The Name Of Umbridge


Aku dikejutkan oleh sebuah kejadian yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya siang itu. Di siang hari yang panas aku menemukan sesosok manusia gemuk dan pendek berbaju pink yang ternyata adalah seorang perempuan. Ia begitu kotor. Mukanya penuh dengan warna hitam coreng moreng. Aku berusaha sekuat tenaga untuk memindahkannya dari tempat itu sampai menuju ke gubuk reotku. Namaku Riadun. Umurku baru saja menginjak 19 tahun. Aku hidup seorang diri tanpa tahu silsilah keluargaku. Yang aku tahu hanyalah namaku. Aku berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Tapi aku punya tempat yang paling sering aku tempati. Sebuah gubuk di pinggiran Hutan Terlarang. Kecil tapi begitu nyaman. Aku tak sempat bersekolah di Hogwarts. Karena suatu alasan yang aku tak mengerti ternyata aku memiliki kemampuan sihir hanya saja aku tak pernah mengasahnya. Pernah suatu ketika, saat ulang tahunku yang ke 11, entah kenapa lilin-lilin yang ada di sebuah toko di Diagon Alley menyala dengan sendirinya begitu aku melintas. Lilin-lilin itu tak bisa padam. Aku begitu ketakutan saat itu lalu melarikan diri. Aku tak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi sampai aku tahu ternyata aku memang memiliki kemampuan sihir.

Tapi semua telah terlambat. Umurku kini telah melewati batas sehingga tak bisa belajar di Hogwarts. Seharusnya di titik ini aku telah lulus dari sekolah sihir paling keren itu. Aku juga ingin bertemu langsung dengan Harry Potter. Anak laki-laki yang bertahan hidup.

Wanita itu terbangun. Matanya yang besar dan bundar sedikit menonjol beberapa kali berkedip. Ia tampak seperti Kodok dengan wajah yang lebar dan bergelambir. Kulitnya memang pucat. Itu terlihat jelas ketika aku selesai membersihkan wajahnya yang kotor.

“Ehem..ehem..dimana ini?” Mulutnya yang lebar dan kendur mulai bertanya. Suaranya nyaring dan kekanak-kanakkan. Ia menoleh ke arahku.

“Kamu siapa? Dimana mahkluk setengah Kuda itu? Aku begitu jijik dengan mereka”.

Aku hendak mendekatinya untuk menyuruhnya tenang.

“Tunggu! Siapa kamu? Kamu jangan macam-macam denganku. Asal tahu saja, aku adalah Dolores Umbridge. Kepala sekolah Hogwarts. Berani melangkah, kau akan berurusan dengan kementrian”.

Aku lalu menjelaskan semua kejadian yang menimpanya ketika ia tak sadarkan diri. Dan ini sangat keren. Ternyata dia adalah kepala sekolah Hogwarts. Suatu keberuntungan bisa bertemu orang hebat seperti Dolores Umbridge. Tapi, kemana Dumbledore? Apa yang terjadi sehingga posisinya diganti oleh wanita ini?

Ketik hendak menanyakan hal itu, Dolores Umbridge lalu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dari penuturannya, wanita ini terlihat begitu setia pada kementrian yang kini sedang dipimpin Cornelius Fudge. Entah kenapa, aku merasa begitu nyaman ketika berada di dekatnya. Apalagi setelah ia memutuskan untuk mengajariku sihir. Beberapa waktu yang lalu aku pergi ke toko Mr.Ollivander di Diagon Alley untuk membeli sebuah tongkat sihir setelah Mrs.Umbridge–aku kini diharuskan memanggilnya Mrs.Umbridge setelah sebelumnya aku memanggilnya Bibi–memberiku beberapa Galleon.

“Kayu Limau dengan inti bulu Unicorn, empat belas seperempat inci, dan sangat lentur cocok untukmu” kata Mr.Ollivander dengan tatapan kosong ke arahku ketika membeli tongkat sihir pertamaku.

Mrs.Umbridge begitu tegas dan disiplin dalam mendidikku. Ia memang kejam tapi aku menyukai itu. Paling tidak bisa menjadi cambuk untuk tetap fokus pada apa yang sedang aku kerjakan. Tak heran, tanganku penuh dengan luka-luka dari pena yang tintanya benar-benar meresapi kulitku setelah menerima hukuman darinya akibat lalai dari tugas yang ia berikan. Mrs. Umbridge juga menceritakan bagaimana ia menghukum Harry Potter dengan hukuman yang sama karena telah melakukan kebohongan besar dengan mengatakan Kau-Tahu-Siapa telah kembali. Aku pikir hukuman itu pantas diterima Harry Potter. Ia seharusnya tidak membuat kebohongan publik yang meresahkan seluruh dunia. Setelah mendengar hal ini, aku jadi kehilangan respect kepada Harry Potter. Ternyata ia tak sekeren seperti yang dikatakan orang-orang. Harry Potter tak ubahnya seorang pembual kelas kacangan yang mengandalkan ketenarannya untuk memengaruhi dan membohongi publik.

Selain itu, Mrs.Umbridge juga menceritakan kepadaku bahwa sebelumnya ia ditugaskan menjadi guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam tapi dengan misi terselubung yang ia susun dengan Cornelius Fudge, ia membuat berbagai macam perubahan. Cornelius Fudge begitu takut jika Dumbledore bertindak lalu menggulingkan posisinya di Kementerian.

“Mrs. Umbridge..”

“Ehem..ya..”

“Kalau ..misalnya aku masuk Hogwarts, kira-kira aku masuk asrama apa?” Tanyaku malu-malu.

“Slytherin, sudah pasti”. Jawab Mrs.Umbridge dengan suara nyaring.

Slytherin? Padahal aku berharap masuk Hufflepuff tapi itu tak jadi masalah. Aku pikir Slytherin adalah asrama yang tak kalah keren.

“STUPEFY!!!” lantangku sambil mengarahkan tongkat sihiku pada sebuah batu yang kini telah meledak dan berubah menjadi abu.

“ehem..kau begitu hebat menggunakan mantera ini” puji Mrs.Umbridge

Setelah itu pun mantera Stupefy menjadi mantera andalanku.

Di lain kesempatan Mrs. Umbridge mulai mengajariku bagaimana cara membuat Patronus. Pada awalnya aku begitu kesulitan sampai akhirnya aku tahu bagaimana cara membuatnya. Dengan memikirkan hal-hal yang sangat membahagiakan maka Patronus yang muncul akan makin sempurna.

“Expecto Patronum!” teriakku. Dari ujung tongkatku muncul sinar keperakan membentuk sebuah kreatur. Kreatur berbentuk ikan. Oh tidak, itu berbentuk manusia. Dan ternnyata bukan. Itu adalah bentuk dari Mermaid. Putri Duyung. Aku biasanya memikirkan bagaimana aku dididik oleh Mrs.Umbridge untuk menciptakan Patronus yang sempurna. Perasaanku ketika memikirkan hal ini begitu bahagia sehingga yang muncul pada akhrnya Patronus sempurna.

Pada akhirnya aku semakin dekat dengan Mrs.Umbridge. Aku merasakan ikatan yang kuat dengannya. Aku merasa bahwa ia adalah ibuku yang telah hilang. Apalagi setelah ia mengganti namaku dan memberikan namanya menjadi nama belakangku, Riadunezious Umbridge.

Di lain hari aku akhirnya memanggilnya dengan sebutan mom. Meski ia kejam, ia telah banyak melakukan hal untukku. Terimakasih mom Dolores Umbridge.

Riadunezious Jane Umbridge.

Iklan

2 Komentar

  1. aztee said,

    25/11/2012 pada 3:54 PM

    bahahahahaha…. kodok ngorek, kodok ngorek…. pinggir pinggir sawah.. teot teblung.. teot teblung.. teot teot teblungggg….. #nyanyik #alatriokwekkwek #berjudulkodokngorek x)))))


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: