Samouzier In Wonderland 2


WONDER 2

Sinar matahari pagi itu menyilaukan mataku. Perlahan aku membuka kedua kelopaknya. Masih dengan posisi berbaring, aku meregangkan badan dan menarik selimutku yang hampir seminggu belum sempat aku cuci. Berusaha terpejam kembali tapi kemudian aku teringat sesuatu. Dengan cepat aku bangkit dan menoleh ke belakang melihat benda bundar yang tertempel di dinding kamarku. Hampir jam pukul 08.00!!!

“Gawat!!!! Kali ini aku pasti terlambat!” Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan berusaha secepat mungkin membersihkan diri. Oke, aku pikir mandi akan menghabiskan banyak waktu jadi cukup hanya dengan cuci muka dan gosok gigi. Namaku Samouzier, ciri-ciriku yang paling menonjol adalah badanku yang kurus. Mataku sedikit besar dengan tulang pipi yang agak menonjol. Di pipiku yang sebelah kanan, ada bekas luka berbentuk lingkaran yang disebabkan penyakit cacar ketika aku masih kecil. aku bekerja di sebuah perusahaan asing dibidang provider. Posisiku sebagai Customer Service. Tugasku menjawab komplain melalui telepon atau berhubungan langsung dengan para customer di kantor. Pekerjaan ini membutuhkan kesabaran extra tinggi karena kita akan dihadapkan dengan berbagai macam karakter manusia. Baik, galak, pemalu, cerewet, sabar, aneh dan sebagainya. Kau akan begitu mencintai pekerjaan ini ketika menghadapi konsumen yang sangat pengertian dan sabar menunggu tapi kau akan sangat membenci pekerjaan ini ketika menghadapi konsumen yang galak dan tentu saja yang cerewet. Sampai pernah ada yang membuatku stress. Ia mengamuk di kantorku dan merobek-robek pamflet di mejaku tapi untung saja security segera mengatasinya. Berhubung kantorku bersebelahan dengan kantor pembayaran kereditan sepeda motor pernah ada seorang ibu yang hendak membayar kreditan sepeda motor memasuki kantor kami. Mengantri lama sekali dan begitu aku melayaninya ia ternyata salah masuk. Tapi kasus ini masih bisa dimaafkan, mengingat ibu tadi bisa saja seorang yang buta huruf atau penglihatan bahkan mungkin ingatannya sudah mulai pikun dibandingangkan dengan kasus menghadapi konsumen yang turun dari mobil mewah dengan penampilan rapi tapi malah salah masuk ke kantorku. Apa papan nama sebesar gawang sepak bola di luar sana tidak terbaca? Atau mungkin konsumen tadi tidak bisa membaca? Entahlah.

Aku berlari menuju stasiun dengan sekuat tenaga meskipun aku tahu aku pasti akan terlambat. Tetapi ada yang aneh. Entah kenapa kalimat “sudah waktunya” mulai terdengar dimana-mana. Mobil-mobil yang melintas di sepanjang jalan raya terdengar mengeluarkan kata “sudah waktunya” berulang-ulang. Tidak hanya itu. Orang-orang yang berlalu lalang sambil berbincang pun yang terdengar hanya kalimat “sudah waktunya”. Bahkan burung-burung pun berkicau “sudah waktunya”

“Aaaaarrggghh!!!” Aku berteriak sekuat tenaga. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?

“Sudah waktunya” aku mendengar kalimat itu dari seseorang yang tiba-tiba muncul di sampingku.

“Huaaaa..!! Ka..kakek Genie?” Aku mundur beberapa langkah dari hadapannya dan hampir saja terjatuh. Jantungku seperti mau keluar karena terkejut.

“Kenapa kau masih disini, eh? Seharusnya kau sudah berangkat menghadapi petualanganmu..” Ia mengamati tongkatnya yang lurus dan panjang. Matanya menyipit lalu menggoyang-goyangkan tongkatnya “sepertinya ada yang salah dengan tongkat ini, ini pasti pengaruh global warming”

Dua hal Β itu bahkan tak ada hubungannya sama sekali kek, kataku dalam hati.

“Sudahlah, kakek pergi mengemis dulu. Kakek belum makan apapun hari ini. Oh ya bersiaplah, 7 langkah lagi kau harus berangkat karena ini memang sudah waktunya, hehehe…”

Kekehannya membuatku merinding. Aku melihat kakek Genie memunggungiku dan berjalan perlahan dengan tongkatnya yang panjang. Meninggalkanku.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga, empat, lima dan emam langkah. Aku menghentikan langkahku.

Bertepatan ketika aku memijakkan kakiku pada langkah ke enam, suasana mendadak hening. Suara deru kendaraan, kicauan burung dan suara orang-orang yang berlalu lalang tak terdengar lagi oleh kedua telingaku. Bahkan aku tak merasakan ada aliran udara disekitarku.

Dan ketika aku melangkahkan kakiku pada langkah ke tujuh, tidak terjadi apapun kecuali suasana yang makin hening. Tetapi lima detik kemudian pijakanku mendadak ambles. Terbuka lubang hitam yang lebih mirip sebuah pentagram. Aku terperosok jatuh kedalamnya dan berteriak sekuat tenaga. Titik cahaya dari tempatku terjatuh perlahan mengecil dan akhirnya hanya kegelapan yang terlihat.

***

“Hey, apa yang kamu lakukan disitu? Kalau tidak bergegas kau akan terlambat” seru seorang laki-laki yang menurutku masih sebaya denganku. Tubunya terlihat kurus tapi aku masih lebih kurus dibandingkan dengannya. Ia mengenakan sebuah jaket abu-abu dan kaos biru yang terdapat lambang aneh di bagian dadanya. Lambang itu seperti huruf “G” tapi dibuat agak rumit. Rambutnya hitam legam berponi tipis. Dan yang membuatku terpana adalah warna bola matanya yang hijau.

“Aku…tapi dimana ini?” Aku memandang sekelilingku. Tampak bangunan-bangunan aneh dengan design futuristik. Gedung-gedung yang menjulang tinggi berbagai macam bentuk dengan lekukan-lekukan tegas yang membuatnya terlihat seperti sebuah Robot Gedung. Di angkasa nampak bermacam-macam kendaraan unik berseliweran sesuai jalur masing-masing . Orang-orang berjalan tanpa saling menyapa karena disibukkan oleh sebuah benda yang ada di tangannya. Benda tersebut memancarkan cahaya seperti sebuah Hologram dan mereka bercakap-cakap dengannya. Banyak kendaran-kendaraan aneh yang belum pernah aku lihat sebelumnya melintas secepat kilat di jalan.

Dalam diam aku kembali menatap laki-laki berbola mata hijau itu. Dia berkedip kemudian tersenyum.

“Selamat datang di Negeri Berkicau” katanya dengan lantang sambil membuka lebar lengan kanannya seperti pembawa acara kuis yang memamerkan hadiah.

“Negeri berkicau?” Tanyaku dengan sebelah alis terangkat.

“Yups, Negeri dengan lambang Burung Biru” Ia menunjuk sebuah gedung setengah lingkarang yang ditengah-tengahnya terdapat sebuah lambang berbentuk lingkaran. Didalamnya terdapat icon bebentuk burung yang berwarna biru menghadap ke samping dengan sayap terbuka lebar.

“Oh ya, kenalkan, aku Rean” ucapnya sambil menjulurkan tangan kanannya.

“Aku..Sam..ya panggil saja Sam” aku meraih tangannya. Bersalaman. Aku teringat akan pesan kakek Genie tentang akibat menyebutkan nama asli kepada orang yang belum dikenal. Menurutku, Singkatan mungkin saja tidak mempan terhadap kutukan. Ah ya, kakek Genie! Dimana..

“Kau pasti dari Luar Negeri, kau tampak asing” Rean membuyarkan lamunanku

Aku dari Luar Negeri? Justru kau yang terlihat seperti orang luar negeri dengan bola mata hijau itu, gumamku dalam hati.

“Tapi aku pikir di negeri ini kebanyakan penduduknya berasal dari luar negeri, termasuk aku. Bedanya aku sudah menetap cukup lama di sini dan.., ” tedengar deringan yang berasal dari saku kanan celana Jeans-nya. Ia mengeluarkan sesuatu seperti sebuah Handphone layar sentuh mirip dengan yang digunakan orang-orang yang melintas cuek beberapa menit lalu. Kemuadian ia menyapukan jarinya dengan pelan dan benar saja, dari layarnya terpancar seberkas sinar biru seperti sebuah Hologram, “Oh tidak! Sistem operasi negeri ini sedang Over Capacity, jadi registrasi belum bisa dilakukan sekarang. Aku heran, apa saja yang mereka kicau-kan sampai membuat sistem error begini.”

“Registrasi?” Tanyaku heran.

“Bukankah kedatanganmu kesini untuk mendaftar Kicauan? Sepertinya kau memang belum mengerti apa-apa tentang semua ini. Ayo sebaiknya kau ke rumahku dulu, aku akan menjelaskan semuanya nanti” Rean berbalik menuju sebuah benda unik yang tak jauh dari tempat kami berdiri. Benda tersebut seperti Jet Ski tapi lebih ramping dan tak memiliki tempat duduk. Hanya stang dan pijakan kaki. Ia telah berdiri sambil Β memegang stangnya yang berwarna biru.

“Ayo, tunggu apa lagi. Kita naik Flying Myo biar lebih cepat sampai. Ini adalah kendaraan favoritku” terangnya sambil mengusap-usap stangnya.

Cepat-cepat aku berlari ke arahnya lalu Rean mempersilakanku naik tepat dibelakangnya. Ketika aku memijakkan kakiku di pijakannya, samar-samar aku melihat Rean seperti mengetik sesuatu didepanku. Sedetik kemudian, sebuah stang berwarna biru seperti yang di pegangnya muncul di hadapanku yang membuatku mundur selangkah. Bentuknya agak kecil dan tak memiliki tombol. Ia memberiku sebuah kacamata Google seraya menyuruhku untuk langsung memakainya.

“Apa kau sudah siap? Dan jangan lupa pegang yang erat”

Aku mendengar bunyi PIP bertepatan ketika aku mengeratkan peganganku di Stang. Flying Myo terangkat perlahan. Pijakan di bawah kaki kami seperti mengeluarkan angin super yang membuat kami melayang. Aku merasakan sekitarku seolah tanpa udara. Seperti ada semacam lapisan tak terlihat melapisi kami. Dan ketika aku mendengar bunyi PIP kedua, kami telah melesat dengan dengan kecepatan tinggi membubung ke angkasa. Sensasinya seperti ketika menaiki Roller Coaster, ah tidak! Sensasinya lebih gila. Lesatannya lebih cepat.

Meskipun Flying Myo terbang dengan kecepatan tinggi, aku masih bisa melihat keadaan negeri ini dari atas. Benar-benar keren. Teknologi di negeri ini sangat maju. Gedung-gedung berbentuk Bulat, Lonjong, Segitiga, bahkan Spiral terlihat jelas dari atas. Aku jadi bertanya-tanya, apakah ini masa depan atau semacam dunia dari dimensi lain?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: