Maukah Kau Jadi Pacarku?


Suasana kelasku cukup sunyi mengingat pelajaran saat itu digurui oleh guru berkepala botak yang sangat terkenal killer. Kau tidak perlu tahu namanya. Bukan karena aku malas menyebutkannya tapi alasan lupa lebih tepat. Kita sebut saja guru berkepala botak. Ia mengajar kimia, salah satu pelajaran yang paling tidak aku sukai termasuk Fisika dan Sosiologi. Sangat membosankan. Kadang aku kebanyakan menguap di sepanjang pelajaran apalagi hari ini padahal aku berencana menembak salah satu teman sekelasku.

Bukan cinta yang sebenarnya. Hanya paksaan. Hanya perasaan iri kepada teman-teman yang telah memiliki pacar. Hanya perasaan jengkel dicibir teman-teman karena tidak mempunyai pacar. Aku cuma ingin membuktikan kalau aku juga bisa memiliki pacar seperti yang lain. Masalah cinta dan tidak itu urusan belakangan yang penting ketika orang bertanya kepadaku, “Udah punya pacar belum?” Maka dengan bangganya aku akan menjawab, “Udah dong!!!”

Semangat.

Aku telah mengatur strategi jauh-jauh hari sebelumnya bahwa saat ini adalah saat di mana aku akan melancarkan strategi tersebut. Aku telah mempersiapkan tempat dudukku bersebelahan dengannya. Oh ya, sebut saja namanya Mawar. Gadis bertubuh kurus-pendek-hitam dan sangat suka mendaramatisir suasana. Wajahnya juga kusam dan sering terlihat muram.Oke. Cukup. Benar-benar bukan tipeku. Kalau mau aku deskripsikan tipe cewek idamanku itu harus memiliki rambut panjang yang lurus. Berbulu mata lentik. Senyum yang menawan dan tubuh yang proporsional. Singkatnya tipe cewek idamanku harus cantik secara, aku, Reyhan, cukup tampan dan sangat tidak adil kalau aku sampai mendapatkan cewek jelek. Tapi apa daya, mungkin aku terlalu sombong sampai tidak ada yang tertarik padaku dan harus melakukan hal bodoh ini demi mendapat predikat “pacaran”.

Oke, kelasku makin sunyi. Hanya terdengar suara coretan-coretan ballpoint di atas kertas masing-masing. Aku merasakan keringat dingin mengucur deras di punggungku. Aku mulai menarik napas yang dalam dan ingin segera melancarkan strategi penembakan. Sebelumnya, aku memperhatikan guru berkepala botak itu sedang menulis di papan tulis. Baiklah. Sekaranglah saatnya.

“Hey.” sapaku lirih sambil menyenggol siku kanannya dengan siku kiriku. Mataku yang cemerlang masih menatap kilauan kepala guru botak itu.

“Hey.. aku? Oh. Hm. Hey.” jawabnya terdengar gugup namun terlihat sok imut.

Oh my god. Aku merasa payah sekali. Jantungku mulai berdebar sangat kencang. Sekujur tubuhku terasa memanas. Keringat bercucuran.

“Kamu udah punya pacar belum?” mataku tak menatapnya

“Belum. Kenapa?”

“Wah, sama dong. Aku… aku juga belum punya pacar.”

Oh my god. Apa yang sedang aku lakukan? Perasaan ini aneh sekali. Aku merasa sangat bodoh.

“So?” tanya Mawar dengan mata sedikit mau keluar. Ia mengerinyitkan dahinya dengan unik. Cewek ini sangat aneh pikirku.

“Mau nggak kamu jadi pacarku?” aku mengucapkan kalimat itu dengan cepat tapi lirih.

Mawar terdiam. Matanya melotot hebat. Wajahnya memucat. Pandangannya terlihatย kosong. Seolah ia telah melihat penampakan setan yang sangat menyeramkan.ย Guru berkepala botak itu sesekali melihat ke arah kami

“Kamu kenapa?” tanyaku dengan suara super lirih dengan mata menatap lurus ke depan. dan sesekali melirik cepat ke kiri dan ke kanan. Bibirku pun seolah tak bergerak karena guru botak itu masih melihat ke arah kami.

“Kau menginjak kakiku, Rey!” bentaknya dengan ekspresi yang sama denganku.

Aku sedikit lega karena guru itu tidak melihat ke arah kami. Percakapan kami masih melirih dengan tatapan mata awas kalau-kalau ada yang memperhatikan kami.

“Mawar, aku serius.”

“Hawyeah? Aku kan jelek, hitam dan pendek kulitku juga kusam dan kadang muram.”

Wow! Sepertinya dia bisa membaca pikiranku.

“Bukan begitu, Oke, baiklah aku jujur. Kita bisa mencoba sebuah hubungan yang lebih serius kan…”

“Itu cinta..?” Mawar memotong perkataanku. “Kalau kamu cuma ingin dapat predikat pacaran doang, kamu salah orang. Aku sadar diri kalau aku ini jelek dan nggak menarik. Ini penghinaan buatku. Kamu tega banget, Rey.”

Ya. Aku semakin yakin gadis ini bisa membaca pikiranku dan sangat berlebihan.

“Ayolah, kita kan bisa jalanin dulu.”

“Kamu kok maksa sih? Aku nggak suka dipkasa. Rey, nggak selamanya pacaran itu enak apalagi maksa kayak gini. Ada yang bilang cuma cinta sejati yang bisa meluluhkan hati yang beku. Boro-boro cinta sejati yang kamu bawa cuma paksaan ya hatiku makin beku lah. Coba kamu belajar lebih ikhlas menerima kenyataan sekaligus jujur pada diri sendiri dan kelak ketika cinta sejati itu datang menghampirimu barulah kau mendekatiku. And now leave me alone.”

Aku tertegun sejenak mendengar kata-katanya yang memang mendramatisir.

“Ayolah…”

“LEAVE ME!!!”

Mawar berteriak kencang dan dramatis. Kemudian hening. Seketika semua mata menatap ke arahku. Kilauan kepala guru botak itu berpendar. Bola matanya nampak berapi-api seperti mata harimau yang siap menerkam mangsanya. Suara telanan ludahku terdengar lantang. Dan apa yang terjadi berikutnya adalah aku harus menyelesaikan soal kimia di depan kelas yang tak kumengerti sama sekali.

Dalam diam aku memikirkan kembali kata-kata yang diucapkan Mawar.

Apes bener.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: