Wati:Saleswati


CHAPTER 7

Minggu pagi yang cerah. Matahari bersinar dengan cantiknya. Udara pagi yang sejuk mengitari seluruh wilayah. Keheningan pagi itu tiba-tiba saja terusik oleh teriakan Wati.

“AAAAAAAA……..!!!!”

Orang-orang berduyun-duyun mendatangi sumber suara karena penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Wati.

“Kenapa? Kenapa? Kenapa?” tanya orang-orang itu.

“Aku sedang latihan vokal, bapak-bapak, ibu-ibu.” jawab Wati dengan polos sambil merapikan Poni Maria Mercedesnya.

Bubar.

“AAAAAAAAA…….!!!”

“Kamu kenapa lagi, Wati?” tanya orang-orang itu lagi.

“AAAAAA…..Robert Pattinson!! AAAAAA…..!!!”

Bubar lagi.

“AAAAAAAAA…….!!!!”

Tak ada yang peduli.

“AAAAAA……..!!!!!”

Hening.

Wati berlari ke rumah tetangga sebelah mengambil TOA.

“AAAAAAAAAA…..!!!”

Hening.

“Hiks…nggak ada yang peduli lagi sama gue. Malangnya nasib gue.” Wati terkulai lemas di dekat tong sampah milik tetangga sebelah.

“Kamu tenang sajaah…,” suara lembut tiba-tiba muncul. Wati menoleh ke kiri dan ke kanan melangkahkan kaki ke depan dan ke belakang lalu membentuk putaran. Dansa dong woy!

“Di sinih….,”

“Kamuh Ibuh Perih….?” tanya Wati ikut melembutkan suaranya.

Sesosok berkilau itu mengangguk slow motion.

“Tapih…kok gendut?”

“Ini gue, Ningsih, woy!”

“Tapi kok berkilau?” tanya Wati dengan wajah imut.

“Gue pake kelap-kelip dong. Gliter-Gliter unyu biar makin cantik, yuk ah bangkit kita ngemoll aja.”

“Tapi, gue lagi ada masalah. Masalah yang sangat besar dan rumit. Pokoknya complicated banget.”

“Fufufu…,” Ningsih tertawa misteri, “Jadi selama ini lo menganggap gue apa? Hah? Jawab! Kalau lo punya masalah, cerita ke gue, gue udah nganggep lo saudara gue sendiri. Sebagai seorang sahabat, gue bakal selalu ada disamping lo. Jadi kalau lo punya masalah cerita dong.” bentak Ningsih.

“Gue…gue…,” Wati terbata-bata menjelaskan masalahnya kepada Ningsih. Sambil terus berurai air mata, kedua tangan memegang perutnya.

“Apaaaa?? Nggak mungkin! Siapa pelakunya? Udin? Cowok Cakep Kelas Sebelah? Siapa?”

“Bukan, bodoh. Berat badan gue naik dan gue stress. Gue bakal kalah cantik dan seksi sama Siti dan Ijah. Bagaimana kalau Udin berpaling dari gue?”

Ningsih berusaha menenangkan sahabatnya itu seraya memeluknya , “aduh…cup..cup..cup…nggak mungkin lah…Udin bakal cinta mati sama lo, secara lo lebih cantik dari Siti apalagi si Ijah. yuk ah kita ngemoll aja, kita refreshing biar lo nggak stress.”

Baru saja mereka beranjak dari tempat itu tiba-tiba langit berubah gelap. Angin kencang bertiup. Kilatan-kilatan berpendar di angkasa dengan kecepatan 69/detik. Suasana sekitar makin gelap sampai sebuah petir menyambar tepat di depan mereka. Wati dan Ningsih berpelukan erat sambil berteriak kencang.

“AAAAAA….!!!!”

Tanah bekas sambaran petir itu retak. Kemudian retakannya melebar sedikit demi sedikit seolah akan mencul sesuatu dari tanah tersebut membuat Wati dan Ningsih mundur tiga langkah. Satu. Dua. Tiga. Tak terjadi apa-apa. Mereka maju tiga langkah untuk memastikan retakan misterius itu. Satu. Dua. Tiga.

Asap tebal mengepul dari retakan itu. Sesosok makhluk menampakkan diri. Wanita kurus dan langsing bertubuh jenjang dengan sepatu Boots berhak super tinggi yang berwarna pink berpose bak model terkenal. Wanita itu mengenakan rok mini berwarna hitam dan kemben berwarna pink yang dihiasi dengan rompi batik. Gelang-gelang berkilau menghiasi kedua lengannya yang berkacak pinggang anggun. Rambut pirangnya yang lurus menambah kesan seksi dan glamour dengan make up tebal berikut lipstik pinknya seolah menyala-nyala diterpa kilatan-kilatan dari langit.

“Ka..kamu..Nicki Minaj ya..y..ya?” tanya Wati terbata-bata

“Bukan, aku Nicki Tirta” jawab wanita misterius dengan ekspresi datar. Antingnya yang bulat dan menggelantung sampai mendekati bahunya bergerak-gerak mengikuti arah angin, “Sebenarnya itu nama samaranku, orang-orang biasa mengenalku dengan sebutan Saleswati. Karena aku datang ke sini untuk menawarkan produk kecantikan. Aku biasanya selalu mendengar jeritan hati setiap wanita yang selalu merasa dirinya kurang cantik apalagi bagi wanita yang merasa tubuhnya gendut. Bila kau bertriak gendut, aku akan memberikan jawabannya. Demi menjaga kelangsingan umat manusia. Demi menjaga kecantikan umat manusia. Berjuang dengan kelangsingan dan kecantikan. Aku, Saleswati datang menjawab kegalauan hati  kalian.” jelasnya panjang lebar dengan ekspresi datar sambil memeragakan pose unik.

Wati dan Ningsih masih berpelukan dengan bola mata yang terpana melihat wanita unik itu.

“Khususnya kamu, gadis gendut,” Saleswati menunjuk ke arah Ningsih dengan telunjuknya yang tak kalah jenjang. Kutek warna pink-nya menyala-nyala oleh kilatan yang berlendar di langit, “ada progran khusus yang bisa membuatmu langsung kurus dan langsing, dengan begitu kepercayaan dirimu akan meningkat yang pastinya juga akan membuatmu makin cantik, apa kau tertarik?”

Ningsih bangkit lalu berkacak pinggang, “Maaf ya, gue udah cukup bahagia dengan keadaan gue seperti ini, lagian gue udah berasa seksi kok, biar kata gue gembrot tapi ya beginilah gue, apa adanya gue meski kadang gue iri sama Wati yang memiliki tubuh sempurna,” Ningsih menatap Wati dengan tatapan sendu, “Tapi, bagaimanapun juga menjadi diri sendiri adalah yang terbaik. Gue emang gendut tapi gue yakin dan percaya gue bersinar dengan cara gue sendiri!!!” Bertepatan dengan kalimat terakhirnya, petir menyambar dengan dahsyat membuat Saleswati begidik dan mundur 5 lima langkah seperti pacar tetangga sebelah yang memiliki pacar berdekatan. Cukup 5 langkah dari rumahnya langsung sampai.

“Dasar gadis bodoh, kalau kau tidak mau tidak apa-apa, karena temanmu ini akan menjadi konsumenku, HAHAHAHAHA!!!”

Saleswati mengeluarkan cambuknya dan melempar sebuah Borgol ke arah Ningsih yang secara ajaib langusng membuatnya terikat dan lenyap.

“Aaahhh!! Ningsih!!!” Teriak Wati secara dramatis.

“Kau telah masuk dalam perangkapku gadis manis, kalau kau bisa lolos dari jebakanku ini, berarti kau bisa menyelamatkan sahabatmu yang gembrot ini, WAHAHAHAHAHA!!! Selamat tinggal!”

Wanita jenjang itu lenyap membawa sahabatnya.

“Gue harus gimana? Hiks…” isak Wati seraya menutup wajahnya dengan keduabelah tangannya.

Hening. Sekeliling Wati mendadak gelap. Ia berusaha berjalan sambil terus menangis meskipun tak tahu apa yang harus ia lakukan. Wati melihat setitik cahaya dari kejauhan. Ia berusaha mendekat ke arah sumber cahaya tersebut hingga ia mendapati dirinya di sebuah kedai mie ayam.

“Selamat datang,” Sapa seorang nenek bertubuh pendek.

Wati terdiam memandang wanita tua itu. Ada yang aneh. Seorang nenek berbikini dengan kulit keriput memakai stocking jaring-jaring yang seksi. Tangan kanannya memegang sebuah cambuk.

“KAU MAU MAKAN APA??? CTAR!! CTAR!!!!” Bentak nenek itu sambil mengayunkan cambuknya.

Wati merapikan poni Maria Mercedesnya sambil ketakutan setengah mati lalu duduk di bangku yang telah di sediakan. Di hadapannya tiba-tiba muncul semangkuk mie ayam hangat siap disantap. Yummy.

“MAKAN CEPAT!!! CETAR!!! CETAR!!!” nenek itu kembali mencambuk meja beberapa kali. Wati serta merta meraih sendok dan garpu yang ada di samping mangkuk mie ayam. Ketika ia hendak menggunakan sendok dan garpu tersebut, Wati merasa kesusahan. Entah mengapa dua benda tersebut sangat berat.

“Fufufufu…,” nenek itu tertawa misterius. “Saya perkenalkan produk terbaru kami, Heavy Rotation eh salah emangnya JKT48. Yang benar adalah Heavy Spoork. Program pelangsingan ini terdiri dari semangkuk mie ayam super lezat dan panas dengan sendok dan garpu super berat. Dengan mengikuti program ini, kamu akan mengeluarkan banyak keringat karena mie ayamnya yang panas dan sendok serta garpu yang super berat, kalau tidak salah masing-masing memiliki berat 50 KG. HAHAHAHA!!! Masih sanggup makan mie ayamnya? CETAR!!! CETAR!!!” Nenek unik itu mengayunkan cambuknya dengan bersemangat.

Tapi dengan kegigihan demi menyelamatkan sahabatnya, Wati berhasil menggerakan sendok dan garpunya lalu menyondok mie ayam super panas.

“HEAAAAAAA!!!! ENYAAAAKKKKKKK!!!”

“TIDAKKKKKK!!!! KAMU TIDAK MUNGKIN MENGALAHKAN PRODUK BARUKU!!! AAAAAAAA!!!!” Nenek itu berteriak sangat keras. Tubuhnya perlahan berubah menjadi debu sampai yang terdengar hanyalah suara teriakannya yang kemudian lenyap perlahan.

Wati bersimbah peluh. Keadaan sekelilingnya kembali gelap. Ia memberanikan diri melangkahkan kakinya lagi meski ia tak tahu akan melangkah kemana.

“Selamat datang,” sapa seorang lelaki kurus berkacamata berbentuk Trapesium. Kacamata itu mengingatkan Wati kepada Bu Mingce.

“Ini dimana?”

“Di hati kamuh, hihihi…” lelaki itu tertawa imut sambil menutup mulutnya. “Baiklah, selamat datang di Rumah PR. Di sini, kamu harus menyelesaikan PR yang telah disediakan dengan peralatan yang juga telah disediakan. Silakan.”

Wati hanya tersadar ketika ia mendapati dirinya tengah duduk di sebuah meja dengan buku PR serta perlatan tulis menulis lengkap di depannya. Memang terlihat biasa saja, tetapi ketika Wati meraih pensil untuk memulai mengerjakan PR tersebut, ia tak bisa mengangkatnya. Kasusnya sama persis dengan Heavy Spoork yang baru saja ia selesaikan.

“Ini adalah lini produk terbaru kami. Khusus untuk anak-anak sekolah yang ingin pintar tapi tetap dengan tubuh fit langsing menawan, fufufufufu…” Sesekali lelaki itu membetulkan posisi kacamata model Trapesiumnya. “selain soalnya yang super sulit, perlatan untuk mengerjakannya sangat berat. Dari Pensil, Ballpoint, Setip, Penggaris dan lainnya semuanya memiliki berat yang beragam. Mulai dari 100 KG ke atas. Otakmu akan berpikir keras dan tubuhmu akan mengangkat beban berat dengan begitu keringat akan bercucuran dan bayangkan berapa kalori yang akan terbakar? Fufufu….”

“YEAAAHHHHH!!! GU..GUE..SE..DI..KIT LA..GI.. SE..SE LE..SAI!!! HIAAAAAA…!!!” Wati dengan sekuat tenaga berusaha menorehkan Pensilnya yang super berat untuk menyelesaikan PR tersebut.

“TIDAAAAKKKKK!!!!!” Lelaki berkacamata Trapesium itu berteriak sampai ia lenyap dengan sendirinya.

Wati kehabisan tenaga. Bajunya basah kuyup oleh keringatnya yang banyak. ia  terkulai tak berdaya. Pandangannya terlihat mengabur. Samar-samar ia melihat wanita pirang dengan cambuk di tangannya menggeret Ningsih ke arahnya.

“Kamu memang sahabat yang baik, tapi sayang kamu gagal melewati tes ini.” Wanita itu lalu mendorong tubuh Ningsih yang terborgol ke jurang.

‘TIDAKKKKKKK!!!!”

Ternyata Wati hanya bermimpi aneh kembali. Tapi kali ini mimpinya tak berlapis. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan merasakan tubuhnya basah kuyup oleh keringatnya sendiri. Sempat beberapa kali otaknya berpikir kalau akhir-akhir ini ia kerap bermimpi aneh. Wati berjalan ke arah cermin seraya merapikan poni Maria Mercedesnya, tersenyum. Ia berharap mimpi ini tak ubahnya hanyalah bunga tidur.

Hari Minggu yang panas. Hari dengan keringat bercucuran di mana-mana. Sesekali Ningsih mengibas-ngibaskan tangannya mencoba menyejukkan diri. Telunjuknya beberapa kali membenarkan posisi kacamatanya yang melorot di atas hidungnya. Pikirannya saat ini tertuju pada kulkas di rumahnya yang penuh dengan berbagai camilan Abon kesukaannya dan aneka jenis es krim tentunya.

Karena kebiasaannya ngemil, tubuh Ningsih makin tambun. Sebenarnya ia iri akan bentuk tubuh Wati yang langsing. Pernah beberapa kali ia mengkuti program pelangsingan tapi hasilnya nihil. Boro-boro berat badannya menurun, justru makin meningkat. Nafsu makannya menjadi-jadi ketika selesai melakukan olah raga. Ya, sama saja bohon dong.

Bunyi bel di rumah Ningsih berdering. Ningsih berlari ke arah pintu hendak membukanya. Dan ternyata Wati mendatangi rumahnya.

“Wati? Muka lo kenapa sembab gitu?”

Wati menjelaskan mimpinya semalam sedetil-detilnya. Ningsih berencana ingin menanyakannya lagi kepada Pak Kripi tapi Wati melarangnya. Ia menganggap ini semacam bunga tidur yang memang membingungkan tapi ia tak mau terlalu memikirkannya dan membuat repot sahabatnya.

“Ya, kadang gue sebenarnya memang iri sama badan lo yang singset, ya tapi gimana, agak susah sih pengen kayak lo.”

“Gampang sih kalau lo emang pengen, gimana kalau kita nge-gym bareng?”

“Ah, sudahlah gue suka kok sama badan gue kayak gini, gue suka sama diri gue sendiri yang sekarang, gue nyaman dan gue nggak mau maksain diri buat punya badan kayak lo. Selain nyiksa, guenya juga nggak nyaman. Jadi diri sendiri adalah yang terbaik dan gue yakin gue bisa bersinar dengan cara gue sendiri, ya nggak?”

Wati tersenyum dengan ucapan sahabatnya itu. Kata-kata yang baru saja ia lontarkan, sama persis dengan yang ia ucapkan di mimpinya semalam. “You are my best friend,” Wati memeluk tubuh Ningsih dengan erat.

Di luar sana, seseorang dengan teropong hitam sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. Sesosok berjubah hitam yang sedang mengikuti mereka akhir-akhir ini.

“Woy!!! Turun lo!! Maling Jemuran!!!” teriak ibu-ibu gemuk dengan roll rambut warna warni. Sosok berjubah hitam itu melompat dengan cepat mengindari lemparan-lemparan senjata berupa peralatan rumah tangga. Tapi, sebuah Panci tepat mengenai kepalanya yang tertutup jubah.

“Sial!”

Iklan

I Am Me ( Be Yourself )


Create yourself, redo yourself
Renew yourself
Be you, do what you do,
Hold your head up high, everything’s gonna alright
You’re you, I’m me, let’s livei n harmony
Coexist with each other, love each other
Be yourself
You have to be yourself, be real, be honest
Cause ain’t nobody got time for that
They really don’t, so listen to me
Listen to this song, because this is real facts
That will help you move along, yeah
That’s all I wanted to say, so I love you guys so much
Hope you like the song and you know, yolo, misfits, argh haha.

Sepenggal lirik lagu berjudul I Am Me dari Willow Smith, saudara ceweknya Jaden Smith yang emang ternyata anaknya dari Will Smith. Awalnya gue taunya si Will punya anak si Jaden aja eh taunya dia juga punya anak cewek ya si Willow ini. Pertama liat namanya sih, gue emang bergumam misterius kalau si Willow ini anaknya si Will Smith. Abisnya ada Smith-Smithnya gitu, haha. Forget it. Pada akhirnya gue nyolek mpok Google buat mastiin dan TOENG! emang bener Willow itu daughternya si Will.

Lagunya emang asyik kalau gue bilang. Apalagi bagian akhirnya-yang gue tulis di atas-pas dia ngomong, kalimatnya itu memotivasi banget. Willow nyanyiinnya nyatai aja gitu kedengerannya. Terus liriknya itu loh bagus banget. Ngasi kita motivasi buat nerima keadaan diri sendiri ya karena emang begitulah adanya. Ngasi semangat buat love yourself. Bodo amat ya sama orang lain yang ngejudge kita kayak gimana yang penting pede aja lagi karena emang beginilah gue. Seperti itulah kira-kira. Lagian si Willow nyanyinya ala-ala menyayat-nyayat gitu kan jadi sedih 😥

Kalau ngasi wejangan atau nasihat emang gampang ya, tapi coba lo sendiri yang ngalamin pasti berat juga. Gimana pun juga, masih mending ada yang mau nasehatin ya syukur aja gitu ada yang negor. Tunggu dulu, ini nasihat apa sih? nasihat untuk always be yourself, monyong!! *toyor elektronik*

Gini loh ya, no matter what yang namanya jadi diri sendiri emang paling keren-cetar-membahana-badai-katrina-gonjang-ganjing-terpampang-nyata!!! So be yourself! Jadi orang lain bisa bikin kamu bingung loh. Lah, kok bingung? Woya dong, biasanya lo niru-niru orang lalu lo jadi bingung buat bangun image lo sendiri karena lo banyak ngelakuin kepalsuan atau imitasi sama diri lo sendiri. Kalau bahasa bulenya nggak ada image-nya itu ”unimage” mungkin ya *ngarang cantik* Eh tapi ya kira-kira “propertinya” Jupe itu asli nggak ya? Kalau imitasi berarti nggak be yourself dong si Jupe. Muahaha *di bekep gunung kembar Jupe*

Jadi orang lain itu capek banget tau nggak sih. Nyiksa banget. Emang ngangkut beras berkarung-karung gitu kok bisa capek? Emang dicambuk-cambuk gitu kok bisa nyiksa? Percaya deh, pas lo cobain buat jadi orang lain kan lo berusaha keras banget buat niru-niru orang yang lo anggep oke. Untung-untung ya lo nggak jadi berkepribadian ganda deh. So, Let’s stop it!

Lagian jadi orang lain nggak bakal bisa bikin lo the best versi diri lo sendiri tapi the best versi orang lain. Kalau bisa jadi the best versi diri sendiri kenapa harus jadi the best versi kedua bagi orang lain, cobak? Ya nggak sih. Ya dong.

Kalau orang bule bilang, YOLO, You Only Live Once, emang bener kok, lo cuma idup sekali doang masa mau idup sama keterpura-puraan. Oke, lo bilang sanggup idup dalam keterpura-puraan, tapi sampai kapan cobak?

So, stop it. Syukuri. Don’t hide yourself in regret. Be yourself and love you’re set coz you on the right track and let’s live the life lovely. 🙂

Liar Scale


Woy!!! Berat badan gue naik cobak!!! Hahahahaha!!!
So happy lah ya, secara gue termasuk orang yang susah banget berat badannya naik. Bayangin coba dari tahun ke tahun berat badan gue gitu aja, flat kayak tipi tetangga sebelah. Fiuh. Cuma tahun 2012 adalah awal kebangkitan gue. Ada progress. Gue juga udah mulai rajin olah raga sih terus mulai belajar banyak makan.

Gue ya termasuk orang yang nggak bisa banyak makan loh. Bukannya nggak nafsu makan atau apa cuma kalo lagi laper ya gue makan dong cuma kalo sampe kenyang banget gue nggak bisa. Eneg gimana gitu. Intinya kalo gue laper gue makan. Yang penting udah ada yang masuk udah gitu aja nggak pake kenyang banget juga nggak apa-apa. Ya gue juga jadi bergumam misterius dan ngerti kenapa gue nggak bisa gemuk.

Akhir 2012 berat badan gue naik 4 kilo dan sekarang di awal 2013 udah naik lagi 3 kilo dan ini belum apa-apa. Perjalanan gue masih panjang dan harus berjuang keras. Karena gue yakin hari yang cerah dan indah telah menanti gue *deburan ombak*

Beteknya ya, kalo naikin berat badan susahnya ampun deh tapi kalo turun cepet banget. Taro lah gue stress dikit gara-gara kerjaan atau galau dikit aja eh pas nangkring di timbangan udah turun aja. Nggak adil banget cobak.

Tapi paling nggak ada lah ya perkembangannya. Gue ada hasil dari capek-capek olah raga. Pokoknya resolusi gue tahun 2013 adalah pengen gemuk.

Semangat!!!!

Dream, Believe And Make It (Yet) Happen


Heii…I’m back!!!

Setelah sekian lama gue nggak ngepost satu pun postingan di blog gue yang gaje-unyu-pengen-di-uyek-uyek ini. Dua bulan berlalu begitu aja tanpa menelurkan, tanpa menuangkan ide-ide kreatif dan kejadian-kejadian yang gue alami. Berasa ada yang numpuk di kepala. Berasa pengen nuangin langsung kayak nuangin wine ke gelas cantik gitu. Tapi emang ya, dua bulan terakhir gue sibuk banget. Capek banget. Selain kerjaan yang membosankan, gue juga ngerjain sesuatu yang lain. Asli nggak ada waktu buat ngeblog. Tapi waktu buat nonton film di kantor sama twitteran ada terus dong ya. Hahaha..SHUT UP!!!

Eh, tapi sebelumnya gue mau ngucapin Happy New Year deh buat semuanya. Semoga tahun ini menjadi tahun yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya dan semua mimpi/resolusi kamu di tahun kemaren yang belum tercapai bisa jadi kenyataan tahun ini. Amin. Wishnya standar banget ya. Biarin. Rada telat emang cuma gue lebih mikir lebih baik telat ketimbang nggak sama sekali bukan?

Yang kayak gue bilang barusan ya, gue ngalamin banyak kejadian pait, nyakitin sekaligus mendebarkan. Bahas lanjutan serialnya nanti aja deh dulu. Gue lagi pemanasan nulis di blog nih. Iya banget gitu loh, pas Desember kemaren ada shownya Agnes Monica di Lombok!!! Gue tungguin banget nih. Gue jadi inget dulu pas di twitter gitu suka ada yang ngetweet kalo lagi nonton konser doski, gue sampai mention Agnes buat konser di Lombok. Dan JRENG!!! Kejadian. Pasti tweet gue di stalking sama Bunda Dari terus diwujudin deh wish gue ituh.

Dari jauh-jauh hari dong ya gue udah prepare banget terutama tiketnya. Gue sampai bolak-balik buat ngedapetin tiketnya tapi ya itu bermacam hal terjadi. Entah itu tutup lah apa lah sampai akhirnya tiket konsernya abis untuk yang Earlybirdnya. Terpaksa dong gue nungguin sampai hari H-nya buat ngedapetin tiket.

Gue udah prepare banget nih pas hari H-nya. Kalo nggak salah tanggal 9 Desember 2012 shownya di salah satu cafe di Senggigi. Dah gitu gue hebohnya ampun-ampunan. Excitednya nyebar kemana-mana. Temen-temen di kantor pada nanyain jadi nggaknya gue nonton. Apalagi mom gue tuh ya seneng banget liat gue excited mau nonton idolanya. Dia bilang, “Akhirnya kesampaian juga liat si Agnes”. Wahahaha.

Tau diri gue belom dapet tiket, gue ke lokasi cepet banget dari jam 8 malam secara shownya jam 10 malam. Gue pikirnya pastilah belum ramai karena kecepetan. Ternyata, nggak seperti yang gue bayangin. Jam 8 aja udah bejibun yang ngantri tiket. Gue cepet-cepet nyelip ke barisan buat antri tiket. Buset! Yang belom dapet tiket banyak amat. Tempat shownya seupil, apa muat? Bodo amat. Yang penting dapet tiket dan nonton shownya udah gitu aja yang ada di otak gue.

Pokoknya hebring banget lah. Gue desek-desekan sampai keringat mengucur deras dan hasilnya nihil. Ngantri dari jam 8 malam sampai jam 1 dini hari dan nggak dapet apa-apa. Ada sih dapetnya, capek, haus, pegel sama keringetan.

Gue sampai mikir ini panitianya geblek ya. Kalo tau tiketnya udah sold out ngapain biarin kita desek-desekan erotis coba? Bilang aja tiketnya abis dan gue nggak akan desek-desekan lagi. Lah ini, dibiarin gitu aja terua di PHP-in antara dapet nonton atau nggak. Tapi hebohnya, pada ngelawak. Yang cewek-cewek nih teriak-teriak heboh ceritanya mau pingsan. Terua ada yang teriak-teriak ngajakin dorong-dorongan. Yang gue kasian ada tuh ya bapak-bapak sampai bajunya basah sama keringatnya yang berlumuran dan nggak dapet apa-apa. Ada juga abg-abg labil, pakai kerudung udah kayak mau mati rela deh kegencet sampai akhirnya kakaknya narik dia keluar dari antrean. Gue sih nggak mau nyerah gitu aja, gue ladenin deh antri sampai kapan juga. Pas udah deket sama mbak-mbak tukang tiketnya eh sekuritinya bilang tiketnya stop aja. Hiks. Nangis diem gue. Tapi emang nggak ada yang dapet tiket kok yang ngantri itu. Semuanya.

Baru deh kerasa pegelnya pas antrian udah bubar. Show udah jalan. Gie cuma duduk depan cafe sambil meratapi nasib nggak bisa liat konser Agnes. Mata gue menerawang ke langit yang dihiasi jutaan bintang dengan sebuah bulan sabit yang cantik. Sempat kepikiran juga kalau-kalau Sailor Moon patroli di bawah sinar bulan.

Ya udah deh emang belom jodoh kali liat Agnes Monica. Pas rame-rame, doski mau keluar dari tempat konser, gue cepet-cepet liat eh cuma liat rambutnya doang. Sekuritinya sih gede banget sampai nutupin doski. Sebel.

Tapi gue anggep lah ini pengalaman yqng seru banget. Gue jadi ngerti gimana hebohnya ya yang namanya fans akan ketemu sama idolanya. Lebay emang tapi kenyataannya emang begitu. Ketika lo suka sama artis atau apalah ya dan lo kemudian akan ketemu langsung, jangan heran deh kalo liat yang di tipi-tipi sampai pada pingsan antara percaya atau nggak bakal liat idolanya langsung. Gue aja ya sampai ngebayangin dari jauh-jauh hari gimana gue bakal scream heboh kalo liat idola langsung di depan mata kita. Nggak ketemu aja ya, auranya Agnes Monica itu udah berasa banget yang bikin gue geter dan berdebar berasa pengen teriak-teriak sambil nyebut namanya.

Yang gue dapet dari kejadian ini, gue harus lebih prepare lagi deh terutama masalah tiket. Next time kalo gue mau nonton konser atau apalah harus dari awal-awal banget gue siepin biar nggak capek ngantri kayak gini. Yang bikin maki  betek, pas show udah abis, wajah para penonton puas banget dan hampir semua bilang bagus, keren, amazing….!!! Dan mom gue juga ngakak pas gue cerita kalo gue cuma bisa liat rambut Agnes doang. Hiks.

Gue bakal berusaha lebih giat lagi deh pokoknya. Dan nggak pernah nyerah terntunya.

Gue udah ngimpi.

Gue udah percaya sama mimpi gue.

Ya cuman emang belom jadi nyata aja sih.

DREAM, BELIEVE AND MAKE IT (YET) HAPPEN.