A Dream Or Not A Dream


Bagaimana perasaan kamu ketika mimpi/cita-citamu menjadi nyata?

Senang?

Bahagia?

Histeris?

Ya, bahkan lebih dari itu. Lebih dari sekedar senang, bahagia dan histeris. Begitulah perasaanku kala itu.

Peristiwa ini telah lama terjadi dan baru sempat aku share. Even bukan mimpi sebenarnya, tapi semacam keinginan. Aku tidak terobsesi menjadi penyiar radio hanya saja kalau memang diberi kesempatan, mengapa tidak? Tapi tunggu dulu, mimpi/cita-cita dengan keinginan itu bukannya hal yang sama? Entahlah, aku tidak mau berdebat.

Sejak masuk SMA, aku  mulai rutin mendengarkan radio. Karena aku memang suka musik dan ketika itu, untuk mendengarkan musik lumayan agak sulit. Tidak seperti sekarang, ada lagu baru tinggal browsing dan dowload, beres.

Setiap kali mendengarkan radio, aku berpikir, sepertinya asyik sekali ya mengobrol sambil mendengarkan lagu-lagu apalagi lagu yang sedang trend. Selain itu, aku juga pasti akan banyak mendapat teman baru alias banyak yang kenal meski tidak bertatapan langsung. Saat saat itu, aku mulai punya keinginan untuk menjadi penyiar radio.

Selesai SMA, aku tidak melanjutkan pendidikanku karena alasan klasik itu. Pagi-pagi sekali, aku mendengarkan stasiun radio yang biasa kudengar memberikan informasi bahwa mereka membutuhkan penyiar. Aku bangkit dari tempat tidur dan langsung mencari kertas dan alat tulis untuk segera mencatat apa saja syarat-syarat yang mereka butuhkan.

Setelahnya, perjuangan yang aku tempuh benar-benar sulit dan berliku tajam.

1. Contoh rekaman suara

Hal pertama yang aku lakukan adalah mencari kaset kosong yang akan dipakai untuk merekam suara sebagai salah satu persyartan sebagai calon penyiar radio. Saat itu, ibuku sedang pergi bekerja untuk beberapa hari. Beliau cuma memberikanku uang delapan ribu rupiah sebagai bekal selama beberapa hari apalagi ada adikku yang masih SD setiap hari meminta uang jajan sekolah. Aku kelimpungan, tidak tahu langkah apa yang harus kutempuh. Otakku mengalkulasikan biaya yang harus aku pakai untuk mendapatkan kaset kosong itu. Ongkos bemo ke pasar terdekat adalah tiga ribu rupiah untuk pulang pergi, sedangkan kaset kosong, aku tidak tahu berapa harganya. Dengan modal niat, aku berencana meminjam sepeda ke salah satu temanku dan dia pun meminjamkannya.

Yay!

“Kasetnya berapaan, pak?” Tanyaku sambil mengelap peluh

“Delapan ribu, dik”

“Mahal amat? Lima ribu aja deh”

“Nggak bisa, gini aja, pasnya enam ribu, bapak biasanya jualnya mahal, loh” ucap penjual itu dengan suara sedikit berbisik

Deal, enam ribu rupiah. Base jak raos dagang, gumaku dalam hati.

Ketika pulang, aku mengalami kejadian yang lumayan mendebarkan. Aku melewati sebuah turunan yang cukup curam tanpa perhitungan. Ketika aku melewatinya, aku baru sadar kalau sepeda itu tidak memiliki rem sama sekali!!!

“AAAAAAAAAAAAA……!!!” teriakku dengan kencang

Sebenarnya aku tidak berteriak sama sekali, cuma sekedar ingin membuat cerita lebih dramatis.

Tanpa pikir panjang, aku menggunakan sandal jepitku, si jalan langit yang berwarna hijau, untuk menahan laju kencang sepeda itu. Aku berhasil membuatnya berhenti tapi selalu saja ada yang dikorbankan. Si jalan langit yang berwarna hijau putus!!!

2. Perekam

Aku sempat putus asa karena selama dua hari setelah aku mendapatkan kaset kosong, aku belum juga menemukan alat untuk merekam suaraku. Aku beberapa kali mencoba meminjam ke tetangga sebelah tapi bukannya mereka tidak mau meminjamkannya justru karena tetangga sebelah tidak punya. Haha. Sekali ada yang punya, perekamnya tak berfungsi sama sekali.

Sampai datanglah seorang sahabat yang tak terduga sekali. Adik kelasku yang juga memiliki hobi mendengarkan radio, menawarkan bantuan. Ada kemauan selalu ada jalan.

“Oh, kamu mau ngelamar jadi penyiar radio, ya?”

Aku cuma tersenyum malu.

“Ya udah, ke rumahku yuk, nanti rekam di sana  aja”

Aku lalu berlari ke rumah tetangga sebelah untuk meminjam Mic.

Setelah semuanya beres, aku lalu menyiapkan surat lamaran dan perlengkapan lainnya. Dan yang bikin terkejut, orang-orang di kampung telah heboh lebih dulu membicarakan kalau aku telah menjadi penyiar radio. Hey, even surat lamarannya saja masih tersimpan rapi di rumahku. Aku mendapat banyak respon beragam dari orang-orang yang bertemu denganku.

Ibu-ibu..

“Denger-denger kamu jadi penyiar radio ya? Alhamdulillah, yang tekun ya dan kamu harus semangat”

Gadis-gadis..

“Kak, kamu jadi penyiar radio ya? Ih, sombong sekarang, calling-calling kita dong..”

Orang-orang dengan hati iri, dengki dan dendam yang berlumur aura negatif….

“Kamu? jadi penyiar radio??? Emang bisa??? Heh, aku kasi tau ya, jadi penyiar radio itu nggak gampang, harus punya wawasan luas dan ngomongnya harus cepet, bisa nggak?”

Aku hanya bisa bersabar.

Hebohnya lagi, ketika akan berangkat ke stasiun radio untuk mengatantar surat lamaranku saja, banyak sekali ibu-ibu yang memberikan aura positif sekaligus semangat kepadaku.

“Kamu harus berjuang apapun yang terjadi, yakin dan percaya bahwa hari yang cerah dan indah telah menantimu, nak”

“Nenek bangga sama kamu, semoga kamu berhasil”

Kemudian berurai air mata. Ini seperti farewell TKI-TKI yang mau ke Malaysia.

Esoknya, ibuku pulang. Pulang hanya sebentar dan aku menceritakan semua hal yang aku lakukan beberapa hari terakhir. Beliau hanya tertawa dan mengatakan..

“Gaweq bae ape-ape saq melen e gaweq, asal ndeq rugian dengan” (Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, asal tidak merugikan orang lain)

Beliau mengambil radio yang biasa kudengar lalu mengalungkannya.

“Seperti permintaanmu, ibu bakal dengerin radio ini terus, siapa tahu ada nama kamu disebut sebagai salah satu yang lolos”

Aku memeluk beliau dengan mata berkaca-kaca sebelum akhirnya dia pergi lagi meninggalkanku untuk bekerja.

Hari berikutnya adalah hari yang aku tunggu-tunggu. Pagi-pagi sekali aku telah berada di rumah tetangga sebelah yang telah menghidupkan radionya untuk mendengarkan pengumuman. Keluarga tetangga sebelah yang terdiri dari pasangan suami istri dan tiga orang anaknya yang masih kecil telah duduk rapi di sampingku dengan perasaan yang berdebar. Mereka sesekali memberiku semangat.

“Semangattttt…!!! Kamu pasti bisa!!!” teriak mereka dengan  yell-yell gembira lengkap dengan pose-pose unik dengan taburan confetti yang entah datangnya dari mana. Balon-balon warna warni berjatuhan dengan pita-pita yang juga beraneka warna menambah semangat pagi itu.

“Baiklah, buat kawula muda yang kemaren sempet ngirimin surat lamaran sebagai penyiar radio, hari ini bakal diumumin 10 orang terpilih yang udah diseleksi secara ketat. Ini dia..

1….2…3…4…5…6…7…8…9…10…”

Hening…

Confetti, pita dan balon warna warni yang berjatuhan mendadak hilang. Yell-yell semangat yang membahana mendadak sunyi.

Namaku tidak termasuk dalam 10 orang yang telah diseleksi dengan ketat.

 

6 tahun kemudian…

 

“Halo…kawula muda…buat kamu yang memang merasa punya suatu pengalaman menarik, pengalaman seru dan memang pengen kamu sharing. ya udah kamu tinggal ikutan gabung aja bisa komen lewat fan page, mention di twitter, send smes dan juga di line calling. Pengalaman seru kamu nggak bakal berarti kalau kamu nggak sharing atau ceritain ke orang lain. jadi kamu nggak usah kemana-mana mending tetap mangkal aja di sini. Dan ingat, ngedengerin radio nggak cuma sekedar sebagai hiburan aja, paling nggak ada yang kamu dapat dari apa yang kamu dengar.”

Ya, enam tahun kemudian, aku akhirnya berhasil menjadi salah satu penyiar di radio yang sama. Radio yang biasa aku dengar sejak aku masih SMA. Ada perasaan aneh yang muncul ketika aku menyadari bahwa aku, saat ini, sedang berada di radio yang biasanya kudengar. Bukan jadi pendengar tapi menjadi penyiarnya langsung! Hahahaha….

Aku pertama kali mengudara tanggal 13 Januari 2013 setelah beberapa bulan menjalani pelatihan. Ternyata tidak semudah yang aku kira. Ada banyak tahapan yang harus dilalui. Dulu aku berpikir, penyiar radio hanya sekedar berbicara bla..bla..bla..kemudian usai. BIG NO!!!!

Sampai kapanpun aku harus terus belajar. Ini belum apa-apa. Ini adalah awal dari segalanya. Aku harus terus belajar, belajar dan dan belajar untuk menyempurnakan kemampuanku.

Seperti kata Ichihara Yuuko, “No coincidences just inevitable”.

What an inevitable!

 

 

 

Iklan