Rindu Mentari


Aku masih ingat kapan hujan yang beberapa minggu ini selalu hadir pertama kali turun. 15 Oktober 2013 bertepatan dengan hari raya Idul Adha saat di mana hujan pertama kali menyirami Lombok. Bukan yang pertama di tahun 2013, tapi hujan pertama setelah sebelumnya cerah ceria. Sejak saat itu sampai detik ini, hujan terus mengguyur Lombok setiap harinya, seingatku, sih. Jadi terasa seperti tinggal di Forks, tempat tinggal Edward Cullen di serial Twilight. Dingin dan lembab sampai-sampai tas ransel laptop–padahal tidak memiliki laptop sama sekali–yang berwarna hitam mulai memutih dan tampak abu-abu karena di tumbuhi jamur alias bulukan.

Musim hujan di Lombok biasanya identik dengan musim jamur. Tidak hanya jamur yang tumbuh di pakaian atau di kulit tapi jamur liar yang tumbuh di kebun atau persawahan yang ada di sekitar tempat tinggalku. Aku tinggal di sebuah dusun bernama Menjeli tepatnya di desa Peteluan Indah yang berkecamatan di Lingsar, Lombok Barat NTB. Ketika masih SD dulu, aku dan teman-teman biasanya mencari jamur ketika musim hujan. Tapi tunggu dulu, aku dulu sempat percaya bahwa jamur yang sering kami konsumsi itu tercipta dari laron. Karena biasanya ketika musim hujan pada malam harinya banyak laron mengerubungi lampu-lampu di setiap rumah yang menandakan musim jamur akan segera datang. Kata orang-orang laron itu bersarang di dalam tanah dan berubah menjadi jamur. Aku percaya saja. Dasar anak-anak. Sampai akhirnya, aku mengerti bahwa jamur itu terbentuk dari sebuah kayu yang menjadi sarang para laron tersebut, CMIIW. Kami biasanya berangkat mencari jamur sebelum matahari terbit. Sebenarnya kapan saja bisa hanya saja kami takut orang lain menemukan jamur-jamur tersebut lebih dahulu sehingga mencari jamur di pagi buta adalah sebuah kebiasaan. Ketika kami berhasil menemukan jamur di suatu tempat, maka tempat tersebut akan kami lindungi dengan cara menutupnya dengan semak-semak atau dedaunan agar sulit ditemukan orang. Jamur tumbuh bergerombol, tidak hanya tumbuh sekali dan selesai. Besok, lusa atau beberapa hari ke depan akan tumbuh banyak jamur di tempat yang sama dan kemudian kami kenal dengan istilah “Balean” yang bisa diartikan sebagai rumah atau sarang dari jamur tersebut (Bale=Rumah). Untuk itulah sedapat mungkin kami menyembunyikan sarang tersebut dari jangkauan orang lain agar sulit ditemukan dan hanya kami saja yang tahu mengingat jamur tersebut tumbuh liar dan bisa diambil oleh siapa saja yang menemukannya pertama kali.

Rindu Mentari

Rindu Mentari

Manusia memang makhluk paling aneh di muka bumi ini. Keinginannya terlalu banyak dan tak pernah puas. Ketika musim panas, rindu akan aroma segar tanah ketika hujan usai dan ketika musim hujan, rindu akan hangatnya mentari. Seperti saat ini, hujan terus menerus mengguyur daerahku tanpa henti. Bisa dikatakan tanpa henti karena hampir setiap hari dengan durasi yang lama. Hujan ringan tetapi awet. Banyak orang bilang lebih memilih hujan deras tapi singkat dari pada hujan ringan tapi awet. Apa pun itu tergantung bagaimana menyikapinya saja. Panas membuatku rindu akan hujan dan ketika hujan membuatku rindu akan mentari.

Banyak orang yang menginginkan kebahagian tanpa melalui penderitaan tapi kamu tidak akan bisa melihat pelangi tanpa adanya hujan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: