Wati:Kelabangwati (Edisi Special)


Gadis berkacamata tebal itu bernama Wati Parker. Gadis manis berponi yang ia sebut poni Maria Mercedes itu terkenal culun di sekolahnya. Meski culun, prestasi di sekolahnya sangat gemilang. Ia kerap mendapat juara pertama di setiap smester bahkan ia kini mendapatkan beasiswa dari sekolahnya.

Wati Parker seorang yatim piatu. Ia kini tinggal bersama paman dan bibinya, Bem dan Mei Parker. Meski beberapa orang yang ia cintai telah tiada Wati tak pernah merasa kesepian. Ia memiliki sahabat dekat yang kaya raya bernama Ningsih Osbron, gadis bertubuh gemuk pewaris tahta perusahan Orcrop yang terkenal.

Musim panas yang cerah dan panas telah tiba. Ya iyalah panas namanya saja musim panas sudah pasti suasana menjadi panas. Tapi kali ini perdebatan tentang musim panas akan dicukupkan sampai disini karena cerita tentang petualangan Wati akan dimulai dari sini.

Musim panas kali ini adalah musim panas paling panas dari musim dingin yang dilewati oleh Wati Parker dengan hati yang selalu berdebar tentunya. Sebentar lagi kelasnya akan mengadakan tur ke kebun binatang yang terletak di kota sebelah. Wati memiliki kemampuan fotografi yang keren dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya untuk itu ia di tugaskan sebagai pengambil gambar dalam tur tersebut.

Siang itu dengan memakai pakaian jadul milik bibi Mei ketika masih gadis. Baju berlengan panjang dengan motif bunga sepatu yang besar. Wati melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke sekolahnya. Sesekali ia merapikan posisi kacamatanya yang besar, bulat dan tebal dan sesekali pula ia merapikan poni Maria Mercedes-nya yang sesekali tertiup angin di jalan.

Wati Parker, siswi culun yang sering dibully oleh teman-temannya kini tiba di sekolahnya yang mewah dan megah. Ia memasuki halaman sekolahnya dengan berlari-lari kecil dramatis slow motion sambil mendekap buku pelajarannya yang tebal. Ia tak lupa memejamkan mata seraya terus berlari-lari kecil dramatis slow motion persis seperti drama-drama Korea yang sering ditontonnya.

BRUKK!!!

Wati menabrak seseorang.

Dan orang itu adalah Siti Tomson. Gadis cantik dari keluarga kaya yang sangat rajin membullynya di sekolah.

“Heh!! Kalo jalan liat-liat dong!!! Buta ya!!” Siti membentak Wati.

“Tapi aku kan lari-lari kecil.”

“Berani ngelawan gue ya, nih rasakan!” Siti hendak menampar Wati tapi seorang laki-laki tampan berambut merah secepat kilat menahan tangannya.

“Udah lah Sit, sebaiknya kita cabut dari sini.” Ajak lelaki berambut merah itu seraya merangkul Siti. Dan hal yang tak terduga terjadi. Lelaki berambut merah itu menoleh ke arah Wati dan tersenyum ke arahnya.

Wati seperti melayang ke udara menembus awan-awan seputih salju dan terus meluncur sampai langit ke tujuh hanya dengan melihat senyuman laki-laki berambut merah itu. Lelaki itu terkenal dengan nama UJ, Udin Jane Klakson. Dia adalah laki-laki yang sejak lama ditaksir oleh Wati. UJ adalah siswa populer di sekolahnya. Ia jago menyanyi dan akting. Beberapa alat musik ia kuasai. Orang tuanya memiliki perusahaan pembuat Klakson terbesar di kotanya. Yang kadang membuat dada Wati teriris adalah mengetahui kalau UJ dan Siti Tomson telah resmi berpacaran. Meski begitu ia tetap berharap suatu hari ia bisa berpacaran dengan UJ.

Suasana kebun binatang Gajah Kayang tak begitu ramai. Pengunjung hanya berasal dari sekolah Wati saja. Wati terlihat asyik sendiri memotret pemandangan yang ada di sekitar. Sesekali ia menjepret beberapa burung yang melintas di hadapannya. Salah seorang guide kebun binatang Gajah Kayang sedang asyik menjelaskan jenis-jenis hewan yang ada di tempat tersebut ketika Wati melihat UJ berdiri memandang seekor burung kakak tua. Jantung Wati berdebar kencang. Entah keberanian dari mana, ia mendekati Uj.

“Hei.” Sapa Wati.

“Oh, hei, kamu Wati Parker kan?”

“Ya, benar. Err.. Boleh aku mengambil gambarmu?” Wati mengangkat kameranya. “Itu kalau diizinkan. Err..untuk koran sekolah.” Wati terbata-bata.

“Tentu.” UJ berpose dengan gagahnya di samping burung kakak tua dan Wati dengan semangatnya menjepret UJ beberapa kali sampai Siti datang menjambak rambut Wati.

“Heh! Gatel lo ya, rayu-rayu cowok gue. Asal lo tahu ya UJ itu cowok gue. Ngerti!” Siti berlalu dengan cepat di hadapan Wati sambil merangkul UJ.

Wati kembali sibuk memotret-motret beberapa objek yang ada di sekitarnya. Penjelasan tur guide tentang laba-laba membuat Wati tertarik untuk mendekatinya.

“Jadi ini adalah jenis Laba-laba janda ungu yang sangat langka. Memiliki nama latin Violetus Widow dan hanya tersisa 69 ekor saja dan hanya terdapat di kebun binatang Gajah Kayang ini.”

“Tapi disini jumalahnya 68 ekor pak.” Sahut salah seorang siswa berambut lurus.

“Oh, mungkin yang seekor sedang ke toilet.” Semua siswa tertawa.

Dan ketika Wati hendak memotret lagi, sesuatu terjatuh ke salah satu tangannya. Dan mendadak terasa sakit. Sesuatu itu terasa seperti menggigitnya. Begitu Wati hendak melihat tangannya, tampak seekor Laba-Laba terjatuh dari tangannya. Wati tak mau peduli apapun itu yang pasti kini tangannya terlihat bengkak gara-gara gigitan Laba-Laba itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: