Ocha


Namaku Ocha. Gadis biasa saja. Biasa sendiri. Biasa menyendiri. Pokoknya biasa saja, tak ada yang spesial, menurutku, tapi entahlah orang berpikir apa tentangku, aku tak peduli.

Rambutku hitam dan bergelombang tapi tidak keriting. Kadang aku jengkel ketika aku mendengar ada yang mendeskripsikanku dengan ciri-ciri rambut keriting. Rambut keriting dan bergelombang jelas berbeda tapi kadang selalu disama-samakan. Sama halnya dengan menyebut nama Afif, jelas-jelas huruf F dan P itu berbeda tapi orang-orang tak peduli, Afif dan Apip sama saja, sebuah nama. Afif, aku mengerti apa yang kamu rasakan ketika ada orang yang memanggilmu Apip.

Orang-orang menganggapku aneh. Mereka bilang, aku tak seperti gadis remaja kebanyakan. Aku terlalu banyak menyendiri, diam dan mengurung diri. Oke, aku memang aneh, aku akui hal itu, tapi ada sesuatu yang mereka tak ketahui. Mereka memandangku sebagai gadis aneh karena enggan bergaul dengan lingkungan sekitar. Tapi bukan itu. Ada hal yang jauh lebih rumit dari sekedar bersosialisasi. Aku terkutuk.

“Ketika usiamu genap 13 tahun, orang-orang yang mencintaimu akan meninggalkanmu selamanya. Menjauhlah, menyendirilah dan jangan membuat ikatan apa pun dengan siapa pun kalau kau tak mau kecewa”.

Kemudian Ibuku menutup matanya. Selama-lamanya. Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan olehnya tepat di hari ulang tahunku yang ke-13. Sejak saat itu, aku mulai berpikir untuk menjauhi semua hal karena aku takut terjadi sesuatu dengan orang-orang yang aku sayangi, termasuk Afif.

Afif adalah sahabatku dari kecil. Hobinya membaca buku. Dia kerap mengunjungiku hanya untuk sekedar bercerita tentang buku apa saja yang telah ia baca. Tak habis setelah itu, dia akan mereview buku tersebut dari A-Z tentang kelebihan, kerurangan sekaligus design covernya. Saya pikir, dia akan menjadi pencerita yang hebat kelak ketika memperhatikan bagaimana ekspresi dan mimik wajahnya waktu bercerita.

Afif terlalu baik padaku. Dia tak pernah peduli apa pun tentang perkataan orang terhadapku yang menganggap aku adalah gadis aneh. Bukannya aku tidak suka. Aku hanya teringat kalimat ibuku. Bagaimana kalau Afif suatu saat suka padaku. Ah, aku terlalu percaya diri, bagaimana mungkin ada orang yang suka pada gadis aneh sepertiku. Atau jangan-jangan justru aku yang suka padanya. Aku tersenyum. Jangan, kumohon. Tapi siapa tahu.

Di suatu masa hiduplah seorang wanita yang sedang hamil tua. Sejak mengetahui dirinya hamil, ia berencana untuk menggugurkannya. Tetapi, wanita itu selalu gagal melakukannya sampai perutnya semakin membesar. Meski begitu, sampai detik-detik kelahiran bayinya ia masih terus berusaha untuk menggugurkannya.

Hingga suatu malam datanglah seorang wanita cantik menghampiri wanita yang sedang hamil itu.

“Bayi yang ada di dalam perutmu adalah bayi kutukan. Sekeras apa pun usahamu untuk membunuhnya, dia akan tetap hidup. Tapi sayang, dia tercipta tanpa cinta, maka dia juga akan hidup tanpa cinta. Kasihan sekali, orang-orang yang mencitainya akan menjadi korban kutukan itu.

Lahirlah seorang bayi perempuan. Saat itu juga, perasaan benci kepada bayi itu mendadak sirna. Ia begitu menyayangi bayi perempuan itu meski ia sadar bahwa hal tersebut akan membuatnya menjadi tumbal kutukan.

“Bagaimana menurutmu cerita ini, Cha?” tanya Afiif

“Hmm…bisa kau ulangi lagi?”

“Jadi kau tidak menyimaknya? Padahal sejak tadi aku bercerita dengan bersemangat” Afif melototi wajah Ocha.

“Maafkan aku, aku hanya sedang memikirkan sesuatu”.

“Yah, aku pikir buku ini juga tidak terlalu menarik. Bagaimana mungkin manusia bisa hidup tanpa cinta. Sangat tidak masuk akal”.

“Tapi, bagaimana kalau hal itu benar-benar terjadi di kehidupan nyata?”

“Hmmm…” Afif terdiam sejenak, “Tenang saja, ternyata di buku ini diceritakan kalau kutukan itu ada penawarnya. “Bila ada orang yang mau berkorban demi gadis itu, maka kutukan itu akan sirna”, begitu kira-kira kalimat wanita misterius yang ada di buku.

“Endingnya?”

“Aku belum selesai membacanya, hehe..” Afif cengengesan.

Ocha mendekati Afif. Sangat dekat, sampai wajah mereka hampir bersentuhan. Tangan kanannya menyentuh dagu Afif.

“Kau ingin tahu endingnya seperti apa? Seorang pemuda bodoh mengorbankan jiwanya demi gadis itu”.

Iklan

1 Komentar

  1. ndazhou said,

    09/07/2013 pada 8:11 PM

    what?
    ini ngegantung?
    eh bik mendingan lo ikutan berani cerita deh!
    http://www.beranicerita.com

    lumayan buat mengasah hobby :))


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: