The Power of Togetherness


Aku bingung dengan perasaan apa yang kemarin aku rasakan. Ada perasaan bahagia yang tak bisa aku deskripsikan. Duduk berhadap-hadapan dengan ibu membuatku bahagia sekali. Aku lalu bernyanyi di hadapannya sambil memijit-mijit lengannya yang gemuk. Ibuku sedang memasak nasi.

“Oh mama…hari ini mama cantik sekali..” dendangku malu-malu sambil tersenyum.

Ibu melirikku sambil tersenyum, “pasti ada maunya”.

Dan kami tertawa bersama.

Selepas shalat maghrib, makan malam telah siap. Beberapa lauk telah berjejer di lantai seolah memanggil ingin disantap. Tanpa kuminta, ibu telah mengambilkanku sepiring nasi hangat yang asapnya masih mengepul karena baru saja matang. Aku memulai suapan pertamaku saat ibu sedang asyik mengupas mangga. Beberapa saat kemudian ibuku memulai makan malamnya.

“ternyata makan bareng itu enak ya, bu?”

“ya itulah kebersamaan. Biar kata lauknya cuma sambel doang kalau kita makan bareng nikmatnya tak terkatakan. Ada semacam kekuatan yang muncul ketika kita duduk bersama menyantapnya. Ikatan tak kasat mata yang memepererat hubungan satu sama lain”. Ibu menjelaskan panjang lebar tanpa melihat ke arahku. Dia terlalu sibuk menikmati suapan-suapannya.

Sejenak aku berpikir bahwa ucapan ibu memang benar. Makan bersama terasa begitu spesial. Aku ingat ketika alu masih di bangku Sekolah Dasar, ibu memasak nasi dengan sebuah panci. Biasanya, di dasar panci tersisa kerak nasi yang biasa kami sebut “Empik”. Hanya sekumpulan nasi yang mengeras. Ibu lalu memanggilku dan teman-temanku yang sedang sibuk  bermain di samping rumah. Ibu mengepalnya setelah Empik tersebut di taburi garam. Nikmatnya tak terdeskripsikan. Aku ingat, kami saling memandang dengan tawa ceria menikmati Empik tersebut. Aku takkan merasa sebahagia ini jika menyantapnya seorang diri. The power of togetherness. Ikatan tak kasat mata menyatukan kami dalam suka.

Malam itu hujan deras. Dan yang mengejutkanku, setelah pulang dari menonton film Bollywood di rumah tetangga sebelah, aku tak mendapati ibu di teras. Sejenak aku melihat keadaah teras yang ternyata becek karena hujan. Hal ini biasa aku alami. Ada beberapa titik pada atap rumah mungilku yang kebocoran. Kali ini lokasi bocornya persis di atas teras yang merupakan tempat tidur ibuku. Aku melihat pintu kamarku terbuka. Didalamnya, ibuku telah meringkuk pulas di balik selimutnya yang tebal. Tak ada tempat lain, akupun langsung merebahkan diri di sampingnya. Aku berpikir, aku bahkan tak ingat kapan terakhir aku tidur dengan ibu. Hihi.

Hujan malam itu semakin deras. Bunyi tetesan air pada ember penalang bocor di teras mengiringi malamku yang dingin di samping ibu.

Ketika aku terbangun keesokan harinya, aku tak mendapati ibu di sampingku. Aku beranjak ke luar dan membuka pintu. Ah, dia sedang membuatkanku sarapan. Ia tersenyum. Aku juga ikut tersenyum.

“Good morning”.

Kebahagian itu justru muncul setelah kita mengucap syukur tapi sayangnya hal itu jarang kita sadari.

Iklan

4 Komentar

  1. aztee said,

    13/11/2012 pada 12:52 PM

    wah keluargaku termasuk kategori itu. 😀 kalo di rumah, makan harus bareng. Ga boleh sendiri2. Diomelin sama bokap kalo makan sndiri2. Dan ga boleh sambil nonton tipi. Ga boleh liat hape dulu :p pokoknya bner2 kita dan makanan..dan juga obrolan2 kecil :’)

    • RIADUNEZIOUS said,

      14/11/2012 pada 6:01 PM

      Ia buug gitu juga tapi aku selalu usahain buat makan bareng. Meski ga makan bareng ibu suka nungguin trus liatin aku lagi makan hahaha…

  2. Nda said,

    19/11/2012 pada 4:33 PM

    wah.. akhirnya lo bisa bikin cerita yg “normal” bik.. 🙂

    nice story..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: