Lia R


Lia Rahmawati nama lengkap gue. Umur gue 19 tahun, tapi bohong. Sekarang gue bekerja di sebuah perusahaan sebagai CS. Customer Service? Itu harapan gue, apa daya gue cuma lulusan SMA jadi hanya hampu menjadi CS yang lain, Cleaning Service.

Gue kadang jengkel sama hidup gue sendiri. Gue merasa apa yang gue harap-harapkan nggak pernah terkabul. Gue berprestasi. Dari SD sampai tamat SMA, gue mendapatkan beasiswa. Tapi sayang, gue gagal mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah gue ke jenjang yang lebih tinggi. Pintar di sekolah tidak menjamin lo bakal hidup sukses di masa depan. Tidak ada dukungan dari orang-orang terdekat dan pada akhirnya gue jadi seorang CS, Cleaning Service.

“Lia! Lo kerja di mana sekrang?” tanya seorang teman SMA gue yang secara tidak sengaja bertemu di jalan.

“Gue kerja di salah satu perusahaan di bidang telekomunikasi, jadi Customer Service gitu”.

Gue Bohong.

“Hebat banget lo, kalau nggak salah, lo kan cuma lulusan SMA, kok bisa sih dapat posisi bagus gitu?”

Sumpah, gue ingin sekali meninju mukanya.

“Yang terpenting sih kejujuran, biar kata lo cuma lulusan SMA, kalau lo jujur dan bertanggung jawab, why not lo nggak bisa kerja di tempat bagus. Terus lo sekarang gimana?”

“Gue hepi banget tauk, gue udah keterima di kantor perpajakan.”

What??? Beruntungnya hidup lo.

“Eh, ya gue juga lagi di rekomendasikan loh sama atasan gue buat jadi manager, secara hasil kerja gue kan memuaskan banget. Apalagi beberapa bulan gue sering banget dapet gelar Customer Service Of The Month yang hadiahnya bisa jalan-jalan ke Aussie, LA, Paris gitu”.

Gue bohong.

“Wah…lo hebat banget. Eh, ya gue pergi dulu ya, bye”.

Menerima kenyataan bahwa orang lain lebih sukses dari pada lo itu seperti menelan pil pahit dan meminum seliter empedu. Mengapa gue tidak seperti mereka? Padahal gue udah berusaha mati-matian buat mewujudkan cita-cita gue. Ini tidak adil. Tuhan tidak adil.

Meskipun gue cuma sebagai Cleaning Service, gue tidak pernah ketinggalan segala sesuatu yang menjadi trend. Fashion, Music, Film, Gadget dan lain-lain. Gue bakal selalu berpenampilan oke di mana saja. Gue enggan terlihat melarat meski kenyataannya demikian. Padahal beberapa benda kesukaan gue sebagian besar adalah kreditan.

“Permisi mbak, saya dari majalah fashion ingin mewawancarai mbak sebentar”.

“Oh, silakan”

“Sepertinya mbak sangat perhatian sekali dengan penampilan”.

“Pastinya, penampilan adalah nomer satu buat saya. Saya tidak akan segan-segan mengeluarkan dana besar demi berpenampilan menarik. Selain menambah percaya diri, orang-orang juga akan senang memperhatikan kita”.

“Boleh tahu budget yang dikeluarkan, mbak”

“Saya pikir akan terlalu berlebihan untuk menyebutkan berapa nominalnya, tapi paling tidak saya biasa menghabiskan budget sekitar delapan digit-an lah”.

Gue bohong.

“Waw, pantas saja mbak terlihat modis sekali”.

Asal tahu saja, make-up gue kreditan tinggal 2 kali, sepatu gue kreditan tinggal 15 kali apalagi tas gue belum pernah gue setor sekali pun karena memang baru saja gue kredit.

Gue bertemu dengan teman SMA gue yang lain.

“Hei, Lia! apa kabar? Lo tahu nggak, gue bentar lagi nikah!” Serunya sambil memamerkan tangannya yang salah satu jarinya berhiaskan cincin berlian.

DAMN!!! Boro-boro nikah, pacar saja gue tidak punya. Cincin berliannya bagus banget. Beruntungnya nasib lo.

“Wah, selamat ya. Cowok gue sebenarnya ngajakin nikah bulan kemarin, tapi gue nolak”

“Loh, kenapa?”

“Cowok gue kan kerja sebagai direktur di salah satu perusahaan telekomunikasi gitu, tapi gue agak bingung, soalnya gue juga punya cowok lain yang profesinya sebagai Pilot, nah gue bingung buat nentuin pilihan yang mana”.

Gue bohong.

“Buseettt…!! Lo hebat banget! Cowok lo tajir-tajir semua, kenalin gue satu apa”

“Hmm..beberapa bulan lalu juga gue sempet jalan-jalan sama cowok gue yang jadi Pilot ke Paris, gila romantis banget! Pulangnya dari Paris gue malah diajakin ke LA sama cowok gue yang direktur. Belum lagi ada yang coba deketin gue, dia seorang dokter loh, cakep!”

Gue bohong.

“Ya ampun, lo beruntung banget. Eh, gue pergi dulu ya, ntar sambung kapan-kapan. Bye”.

Entah mengapa, ritual berbohong telah menjadi kebiasaan gue. Ada semacam keasyikan tersendiri ketika menceritakan sesuatu yang impressive. Dengan wajah berbinar-binar dan semangat berapi-api menceritakan kesuksesan yang hanya masih berupa khayalan belaka.

Gue tidak tahu, gue bakal berbohong sampai kapan.

Berikut obrolan-obrolan seru gue yang juga penuh dengan kebohongan.

“Eh, Lia, lo tahu serial Glee nggak? Itu loh serial musikal yang tayang tiap minggu di TV, Buset ini serial kece cetar membahana badai halilintar ulala terpampang nyata!!”

“Tahu dong, eh, denger-denger di season berikutnya bakal nampilin Agnes Monica loh”

Gue bohong. Gue sedang mencari perhatian.

“Serius???”

“Beneran, gue kan punya saluran khusus yang nayangin langsung serialnya, jadi gue tahu banyak lebih dulu dari lo yang cuma nonton di TV biasa”

“Wah…lo hebat banget!! Kapan-kapan ajak gue nginep dong di rumah lo biar bisa nonton bareng.”

“Sip”.

Boro-boro channel luar negeri, TV layar hitam putih aja gue tidak punya.

Gue kadang sering mendengar cibiran-cibiran orang yang suka membicarakan gue tentang kebohongan-kebohongan gue. Entah di jalan, di kantor dan di mana saja. Cuma gue berusaha untuk tetap cuek dan tak memedulikannya.

“Eh si itu ya, ngakunya masih umur 19, padahal udah 27 tahun”

“Masa sih? kan keliatan banget ya mukanya udah bukan kayak ABG lagi”

“Eh, dia bukannya seorang perawat?”

“Bukan, dia kan ngakunya sebagai Wartawati”

“Masa sih? Kemaren ngakunya jadi Model”

“Pacarnya kan Pilot, pantes banyak duit”

“Salah, pacarnya bukannya Dokter apa Manager gitu”

“Ah, sudahlah”.

Suatu hari, di kantor tempat gue bekerja, gue sedang sibuk membersihkan kaca jendela di sebuah ruangan yang terletak di lantai 13. Kemudian terjadi sebuah keributaan seorang karyawati yang kehilangan cincin berlian yang diberikan oleh pacarnya.

“Aduh gawat banget, kalau sampai pacar saya tahu cincin itu hilang, pertunangan saya akan dibatalkan”.

“Kok bisa hilang sih?”

“Saya juga tidak tahu, tadi saya berdiri di sekitar jendela itu,” karyawati itu menujuk ke arah gue “masih ada, tapi nggak tahu gimana bisa hilang, pertunangan gue bakal hancur”. Karyawati itu mulai menangis. Seisi kantor mulai heboh berusaha untuk menenangkan karyawati tersebut. Beberapa orang berusaha membantu mencari di setiap sudut ruangan itu.

“Tadi sepertinya saya melihat sesuatu di dekat jendela” kata gue asal. Semua pandangan orang-orang di kantor itu tertuju ke arahku. Hening. Gue bohong. Tak ada apa-apa yang gue liat. Gue hanya mencoba mencari perhatian. Bayangkan saja kalau gue benar-benar menemukan cincin itu.

“Tadi mbak sempat berjalan ke arah sana kan? Coba diingat-ingat lagi”

“Ya, benar” katanya dengan suara bergetar

Gue lalu berpura-pura melihat sesuatu di sekitar jendela kaca kantor itu.

“Eh itu dia!” Kata gue dengan lantang. Gue berpura-pura tergopoh-gopoh untuk mendekati benda imajinasi gue. Gue gugup, gue membayangkan kalau benar itu adalah cincin berlian karyawati itu dan ketika gue semakin mendekati jendela kaca itu, tanpa sengaja kaki kanan gue tersandung oleh kaki kaki kiri gue sendiri.

Gue tersungkur.

Tubuh gue berdebam keras pada jendela kaca itu. Yang gue dengar hanya teriakan dan suara kaca jendela yang pecah. Tubuh gue melayang keluar jendela dan terjatuh.

Gue bohong sekali, lalu gue sadar bahwa lebih mudah berbohong untuk kedua dan ketiga kali sampai akhirnya menjadi kebiasaan gue.

Sekali gue bohong, maka gue harus melindungi kebohongan gue dengan kebohongan yang lain, begitupun kebohongan selanjutnya, sampai pada akhirnya gue menjadi pembohong yang tidak tahu lagi mana yang benar.

May my soul burn in hell.

Gue bohong.

Iklan

Ocha


Namaku Ocha. Gadis biasa saja. Biasa sendiri. Biasa menyendiri. Pokoknya biasa saja, tak ada yang spesial, menurutku, tapi entahlah orang berpikir apa tentangku, aku tak peduli.

Rambutku hitam dan bergelombang tapi tidak keriting. Kadang aku jengkel ketika aku mendengar ada yang mendeskripsikanku dengan ciri-ciri rambut keriting. Rambut keriting dan bergelombang jelas berbeda tapi kadang selalu disama-samakan. Sama halnya dengan menyebut nama Afif, jelas-jelas huruf F dan P itu berbeda tapi orang-orang tak peduli, Afif dan Apip sama saja, sebuah nama. Afif, aku mengerti apa yang kamu rasakan ketika ada orang yang memanggilmu Apip.

Orang-orang menganggapku aneh. Mereka bilang, aku tak seperti gadis remaja kebanyakan. Aku terlalu banyak menyendiri, diam dan mengurung diri. Oke, aku memang aneh, aku akui hal itu, tapi ada sesuatu yang mereka tak ketahui. Mereka memandangku sebagai gadis aneh karena enggan bergaul dengan lingkungan sekitar. Tapi bukan itu. Ada hal yang jauh lebih rumit dari sekedar bersosialisasi. Aku terkutuk.

“Ketika usiamu genap 13 tahun, orang-orang yang mencintaimu akan meninggalkanmu selamanya. Menjauhlah, menyendirilah dan jangan membuat ikatan apa pun dengan siapa pun kalau kau tak mau kecewa”.

Kemudian Ibuku menutup matanya. Selama-lamanya. Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan olehnya tepat di hari ulang tahunku yang ke-13. Sejak saat itu, aku mulai berpikir untuk menjauhi semua hal karena aku takut terjadi sesuatu dengan orang-orang yang aku sayangi, termasuk Afif.

Afif adalah sahabatku dari kecil. Hobinya membaca buku. Dia kerap mengunjungiku hanya untuk sekedar bercerita tentang buku apa saja yang telah ia baca. Tak habis setelah itu, dia akan mereview buku tersebut dari A-Z tentang kelebihan, kerurangan sekaligus design covernya. Saya pikir, dia akan menjadi pencerita yang hebat kelak ketika memperhatikan bagaimana ekspresi dan mimik wajahnya waktu bercerita.

Afif terlalu baik padaku. Dia tak pernah peduli apa pun tentang perkataan orang terhadapku yang menganggap aku adalah gadis aneh. Bukannya aku tidak suka. Aku hanya teringat kalimat ibuku. Bagaimana kalau Afif suatu saat suka padaku. Ah, aku terlalu percaya diri, bagaimana mungkin ada orang yang suka pada gadis aneh sepertiku. Atau jangan-jangan justru aku yang suka padanya. Aku tersenyum. Jangan, kumohon. Tapi siapa tahu.

Di suatu masa hiduplah seorang wanita yang sedang hamil tua. Sejak mengetahui dirinya hamil, ia berencana untuk menggugurkannya. Tetapi, wanita itu selalu gagal melakukannya sampai perutnya semakin membesar. Meski begitu, sampai detik-detik kelahiran bayinya ia masih terus berusaha untuk menggugurkannya.

Hingga suatu malam datanglah seorang wanita cantik menghampiri wanita yang sedang hamil itu.

“Bayi yang ada di dalam perutmu adalah bayi kutukan. Sekeras apa pun usahamu untuk membunuhnya, dia akan tetap hidup. Tapi sayang, dia tercipta tanpa cinta, maka dia juga akan hidup tanpa cinta. Kasihan sekali, orang-orang yang mencitainya akan menjadi korban kutukan itu.

Lahirlah seorang bayi perempuan. Saat itu juga, perasaan benci kepada bayi itu mendadak sirna. Ia begitu menyayangi bayi perempuan itu meski ia sadar bahwa hal tersebut akan membuatnya menjadi tumbal kutukan.

“Bagaimana menurutmu cerita ini, Cha?” tanya Afiif

“Hmm…bisa kau ulangi lagi?”

“Jadi kau tidak menyimaknya? Padahal sejak tadi aku bercerita dengan bersemangat” Afif melototi wajah Ocha.

“Maafkan aku, aku hanya sedang memikirkan sesuatu”.

“Yah, aku pikir buku ini juga tidak terlalu menarik. Bagaimana mungkin manusia bisa hidup tanpa cinta. Sangat tidak masuk akal”.

“Tapi, bagaimana kalau hal itu benar-benar terjadi di kehidupan nyata?”

“Hmmm…” Afif terdiam sejenak, “Tenang saja, ternyata di buku ini diceritakan kalau kutukan itu ada penawarnya. “Bila ada orang yang mau berkorban demi gadis itu, maka kutukan itu akan sirna”, begitu kira-kira kalimat wanita misterius yang ada di buku.

“Endingnya?”

“Aku belum selesai membacanya, hehe..” Afif cengengesan.

Ocha mendekati Afif. Sangat dekat, sampai wajah mereka hampir bersentuhan. Tangan kanannya menyentuh dagu Afif.

“Kau ingin tahu endingnya seperti apa? Seorang pemuda bodoh mengorbankan jiwanya demi gadis itu”.

Change!


Setiap orang perlu yang namanya perubahan. Yang pasti bukan berubah jadi Pahlawan Bertopeng apalagi jadi Power Rangers, bukan. Tapi berubah jadi seseorang yang lebih baik dong.

Beberapa orang memang nggak suka yang namanya perubahan mungkin karena udah nyaman dengan keadaan seperti itu. Tapi ada juga orang yang merasa perubahan itu perlu, misalnya untuk membuat image baru atau alter ego baru buat menghindari kemonotonan hidup yang begitu-begitu saja.

Nilai plusnya, kamu mungkin akan banyak belajar hal baru di luar kebiasaan kamu. Hal ini akan menjadi sangat menarik bagi kamu yang memang menyukai tantangan. Minusnya, kamu akan kembali beradaptasi dengan hal-hal baru yang mungkin memang belum pernah kamu lakukan.

Apa pun pilihan kamu, selama hal tersebut baik dan nggak merugikan diri kamu sendiri dan orang lain, perubahan memang perlu kamu lakukan. Pada akhirnya, keputusan ada di tangan kamu sendiri. Apakah kamu mau menjalani hidup kamu dengan flat, atau ingin hidup lebih berdinamika?

Bored Lunch


Seenak apapun makanan yang kawula muda makan, pasti bakal jenuh kalau misalnya makan makanan itu mulu. Misalnya hari ini menunya tempe, eh, besoknya tempe lagi. Mungkin tempe adalah makanan favorit kawula muda tapi kalau setiap hari dikonsumsi, lama-lama bosen juga.

Sama halnya bagi kawula muda yang masih sekolah atau pun yang udah kerja nih. Pas jam makan siang biasanya kan ke kantin atau ke warung deket tempat kerja. Yang di kantin paling menunya itu-itu juga. Terus yang biasanya makan di warung bisa diakalin kali ya buat makan di tempat lain biar nggak monoton atau ngebosenin karena memang menunya itu-itu mulu.

Pernah nggak kepikiran buat bawa bekal ke sekolah atau ke tempat kerja kamu? Ini bisa jadi alternatif buat kawula muda biar nggak bosen sama menu makan siang kamu yang itu-itu mulu. Selain kebersihannya terjamin, kamu juga jadi lebih hemat loh, secara makan siang yang kamu bawa dibikin sama ibu atau malah pembantu kamu. Asik banget kan.

Konon, makanan yang dibikin sama ibu sendiri adalah makanan yang paling enak sedunia. Hahahaha.

Kamu makin sehat gara-gara makan makanan yang udah terjamin kebersihannya, dompet kamu juga makin tebel gara-gara duit yang biasanya kamu pakai buat makan siang tersimpan rapi.

Ya, nggak sih?

Ya, doooooooongg.

Too Much Su’udzon Will Kill You


Mungkin banyak diantara kawula muda sering berprasangka buruk sama orang-orang di sekitar kamu. Nggak perlu jauh-jauh, pasti kamu pernah berprasangka buruk sama teman atau bahkan sama orang tua.

Misalnya saja ketika orang tua kawula muda tiba-tiba saja sikapnya berubah, mereka tiba-tiba cuek bebek seolah mereka nggak perhatian lagi sama kamu, padahal saat itu kamu sedang butuh-butuhnya atau sedang perlu banget sama mereka buat mendengarkan curhatan sekaligus keluh kesahmu. Pasti kamu langsung berprasangka buruk sama mereka saat itu juga. Kamu pasti mikir, ternyata mereka udah nggak sayang lagi sama kamu. Hahahaha…kasian banget sih. Bisa saja kan mereka lagi sibuk dengan aktifitas mereka, Adun yakin pasti mereka sayang banget sama kamu. Bayangin aja, orang tua mana sih yang nggak sayang sama anaknya?

Ada pepatah yang mengatakan, “Too much su’udzon will kill you,” terlalu berprasangka buruk bakal membunuh kamu. Bener banget, ketika kamu berprasangka buruk sama seseorang, yang ada bakal timbul pikiran negatif macam rasa iri, benci, dendam dan keluarga-keluarganya bakal meracuni hati kamu. So, kamu bersihkan pikiran dan hati kamu dari perasaan-perasaan negatif tersebut yang pastinya bersihinnya bukan dengan detergent plus pelembut sekali bilas apalagi sabun colek, Hahahaha… tetapi dengan pikiran-pikiran positif atau hal-hal positif.

Ya, nggak sih?

Ya, doooooongggg.