Wati:Saleswati


CHAPTER 7

Minggu pagi yang cerah. Matahari bersinar dengan cantiknya. Udara pagi yang sejuk mengitari seluruh wilayah. Keheningan pagi itu tiba-tiba saja terusik oleh teriakan Wati.

“AAAAAAAA……..!!!!”

Orang-orang berduyun-duyun mendatangi sumber suara karena penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Wati.

“Kenapa? Kenapa? Kenapa?” tanya orang-orang itu.

“Aku sedang latihan vokal, bapak-bapak, ibu-ibu.” jawab Wati dengan polos sambil merapikan Poni Maria Mercedesnya.

Bubar.

“AAAAAAAAA…….!!!”

“Kamu kenapa lagi, Wati?” tanya orang-orang itu lagi.

“AAAAAA…..Robert Pattinson!! AAAAAA…..!!!”

Bubar lagi.

“AAAAAAAAA…….!!!!”

Tak ada yang peduli.

“AAAAAA……..!!!!!”

Hening.

Wati berlari ke rumah tetangga sebelah mengambil TOA.

“AAAAAAAAAA…..!!!”

Hening.

“Hiks…nggak ada yang peduli lagi sama gue. Malangnya nasib gue.” Wati terkulai lemas di dekat tong sampah milik tetangga sebelah.

“Kamu tenang sajaah…,” suara lembut tiba-tiba muncul. Wati menoleh ke kiri dan ke kanan melangkahkan kaki ke depan dan ke belakang lalu membentuk putaran. Dansa dong woy!

“Di sinih….,”

“Kamuh Ibuh Perih….?” tanya Wati ikut melembutkan suaranya.

Sesosok berkilau itu mengangguk slow motion.

“Tapih…kok gendut?”

“Ini gue, Ningsih, woy!”

“Tapi kok berkilau?” tanya Wati dengan wajah imut.

“Gue pake kelap-kelip dong. Gliter-Gliter unyu biar makin cantik, yuk ah bangkit kita ngemoll aja.”

“Tapi, gue lagi ada masalah. Masalah yang sangat besar dan rumit. Pokoknya complicated banget.”

“Fufufu…,” Ningsih tertawa misteri, “Jadi selama ini lo menganggap gue apa? Hah? Jawab! Kalau lo punya masalah, cerita ke gue, gue udah nganggep lo saudara gue sendiri. Sebagai seorang sahabat, gue bakal selalu ada disamping lo. Jadi kalau lo punya masalah cerita dong.” bentak Ningsih.

“Gue…gue…,” Wati terbata-bata menjelaskan masalahnya kepada Ningsih. Sambil terus berurai air mata, kedua tangan memegang perutnya.

“Apaaaa?? Nggak mungkin! Siapa pelakunya? Udin? Cowok Cakep Kelas Sebelah? Siapa?”

“Bukan, bodoh. Berat badan gue naik dan gue stress. Gue bakal kalah cantik dan seksi sama Siti dan Ijah. Bagaimana kalau Udin berpaling dari gue?”

Ningsih berusaha menenangkan sahabatnya itu seraya memeluknya , “aduh…cup..cup..cup…nggak mungkin lah…Udin bakal cinta mati sama lo, secara lo lebih cantik dari Siti apalagi si Ijah. yuk ah kita ngemoll aja, kita refreshing biar lo nggak stress.”

Baru saja mereka beranjak dari tempat itu tiba-tiba langit berubah gelap. Angin kencang bertiup. Kilatan-kilatan berpendar di angkasa dengan kecepatan 69/detik. Suasana sekitar makin gelap sampai sebuah petir menyambar tepat di depan mereka. Wati dan Ningsih berpelukan erat sambil berteriak kencang.

“AAAAAA….!!!!”

Tanah bekas sambaran petir itu retak. Kemudian retakannya melebar sedikit demi sedikit seolah akan mencul sesuatu dari tanah tersebut membuat Wati dan Ningsih mundur tiga langkah. Satu. Dua. Tiga. Tak terjadi apa-apa. Mereka maju tiga langkah untuk memastikan retakan misterius itu. Satu. Dua. Tiga.

Asap tebal mengepul dari retakan itu. Sesosok makhluk menampakkan diri. Wanita kurus dan langsing bertubuh jenjang dengan sepatu Boots berhak super tinggi yang berwarna pink berpose bak model terkenal. Wanita itu mengenakan rok mini berwarna hitam dan kemben berwarna pink yang dihiasi dengan rompi batik. Gelang-gelang berkilau menghiasi kedua lengannya yang berkacak pinggang anggun. Rambut pirangnya yang lurus menambah kesan seksi dan glamour dengan make up tebal berikut lipstik pinknya seolah menyala-nyala diterpa kilatan-kilatan dari langit.

“Ka..kamu..Nicki Minaj ya..y..ya?” tanya Wati terbata-bata

“Bukan, aku Nicki Tirta” jawab wanita misterius dengan ekspresi datar. Antingnya yang bulat dan menggelantung sampai mendekati bahunya bergerak-gerak mengikuti arah angin, “Sebenarnya itu nama samaranku, orang-orang biasa mengenalku dengan sebutan Saleswati. Karena aku datang ke sini untuk menawarkan produk kecantikan. Aku biasanya selalu mendengar jeritan hati setiap wanita yang selalu merasa dirinya kurang cantik apalagi bagi wanita yang merasa tubuhnya gendut. Bila kau bertriak gendut, aku akan memberikan jawabannya. Demi menjaga kelangsingan umat manusia. Demi menjaga kecantikan umat manusia. Berjuang dengan kelangsingan dan kecantikan. Aku, Saleswati datang menjawab kegalauan hati  kalian.” jelasnya panjang lebar dengan ekspresi datar sambil memeragakan pose unik.

Wati dan Ningsih masih berpelukan dengan bola mata yang terpana melihat wanita unik itu.

“Khususnya kamu, gadis gendut,” Saleswati menunjuk ke arah Ningsih dengan telunjuknya yang tak kalah jenjang. Kutek warna pink-nya menyala-nyala oleh kilatan yang berlendar di langit, “ada progran khusus yang bisa membuatmu langsung kurus dan langsing, dengan begitu kepercayaan dirimu akan meningkat yang pastinya juga akan membuatmu makin cantik, apa kau tertarik?”

Ningsih bangkit lalu berkacak pinggang, “Maaf ya, gue udah cukup bahagia dengan keadaan gue seperti ini, lagian gue udah berasa seksi kok, biar kata gue gembrot tapi ya beginilah gue, apa adanya gue meski kadang gue iri sama Wati yang memiliki tubuh sempurna,” Ningsih menatap Wati dengan tatapan sendu, “Tapi, bagaimanapun juga menjadi diri sendiri adalah yang terbaik. Gue emang gendut tapi gue yakin dan percaya gue bersinar dengan cara gue sendiri!!!” Bertepatan dengan kalimat terakhirnya, petir menyambar dengan dahsyat membuat Saleswati begidik dan mundur 5 lima langkah seperti pacar tetangga sebelah yang memiliki pacar berdekatan. Cukup 5 langkah dari rumahnya langsung sampai.

“Dasar gadis bodoh, kalau kau tidak mau tidak apa-apa, karena temanmu ini akan menjadi konsumenku, HAHAHAHAHA!!!”

Saleswati mengeluarkan cambuknya dan melempar sebuah Borgol ke arah Ningsih yang secara ajaib langusng membuatnya terikat dan lenyap.

“Aaahhh!! Ningsih!!!” Teriak Wati secara dramatis.

“Kau telah masuk dalam perangkapku gadis manis, kalau kau bisa lolos dari jebakanku ini, berarti kau bisa menyelamatkan sahabatmu yang gembrot ini, WAHAHAHAHAHA!!! Selamat tinggal!”

Wanita jenjang itu lenyap membawa sahabatnya.

“Gue harus gimana? Hiks…” isak Wati seraya menutup wajahnya dengan keduabelah tangannya.

Hening. Sekeliling Wati mendadak gelap. Ia berusaha berjalan sambil terus menangis meskipun tak tahu apa yang harus ia lakukan. Wati melihat setitik cahaya dari kejauhan. Ia berusaha mendekat ke arah sumber cahaya tersebut hingga ia mendapati dirinya di sebuah kedai mie ayam.

“Selamat datang,” Sapa seorang nenek bertubuh pendek.

Wati terdiam memandang wanita tua itu. Ada yang aneh. Seorang nenek berbikini dengan kulit keriput memakai stocking jaring-jaring yang seksi. Tangan kanannya memegang sebuah cambuk.

“KAU MAU MAKAN APA??? CTAR!! CTAR!!!!” Bentak nenek itu sambil mengayunkan cambuknya.

Wati merapikan poni Maria Mercedesnya sambil ketakutan setengah mati lalu duduk di bangku yang telah di sediakan. Di hadapannya tiba-tiba muncul semangkuk mie ayam hangat siap disantap. Yummy.

“MAKAN CEPAT!!! CETAR!!! CETAR!!!” nenek itu kembali mencambuk meja beberapa kali. Wati serta merta meraih sendok dan garpu yang ada di samping mangkuk mie ayam. Ketika ia hendak menggunakan sendok dan garpu tersebut, Wati merasa kesusahan. Entah mengapa dua benda tersebut sangat berat.

“Fufufufu…,” nenek itu tertawa misterius. “Saya perkenalkan produk terbaru kami, Heavy Rotation eh salah emangnya JKT48. Yang benar adalah Heavy Spoork. Program pelangsingan ini terdiri dari semangkuk mie ayam super lezat dan panas dengan sendok dan garpu super berat. Dengan mengikuti program ini, kamu akan mengeluarkan banyak keringat karena mie ayamnya yang panas dan sendok serta garpu yang super berat, kalau tidak salah masing-masing memiliki berat 50 KG. HAHAHAHA!!! Masih sanggup makan mie ayamnya? CETAR!!! CETAR!!!” Nenek unik itu mengayunkan cambuknya dengan bersemangat.

Tapi dengan kegigihan demi menyelamatkan sahabatnya, Wati berhasil menggerakan sendok dan garpunya lalu menyondok mie ayam super panas.

“HEAAAAAAA!!!! ENYAAAAKKKKKKK!!!”

“TIDAKKKKKK!!!! KAMU TIDAK MUNGKIN MENGALAHKAN PRODUK BARUKU!!! AAAAAAAA!!!!” Nenek itu berteriak sangat keras. Tubuhnya perlahan berubah menjadi debu sampai yang terdengar hanyalah suara teriakannya yang kemudian lenyap perlahan.

Wati bersimbah peluh. Keadaan sekelilingnya kembali gelap. Ia memberanikan diri melangkahkan kakinya lagi meski ia tak tahu akan melangkah kemana.

“Selamat datang,” sapa seorang lelaki kurus berkacamata berbentuk Trapesium. Kacamata itu mengingatkan Wati kepada Bu Mingce.

“Ini dimana?”

“Di hati kamuh, hihihi…” lelaki itu tertawa imut sambil menutup mulutnya. “Baiklah, selamat datang di Rumah PR. Di sini, kamu harus menyelesaikan PR yang telah disediakan dengan peralatan yang juga telah disediakan. Silakan.”

Wati hanya tersadar ketika ia mendapati dirinya tengah duduk di sebuah meja dengan buku PR serta perlatan tulis menulis lengkap di depannya. Memang terlihat biasa saja, tetapi ketika Wati meraih pensil untuk memulai mengerjakan PR tersebut, ia tak bisa mengangkatnya. Kasusnya sama persis dengan Heavy Spoork yang baru saja ia selesaikan.

“Ini adalah lini produk terbaru kami. Khusus untuk anak-anak sekolah yang ingin pintar tapi tetap dengan tubuh fit langsing menawan, fufufufufu…” Sesekali lelaki itu membetulkan posisi kacamata model Trapesiumnya. “selain soalnya yang super sulit, perlatan untuk mengerjakannya sangat berat. Dari Pensil, Ballpoint, Setip, Penggaris dan lainnya semuanya memiliki berat yang beragam. Mulai dari 100 KG ke atas. Otakmu akan berpikir keras dan tubuhmu akan mengangkat beban berat dengan begitu keringat akan bercucuran dan bayangkan berapa kalori yang akan terbakar? Fufufu….”

“YEAAAHHHHH!!! GU..GUE..SE..DI..KIT LA..GI.. SE..SE LE..SAI!!! HIAAAAAA…!!!” Wati dengan sekuat tenaga berusaha menorehkan Pensilnya yang super berat untuk menyelesaikan PR tersebut.

“TIDAAAAKKKKK!!!!!” Lelaki berkacamata Trapesium itu berteriak sampai ia lenyap dengan sendirinya.

Wati kehabisan tenaga. Bajunya basah kuyup oleh keringatnya yang banyak. ia  terkulai tak berdaya. Pandangannya terlihat mengabur. Samar-samar ia melihat wanita pirang dengan cambuk di tangannya menggeret Ningsih ke arahnya.

“Kamu memang sahabat yang baik, tapi sayang kamu gagal melewati tes ini.” Wanita itu lalu mendorong tubuh Ningsih yang terborgol ke jurang.

‘TIDAKKKKKKK!!!!”

Ternyata Wati hanya bermimpi aneh kembali. Tapi kali ini mimpinya tak berlapis. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan merasakan tubuhnya basah kuyup oleh keringatnya sendiri. Sempat beberapa kali otaknya berpikir kalau akhir-akhir ini ia kerap bermimpi aneh. Wati berjalan ke arah cermin seraya merapikan poni Maria Mercedesnya, tersenyum. Ia berharap mimpi ini tak ubahnya hanyalah bunga tidur.

Hari Minggu yang panas. Hari dengan keringat bercucuran di mana-mana. Sesekali Ningsih mengibas-ngibaskan tangannya mencoba menyejukkan diri. Telunjuknya beberapa kali membenarkan posisi kacamatanya yang melorot di atas hidungnya. Pikirannya saat ini tertuju pada kulkas di rumahnya yang penuh dengan berbagai camilan Abon kesukaannya dan aneka jenis es krim tentunya.

Karena kebiasaannya ngemil, tubuh Ningsih makin tambun. Sebenarnya ia iri akan bentuk tubuh Wati yang langsing. Pernah beberapa kali ia mengkuti program pelangsingan tapi hasilnya nihil. Boro-boro berat badannya menurun, justru makin meningkat. Nafsu makannya menjadi-jadi ketika selesai melakukan olah raga. Ya, sama saja bohon dong.

Bunyi bel di rumah Ningsih berdering. Ningsih berlari ke arah pintu hendak membukanya. Dan ternyata Wati mendatangi rumahnya.

“Wati? Muka lo kenapa sembab gitu?”

Wati menjelaskan mimpinya semalam sedetil-detilnya. Ningsih berencana ingin menanyakannya lagi kepada Pak Kripi tapi Wati melarangnya. Ia menganggap ini semacam bunga tidur yang memang membingungkan tapi ia tak mau terlalu memikirkannya dan membuat repot sahabatnya.

“Ya, kadang gue sebenarnya memang iri sama badan lo yang singset, ya tapi gimana, agak susah sih pengen kayak lo.”

“Gampang sih kalau lo emang pengen, gimana kalau kita nge-gym bareng?”

“Ah, sudahlah gue suka kok sama badan gue kayak gini, gue suka sama diri gue sendiri yang sekarang, gue nyaman dan gue nggak mau maksain diri buat punya badan kayak lo. Selain nyiksa, guenya juga nggak nyaman. Jadi diri sendiri adalah yang terbaik dan gue yakin gue bisa bersinar dengan cara gue sendiri, ya nggak?”

Wati tersenyum dengan ucapan sahabatnya itu. Kata-kata yang baru saja ia lontarkan, sama persis dengan yang ia ucapkan di mimpinya semalam. “You are my best friend,” Wati memeluk tubuh Ningsih dengan erat.

Di luar sana, seseorang dengan teropong hitam sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. Sesosok berjubah hitam yang sedang mengikuti mereka akhir-akhir ini.

“Woy!!! Turun lo!! Maling Jemuran!!!” teriak ibu-ibu gemuk dengan roll rambut warna warni. Sosok berjubah hitam itu melompat dengan cepat mengindari lemparan-lemparan senjata berupa peralatan rumah tangga. Tapi, sebuah Panci tepat mengenai kepalanya yang tertutup jubah.

“Sial!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: