Hujan, Ini Salahamu


Haruskah aku salahkan hujan? Tapi memang benar. Hujan kemarin telah membuat konflik di antara kami. Semua berjalan seperti biasa sampai akhirnya hujan itu turun dan membuatku tersentak kaget lalu terbangun dari sehelai Tikar robek siang itu. Aku harus segera berangkat kerja. Yang aku takutkan bukan terlambat. Bukan. Aku melirik jam dinding yang kacanya telah pecah sepintas. Waktu menunjukkan jam kerjaku masih terlalu dini untuk berangkat sekarang. Tapi apa mau dikata, hujan mulai turun dan menghalangiku untuk berangkat ke tempat kerja. Andai saja Jas Hujanku masih bagus mungkin aku takkan setergesa-gesa seperti ini. Otakku menggambarkan jelas titik-titik robekan pada Jas Hujan itu ketika aku mulai memikirkannya. Yang aku inginkan sekarang hanya berangkat ke tempat kerja secepat mungkin sebelum hujan ini akan semakin lebat.

Konflik mulai terjadi. Tanpa menghiraukan apapun aku dengan cepat bersiap untuk segera berangkat. Mulai dari memanaskan Motorku yang berwarna biru, memasukan kertas-kertas laporan dan sebagainya. Aku juga berencana untuk menykip makan siangku. Aku terlalu takut hujan ini akan membasahiku nanti dan mengacaukan hariku. Tak lupa aku meneguk segelas air pada gelasku yang berwarna kuning yang memang selalu ku siapkan sendiri setiap harinya. Ketika aku dalam keadaan minum, dia bertanya padaku sambil mengaduk nasi yang ada di dalam bakul.

“Hari ini mau bawa bekal?”

Aku terdiam. Bagaimana mungkin aku bisa menjawab pertanyaan dalam posisi minum.

“Cemin!!! Mau bawa bekal nggak?” nadanya meninggi sambil diiringi candaan yang sukses membuatku memanas. Cemin adalah nama nenek pikun dari pihak keluarga lelaki. Begitu aku selesai meminum air dari gelas kuning itu, aku tak mampu menahan emosiku yang telah mencuat sampai ke ubun-ubun.

“Kan nggak harus pakai teriak! Bagaimana aku menjawab dalam keadaan minum!!!” kataku berteriak.

Aku merapikan semua barang-barangku dan langsung pergi tanpa pamit dalam guyuran hujan yang kini  menggerimis. Ada perasaan menyesal dengan kelakuanku beberapa menit yang lalu. Tetapi egoku terus membisiku bahwa yang aku lakukan itu adalah hal yang benar.

Malamnya, hal itu menjadi pembahasan lagi. Konflik pun tak terhindari. Beberapa menit aku adu argumen dengannya sampai akhirnya aku terlelap diiringi lagu-lagu yang mengalun dari sebuah MP3 Player.

Hari yang benar-benar sial. Ini semua salah hujan. Aku yakin andai saja saat itu hujan tidak turun, pasti hal ini takkan pernah terjadi. Hujan, ini adalah salahmu.

Iklan

2 Komentar

  1. findarachma said,

    27/12/2012 pada 3:57 PM

    Kenapa harus menyalahkan hujan?
    Itu takdir..

    Salah satu waktu terbaik untuk diijabahnya do’a adalah ketika hujan. Hujan itu berkah 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: