Bilang Cinta Itu Tidak Mudah


Gambar

GYAAAAA……..!!!!!

Kemarin sore gue ketemu sama gadis itu lagi secara tidak sengaja. Gue yakin ini memang takdir. Hahaha. Bukan gadis baru sih, temen SD gue lebih tepatnya. Berdebar rasanya ketika melihat dia duduk sendirian di Pom Bensin nungguin pamannya ketika ia baru saja pulang kerja. Dia keliatan lebih kurus, pucat dengan mata berkantung. Dia mungkin lelah~~~

Oke, siapa sih gadis ini? Kok gue begitu heboh ketemu sama dia. seperti yang gue bilang barusan di atas, bukan di atas genteng atau pun di atas langit tapi di paragraf atas, dia ini temen SD gue. Kalau gue bilang ya my very very very very very….

Very Irawan?

Very Salim?

Very Mariadi?

Atau… Kapal Very?

Hmm..ya! Ibu Very???

ITU IBU PERI WOYYY!!!

Bisa gue bilang dia itu my very first love!! *jeng..jeng…*

Cewek–pastinya–, pendek, hitam tapi manis, cantik, imut dan dia gadis yang pintar dan baik hati. Rambutnya hitam dan lurus. Ciri khasnya adalah rambut berponi. Apalagi dia kala itu ngefans banget sama Maissy dan acara Ci Luk Ba Emmuach. Gue pertama kali memperhatikannya ketika gue kelas 2 SD. Gue jadi mikir, pas gue kelas 1 gue kemana ya? gue berasa nggak ada kenangan bahkan merasa nggak pernah ketemu dengan dia di kelas 1. Entahlah. Jadi, ketika baru saja naik ke kelas 2, biasa lah, hari pertama masuk sekolah biasanya pada rebutan bangku dan meja kan? pas gue nemu bangku yang menurut gue lokasinya pas banget dan cozy gitu, secara bersamaan ternyata dia juga melihat bangku yang mau gue dudukin. Kami saling pandang beberapa saat dengan slow motion. Matanya yang bulat dan indah menatap gue dengan sesekali berkedip imut. Gue berdebar, gadis ini beda banget. Dia sepertinya sesuatu banget. Gue yakin dia bakal populer di sekolah ini. Pokoknya pikiran gue melayang tak tentu arah dan untung saja gue nggak terjatuh, gue cuma tersesat dan tak tahu arah jalan pulang lalu gue bersyukur nggak jadi butiran debu. Fiuuh~

Lamunan gue yang beberapa detik akhirnya tersadar ketika dia dengan galaknya-tapi tetep manis-menggebrak meja.

“Ini Bangkuku!” Bentaknya.

“Enak aja, aku duluan yang duduk di sini” Kata gue nggak mau kalah. Gue dengan cueknya duduk lalu masukin tas ke dalam bangku itu.

“Ya udah, aku juga duduk di sini” Dia juga nggak mau kalah.

Buset. Gue bakal malu kalau duduk sama cewek. Dan benar saja, gue di ledekin sama temen-temen sekelas gara-gara gue sebangku sama dia.

Gue ngalah, gue pindah tempat duduk persis di belakang dia. Sejak saat itu gue musuhan sama dia. Gue biasanya saling ledek gitu lah biasa anak SD. Dan siapa sangka, perasaan gue jadi beda sama dia di kemudian hari. Hahaa.. *Blushing*

Dan memang dia ternyata beda. Dia nggak seperti anak gadis pada umumnya. Masih SD saja sudah fashionable banget, keliatan dia bisa menjaga penampilan. Cewek banget lah. Dalam sekejap, dia menjadi gadis yang populer di sekolah terutama di kelas gue. Selain cantik, dia sangat pintar. Banyak dipuji sama guru gue, nilai-nilainya bagus-bagus. Tapi dia masih belum mampu melewati nilai-nilai gue. Hahaha…Sombong. Serius! Gue masih jadi peringkat pertama sedangkan dia setia di urutan berikutnya.

Gue sampai bingung, dari pertama gue ketemu memang terjadi sesuatu sama gue. Perasaan aneh banget. Ada semacam ketertarikan yang luar biasa kala itu. Ya, meski gue masih seorang bocah 7 tahun yang memang belum mengerti apa-apa tentang masalah Elopi’i. Gue bilang ini adalah my very first love. Really.

Pengumuman juara kelas menjadi titik balik hubungan gue sama dia. Gue dipanggil ke Podium dan berdiri berdampingan menerima award dari sekolah karena mendapat peringkat tertinggi kala itu. Sejak saat itu kami jadi makin akrab, sering belajar bareng, sering bertemu, sering main ke rumahnya di desa sebelah. Dan itu terus berlanjut sampai kami remaja. Ah~~~ I miss that momment!!! >_<

Dia begitu populer, banyak yang menyukainya. Dia kerap dijodoh-jodohkan sama cowok kelas sebelah yang juga tidak kalah populer. Kadang gue sebel, gue sih nggak begitu populer, apalagi tampang pas-pasan.

Gue sendiri nggak ngerti sama perasaan gue sendiri, sejak dulu gue ingin banget bilang ke dia kalau gue suka sama dia. Apalagi setelah dia beranjak remaja. Tranformasinya makin memesona gue. Dia makin bersinar berikut prestasinya yang nggak kunjung padam. Tapi gue tahu diri, gue nggak mau ngerusak hubungan gue sama dia. Ngerusak persahabatn gue. Gue udah begitu akrab se akrab-akrabnya sama dia. Takut ditolak juga salah satu alasan paling besar buat gue sampai akhirnya gue cuma bisa memendam perasaan gue sampai saat ini.

Ini perasaan yang berbeda. True love. Bahkan, sampai 25 tahun eksistensi gue di dunia ini, perasaan gue nggak pernah berubah. Gue udah kenal banyak orang. Gue banyak suka sama orang. Tapi karena banyak hal perasaan suka itu perlahan memudar. Tapi perasaan gue ke dia nggak pernah berubah hingga saat ini. Dengan memikirkannya saja, gue bisa berdebar kencang, senyum-senyum sendiri. Bertemu langsung membuat gue salah tingkah. Perasaan ini tetap seperti dulu.

Masa SD-SMP yang menyenangkan gue lalui bersama tetap dengan memendam rasa itu sedalam-dalamnya. Sampai kami masuk SMA, gue berpisah karena memang sekolah yang kami tuju berbeda. Sebelumnya, gue sempat mengajaknya melanjutkan ke sekolah yang sama, tapi alasan biaya menjadi halangan. Dan gue ketika itu memang mendapatkan Beasiswa di sekolah itu untuk melanjutkan ke SMA.

Gue berpisah, sesekali bertemu ketika upacara 17-an. Makin membuat gue terpana apalagi gue udah jarang bertemu dengannya. Gue juga masih belum bisa, belum berani tepatnya buat bilang suka ke dia. Bodoh.

Sampai gue dengar kabar, Ayahnya meninggal ketika beberapa hari sebelum Ujian Nasional, disusul ibunya pun meninggal beberapa tahun kemudian karena suatu penyakit. Gue kaget banget. Gue datang melayat ke rumahnya. Ingin rasanya gue meluk dia. I know it’s really hard. Hiks.

Selepas SMA, kami sama-sama nggak kuliah. Gue sempat mengajaknya kerja bareng, dan itu sangat menyenangkan. Secara, gue bisa ketemu setiap hari. Tapi, masalah kembali muncul. Boss gue ternyata suka sama dia. Dia curhat sama gue. Dia bilang sering di-SMS oleh bos gue dan well ngajakin kencan. Gue berasa ditampar. Gue lalu menyarankan dia untuk berhenti saja bekerja dari tempat itu sebelum terjadi hal-hal yang nggak diinginkan. Dia menurut. Dan itu adalah perjumpaan terkahir gue sama dia.

Melihat fisik dia kemaren sore, dia memang kelihatan lelah sekali, wajahnya pucat dan agak kurusan. Dia terlihat seperti menanggung sebuah beban berat. Gue ngerti perasaannya seperti apa. Karena gue mengalami masalah yang sama dengan dia. Dia sempat menyebut kata “Stress” di obrolan singkat kami. Ingin rasanya ngobrol lebih lama lagi. Ingin sharing lebih banyak hal lagi.

Gue ngerasa seperti memiliki nasib yang sama, menjadi tulang punggung keluarga, tak memiliki orang tua-gue masih punya ibu sih-dan ada adik yang harus dibiayai sekolah. Ingin rasanya gue datang ke rumahnya lalu bilang, “Will you marry me?” Hahahahaha…

Gue juga yakin pasti dia juga sudah punya pacar. Entah apa alasannya sampai dia hingga kini belum menikah.

Tapi untuk saat ini, gue masih merasa belum mampu, gue masih mau fokus buat karir gue, buat mengejar mimpi-mimpi gue, mewujudkan mimpi-mimpi gue. Kelak kalau gue berhasil, dan memang masih ada kesempatan, gue ingin mengatakannya.

Well, bilang cinta memang nggak gampang. Gue cuma berharap sama takdir. Kalau kelak gue ditakdirkan bakal berjodoh, dia nggak bakal kemana-mana. Gue percaya itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: