Unplanned


Aku terbangun di suatu siang dengan jantung berdebar kencang karena melihat jam di dindingku yang bercat putih telah tampak menguning menunjukkan pukul 10 pagi. Aku bangkit dari tempat tidurku dan langsung melipat selimutku dengan sangat cepat. Mungkin karena telah terbiasa, lipatan selimutnya terlihat rapi meski dilipat secara terburu-buru. Alas tidurku yang terdiri dari 3 lapisan, tikar yang terbuat dari pandan terletak paling bawah lalu ditengah-tengah, kasur lipat dari kapuk berwarna merah marun yang merupakan pemberian tetangga sebelah dan yang terakhir tikar plastik berwarna biru dengan gambar putri duyung berhasil kugulung dengan sigap. Hari ini, hari Jumat, adalah jadual liburku. Saatnya bersantai dan membuang jauh-jauh hal-hal yang menyangkut pekerjaan. Kadang hal ini bisa merusak mood-ku. Pintar-pintarnya aku saja bagaimana supaya tak memikirkannya. Sehari dalam seminggu. Please stop think about it!

Friday is my free day, begitulah status mingguanku yang biasanya aku tulis di jejaring sosial seperti Twitter atau Facebook. Pada dasarnya, aku ingin sekali do nothing di hari bebasku seperti ini tapi apa mau dikata, selalu saja ada yang harus diselesaikan. Seperti hari ini misalnya, aku telah berjanji beberapa hari yang lalu dengan mama kalau hari ini aku harus membantunya menggiling padi. Jangan bayangkan aku harus menumbuk padi di lesung pagi-pagi buta kemudian ayam berkokok yang sukses membuat para jin lari tunggang langgang. Dramatis.

“Kamu udah janji sama mama kemarin.”

“Ya, ma, Adun ingat, tapi Adun harus pergi ke Radio dulu sebentar buat ngambil sesuatu.”

“Kamu cuma nganter ke pabrik sebentar aja kok, nggak ribet.”

“Ma, tempat penggilingan padi itu bukan pabrik, tapi biasanya disebut Heler dan itu pun salah seharusnya disebut Huller. Kadang kalau sudah salah kaprah begini agak susah buat dibenerin. Lagian siapa aku gitu loh mau lurusin salah kaprah yang udah tersebar luas di masyarakat. Dan satu hal lagi ma, pabrik itu sebuah tempat yang bisa membuat suatu produk, misalnya pabrik sepatu, pabrik baju…”

“Ah, udahlah,” mama memotong pembicaraanku, “mau Huller kek, mau Heler kek atau meler sekalian bodo amat, yang penting kamu harus udah ada di rumah jam 12, titik!”

“Baiklah, aku pergi dulu, sudah terlambat nih.” Aku mencium tangan dan memeluk tubuh mama yang gemuk. Tak lupa memberi salam dang Ngeeeeeeng…..melesat dengan motorku yang berwarna biru, Miowati.

Oh, ya, aku juga bekerja sebagai penyiar radio di salah satu radio swasta yang ada di kota Mataram. Rasanya belum pantas saja menyebut diri penyiar radio, soalnya aku masih baru dan harus terus belajar apalagi jam terbang siaranku belum terlalu banyak jadi aku pikir aku masih perlu banyak latihan dan kerja keras untuk bisa menyandang predikat “Penyiar Radio”. Tujuanku ke Radio sebenarnya bukan untuk siaran, tapi ada tugas yang memang harus aku selesaikan dan sekaligus berlatih biar lebih mantap di ruang produksi.

Aku melewati sebuah toko baju yang lumayan besar. Warna cat bangunan toko itu berwarna kuning terang dan terletak persis di belakang Mataram Mall, Mall satu-satunya yang ada di Mataram. Tanpa pikir panjang, aku tiba-tiba saja berhenti dan menatap toko itu secara seksama. Tampak samar-samar dari luar, ibu-ibu sedang memilih-milih baju di dalamnya. Seorang tukang parkir meniupkan peluit dan memberikan isyarat kepadaku untuk segera memarkirkan kendaraanku karena beberapa orang hendak melewati tempat aku memberhentikan motor biruku.

Aku mendapati diriku sedang berdiri tepat di depan toko baju itu. Entah dari mana datangnya, suara-suara musik surgawi terdengar berkumandang di telingaku. Pintu toko itu terlihat bercahaya menyilaukan dan tiba-tiba terbuka lebar berikut di iringi gadis-gadis cantik berseragam seksi dan bersayap melambai-lambaikan tangannya ke arahku. Mereka tersenyum manis kepadaku. Seperti sebuah upacara penyambutan tamu agung. Aku melangkah perlahan memasuki toko itu dengan terpana. Guguran Confetti dan pita warna warni serta tepuk tangan riuh para gadis berseragam seksi itu mengiringiku hingga ke dalam.

2013-08-12-15-43-39_deco

“Ada yang bisa saya bantu, mas?” Sapaan SPG berponi menyadarkanku. Ia tersenyum. Bulu hidungnya menjulur keluar.

“Emm…nggak..nggak ada, mbak, terimakasih.” Kataku terbata-bata. Telingaku terasa panas. Aku merasa salah tingkah. Apa sih yang aku lakukan di sini? Gumamku dalam hati.

“Ya, mas kelihatannya kebingungan makanya saya sapa. Eh, ya, kita banyak koleksi baru loh, nggak mau liat-liat dulu?”

“Lain kali aja ya, mbak, saya buru-buru soalnya.” Aku melesat meninggalkan SPG berbulu hidung lebat itu.

Lima detik melangkah hendak keluar dari toko itu, ada sesuatu yang mencuri perhatianku. Sebuah kaus berwarna merah darah terpampang gagah dikenakan oleh sebuah Manequin. Suara musik surgawi kembali bergema di telingaku. Manequin itu terlihat berkilau di mataku. Aku berjalan perlahan dengan mata berbinar mendekati boneka kayu yang terlihat sangat keren itu. Terbayang olehku, bagaimana jika aku yang mengenakannya, pasti akan terlihat keren juga.

“Huwaaahhhhh……..” Desahku terpana.2013-08-12-15-40-18_decoAku meraba kaus merah itu. Kainnya terasa halus dan lembut. Terasa dingin di kulit. Lagi pula di bagian bawah kaus itu, terdapat corak garis-garis diagonal berwarna kelabu menambah kesan mewah dan berkelas. Makin ke bawah, garis kelabu itu berubah menjadi hitam pekat.

“Belilah…belilah…belilah…” Suara lirih keluar dari Manequin yang tiba-tiba bergerak di hadapanku. Asal tahu saja, Manequin putih tak berwajah ini tidak mengenakan celana, rok atau sejenisnya. Para karyawan toko ini tega sekali. Pfftt….!!

“Tapi…” Aku tak melanjutkan kata-kataku. Otakku memikirkan hal-hal lain yang lebih penting dari sekedar membeli sebuah baju kaus.

“Itu bisa dipikirkan lain waktu, sekarang pikirkanlah apa yang ada di hadapanmu saat ini,” Dia berjalan mengitariku dengan langkah keren seperti berjalan di catwalk yang berkilau. Boneka kayu tak bercelana itu lalu membisikiku, “Ini saatnya kau memanjakan diri. Berikan reward pada dirimu sendiri karena telah bekerja keras selama ini. Bekerja siang dan malam tanpa lelah, keringat mengucur deras membasahi tubuh dan hey, sepertinya tubuhmu terlihat berisi, kamu keren sekali!”

“Emm…itu..beberapa bulan ini aku rutin ke Gym, ya tau sendiri lah.” Aku tersipu malu. Telingaku memanas.

Ia menjentikkan jarinya yang kurus, “Cocok sekali, bayangkan jika kaus merah yang aku pakai sekarang ini ada di tubuhmu. Lihat cermin itu!” Pundakku dipegang erat kedua tangannya dan menghadapkanku ke arah cermin yang ada di belakangnya.

“Aura kekerenanmu akan terpancar. Kamu akan terlihat memesona. Dazzling! Dazzling boy ever was born!!!”

2013-08-12-15-51-12_deco

Benar juga pikirku. Tidak salah aku menyandang “Dazzling DJ” ketika on air di radio. Paling tidak nama itu akan tidak berakhir sebagai sebuah nama belaka. Ternyata aku benar-benar dazzling. Aku masih terpana menatap bayanganku sendiri di cermin.

Tapi tunggu dulu. Aku tidak membawa uang cash. Apa sebaiknya aku batalkan saja niatku membeli kaus merah ini. Lagi pula kata-kata Manequin aneh itu terlalu delusional. Aku mulai mendadak menyadarinya.

“Keputusan ada di tangan kamu, coba lihat pintu di sebelah sana.”

Musik surgawi terdengar kembali mengalun indah diikuti taburan confetti berwarna-warni menghujaniku. Kotak berwarna biru yang ditunjukkan oleh Manequin tak bercelana itu terlihat berkilauan seakan-akan memanggilku untuk segera digunakan. Aku tak kuasa menahan langkah kakiku yang terus saja berjalan slow motion sekaligus dramatis mendekati mesin ATM tersebut. Air mataku mengalir deras. Menangis bahagia. Perasaan ini persis seperti ketika kamu berada di tengah padang pasir kemudian menemukan sebuah Oasis yang siap menghilangkan dahagamu. Ah, bahagianya.

2013-08-12-15-47-31_deco

***

Ada banyak hal yang memang tidak pernah kita rencanakan bisa saja tiba-tiba terjadi. Dalam case ini, membeli sesuatu yang tidak terlalu penting–bahkan tidak pernah direncanakan sama sekali—sering sekali terjadi ketika berjalan-jalan ke Mall, Departement Store atau pusat-pusat perbelanjaan lainnya. Niat hati hanya ingin sekedar cuci mata malah jadi ajang shoping tak terencana. Dan biasanya, ketika menyadari hal tersebut yang ada hanyalah penyesalan. Untuk itu, kita tidak cuma harus berpikir dua kali tapi berkali-kali ketika melihat sesuatu yang menggoda tapi tak terlalu dibutuhkan. Ada baiknya sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu yang tidak terlalu penting, untung ruginya harus dipikirkan terlebih dahulu agar tidak menyesal di kemudian hari. Intinya kita harus lebih bijak mengambil keputusan dan tidak terseret-seret oleh nafsu delusional belaka.

2013-08-12-15-48-52_deco

Iklan