Yes, I Can Do It!


Emang nggak enak banget loh yang namanya diremehkan. Siapa juga yang mau diremehkan. Mungkin, misalnya ketika lo dihadapkan sama suatu peristiwa atau kejadian di mana lo merasa bisa melakukannya tapi ada seorang teman atau siapa saja udah menjudge lo kalau lo nggak bisa. Padahal lo merasa bisa melakukannya. Pasti jengkel lah ya. Apalagi kalau ngomongnya di hadapan banyak orang. Selain berasa diremehkan, lo juga pastilah merasa malu. Muncul perasaan kalau lo nggak berguna banget.

Lagian orang tersebut sok tahu banget ya. Merasa paling tahu segalanya. Kalau gue sih prinsipnya, gue nggak apa-apa dibilang bego, bodoh atau apalah semacamnya dari pada gue dijudge sotoy atau sok tahu. Kalau memang gue nggak bisa atau nggak tahu ya apa adanya saja, gue memang nggak bisa dan gue memang nggak tahu. Jadi, di kemudian hari, lo bisa pakai hal tersebut sebagai cambuk untuk terus belajar dan tahu banyak hal sehingga lo nggak bakal diremehkan lagi.

Tapi, tenang saja, apa pun yang terjadi sama lo, lo sebaiknya teruslah berpikir positif. Ya, menyebalkan, tapi tinggal lo saja yang mengubah sudut pandang. Bisa miring, bisa lurus, bisa gila deh. Hahaha. Kalau maksud dari orang tersebut memang demi kebaikan lo.

Anggap saja itu sebagai motivasi. Mungkin bisa saja itu kenyataannya kalau lo memang benar-benar nggak mampu melakukannya. Nah, cara mengatasinya, ya lo buktikan kalau lo bisa melakukannya. Lo buktikan kalau anggapan orang yang telah menjudge lo itu salah. Bisa jadi orang yang telah menjudge lo atau orang yang telah meremehkan lo itu pernah melihat kesalahan lo dan dia berkesimpulan kalau lo memang nggak becus dan nggak bisa diandalkan. Dengan membuktikan hal tersebut, bisa jadi orang yang telah menjudge lo cuma bisa gigit jari dan akhirnya berpikir kalau lo nggak seperti yang dia bayangkan. Berbuat salah itu manusiawi banget kan. Siapa sih yang nggak pernah melakukan kesalahan? Tapi lo ingat, Ketika lo melakukan kesalahan tapi lo nggak memeperbaiki kesalahan itu, berarti lo melakukan kesalahan lagi. Nggak nyadar? Kasian deh lo!

Yang bisa lo lakukakan adalah menimbulkan kesan positif dan yakin bisa melakukannya. Lo dihadapkan sama sebuah tugas atau pekerjaan. Lo harus yakin kalau lo bisa menyelesaikannya dengan baik. Lo harus masang tampang yang meyakinkan lah pastinya. Ada pepatah yangb mengatakan, “Don’t judge book by it’s cover,” tapi toh pada kenyataanya, orang lebih banyak akan menilai luarnya dulu, baru mendalaminya. Misalnya, ada dua orang cowok, satu kurus dan yang lainnya berbadan besar, diberi tugas untuk mengangkat Galon. Siapa pun yang melihatnya atau menyaksikan kejadian ini, pasti akan memilih cowok berbadan besar untuk melakukan tugas itu. Outfit cowok berbadan besar lebih menjanjikan untuk bisa mengangkat Galon. Maka dia akan terpilih langsung untuk melakukannya. Meskipun pada kenyataannya, cowok berbadan kurus pun sebenarnya mampu melakukannya atau bahkan bisa saja sebaliknya.

Jadi, yang terpenting dan pertama lo lakuin adalah selalu tampil meyakinkan kalau lo bisa melakukannya. Masalah hasilnya itu urusan belakangan. Lakukan yang terbaik. Kalau pun lo melakukan kesalahan, tak mengapa, toh semua orang bisa saja salah, asal lo mau memperbaiki kesalahan lo dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi 🙂

Ya nggak sih?

Ya, dooooooongggg!!

Akhirnya, gue nge-Gym


Gambar

Akhirnya, gue memberanikan diri daftar jadi member di salah satu Gym di kota Mataram. Excited? Pastinya. Gue ngebayangin, gue bakal bertransformasi jadi robot kotak-kotak eh salah 😛 gue ngebayangin badan gue bakal bagus, perut kotak-kotak seperti barisan cokelat dan yang pastinya lebih berisi. Kebayang gue pakai baju apa aja bakal bagus seperti Manequin-Manequin di etalase toko baju yang selama ini bikin gue envy sekaligus menipu gue. Menipu? Segala baju yang dikenakan oleh Manequin itu terlihat begitu bagus, sampai gue diperdaya membelinya dan ketika gue yang pakai, ngaca, pingsan lalu menyesal membeli baju itu. Tertipu kan?

Dari jauh-jauh hari gue udah benar-benar prepare. Mulai dari perlengkapan Gym seperti Sepatu, Tas, Handuk Kecil (Supertowel dari Chindiwati) dan sebagainya. Lalu gue memperkaya pengetahuan gue dengan berbagai macam istilah-istilah Gym dan nama-nama alat fitness yang biasanya dipakai biar kesannya nggak kuper banget dan tumben. Padahal emang tumben. Hehe. Gue juga nggak lupa menyusun jadual-jadual fitness gue, sekaligus gerakan-gerakan yang bakal gue praktekin di Gym nanti. Mendebarkan dan menyenangkan 🙂

Semua beres, dengan pede-nya gue lalu berangkat buat daftar member. Asli, gue bingung mulai dari mana. Secara, ini adalah pengalaman pertama. Menurut temen gue, gue harus tenang, gue nggak boleh bingung karena nantinya di sana biasanya ada Personal Trainer (PT) yang bakal ngajarin gue. Tenanglah gue akhirnya.

Gue daftar lalu gue disuruh naik ke lantai 3 sama mbak-mbak yang nungguin yang keliatannya kebingungan banget pas gue nanya macam-macam sampai ngasi kembaliannya salah. Grogi ya mbak, saya nggak gigit loh.

Dengan senyum sumringah dan dengan perasaan nervous sekaligus berdebar gue perlahan naik ke lantai 3. Gue ngebayangin, Gym yang luas dan penuh dengan cermin di mana-mana *pose pose pose* alat-alat fitness macam Barbell, Treadmill, Dumbbell, Dumbbelledoor *eh salah yang terlihat memanggil seksi untuk segera dipakai dan diangkat-angkat sampai capek. Tapi aura minder gue kembali menebar. Gue sadar badan gue kecil dan kerempeng banget, gue ngebayangin lagi di sana bakal dipenuhin sama orang-orang yang badannya gede-gede, membuat tingkat minder gue meningkat 69%. Gue menatap ke depan, melangkah pasti, serta yakin dan percaya bahwa hari yang cerah dan indah telah menanti gue *ombak berdebur

Kenyataannya….

Gym-nya sepi banget saat itu. Isinya cuma dua orang, yang satu lagi naik sepeda-sepedaan gitu dan yang satunya lagi lagi ngeden ngangkat barbel. Toh, badannya nggak jauh-jauh amat sama gue. Haha. Gue masuk, meletakkan tas gue ke locker dan mulai berpikir, gue mulai dari mana ya? Gue liat banyak alat-alat aneh cuma emang nggak tahu namanya. Dan hey, mana Personal Trainernya?? gue pengen nyobain Treadmill nih tapi nggak tahu cara pakainya. Gue bingung mesti ngapain. Yaudah gue ngangkat-ngangkat Dumbbell-Dumbbel yang bertebaran aja, kali aja PT-nya emang belum dateng.

Dengan bersemangat, gue ngangkat-ngangkat apa aja yang bisa gue angkat. Karena emang gue nggak tahu cara makainya hahaha. Keringat bercucuran, baju gue basah dan cuma makai Dumbbell 10 kilo doang. Kalau gini, gue di rumah aja, soalnya di rumah gue punya Dumbbell. Pengen nyobain alat yang lain, tapi malu nanya sama dua orang itu, nanti keliatan begonya. Hahahahaha…emang berasa bego banget karena nggak tahu harus ngapain.

Baru hari pertama sih, for the next time gue harus belajar dan nggak malu nanya-nanya. Mangatse!!!!

“Orang yang banyak nanya itu bego, tapi begonya cuma lima menitan. Orang yang nggak banyak nanya juga bego, tapi begonya selamanya.”

Oke, besok gue bakal rajin nanya deh biar nggak bego selamanya 🙂

Bilang Cinta Itu Tidak Mudah


Gambar

GYAAAAA……..!!!!!

Kemarin sore gue ketemu sama gadis itu lagi secara tidak sengaja. Gue yakin ini memang takdir. Hahaha. Bukan gadis baru sih, temen SD gue lebih tepatnya. Berdebar rasanya ketika melihat dia duduk sendirian di Pom Bensin nungguin pamannya ketika ia baru saja pulang kerja. Dia keliatan lebih kurus, pucat dengan mata berkantung. Dia mungkin lelah~~~

Oke, siapa sih gadis ini? Kok gue begitu heboh ketemu sama dia. seperti yang gue bilang barusan di atas, bukan di atas genteng atau pun di atas langit tapi di paragraf atas, dia ini temen SD gue. Kalau gue bilang ya my very very very very very….

Very Irawan?

Very Salim?

Very Mariadi?

Atau… Kapal Very?

Hmm..ya! Ibu Very???

ITU IBU PERI WOYYY!!!

Bisa gue bilang dia itu my very first love!! *jeng..jeng…*

Cewek–pastinya–, pendek, hitam tapi manis, cantik, imut dan dia gadis yang pintar dan baik hati. Rambutnya hitam dan lurus. Ciri khasnya adalah rambut berponi. Apalagi dia kala itu ngefans banget sama Maissy dan acara Ci Luk Ba Emmuach. Gue pertama kali memperhatikannya ketika gue kelas 2 SD. Gue jadi mikir, pas gue kelas 1 gue kemana ya? gue berasa nggak ada kenangan bahkan merasa nggak pernah ketemu dengan dia di kelas 1. Entahlah. Jadi, ketika baru saja naik ke kelas 2, biasa lah, hari pertama masuk sekolah biasanya pada rebutan bangku dan meja kan? pas gue nemu bangku yang menurut gue lokasinya pas banget dan cozy gitu, secara bersamaan ternyata dia juga melihat bangku yang mau gue dudukin. Kami saling pandang beberapa saat dengan slow motion. Matanya yang bulat dan indah menatap gue dengan sesekali berkedip imut. Gue berdebar, gadis ini beda banget. Dia sepertinya sesuatu banget. Gue yakin dia bakal populer di sekolah ini. Pokoknya pikiran gue melayang tak tentu arah dan untung saja gue nggak terjatuh, gue cuma tersesat dan tak tahu arah jalan pulang lalu gue bersyukur nggak jadi butiran debu. Fiuuh~

Lamunan gue yang beberapa detik akhirnya tersadar ketika dia dengan galaknya-tapi tetep manis-menggebrak meja.

“Ini Bangkuku!” Bentaknya.

“Enak aja, aku duluan yang duduk di sini” Kata gue nggak mau kalah. Gue dengan cueknya duduk lalu masukin tas ke dalam bangku itu.

“Ya udah, aku juga duduk di sini” Dia juga nggak mau kalah.

Buset. Gue bakal malu kalau duduk sama cewek. Dan benar saja, gue di ledekin sama temen-temen sekelas gara-gara gue sebangku sama dia.

Gue ngalah, gue pindah tempat duduk persis di belakang dia. Sejak saat itu gue musuhan sama dia. Gue biasanya saling ledek gitu lah biasa anak SD. Dan siapa sangka, perasaan gue jadi beda sama dia di kemudian hari. Hahaa.. *Blushing*

Dan memang dia ternyata beda. Dia nggak seperti anak gadis pada umumnya. Masih SD saja sudah fashionable banget, keliatan dia bisa menjaga penampilan. Cewek banget lah. Dalam sekejap, dia menjadi gadis yang populer di sekolah terutama di kelas gue. Selain cantik, dia sangat pintar. Banyak dipuji sama guru gue, nilai-nilainya bagus-bagus. Tapi dia masih belum mampu melewati nilai-nilai gue. Hahaha…Sombong. Serius! Gue masih jadi peringkat pertama sedangkan dia setia di urutan berikutnya.

Gue sampai bingung, dari pertama gue ketemu memang terjadi sesuatu sama gue. Perasaan aneh banget. Ada semacam ketertarikan yang luar biasa kala itu. Ya, meski gue masih seorang bocah 7 tahun yang memang belum mengerti apa-apa tentang masalah Elopi’i. Gue bilang ini adalah my very first love. Really.

Pengumuman juara kelas menjadi titik balik hubungan gue sama dia. Gue dipanggil ke Podium dan berdiri berdampingan menerima award dari sekolah karena mendapat peringkat tertinggi kala itu. Sejak saat itu kami jadi makin akrab, sering belajar bareng, sering bertemu, sering main ke rumahnya di desa sebelah. Dan itu terus berlanjut sampai kami remaja. Ah~~~ I miss that momment!!! >_<

Dia begitu populer, banyak yang menyukainya. Dia kerap dijodoh-jodohkan sama cowok kelas sebelah yang juga tidak kalah populer. Kadang gue sebel, gue sih nggak begitu populer, apalagi tampang pas-pasan.

Gue sendiri nggak ngerti sama perasaan gue sendiri, sejak dulu gue ingin banget bilang ke dia kalau gue suka sama dia. Apalagi setelah dia beranjak remaja. Tranformasinya makin memesona gue. Dia makin bersinar berikut prestasinya yang nggak kunjung padam. Tapi gue tahu diri, gue nggak mau ngerusak hubungan gue sama dia. Ngerusak persahabatn gue. Gue udah begitu akrab se akrab-akrabnya sama dia. Takut ditolak juga salah satu alasan paling besar buat gue sampai akhirnya gue cuma bisa memendam perasaan gue sampai saat ini.

Ini perasaan yang berbeda. True love. Bahkan, sampai 25 tahun eksistensi gue di dunia ini, perasaan gue nggak pernah berubah. Gue udah kenal banyak orang. Gue banyak suka sama orang. Tapi karena banyak hal perasaan suka itu perlahan memudar. Tapi perasaan gue ke dia nggak pernah berubah hingga saat ini. Dengan memikirkannya saja, gue bisa berdebar kencang, senyum-senyum sendiri. Bertemu langsung membuat gue salah tingkah. Perasaan ini tetap seperti dulu.

Masa SD-SMP yang menyenangkan gue lalui bersama tetap dengan memendam rasa itu sedalam-dalamnya. Sampai kami masuk SMA, gue berpisah karena memang sekolah yang kami tuju berbeda. Sebelumnya, gue sempat mengajaknya melanjutkan ke sekolah yang sama, tapi alasan biaya menjadi halangan. Dan gue ketika itu memang mendapatkan Beasiswa di sekolah itu untuk melanjutkan ke SMA.

Gue berpisah, sesekali bertemu ketika upacara 17-an. Makin membuat gue terpana apalagi gue udah jarang bertemu dengannya. Gue juga masih belum bisa, belum berani tepatnya buat bilang suka ke dia. Bodoh.

Sampai gue dengar kabar, Ayahnya meninggal ketika beberapa hari sebelum Ujian Nasional, disusul ibunya pun meninggal beberapa tahun kemudian karena suatu penyakit. Gue kaget banget. Gue datang melayat ke rumahnya. Ingin rasanya gue meluk dia. I know it’s really hard. Hiks.

Selepas SMA, kami sama-sama nggak kuliah. Gue sempat mengajaknya kerja bareng, dan itu sangat menyenangkan. Secara, gue bisa ketemu setiap hari. Tapi, masalah kembali muncul. Boss gue ternyata suka sama dia. Dia curhat sama gue. Dia bilang sering di-SMS oleh bos gue dan well ngajakin kencan. Gue berasa ditampar. Gue lalu menyarankan dia untuk berhenti saja bekerja dari tempat itu sebelum terjadi hal-hal yang nggak diinginkan. Dia menurut. Dan itu adalah perjumpaan terkahir gue sama dia.

Melihat fisik dia kemaren sore, dia memang kelihatan lelah sekali, wajahnya pucat dan agak kurusan. Dia terlihat seperti menanggung sebuah beban berat. Gue ngerti perasaannya seperti apa. Karena gue mengalami masalah yang sama dengan dia. Dia sempat menyebut kata “Stress” di obrolan singkat kami. Ingin rasanya ngobrol lebih lama lagi. Ingin sharing lebih banyak hal lagi.

Gue ngerasa seperti memiliki nasib yang sama, menjadi tulang punggung keluarga, tak memiliki orang tua-gue masih punya ibu sih-dan ada adik yang harus dibiayai sekolah. Ingin rasanya gue datang ke rumahnya lalu bilang, “Will you marry me?” Hahahahaha…

Gue juga yakin pasti dia juga sudah punya pacar. Entah apa alasannya sampai dia hingga kini belum menikah.

Tapi untuk saat ini, gue masih merasa belum mampu, gue masih mau fokus buat karir gue, buat mengejar mimpi-mimpi gue, mewujudkan mimpi-mimpi gue. Kelak kalau gue berhasil, dan memang masih ada kesempatan, gue ingin mengatakannya.

Well, bilang cinta memang nggak gampang. Gue cuma berharap sama takdir. Kalau kelak gue ditakdirkan bakal berjodoh, dia nggak bakal kemana-mana. Gue percaya itu.

Kenapa Sih Gue Kayak Gini?


Kenapa sih gue kayak gini? Kenapa sih gue kayak gini? Kenapa sih gue kayak gini? Kenapa?

Akankah gue pada akhirnya bakal tau, nemuin apa yang seharusnya gue lakuin?

Kadang gue ngerasa, bahwa gue bakal naynyiin sebuah lagu sepanjang hidup gue.

Terus, sekarang apa sih yang terjadi sama gue, hidup gue?

Oh,
Coba ada seseorang yang bisa ngejelasin ke gue.

Kenapa ini susah banget atau kenapa ini terjadi sama gue?

Oh,
Coba ada seseorang yang bisa bikin gue ngerti kenapa gue kayak gini?

Kenapa sih gue kayak gini?

Sekarang gue ngerasa harus ngelakuin ini kemudian gue harus ngelakuin itu.

Tapi, pada akhirnya gue nggak tau apa yang seharusnya gue lakuin?

Hari ini, gue ngerasa bener, besok, gue ngerasa salah.

Gue ngerasa bahwa hidup gue turun naik.

Haruskah gue berubah?

Oh,
Apa yang harus gue percaya, haruskah gue percaya?

Oh,
Haruskah gue berkembang, berubah?

Oh,
Gue nggak tau kalau gue ingin.

Oh,
Apa yang bakal terjadi sama gue, hidup gue, masa depan gue?

Gimana menurut lo?

Apa yang bakal terjadi sama gue, hidup gue, masa depan gue?

Akankah gue bakal tetap pakai cara yang sama? Haruskah gue berubah?

Kenapa sih gue kayak gini?

Gila.

It’s just the way I am.