohon Briwish yang dipenuhi lampu warna warni dan pendaran kembang api. “Kumohon Mr.K.” Wajahnya terlihat memelas.

Apa ini? Aku merasa begitu bodoh. Aku begitu pengecut. Hanya karena takut akan penolakan aku sampai tak menyadari ternyata bertahun-tahun yang lalu cintaku berbalas. Cintaku pada gadis yang selama ini diam-diam aku sukai yang juga ternyata diam-diam menyukaiku. Cintaku pada gadis yang selalu memikirkanku sepanjang waktu. Ada semacam dorongan semangat yang entah datangnya dari mana. Jantungku berdebar makin kencang.

Tanpa berpikir panjang lagi, aku berlari mencari Anna ke Toilet, namun tak menemukannya. Di beberapa sudut Bundaran Clove yang ramai juga ia tak tampak. Sampai aku melihatnya berdiri bersama kerumunan orang-orang di bawah pohon Briwish.

“Anna!” Kataku sambil berlari mendekatinya. Ia menoleh lalu tersenyum. Aku berusaha mengatur napasku yang ngos-ngosan karena berlari mengitari Bundaran Clove yang luas untuk mencarinya.

“Aku..aku..aku cinta padamu.” Kata-kata itu keluar begitu saja dengan lepas di sela napasku yang belum teratur.

DUARRR!!! Kembang api yang menurutku dengan suara paling dahsyat saat itu terdengar bertepatan usai aku mengutarakan perasaanku pada Anna.

Anna tertegun memandangi wajahku yang penuh keringat dengan ekpresi terkejut.

“Apa? Aku tak mendengarnya. Coba ulangi lagi dengan relax.” Anna terlihat sedikit histeris. Bola matanya terlihat berkaca-kaca.

“Oke. Tunggu sebentar.” Aku menarik napas beberapa kali berusaha untuk menstabilkan napasku. “Aku cinta padamu.”

Serta merta Anna memeluk tubuhku dengan erat. Aku melepaskannya. “Kau belum menjawabnya”.

“I love you too!!!” Anna berteriak histeris dan memelukku kembali.

Tanpa kami menghiraukan pendaran kembang api yang memukau di angkasa kami berciuman.

Ketakutan akan suatu hal tak akan membawamu kemana-mana sampai kamu mau mencoba melawan ketakutan itu sendiri.

Harapan itu terikat bersama akarnya dan ketika harapan itu terkabul, saat itu pula ikatan itu akan terbuka.

END.

Iklan

10 Komentar

  1. 21/10/2012 pada 11:01 AM

    good quote ๐Ÿ™‚

  2. aztee said,

    21/10/2012 pada 11:15 AM

    Well done, boy! ๐Ÿ˜€ I’ll wait for the next stories!

  3. 21/10/2012 pada 1:09 PM

    Bacanya nanti aja ya kalo on mobile bs sambil tiduran hehe ๐Ÿ™‚

  4. Ryan Weasley said,

    21/10/2012 pada 1:26 PM

    jadi udah mulai bikin cerita cinta-cintaan? Ciyeeee~
    Lumayan bagus, cuma kurang sreg sama beberapa pilihan katanya aja haha *ketawa diagonal*

  5. Ryan Weasley said,

    21/10/2012 pada 1:29 PM

    jadi udah mulai bikin cerita cinta-cintaan? Ciyeee~
    Bagus kok, cuma kurang sreg sama beberapa pilihan katanya aja hehe *senyum diagonal*

    • RIADUNEZIOUS said,

      21/10/2012 pada 1:39 PM

      Hmmm berarti memang harus belajar lebih giat lagi dan banyak baca buku. Sering kok bikin love story cuma bedanya ini lebih serius. terlalu banyak bercanda juga ga bagus kan? thx ya udah baca…:)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: