Maukah Kau Jadi Pacarku?


Suasana kelasku cukup sunyi mengingat pelajaran saat itu digurui oleh guru berkepala botak yang sangat terkenal killer. Kau tidak perlu tahu namanya. Bukan karena aku malas menyebutkannya tapi alasan lupa lebih tepat. Kita sebut saja guru berkepala botak. Ia mengajar kimia, salah satu pelajaran yang paling tidak aku sukai termasuk Fisika dan Sosiologi. Sangat membosankan. Kadang aku kebanyakan menguap di sepanjang pelajaran apalagi hari ini padahal aku berencana menembak salah satu teman sekelasku.

Bukan cinta yang sebenarnya. Hanya paksaan. Hanya perasaan iri kepada teman-teman yang telah memiliki pacar. Hanya perasaan jengkel dicibir teman-teman karena tidak mempunyai pacar. Aku cuma ingin membuktikan kalau aku juga bisa memiliki pacar seperti yang lain. Masalah cinta dan tidak itu urusan belakangan yang penting ketika orang bertanya kepadaku, “Udah punya pacar belum?” Maka dengan bangganya aku akan menjawab, “Udah dong!!!”

Semangat.

Aku telah mengatur strategi jauh-jauh hari sebelumnya bahwa saat ini adalah saat di mana aku akan melancarkan strategi tersebut. Aku telah mempersiapkan tempat dudukku bersebelahan dengannya. Oh ya, sebut saja namanya Mawar. Gadis bertubuh kurus-pendek-hitam dan sangat suka mendaramatisir suasana. Wajahnya juga kusam dan sering terlihat muram.Oke. Cukup. Benar-benar bukan tipeku. Kalau mau aku deskripsikan tipe cewek idamanku itu harus memiliki rambut panjang yang lurus. Berbulu mata lentik. Senyum yang menawan dan tubuh yang proporsional. Singkatnya tipe cewek idamanku harus cantik secara, aku, Reyhan, cukup tampan dan sangat tidak adil kalau aku sampai mendapatkan cewek jelek. Tapi apa daya, mungkin aku terlalu sombong sampai tidak ada yang tertarik padaku dan harus melakukan hal bodoh ini demi mendapat predikat “pacaran”.

Oke, kelasku makin sunyi. Hanya terdengar suara coretan-coretan ballpoint di atas kertas masing-masing. Aku merasakan keringat dingin mengucur deras di punggungku. Aku mulai menarik napas yang dalam dan ingin segera melancarkan strategi penembakan. Sebelumnya, aku memperhatikan guru berkepala botak itu sedang menulis di papan tulis. Baiklah. Sekaranglah saatnya.

“Hey.” sapaku lirih sambil menyenggol siku kanannya dengan siku kiriku. Mataku yang cemerlang masih menatap kilauan kepala guru botak itu.

“Hey.. aku? Oh. Hm. Hey.” jawabnya terdengar gugup namun terlihat sok imut.

Oh my god. Aku merasa payah sekali. Jantungku mulai berdebar sangat kencang. Sekujur tubuhku terasa memanas. Keringat bercucuran.

“Kamu udah punya pacar belum?” mataku tak menatapnya

“Belum. Kenapa?”

“Wah, sama dong. Aku… aku juga belum punya pacar.”

Oh my god. Apa yang sedang aku lakukan? Perasaan ini aneh sekali. Aku merasa sangat bodoh.

“So?” tanya Mawar dengan mata sedikit mau keluar. Ia mengerinyitkan dahinya dengan unik. Cewek ini sangat aneh pikirku.

“Mau nggak kamu jadi pacarku?” aku mengucapkan kalimat itu dengan cepat tapi lirih.

Mawar terdiam. Matanya melotot hebat. Wajahnya memucat. Pandangannya terlihat kosong. Seolah ia telah melihat penampakan setan yang sangat menyeramkan. Guru berkepala botak itu sesekali melihat ke arah kami

“Kamu kenapa?” tanyaku dengan suara super lirih dengan mata menatap lurus ke depan. dan sesekali melirik cepat ke kiri dan ke kanan. Bibirku pun seolah tak bergerak karena guru botak itu masih melihat ke arah kami.

“Kau menginjak kakiku, Rey!” bentaknya dengan ekspresi yang sama denganku.

Aku sedikit lega karena guru itu tidak melihat ke arah kami. Percakapan kami masih melirih dengan tatapan mata awas kalau-kalau ada yang memperhatikan kami.

“Mawar, aku serius.”

“Hawyeah? Aku kan jelek, hitam dan pendek kulitku juga kusam dan kadang muram.”

Wow! Sepertinya dia bisa membaca pikiranku.

“Bukan begitu, Oke, baiklah aku jujur. Kita bisa mencoba sebuah hubungan yang lebih serius kan…”

“Itu cinta..?” Mawar memotong perkataanku. “Kalau kamu cuma ingin dapat predikat pacaran doang, kamu salah orang. Aku sadar diri kalau aku ini jelek dan nggak menarik. Ini penghinaan buatku. Kamu tega banget, Rey.”

Ya. Aku semakin yakin gadis ini bisa membaca pikiranku dan sangat berlebihan.

“Ayolah, kita kan bisa jalanin dulu.”

“Kamu kok maksa sih? Aku nggak suka dipkasa. Rey, nggak selamanya pacaran itu enak apalagi maksa kayak gini. Ada yang bilang cuma cinta sejati yang bisa meluluhkan hati yang beku. Boro-boro cinta sejati yang kamu bawa cuma paksaan ya hatiku makin beku lah. Coba kamu belajar lebih ikhlas menerima kenyataan sekaligus jujur pada diri sendiri dan kelak ketika cinta sejati itu datang menghampirimu barulah kau mendekatiku. And now leave me alone.”

Aku tertegun sejenak mendengar kata-katanya yang memang mendramatisir.

“Ayolah…”

“LEAVE ME!!!”

Mawar berteriak kencang dan dramatis. Kemudian hening. Seketika semua mata menatap ke arahku. Kilauan kepala guru botak itu berpendar. Bola matanya nampak berapi-api seperti mata harimau yang siap menerkam mangsanya. Suara telanan ludahku terdengar lantang. Dan apa yang terjadi berikutnya adalah aku harus menyelesaikan soal kimia di depan kelas yang tak kumengerti sama sekali.

Dalam diam aku memikirkan kembali kata-kata yang diucapkan Mawar.

Apes bener.

Iklan

Unplanned


Aku terbangun di suatu siang dengan jantung berdebar kencang karena melihat jam di dindingku yang bercat putih telah tampak menguning menunjukkan pukul 10 pagi. Aku bangkit dari tempat tidurku dan langsung melipat selimutku dengan sangat cepat. Mungkin karena telah terbiasa, lipatan selimutnya terlihat rapi meski dilipat secara terburu-buru. Alas tidurku yang terdiri dari 3 lapisan, tikar yang terbuat dari pandan terletak paling bawah lalu ditengah-tengah, kasur lipat dari kapuk berwarna merah marun yang merupakan pemberian tetangga sebelah dan yang terakhir tikar plastik berwarna biru dengan gambar putri duyung berhasil kugulung dengan sigap. Hari ini, hari Jumat, adalah jadual liburku. Saatnya bersantai dan membuang jauh-jauh hal-hal yang menyangkut pekerjaan. Kadang hal ini bisa merusak mood-ku. Pintar-pintarnya aku saja bagaimana supaya tak memikirkannya. Sehari dalam seminggu. Please stop think about it!

Friday is my free day, begitulah status mingguanku yang biasanya aku tulis di jejaring sosial seperti Twitter atau Facebook. Pada dasarnya, aku ingin sekali do nothing di hari bebasku seperti ini tapi apa mau dikata, selalu saja ada yang harus diselesaikan. Seperti hari ini misalnya, aku telah berjanji beberapa hari yang lalu dengan mama kalau hari ini aku harus membantunya menggiling padi. Jangan bayangkan aku harus menumbuk padi di lesung pagi-pagi buta kemudian ayam berkokok yang sukses membuat para jin lari tunggang langgang. Dramatis.

“Kamu udah janji sama mama kemarin.”

“Ya, ma, Adun ingat, tapi Adun harus pergi ke Radio dulu sebentar buat ngambil sesuatu.”

“Kamu cuma nganter ke pabrik sebentar aja kok, nggak ribet.”

“Ma, tempat penggilingan padi itu bukan pabrik, tapi biasanya disebut Heler dan itu pun salah seharusnya disebut Huller. Kadang kalau sudah salah kaprah begini agak susah buat dibenerin. Lagian siapa aku gitu loh mau lurusin salah kaprah yang udah tersebar luas di masyarakat. Dan satu hal lagi ma, pabrik itu sebuah tempat yang bisa membuat suatu produk, misalnya pabrik sepatu, pabrik baju…”

“Ah, udahlah,” mama memotong pembicaraanku, “mau Huller kek, mau Heler kek atau meler sekalian bodo amat, yang penting kamu harus udah ada di rumah jam 12, titik!”

“Baiklah, aku pergi dulu, sudah terlambat nih.” Aku mencium tangan dan memeluk tubuh mama yang gemuk. Tak lupa memberi salam dang Ngeeeeeeng…..melesat dengan motorku yang berwarna biru, Miowati.

Oh, ya, aku juga bekerja sebagai penyiar radio di salah satu radio swasta yang ada di kota Mataram. Rasanya belum pantas saja menyebut diri penyiar radio, soalnya aku masih baru dan harus terus belajar apalagi jam terbang siaranku belum terlalu banyak jadi aku pikir aku masih perlu banyak latihan dan kerja keras untuk bisa menyandang predikat “Penyiar Radio”. Tujuanku ke Radio sebenarnya bukan untuk siaran, tapi ada tugas yang memang harus aku selesaikan dan sekaligus berlatih biar lebih mantap di ruang produksi.

Aku melewati sebuah toko baju yang lumayan besar. Warna cat bangunan toko itu berwarna kuning terang dan terletak persis di belakang Mataram Mall, Mall satu-satunya yang ada di Mataram. Tanpa pikir panjang, aku tiba-tiba saja berhenti dan menatap toko itu secara seksama. Tampak samar-samar dari luar, ibu-ibu sedang memilih-milih baju di dalamnya. Seorang tukang parkir meniupkan peluit dan memberikan isyarat kepadaku untuk segera memarkirkan kendaraanku karena beberapa orang hendak melewati tempat aku memberhentikan motor biruku.

Aku mendapati diriku sedang berdiri tepat di depan toko baju itu. Entah dari mana datangnya, suara-suara musik surgawi terdengar berkumandang di telingaku. Pintu toko itu terlihat bercahaya menyilaukan dan tiba-tiba terbuka lebar berikut di iringi gadis-gadis cantik berseragam seksi dan bersayap melambai-lambaikan tangannya ke arahku. Mereka tersenyum manis kepadaku. Seperti sebuah upacara penyambutan tamu agung. Aku melangkah perlahan memasuki toko itu dengan terpana. Guguran Confetti dan pita warna warni serta tepuk tangan riuh para gadis berseragam seksi itu mengiringiku hingga ke dalam.

2013-08-12-15-43-39_deco

“Ada yang bisa saya bantu, mas?” Sapaan SPG berponi menyadarkanku. Ia tersenyum. Bulu hidungnya menjulur keluar.

“Emm…nggak..nggak ada, mbak, terimakasih.” Kataku terbata-bata. Telingaku terasa panas. Aku merasa salah tingkah. Apa sih yang aku lakukan di sini? Gumamku dalam hati.

“Ya, mas kelihatannya kebingungan makanya saya sapa. Eh, ya, kita banyak koleksi baru loh, nggak mau liat-liat dulu?”

“Lain kali aja ya, mbak, saya buru-buru soalnya.” Aku melesat meninggalkan SPG berbulu hidung lebat itu.

Lima detik melangkah hendak keluar dari toko itu, ada sesuatu yang mencuri perhatianku. Sebuah kaus berwarna merah darah terpampang gagah dikenakan oleh sebuah Manequin. Suara musik surgawi kembali bergema di telingaku. Manequin itu terlihat berkilau di mataku. Aku berjalan perlahan dengan mata berbinar mendekati boneka kayu yang terlihat sangat keren itu. Terbayang olehku, bagaimana jika aku yang mengenakannya, pasti akan terlihat keren juga.

“Huwaaahhhhh……..” Desahku terpana.2013-08-12-15-40-18_decoAku meraba kaus merah itu. Kainnya terasa halus dan lembut. Terasa dingin di kulit. Lagi pula di bagian bawah kaus itu, terdapat corak garis-garis diagonal berwarna kelabu menambah kesan mewah dan berkelas. Makin ke bawah, garis kelabu itu berubah menjadi hitam pekat.

“Belilah…belilah…belilah…” Suara lirih keluar dari Manequin yang tiba-tiba bergerak di hadapanku. Asal tahu saja, Manequin putih tak berwajah ini tidak mengenakan celana, rok atau sejenisnya. Para karyawan toko ini tega sekali. Pfftt….!!

“Tapi…” Aku tak melanjutkan kata-kataku. Otakku memikirkan hal-hal lain yang lebih penting dari sekedar membeli sebuah baju kaus.

“Itu bisa dipikirkan lain waktu, sekarang pikirkanlah apa yang ada di hadapanmu saat ini,” Dia berjalan mengitariku dengan langkah keren seperti berjalan di catwalk yang berkilau. Boneka kayu tak bercelana itu lalu membisikiku, “Ini saatnya kau memanjakan diri. Berikan reward pada dirimu sendiri karena telah bekerja keras selama ini. Bekerja siang dan malam tanpa lelah, keringat mengucur deras membasahi tubuh dan hey, sepertinya tubuhmu terlihat berisi, kamu keren sekali!”

“Emm…itu..beberapa bulan ini aku rutin ke Gym, ya tau sendiri lah.” Aku tersipu malu. Telingaku memanas.

Ia menjentikkan jarinya yang kurus, “Cocok sekali, bayangkan jika kaus merah yang aku pakai sekarang ini ada di tubuhmu. Lihat cermin itu!” Pundakku dipegang erat kedua tangannya dan menghadapkanku ke arah cermin yang ada di belakangnya.

“Aura kekerenanmu akan terpancar. Kamu akan terlihat memesona. Dazzling! Dazzling boy ever was born!!!”

2013-08-12-15-51-12_deco

Benar juga pikirku. Tidak salah aku menyandang “Dazzling DJ” ketika on air di radio. Paling tidak nama itu akan tidak berakhir sebagai sebuah nama belaka. Ternyata aku benar-benar dazzling. Aku masih terpana menatap bayanganku sendiri di cermin.

Tapi tunggu dulu. Aku tidak membawa uang cash. Apa sebaiknya aku batalkan saja niatku membeli kaus merah ini. Lagi pula kata-kata Manequin aneh itu terlalu delusional. Aku mulai mendadak menyadarinya.

“Keputusan ada di tangan kamu, coba lihat pintu di sebelah sana.”

Musik surgawi terdengar kembali mengalun indah diikuti taburan confetti berwarna-warni menghujaniku. Kotak berwarna biru yang ditunjukkan oleh Manequin tak bercelana itu terlihat berkilauan seakan-akan memanggilku untuk segera digunakan. Aku tak kuasa menahan langkah kakiku yang terus saja berjalan slow motion sekaligus dramatis mendekati mesin ATM tersebut. Air mataku mengalir deras. Menangis bahagia. Perasaan ini persis seperti ketika kamu berada di tengah padang pasir kemudian menemukan sebuah Oasis yang siap menghilangkan dahagamu. Ah, bahagianya.

2013-08-12-15-47-31_deco

***

Ada banyak hal yang memang tidak pernah kita rencanakan bisa saja tiba-tiba terjadi. Dalam case ini, membeli sesuatu yang tidak terlalu penting–bahkan tidak pernah direncanakan sama sekali—sering sekali terjadi ketika berjalan-jalan ke Mall, Departement Store atau pusat-pusat perbelanjaan lainnya. Niat hati hanya ingin sekedar cuci mata malah jadi ajang shoping tak terencana. Dan biasanya, ketika menyadari hal tersebut yang ada hanyalah penyesalan. Untuk itu, kita tidak cuma harus berpikir dua kali tapi berkali-kali ketika melihat sesuatu yang menggoda tapi tak terlalu dibutuhkan. Ada baiknya sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu yang tidak terlalu penting, untung ruginya harus dipikirkan terlebih dahulu agar tidak menyesal di kemudian hari. Intinya kita harus lebih bijak mengambil keputusan dan tidak terseret-seret oleh nafsu delusional belaka.

2013-08-12-15-48-52_deco

Lampion Merah dan 7 Penari


Lampion Merah

Lampion Merah

Aku seolah tidak sadar dengan apa yang aku lakukan sekarang. Yang aku tahu, aku sekarang berada di tempat yang tak aku kenali sama sekali. Bagaimana bentuknya, ada apa saja di sekitarku, aku tak mampu mendeskripsikannya. Sekelilingku gelap gulita. Satu-satunya yang menjadi sumber peneranganku hanya Lampion Merah berbentuk bundar.

Aku tak tahu harus melangkah kemana. Aku berjalan tanpa tujuan. Orang itu hanya membekaliku dengan Lampion Merah ini. Katanya, Lampion Merah ini bukan sekedar Lampion biasa. Cahaya yang berpendar di dalamnya bukanlah berasal dari api, tapi dari berlian. Dia memberiku tugas untuk membawa benda ini dan menjaganya karena aku memiliki permohonan yang akan segera dikabulkan kalau aku berhasil menyelesaikan tugas ini.

Masalahnya, aku tak tahu tugasnya seperti apa. Dia hanya memerintahkanku untuk membawa Lampion Merah ini entah membawanya kemana. Begitu aku tersadar, aku hanya mendapati diriku berada di sebuah tempat gelap yang hanya diterangi oleh Lampion Merah ini.

Sebaiknya aku terus berjalan dari pada aku hanya diam tak melakukan apa pun, siapa tahu aku menemukan jalan keluar. Aku harus berhasil menyelesaikan tugas ini demi permohonanku itu. Aku tak boleh takut, karena ketakutan tak akan membawaku kemana-mana sampai aku berani melawan ketakutan itu sendiri, kataku dalam hati untuk menyemangati diriku sendiri dengan quote dari seorang penulis terkenal.

Berlian? Lampion Merah ini berisi berlian? Entah berlian apa ini sampai bisa memendarkan cahaya begini. Orang itu memang sedikit misterius, apalagi setelah aku tinggal bersamanya, banyak keanehan yang aku alami. Aku semakin yakin kalau orang itu tidak cuma sekedar peramal biasa, dia penyihir. Dia banyak tahu tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia lain. Dia juga punya banyak sekali benda-benda mistis yang sangat tidak masuk akal. Salah satunya, ya Lampion Merah yang konon berisi Berlian ini. Dia juga menjelaskan padaku, Benda ini sangat disukai oleh Iblis. Mereka akan melakukan apa saja untuk bisa mendapatkan berlian ini. Dan tugasku adalah menjaganya.

Aku akhirnya tersadar ketika mengingat penjelasan orang itu. Sejak awal aku berjalan di tempat gelap ini, ada yang mengikutiku. Begitu aku menoleh ke belakang sambil mengangkat Lampion Merah itu sebagai penerangan, aku melihat 7 sosok misterius.

“Iblis!!!”

7 sosok misterius itu mulai mengelilingiku dengan gerakan yang sangat rumit. Bukan, ini bukan gerakan biasa, mereka menari. Samar-samar aku mendengar alunan musik yang sangat indah. Entah dari mana datanganya, aku hanya terdiamn sambil menyaksikan 7 sosok misterius yang sedang menari dengan gerakan-gerakan lentur.

Mereka bernyanyi.

Matahari bersinar terang seperti berlian

Bukan berlian biasa

Tahukah kamu berlian sejatinya

Tercipta dari sinar matahari yang bersinar terang seperti berlian

Tercipta dari benda-benda yang pertama kali diterpa

Sinar matahari yang terang seperti berlian

Ketika kehidupan pertama kali diciptakan

Cahaya pertama yang menerpanya

Menjadikannya berlian

Matahari bersinar terang seperti berlian

Tiba-tiba tubuh 7 sosok misterius itu memendarkan cahaya yang menyilaukan mata. Samar-samar aku melihat salah satu dari mereka melayang mendekatiku dan mengambil Lampion Merah itu dari tanganku. Aku tak bisa melawan, tubuhku terasa kaku.

“Tunggu, jangan ambil Lampionku, aku tak bisa pulang.”

Mereka melayang menjauhiku sambil membawa Lampion Merahku.

Mereka bernyanyi lagi.

Dia memberimu apa yang kau inginkan

Padahal tak kau butuhkan

Atau

Dia memberi apa yang kau butuhkan

Padahal tak kau inginkan

Sadarlah

Dan pulanglah

Ada sejuta cinta tersebar

Mereka melayang semakin jauh sampai hanya terlihat hanya tinggal sebuah titik cahaya yang perlahan menghilang.

Gelap.

Dan aku telah gagal menyelesaikan tugas itu. Iblis telah mengambil Lampion Merahku. Orang itu pasti tidak akan mau mengabulkan permohonanku.

Lia R


Lia Rahmawati nama lengkap gue. Umur gue 19 tahun, tapi bohong. Sekarang gue bekerja di sebuah perusahaan sebagai CS. Customer Service? Itu harapan gue, apa daya gue cuma lulusan SMA jadi hanya hampu menjadi CS yang lain, Cleaning Service.

Gue kadang jengkel sama hidup gue sendiri. Gue merasa apa yang gue harap-harapkan nggak pernah terkabul. Gue berprestasi. Dari SD sampai tamat SMA, gue mendapatkan beasiswa. Tapi sayang, gue gagal mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah gue ke jenjang yang lebih tinggi. Pintar di sekolah tidak menjamin lo bakal hidup sukses di masa depan. Tidak ada dukungan dari orang-orang terdekat dan pada akhirnya gue jadi seorang CS, Cleaning Service.

“Lia! Lo kerja di mana sekrang?” tanya seorang teman SMA gue yang secara tidak sengaja bertemu di jalan.

“Gue kerja di salah satu perusahaan di bidang telekomunikasi, jadi Customer Service gitu”.

Gue Bohong.

“Hebat banget lo, kalau nggak salah, lo kan cuma lulusan SMA, kok bisa sih dapat posisi bagus gitu?”

Sumpah, gue ingin sekali meninju mukanya.

“Yang terpenting sih kejujuran, biar kata lo cuma lulusan SMA, kalau lo jujur dan bertanggung jawab, why not lo nggak bisa kerja di tempat bagus. Terus lo sekarang gimana?”

“Gue hepi banget tauk, gue udah keterima di kantor perpajakan.”

What??? Beruntungnya hidup lo.

“Eh, ya gue juga lagi di rekomendasikan loh sama atasan gue buat jadi manager, secara hasil kerja gue kan memuaskan banget. Apalagi beberapa bulan gue sering banget dapet gelar Customer Service Of The Month yang hadiahnya bisa jalan-jalan ke Aussie, LA, Paris gitu”.

Gue bohong.

“Wah…lo hebat banget. Eh, ya gue pergi dulu ya, bye”.

Menerima kenyataan bahwa orang lain lebih sukses dari pada lo itu seperti menelan pil pahit dan meminum seliter empedu. Mengapa gue tidak seperti mereka? Padahal gue udah berusaha mati-matian buat mewujudkan cita-cita gue. Ini tidak adil. Tuhan tidak adil.

Meskipun gue cuma sebagai Cleaning Service, gue tidak pernah ketinggalan segala sesuatu yang menjadi trend. Fashion, Music, Film, Gadget dan lain-lain. Gue bakal selalu berpenampilan oke di mana saja. Gue enggan terlihat melarat meski kenyataannya demikian. Padahal beberapa benda kesukaan gue sebagian besar adalah kreditan.

“Permisi mbak, saya dari majalah fashion ingin mewawancarai mbak sebentar”.

“Oh, silakan”

“Sepertinya mbak sangat perhatian sekali dengan penampilan”.

“Pastinya, penampilan adalah nomer satu buat saya. Saya tidak akan segan-segan mengeluarkan dana besar demi berpenampilan menarik. Selain menambah percaya diri, orang-orang juga akan senang memperhatikan kita”.

“Boleh tahu budget yang dikeluarkan, mbak”

“Saya pikir akan terlalu berlebihan untuk menyebutkan berapa nominalnya, tapi paling tidak saya biasa menghabiskan budget sekitar delapan digit-an lah”.

Gue bohong.

“Waw, pantas saja mbak terlihat modis sekali”.

Asal tahu saja, make-up gue kreditan tinggal 2 kali, sepatu gue kreditan tinggal 15 kali apalagi tas gue belum pernah gue setor sekali pun karena memang baru saja gue kredit.

Gue bertemu dengan teman SMA gue yang lain.

“Hei, Lia! apa kabar? Lo tahu nggak, gue bentar lagi nikah!” Serunya sambil memamerkan tangannya yang salah satu jarinya berhiaskan cincin berlian.

DAMN!!! Boro-boro nikah, pacar saja gue tidak punya. Cincin berliannya bagus banget. Beruntungnya nasib lo.

“Wah, selamat ya. Cowok gue sebenarnya ngajakin nikah bulan kemarin, tapi gue nolak”

“Loh, kenapa?”

“Cowok gue kan kerja sebagai direktur di salah satu perusahaan telekomunikasi gitu, tapi gue agak bingung, soalnya gue juga punya cowok lain yang profesinya sebagai Pilot, nah gue bingung buat nentuin pilihan yang mana”.

Gue bohong.

“Buseettt…!! Lo hebat banget! Cowok lo tajir-tajir semua, kenalin gue satu apa”

“Hmm..beberapa bulan lalu juga gue sempet jalan-jalan sama cowok gue yang jadi Pilot ke Paris, gila romantis banget! Pulangnya dari Paris gue malah diajakin ke LA sama cowok gue yang direktur. Belum lagi ada yang coba deketin gue, dia seorang dokter loh, cakep!”

Gue bohong.

“Ya ampun, lo beruntung banget. Eh, gue pergi dulu ya, ntar sambung kapan-kapan. Bye”.

Entah mengapa, ritual berbohong telah menjadi kebiasaan gue. Ada semacam keasyikan tersendiri ketika menceritakan sesuatu yang impressive. Dengan wajah berbinar-binar dan semangat berapi-api menceritakan kesuksesan yang hanya masih berupa khayalan belaka.

Gue tidak tahu, gue bakal berbohong sampai kapan.

Berikut obrolan-obrolan seru gue yang juga penuh dengan kebohongan.

“Eh, Lia, lo tahu serial Glee nggak? Itu loh serial musikal yang tayang tiap minggu di TV, Buset ini serial kece cetar membahana badai halilintar ulala terpampang nyata!!”

“Tahu dong, eh, denger-denger di season berikutnya bakal nampilin Agnes Monica loh”

Gue bohong. Gue sedang mencari perhatian.

“Serius???”

“Beneran, gue kan punya saluran khusus yang nayangin langsung serialnya, jadi gue tahu banyak lebih dulu dari lo yang cuma nonton di TV biasa”

“Wah…lo hebat banget!! Kapan-kapan ajak gue nginep dong di rumah lo biar bisa nonton bareng.”

“Sip”.

Boro-boro channel luar negeri, TV layar hitam putih aja gue tidak punya.

Gue kadang sering mendengar cibiran-cibiran orang yang suka membicarakan gue tentang kebohongan-kebohongan gue. Entah di jalan, di kantor dan di mana saja. Cuma gue berusaha untuk tetap cuek dan tak memedulikannya.

“Eh si itu ya, ngakunya masih umur 19, padahal udah 27 tahun”

“Masa sih? kan keliatan banget ya mukanya udah bukan kayak ABG lagi”

“Eh, dia bukannya seorang perawat?”

“Bukan, dia kan ngakunya sebagai Wartawati”

“Masa sih? Kemaren ngakunya jadi Model”

“Pacarnya kan Pilot, pantes banyak duit”

“Salah, pacarnya bukannya Dokter apa Manager gitu”

“Ah, sudahlah”.

Suatu hari, di kantor tempat gue bekerja, gue sedang sibuk membersihkan kaca jendela di sebuah ruangan yang terletak di lantai 13. Kemudian terjadi sebuah keributaan seorang karyawati yang kehilangan cincin berlian yang diberikan oleh pacarnya.

“Aduh gawat banget, kalau sampai pacar saya tahu cincin itu hilang, pertunangan saya akan dibatalkan”.

“Kok bisa hilang sih?”

“Saya juga tidak tahu, tadi saya berdiri di sekitar jendela itu,” karyawati itu menujuk ke arah gue “masih ada, tapi nggak tahu gimana bisa hilang, pertunangan gue bakal hancur”. Karyawati itu mulai menangis. Seisi kantor mulai heboh berusaha untuk menenangkan karyawati tersebut. Beberapa orang berusaha membantu mencari di setiap sudut ruangan itu.

“Tadi sepertinya saya melihat sesuatu di dekat jendela” kata gue asal. Semua pandangan orang-orang di kantor itu tertuju ke arahku. Hening. Gue bohong. Tak ada apa-apa yang gue liat. Gue hanya mencoba mencari perhatian. Bayangkan saja kalau gue benar-benar menemukan cincin itu.

“Tadi mbak sempat berjalan ke arah sana kan? Coba diingat-ingat lagi”

“Ya, benar” katanya dengan suara bergetar

Gue lalu berpura-pura melihat sesuatu di sekitar jendela kaca kantor itu.

“Eh itu dia!” Kata gue dengan lantang. Gue berpura-pura tergopoh-gopoh untuk mendekati benda imajinasi gue. Gue gugup, gue membayangkan kalau benar itu adalah cincin berlian karyawati itu dan ketika gue semakin mendekati jendela kaca itu, tanpa sengaja kaki kanan gue tersandung oleh kaki kaki kiri gue sendiri.

Gue tersungkur.

Tubuh gue berdebam keras pada jendela kaca itu. Yang gue dengar hanya teriakan dan suara kaca jendela yang pecah. Tubuh gue melayang keluar jendela dan terjatuh.

Gue bohong sekali, lalu gue sadar bahwa lebih mudah berbohong untuk kedua dan ketiga kali sampai akhirnya menjadi kebiasaan gue.

Sekali gue bohong, maka gue harus melindungi kebohongan gue dengan kebohongan yang lain, begitupun kebohongan selanjutnya, sampai pada akhirnya gue menjadi pembohong yang tidak tahu lagi mana yang benar.

May my soul burn in hell.

Gue bohong.

Ocha


Namaku Ocha. Gadis biasa saja. Biasa sendiri. Biasa menyendiri. Pokoknya biasa saja, tak ada yang spesial, menurutku, tapi entahlah orang berpikir apa tentangku, aku tak peduli.

Rambutku hitam dan bergelombang tapi tidak keriting. Kadang aku jengkel ketika aku mendengar ada yang mendeskripsikanku dengan ciri-ciri rambut keriting. Rambut keriting dan bergelombang jelas berbeda tapi kadang selalu disama-samakan. Sama halnya dengan menyebut nama Afif, jelas-jelas huruf F dan P itu berbeda tapi orang-orang tak peduli, Afif dan Apip sama saja, sebuah nama. Afif, aku mengerti apa yang kamu rasakan ketika ada orang yang memanggilmu Apip.

Orang-orang menganggapku aneh. Mereka bilang, aku tak seperti gadis remaja kebanyakan. Aku terlalu banyak menyendiri, diam dan mengurung diri. Oke, aku memang aneh, aku akui hal itu, tapi ada sesuatu yang mereka tak ketahui. Mereka memandangku sebagai gadis aneh karena enggan bergaul dengan lingkungan sekitar. Tapi bukan itu. Ada hal yang jauh lebih rumit dari sekedar bersosialisasi. Aku terkutuk.

“Ketika usiamu genap 13 tahun, orang-orang yang mencintaimu akan meninggalkanmu selamanya. Menjauhlah, menyendirilah dan jangan membuat ikatan apa pun dengan siapa pun kalau kau tak mau kecewa”.

Kemudian Ibuku menutup matanya. Selama-lamanya. Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan olehnya tepat di hari ulang tahunku yang ke-13. Sejak saat itu, aku mulai berpikir untuk menjauhi semua hal karena aku takut terjadi sesuatu dengan orang-orang yang aku sayangi, termasuk Afif.

Afif adalah sahabatku dari kecil. Hobinya membaca buku. Dia kerap mengunjungiku hanya untuk sekedar bercerita tentang buku apa saja yang telah ia baca. Tak habis setelah itu, dia akan mereview buku tersebut dari A-Z tentang kelebihan, kerurangan sekaligus design covernya. Saya pikir, dia akan menjadi pencerita yang hebat kelak ketika memperhatikan bagaimana ekspresi dan mimik wajahnya waktu bercerita.

Afif terlalu baik padaku. Dia tak pernah peduli apa pun tentang perkataan orang terhadapku yang menganggap aku adalah gadis aneh. Bukannya aku tidak suka. Aku hanya teringat kalimat ibuku. Bagaimana kalau Afif suatu saat suka padaku. Ah, aku terlalu percaya diri, bagaimana mungkin ada orang yang suka pada gadis aneh sepertiku. Atau jangan-jangan justru aku yang suka padanya. Aku tersenyum. Jangan, kumohon. Tapi siapa tahu.

Di suatu masa hiduplah seorang wanita yang sedang hamil tua. Sejak mengetahui dirinya hamil, ia berencana untuk menggugurkannya. Tetapi, wanita itu selalu gagal melakukannya sampai perutnya semakin membesar. Meski begitu, sampai detik-detik kelahiran bayinya ia masih terus berusaha untuk menggugurkannya.

Hingga suatu malam datanglah seorang wanita cantik menghampiri wanita yang sedang hamil itu.

“Bayi yang ada di dalam perutmu adalah bayi kutukan. Sekeras apa pun usahamu untuk membunuhnya, dia akan tetap hidup. Tapi sayang, dia tercipta tanpa cinta, maka dia juga akan hidup tanpa cinta. Kasihan sekali, orang-orang yang mencitainya akan menjadi korban kutukan itu.

Lahirlah seorang bayi perempuan. Saat itu juga, perasaan benci kepada bayi itu mendadak sirna. Ia begitu menyayangi bayi perempuan itu meski ia sadar bahwa hal tersebut akan membuatnya menjadi tumbal kutukan.

“Bagaimana menurutmu cerita ini, Cha?” tanya Afiif

“Hmm…bisa kau ulangi lagi?”

“Jadi kau tidak menyimaknya? Padahal sejak tadi aku bercerita dengan bersemangat” Afif melototi wajah Ocha.

“Maafkan aku, aku hanya sedang memikirkan sesuatu”.

“Yah, aku pikir buku ini juga tidak terlalu menarik. Bagaimana mungkin manusia bisa hidup tanpa cinta. Sangat tidak masuk akal”.

“Tapi, bagaimana kalau hal itu benar-benar terjadi di kehidupan nyata?”

“Hmmm…” Afif terdiam sejenak, “Tenang saja, ternyata di buku ini diceritakan kalau kutukan itu ada penawarnya. “Bila ada orang yang mau berkorban demi gadis itu, maka kutukan itu akan sirna”, begitu kira-kira kalimat wanita misterius yang ada di buku.

“Endingnya?”

“Aku belum selesai membacanya, hehe..” Afif cengengesan.

Ocha mendekati Afif. Sangat dekat, sampai wajah mereka hampir bersentuhan. Tangan kanannya menyentuh dagu Afif.

“Kau ingin tahu endingnya seperti apa? Seorang pemuda bodoh mengorbankan jiwanya demi gadis itu”.

The Name Of Umbridge


Aku dikejutkan oleh sebuah kejadian yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya siang itu. Di siang hari yang panas aku menemukan sesosok manusia gemuk dan pendek berbaju pink yang ternyata adalah seorang perempuan. Ia begitu kotor. Mukanya penuh dengan warna hitam coreng moreng. Aku berusaha sekuat tenaga untuk memindahkannya dari tempat itu sampai menuju ke gubuk reotku. Namaku Riadun. Umurku baru saja menginjak 19 tahun. Aku hidup seorang diri tanpa tahu silsilah keluargaku. Yang aku tahu hanyalah namaku. Aku berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Tapi aku punya tempat yang paling sering aku tempati. Sebuah gubuk di pinggiran Hutan Terlarang. Kecil tapi begitu nyaman. Aku tak sempat bersekolah di Hogwarts. Karena suatu alasan yang aku tak mengerti ternyata aku memiliki kemampuan sihir hanya saja aku tak pernah mengasahnya. Pernah suatu ketika, saat ulang tahunku yang ke 11, entah kenapa lilin-lilin yang ada di sebuah toko di Diagon Alley menyala dengan sendirinya begitu aku melintas. Lilin-lilin itu tak bisa padam. Aku begitu ketakutan saat itu lalu melarikan diri. Aku tak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi sampai aku tahu ternyata aku memang memiliki kemampuan sihir.

Tapi semua telah terlambat. Umurku kini telah melewati batas sehingga tak bisa belajar di Hogwarts. Seharusnya di titik ini aku telah lulus dari sekolah sihir paling keren itu. Aku juga ingin bertemu langsung dengan Harry Potter. Anak laki-laki yang bertahan hidup.

Wanita itu terbangun. Matanya yang besar dan bundar sedikit menonjol beberapa kali berkedip. Ia tampak seperti Kodok dengan wajah yang lebar dan bergelambir. Kulitnya memang pucat. Itu terlihat jelas ketika aku selesai membersihkan wajahnya yang kotor.

“Ehem..ehem..dimana ini?” Mulutnya yang lebar dan kendur mulai bertanya. Suaranya nyaring dan kekanak-kanakkan. Ia menoleh ke arahku.

“Kamu siapa? Dimana mahkluk setengah Kuda itu? Aku begitu jijik dengan mereka”.

Aku hendak mendekatinya untuk menyuruhnya tenang.

“Tunggu! Siapa kamu? Kamu jangan macam-macam denganku. Asal tahu saja, aku adalah Dolores Umbridge. Kepala sekolah Hogwarts. Berani melangkah, kau akan berurusan dengan kementrian”.

Aku lalu menjelaskan semua kejadian yang menimpanya ketika ia tak sadarkan diri. Dan ini sangat keren. Ternyata dia adalah kepala sekolah Hogwarts. Suatu keberuntungan bisa bertemu orang hebat seperti Dolores Umbridge. Tapi, kemana Dumbledore? Apa yang terjadi sehingga posisinya diganti oleh wanita ini?

Ketik hendak menanyakan hal itu, Dolores Umbridge lalu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dari penuturannya, wanita ini terlihat begitu setia pada kementrian yang kini sedang dipimpin Cornelius Fudge. Entah kenapa, aku merasa begitu nyaman ketika berada di dekatnya. Apalagi setelah ia memutuskan untuk mengajariku sihir. Beberapa waktu yang lalu aku pergi ke toko Mr.Ollivander di Diagon Alley untuk membeli sebuah tongkat sihir setelah Mrs.Umbridge–aku kini diharuskan memanggilnya Mrs.Umbridge setelah sebelumnya aku memanggilnya Bibi–memberiku beberapa Galleon.

“Kayu Limau dengan inti bulu Unicorn, empat belas seperempat inci, dan sangat lentur cocok untukmu” kata Mr.Ollivander dengan tatapan kosong ke arahku ketika membeli tongkat sihir pertamaku.

Mrs.Umbridge begitu tegas dan disiplin dalam mendidikku. Ia memang kejam tapi aku menyukai itu. Paling tidak bisa menjadi cambuk untuk tetap fokus pada apa yang sedang aku kerjakan. Tak heran, tanganku penuh dengan luka-luka dari pena yang tintanya benar-benar meresapi kulitku setelah menerima hukuman darinya akibat lalai dari tugas yang ia berikan. Mrs. Umbridge juga menceritakan bagaimana ia menghukum Harry Potter dengan hukuman yang sama karena telah melakukan kebohongan besar dengan mengatakan Kau-Tahu-Siapa telah kembali. Aku pikir hukuman itu pantas diterima Harry Potter. Ia seharusnya tidak membuat kebohongan publik yang meresahkan seluruh dunia. Setelah mendengar hal ini, aku jadi kehilangan respect kepada Harry Potter. Ternyata ia tak sekeren seperti yang dikatakan orang-orang. Harry Potter tak ubahnya seorang pembual kelas kacangan yang mengandalkan ketenarannya untuk memengaruhi dan membohongi publik.

Selain itu, Mrs.Umbridge juga menceritakan kepadaku bahwa sebelumnya ia ditugaskan menjadi guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam tapi dengan misi terselubung yang ia susun dengan Cornelius Fudge, ia membuat berbagai macam perubahan. Cornelius Fudge begitu takut jika Dumbledore bertindak lalu menggulingkan posisinya di Kementerian.

“Mrs. Umbridge..”

“Ehem..ya..”

“Kalau ..misalnya aku masuk Hogwarts, kira-kira aku masuk asrama apa?” Tanyaku malu-malu.

“Slytherin, sudah pasti”. Jawab Mrs.Umbridge dengan suara nyaring.

Slytherin? Padahal aku berharap masuk Hufflepuff tapi itu tak jadi masalah. Aku pikir Slytherin adalah asrama yang tak kalah keren.

“STUPEFY!!!” lantangku sambil mengarahkan tongkat sihiku pada sebuah batu yang kini telah meledak dan berubah menjadi abu.

“ehem..kau begitu hebat menggunakan mantera ini” puji Mrs.Umbridge

Setelah itu pun mantera Stupefy menjadi mantera andalanku.

Di lain kesempatan Mrs. Umbridge mulai mengajariku bagaimana cara membuat Patronus. Pada awalnya aku begitu kesulitan sampai akhirnya aku tahu bagaimana cara membuatnya. Dengan memikirkan hal-hal yang sangat membahagiakan maka Patronus yang muncul akan makin sempurna.

“Expecto Patronum!” teriakku. Dari ujung tongkatku muncul sinar keperakan membentuk sebuah kreatur. Kreatur berbentuk ikan. Oh tidak, itu berbentuk manusia. Dan ternnyata bukan. Itu adalah bentuk dari Mermaid. Putri Duyung. Aku biasanya memikirkan bagaimana aku dididik oleh Mrs.Umbridge untuk menciptakan Patronus yang sempurna. Perasaanku ketika memikirkan hal ini begitu bahagia sehingga yang muncul pada akhrnya Patronus sempurna.

Pada akhirnya aku semakin dekat dengan Mrs.Umbridge. Aku merasakan ikatan yang kuat dengannya. Aku merasa bahwa ia adalah ibuku yang telah hilang. Apalagi setelah ia mengganti namaku dan memberikan namanya menjadi nama belakangku, Riadunezious Umbridge.

Di lain hari aku akhirnya memanggilnya dengan sebutan mom. Meski ia kejam, ia telah banyak melakukan hal untukku. Terimakasih mom Dolores Umbridge.

Riadunezious Jane Umbridge.

RR


Akhirnya aku memutuskan untuk memainkannya. Dengan perlahan dan sangat hati-hati tanganku meraih pistol itu lalu menarik pelatuknya. Dengan moncong pistol tepat diatas pelipisku, aku mulai menghitung sampai tiga. Kurasakan keringat di tubuhku mengucur deras tapi memang tak ada waktu untuk berfikir lagi karena inilah giliranku.

DORRRRRRR!!!!

Briwish


Aku dibombardir oleh puluhan pertanyaan yang belum sempat ku jawab siang itu. Biasa, pertanyaan klasik. Pertanyaan mengenai sudah atau belumkah aku memiliki seorang kekasih. Jujur, aku memang belum memiliki pacar sampai detik ini. Selama 18 tahun menjomblo tanpa pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang pacar. Aku hanya pernah merasakan indahnya jatuh cinta ketika aku masih duduk di bangku SD. Tapi apakah itu benar-benar cinta yang sesungguhnya atau hanya cinta monyet belaka? Entahlah. Tapi aku pikir itu adalah cinta pertamaku. Cinta yang belum sempat aku utarakan. Perasaan unik yang menggetarkan jiwaku kala aku melihat wajah gadis itu untuk pertama kalinya. Perasaan yang belum sempat aku utarakan hingga kini. Sampai saat inipun perasaan itu tak pernah berubah meski aku telah bertahun-tahun berpisah dengannya. Oke, kali ini aku takkan membahas tentang gadis yang kusebut sebagai cinta pertamaku itu.

Sekarang aku bingung bagaimana cara keluar dari masalah ini.Asal tahu saja, beberapa hari lagi akan diadakan acara pawai untuk memperingati hari kemerdekaan negara kami yang diadakan rutin setiap tahunnya. Tradisi di kota Purtown adalah seluruh penduduk kota akan mengadakan pawai besar-besaran berkeliling kota dengan Bundaran Clove sebagai finishnya. Bundaran Clove adalah sebuah taman di tengah kota Purtown yang terletak di pusatnya. Ditengah-tengah bundaran tersebut tumbuh sebuah pohon Briwish yang sangat besar dan telah berumur ratusan tahun. Pohon Briwish di kota Purtown merupakan salah satu pohon tertua yang konon dipercaya mampu mengabulkan permohonan sejak berabad-abad yang lalu. Bahkan ada yang mengatakan kalau pada zaman dahulu kayu dari pohon yang memiliki akar gantung ini dipakai sebagai bahan pembuat tongkat sihir dan mampu mengabulkan permohonan hanya dengan mengikat akarnya. Dan khusunya anak-anak muda sepertiku–yang masih single–akan berlomba-lomba mencari pasangan untuk diajak dalam pawai tersebut dan bila kau berhasil mengajak pasangan dalam pawai sampai Bundaran Clove serta mengikatkan akarnya, kau akan berjodoh dengannya. Katanya. Kedua bola mataku akan berputar setiap mendengar cerita ini. Syukur-syukur ada yang mau diajak olehku. Tapi aku takut. Aku belum pernah dating sekalipun. Aku benar-benar pengecut.

Di sekolahku banyak terdapat gadis cantik padahal. Banyak pilihan. Kau akan merasa seperti pembeli sayuran ketika menengok ke kelasku, ada banyak gadis manis dan segar yang aku yakin akan membuat padanganmu menjadi fresh seketika. Si Llea misalnya, gadis berkulit putih dengan rambut panjang dan lurus seperti habis dicrembath yang bila ia tersenyum akan membuat es abadi mencair. Lain lagi dengan Michele dan Rachel, duo kembar yang selalu menjadi pusat perhatian disetiap langkahnya. Mungkin aku hanya terlalu menganggap hal ini begitu sulit. Padahal aku sering berkata pada diriku sendiri bahwa masing-masing orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengungkapkan perasaan kepada orang disukainya. Lagipula orang bilang aku memiliki paras yang tak terlalu jelek tapi satu hal yang sangat aku takutkan:Penolakan. Ya, takut ditolak padahal belum mengungkapkan perasaan. Sungguh pengecut.

“Bagaimana kalau kau mengajak Bebo?” Saran Bill, teman sekelasku yang berambut ikal dengan wajah kotak.

“Bebo? Si muka tembok? Aku tak bisa membayangkan jika aku mengajaknya. Bisa-bisa bedaknya menempel di wajahku saat kami berciuman. Gadis yang menor.”

Bill tertawa hebat sambil memegang perutnya.

“Bagaimana dengan Lylo?”

“Lylo sebenarnya gadis yang manis, tapi aku tak tahan dengan kutu rambutnya. Ia juga suka sekali mengibas-ngibaskan rambutnya dimana-mana.”

Bill kembali terbahak begitu melihatku menirukan gaya Lylo yang sedang mengibaskan rambut.

“Aku sudah memutuskan akan mengajak Cindy.”

“Apa? Gadis hitam dan pendek itu?”

Bill tak kuasa menahan tawanya lagi.

Pelajaran Matematika dimulai. Pelajaran yang kurang aku sukai. Selain membosankan, gurunya juga menyebalkan. Dia selalu memberi kami PR yang banyak. Untuk itu pada kesempatan yang membosankan ini, aku akan mengatakan keinginanku pada Cindy, gadis yang dulu pernah suka padaku.

Beberapa waktu lalu Cindy pernah menyatakan cintanya padaku tapi ku tolak. Bukannya sok atau apa, tapi bila kau diharuskan menjalani hubungan yang kau sendiri tak memiliki rasa sedikitpun aku lebih baik mati dari pada harus berpura-pura menyukainya. Itu akan sangat menyakitkan hati seorang gadis. Makanya aku lebih memilih untuk menolaknya.

Seperti yang telah aku rencanakan, aku duduk tepat disamping Cindy. Guru matematikaku sibuk menerangkan pelajaran yang tak aku mengerti. pikiranku melayang entah kemana. Antara deg-degan, takut, dan mulut terkunci rapat tanpa tahu harus memulai dari mana. Mataku memandang ke arah papan tulis dan sesekali melirik ke arah Cindy dengan cepat. Aku berusaha mencari saat yang tepat untuk memulainya. Setiap kali mulutku mulai terbuka, bola mata guruku mengarah kepadaku. Membuatku seakan ingin mengurungkan niatku ini. Ya, dan aku mulai berkeringat. Aku mulai merasakan aliran keringat dingin membasahi punggungku.

“Cindy, ma..maukah kau err..pergi denganku di pawai tahun ini?” Ucapku terbata-bata.

Dan apa yang terjadi selanjutnya adalah aku tiba-tiba saja berada di depan papan tulis harus segera menyelesaikan soal yang tak ku mengerti sama sekali.

Sial!

Hari itu tiba. Salah satu perayaan terbesar dan termegah tahun ini. Semua orang di kota Purtown bersuka cita menyambutnya. Berbagai macam kostum warna-warni bertebaran hampir di sepanjang jalan. Tak lupa bendera kebangsaan berkibar di setiap sudut kota . Dan yang paling menyenangkan adalah Cindy ternyata menerima ajakanku. Dia kini telah siap dengan kostum gadis super berjilbab putih seperti serial drama fantasi D’Jilbabs yang memang sedang trend belakangan ini. Aku pun tak mau kalah. Aku mengenakan kostum ala Sorbanokishi, pemuda super berjubah dengan sorban berkalung di lehernya yang juga terdapat dalam serial fantasi D’Jilbabs. Aku sengaja memakai kostum ini agar terlihat lebih serasi dengan Cindy.

Bill mengenakan kostum Tuxedo bertopeng seperti dalam serial kartun yang sangat digemari pacaranya, Jessie. Mereka juga terlihat begitu serasi apalagi Bill terlihat begitu pas dengan setelan Tuxedo hitamnya.

Kami mulai berjalan bergandengan dengan pasangan masing-masing diiringi oleh musik Kecimol, musik tradisional di kota Purtown. Dengan 4 buah Tambur besar dan 6 drum kecil yang ditabuh berirama sesuai dengan lagu yang sedang didendangkan. Mereka berjalan dengan dua baris dimana dua penabuh Tambur berada paling depan diikuti 6 orang penabuh drum kecil dibelakangnya dan diurutan terakhir berdiri 2 penabuh Tambur yang tersisa. Tepat di belakang barisan itu seorang penyanyi perempuan berambut keriting sedang mendendangkan sebuah lagu dengan riang gembira. Di kedua sisi jalan banyak penduduk kota berjejer menyaksikan pawai yang sedang berlangsung. Beberapa anak tertawa senang sambil menaburkan Confetti berwarna-warni ke angkasa menambah semarak pawai sore itu.

Aku hanya tersenyum melihat keindahan yang hanya bisa disaksikan sekali setahun itu tanpa menghiraukan Cindy yang sejak awal terus menggelayut digandenganku dengan wajah cemberut tak terurus. Siapa peduli. Asal aku terlihat seperti memiliki pasangan menurutku sudah cukup. Si pengecut yang jahat.

Dan apa yang aku lihat berikutnya adalah pemandangan yang sangat mencengangkan. Bundaran Clove terlihat begitu megah dengan berbagai macam hiasan khas hari kemerdekan. Dan yang paling menarik perhatianku adalah pohon Briwish. Pohon itu sangat besar dan tinggi. Akar gantunngnya yang lebat telah dihias sedemikian rupa dengan lampu-lampu warna warni persis seperti pohon natal. Terdapat banyak pita yang juga berwarna-warni di setiap akar gantung itu. Pita-pita tersebut pastilah ikatan-ikatan harapan sang pengikatnya. Aku memang jarang berkunjung ke tempat ini ya paling tidak sekali setahun. Tapi entah kenapa saat ini aku seperti melihat pemandangan yang belum pernah ku lihat sebelumnya.

Tanpa sadar aku melepaskan tangan Cindy yang masih bergelayut dan melangkah lebih dekat ke arah akar gantung yang penuh oleh orang-orang yang berusaha mengikatkan pita harapan mereka. Seorang anak laki-laki mendekatiku dan menawariku untuk membeli Pitanya.

Aku mulai memegang akar gantung pohon Briwish. Melihatnya dengan seksama dan sesekali menciuminya.

“Apa benar?” Gumamku lirih. Ada semacam dorongan perasaan tak percaya berkecamuk dipikiranku selama ini. Dan aku pikir hal ini tak ubahnya hanya sebuah mitos belaka.

“Ikat saja, siapa tahu benar-benar terjadi.” Ucap seseorang di belakangku yang ternyata adalah Bill dan Jessie.

“Kami juga telah mengikatkan harapan kami pada pohon Briwish ini,” sesaat Bill dan Jessie saling memandang “..dan harapan itu akan menjadi nyata karena kami percaya. Begitu juga denganmu, asal kau percaya asa itu akan menjadi nyata maka hal itu pasti benar-benar terjadi.”

Terdiam sejenak berusaha mencerna ucapan Bill, aku memejamkan mataku. Jari jemariku mulai mengikat pita berwarna kuning pada akar gantung pohon Briwish seraya menyebutkan keiinginanku dalam hati. Dan ketika aku membuka kedua kelopak mataku, aku melihat sosok seorang gadis dengan rambut panjang persis dihadapanku.

“Anna..” Ucapku lirih. Jantungku mendadak berdegup kencang.

“Keith..” Anna tertawa renyah dengan ekspresi sedikit terkejut ketika ia melihatku. Wajahnya terlihat merona.

Kami bertatapan dalam diam. Saling menatap dengan salah tingkah tak tahu harus memulai dari mana.

Hari mulai gelap. Lampu-lampu warna warni pada pohon Briwish mulai menyala. Sebentar lagi kembang api akan dinyalakan. Dengan perasaan canggung aku mulai memecah kesunyian di antara kami.

“Err..bagaimana kabarmu?”

“Baik…kamu?” Anna balas menanyaiku. Wajahnya kembali terlihat merona. Ia tersenyum.

“Ya seperti yang kau lihat, hanya saja aku tak kunjung gemuk. Tetap seperti 6 tahun lalu.”

“Oh ya, kau datang dengan siapa?”

“Oh..aku..aku dengan teman sekelas..beramai-ramai. Kamu?” Aku berbohong. Aku berusaha menyamarkan kegugupanku.

“Aku datang dengan seseorang, namanya George. Tapi entahlah, sejak tadi dia pergi entah kemana.” Anna terlihat menoleh beberapa kali ke sekelilingnya memastikan apakah George ada dekitar sana.

Ada perasaan kecewa membuncah di dadaku.

“Hei lihat, kembang apinya.” Kataku menunjuk kearah langit yang kini dihiasi kilatan warna warni memukau. Wajah ana terlihat terpesona menyaksikannya.

“Indah sekali.” Gumam Anna tanpa mengalihkan pandanganya dari pendaran cahaya kembang api di langit.

Seorang laki-laki bertubuh tinggi mendekat ke arah kami, Sedikit lebih gemuk dibandingkan denganku.

“Anna, ini sudah malam. Sebaiknya kita..Hey! Siapa laki-laki ini?” Ucap laki-laki itu sinis sambil menatap ke arah ku.

“George! Dia..dia temanku..Mr.K!” Ucap Anna dengan nada sedikit membentak.

“Oh, sorry. George.” Ekspresi wajah George memancarkan keterkejutan sambil mengulurkan tangannya.

“Keith.” Balasku seraya meraih uluran tangannya.

“Sepertinya aku harus ke toilet, sejak tadi perutku terasa sedikit mulas.” Ucap Anna yang kemudian berlari menuju Toilet terdekat.

Aku bingung harus memulai pembicaraan dengan George. Beberapa menit yang lalu ada perasaan takut ketika ia tiba-tiba saja muncul dan memergoki kami berdua melihat kembang api kemudian cemburu. Awalnya aku pikir dia akan menghatam wajahku dengan tangannya yang terlihat lebih besar dari tanganku.

“Jadi kamu Mr.K, ah tidak, maksud aku Keith.” Ucapnya memulai pembicaraan.

“Tunggu dulu, Mr.K? Apa maksudnya?”

George terdiam sejenak.

“Kau terlalu membuang banyak waktu Mr.K, kau bahkan tak pernah menyadarinya. Bertahun-tahun yang lalu ketika kalian selalu bersama.”

“Aku tak mengerti?”

“Aku sangat menyayangi Anna, dia sepupuku. Dia juga begitu dekat denganku. Dia seperti adik kandungku. Kau tahu, sejak kepindahannya 6 tahun lalu, dia terus saja menceritakan segala hal tentangmu. Dari awal perjumpaan kalian, persahabatan kalian, semuanya. Sampai ia tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Ia jatuh cinta padamu Mr.K. Tidakkah kau menyadarinya?”

Bertepatan dengan kalimat terakhir George, terdengar suara ledakan kembang api yang kemudian memancarkan cahaya warna-warni di langit. Aku terdiam tak percaya atas apa yang dikatakannya. Jantungku berdegup kencang. Ada perasaan aneh muncul di sekujur tubuhku.

“Di hari perpisahan kalian, ia masih menunggumu. Menunggumu untuk mengatakannya. Tapi sayang Anna tak mendapatkannya. Ia sempat kecewa dan berusaha melupakan semuanya tapi ia tak mampu. Dan aku tahu pasti harapannya untuk sekedar bertemu dengan Mr.K yang ia ikatkan pada pohon Briwish telah terkabul. Ikatan itu akan segera terbuk karena permohonan telah terkabul.” George memandang Pohon Briwish yang dipenuhi lampu warna warni dan pendaran kembang api. “Kumohon Mr.K.” Wajahnya terlihat memelas.

Apa ini? Aku merasa begitu bodoh. Aku begitu pengecut. Hanya karena takut akan penolakan aku sampai tak menyadari ternyata bertahun-tahun yang lalu cintaku berbalas. Cintaku pada gadis yang selama ini diam-diam aku sukai yang juga ternyata diam-diam menyukaiku. Cintaku pada gadis yang selalu memikirkanku sepanjang waktu. Ada semacam dorongan semangat yang entah datangnya dari mana. Jantungku berdebar makin kencang.

Tanpa berpikir panjang lagi, aku berlari mencari Anna ke Toilet, namun tak menemukannya. Di beberapa sudut Bundaran Clove yang ramai juga ia tak tampak. Sampai aku melihatnya berdiri bersama kerumunan orang-orang di bawah pohon Briwish.

“Anna!” Kataku sambil berlari mendekatinya. Ia menoleh lalu tersenyum. Aku berusaha mengatur napasku yang ngos-ngosan karena berlari mengitari Bundaran Clove yang luas untuk mencarinya.

“Aku..aku..aku cinta padamu.” Kata-kata itu keluar begitu saja dengan lepas di sela napasku yang belum teratur.

DUARRR!!! Kembang api yang menurutku dengan suara paling dahsyat saat itu terdengar bertepatan usai aku mengutarakan perasaanku pada Anna.

Anna tertegun memandangi wajahku yang penuh keringat dengan ekpresi terkejut.

“Apa? Aku tak mendengarnya. Coba ulangi lagi dengan relax.” Anna terlihat sedikit histeris. Bola matanya terlihat berkaca-kaca.

“Oke. Tunggu sebentar.” Aku menarik napas beberapa kali berusaha untuk menstabilkan napasku. “Aku cinta padamu.”

Serta merta Anna memeluk tubuhku dengan erat. Aku melepaskannya. “Kau belum menjawabnya”.

“I love you too!!!” Anna berteriak histeris dan memelukku kembali.

Tanpa kami menghiraukan pendaran kembang api yang memukau di angkasa kami berciuman.

Ketakutan akan suatu hal tak akan membawamu kemana-mana sampai kamu mau mencoba melawan ketakutan itu sendiri.

Harapan itu terikat bersama akarnya dan ketika harapan itu terkabul, saat itu pula ikatan itu akan terbuka.

END.

Ballet : The Dangerous Dance


Malam dingin kala itu bertiup angin sepoi yang membuat bulu kuduk berdiri. Langit terlihat hitam pekat tanpa secercah cahaya.beberapa pohon di rumah tetangga sebelah bergoyang asyik tanpa henti karena belaian angin. Sepertinya akan turun hujan malam ini pikirku.
“pet..!!!”
“oh ..sial mati lampu”
Suasana kamarku makin gelap. Angin sepoi yang serasa menusuk tulang terus berhembus melalui jendela kamarku yang kemudian aku tutup dengan susah payah karena untuk melakukannya aku harus meraba-raba.
“jduk..!!!”
“aw..!!!”ibu jari kakiku terantuk sesuatu.
”korek api dimana sich?”
Sambil terus meraba-raba tembok mencari jalan keluar tiba-tiba telingaku menangkap alunan suara musik,musik klasik. Seperti ada yang memainkan piano,merdu sekali
“teno ..neno..nenong..genjreng..”seperti itulah aku menggambarkan suaranya. Aku menemukan gagang pintu dan segera keluar kamar dengan tangan yang terus meraba-raba.aku seolah menjadi buta. Pandanganku blank.
Suara musik itu terdengar makin jelas,makin dekat,dan makin nyata.
Aku melihat sebuah pintu terbuka yang didalamnya terdapat pancaran cahaya super terang.
“pasti musik itu datang dari sana”gumamku.
Aku tak perlu lagi meraba karena pandangan bola mataku sudah agak jelas.
Ketika aku hampir sampai,seketika pintu tersebut nenutup dengan keras.
”BRAAKKK…!!!”
Jantungku berdebar asli kencang.bulu kudukku mulai berdiri. Aku tidak bisa memastikan posisiku dimana karena keadaan rumahku yang gelap gulita. Memang benar suara itu berasal dari kamar yang pintunya baru saja tertutup tersebut. Aku memberanikan diri membuka pintu kamar itu meski perasaanku was-was. Anehnya lampu kamar tersebut tetap menyala padahal mati lampu. Dan…
“cklek..”
”wow tidak terkonci”kataku
dengan percaya dirinya aku mendorong pintu tersebut sekuat tenaga.
”BRAKKK!!!”
Ternyata….
”TUWEWEWEWEEENG…!!!”
Nenekku sedang asyik menari balet di iringi oleh sebuah tape yang memutar musik klasik.
”nenek..?!”
”eh..cu..”bibirnya yang melar memamerkan senyum indah tanpa gigi.
Nenekku rupanya sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti ajang pemilihan PUTRI BALLET LANSIA. Ia mengikuti ajang tersebut untuk mendapatkan sebuah gigi palsu. Malam itu sebenarnya tidak mati lampu tapi di matikan olehnya.
Tapi sepertinya suara yang aku dengar pertama kali adalah suara yang berbeda dengan yang aku dengar dikamar nenek.lalu suara itu dimana…???

Thinee And The Old Man With White Beard


green nature movies gandalf wizards the hobbit middleearth ian mckellen grey pilgrim mithrandir gan_wallpaperswa.com_64

Pagi-pagi sekali aku berjalan menuju sungai yang jaraknya lumayan jauh dari rumaku  sambil menenteng sebuah ember kecil berwarna hitam. Ember hitam itu berisi perlengkapan mandi karena memang aku mau pergi mandi di sebuah sungai yang biasa kami sebut dengan sebutan Kokoq Bawaq (Kokoq=Sungai dan Bawaq=Bawah). Terletak lumayan jauh dengan dataran yang cukup rendah dari pemukiman penduduk di desaku. Sepanjang perjalanan, aku harus menyusuri pematang sawah yg berkelok. Kakiku terasa basah karena memijak rumput berembun. Sisi kiri dan kananku terhias oleh hamparan tanaman padi yang sudah mulai menguning. Benar-benar pagi yang menyejukkan pikirku apalagi posisi matahari belum terlalu tinggi dan udara yang aku hirup sungguh fresh!
Aku melihat sungai masih terlihat sepi-karena biasanya setiap pagi sudah ramai oleh penduduk yang biasanya mandi di sungai tersebut-pemandangan yang tidak biasa. Aku tertegun sejenak memandang aliran sungai yang tak begitu deras tapi sangat jernih, asli, murni, belum terkontaminasi limbah apapun. Setahu saya sumber aliran air sungai ini berasal dari pegunungan terdekat.
Ketika hendak bersiap turun ke sungai tersebut aku tiba-tiba saja melihat sesuatu hanyut. Perasaanku mendadak kesal melihat kenyataan ada orang yang membuang sampah di sungai ini. Apa mereka tidak berpikir tindakan mereka itu bisa mencemarinya? Dengan perasaan dongkol aku berusaha ke tengah sungai yang ternyata tidak terlalu dalam seraya mendekati benda tak kukenal yang hanyut tersebut.

“Apa ini?” gumamku lirih.

Aku memperhatikan ternyata sampah hanyut tersebut hanya selembar kertas usang kecokelatan. Aku memicingkan mata untuk melihat lebih detail lagi kertas tersebut. Di sana terdapat banyak semacam tulisan-tulisan arab yang tidak aku mengerti bagaimana membacanya. Kuperhatikan sekelilingku masih terlihat sepi. Tak seorang pun tampak sedang membuang sampah. Ah sudahlah lebih baik aku segera mandi kalau tidak aku bisa membeku disini kataku dalam hati sambil menepi meletakkan kertas usang bertuliskan tulisan arab itu di tepi sungai.

Selang beberapa saat ternyata ada kertas usang lain yang hanyut begitu saja! Begitu aku memungutnya, baik bentuk,warna dan ukurannya sama persis dengan yang pertama hanya saja tulisannya berbeda meski masih memakai tulisan arab. Aku jadi curiga bahwa ada orang yang sengaja membuang sampah di sungai ini namun anehnya di sepanjang sungai ini tak ada seorangpun!
Usai membersihkan diri aku mulai memperhatikan lembaran lembaran cokelat yang aku kumpulkan tersebut – tetap tidak mengerti dengan maksud dari tulisannya – mengenai jumlahnya aku kurang tahu yang jelas jumlahnya lumayan banyak. Aku berencana untuk memperlihatkannya pada seseorang bila nanti aku sampai di rumah. Sampai dalam perjalanan pulang aku belum juga menemukan seseorang melintas di sekitar sungai. Padahal setahu saya setiap pagi apalagi melihat matahari sudah lumayan tinggi biasanya banyak orang entah itu pemilik sawah atau pun orang yang hendak mandi. Aku jadi ngeri sendiri. Dalam kebingunganku aku merasakan tangan seseorang menepuk pundakku dari belakang.

“Hey..”

Aku terkejut bukan main dan sontak menoleh ke belakang. Tampak seorang lelaki tua dengan outfit serba putih termasuk rambut, kumis serta janggutnya yang panjang. Tampilannya persis seperti GANDALF dalam film Lord Of The Ring kurang lebih.

“A..anda siapa?” tanyaku terbata-bata

“Boleh tahu benda yang kau bawa itu apa?”

“Err..ini ember”  jawabku spontan sambil mengangkat ember berwana hitam yg ku tenteng dengan tangan kiri.

“Bukan yang itu tapi benda yang ada di tangan kananmu” lelaki tua beruban itu menunjuk kumpulan kertas usang kecokelatan yang ada di tangan kananku

Sejenak aku terdiam kebingungan tak tahu harus menjelaskan apa.

“A..aku sendiri tidak tahu apa ini sebenarnya” kedua bola mataku melirik kertas basah misterius itu, “aku menemukannya hanyut begitu saja di sungai itu.”

“Bagus” jawabnya sambil mengelus janggut putihnya dengan tangan kanan-aku pikir tak hanya tampilannya saja yang mirip dengan GANDALF tapi suaranya sama persis bedanya cuma orang ini memakai bahasa indonesia- “Asal kau tahu saja, kertas usang yang ada di tangan kananmu itu adalah milikku. Aku sengaja membuangnya dan berharap ada orang yang menemukannya.”

Oh, jadi kakek tua ini yang buang sampah sembarangan! liat saja nanti aku omelin habis-habisan gerutuku dalam hati padahal kenyataannya badanku gemetar setengah mati melihat orang semisterius ini.

“Boleh tahu namamu siapa?”

“Thinee” jawabku singkat.

“Thinee.. karena kau telah menemukan milikku yang berharga ini,  aku akan memberikanmu sebuah hadiah.”

Aku sangat terkejut mendengar perkataan lelaki tua itu. Mulutku tak mampu berucap sepatah kata pun. Speechless.

“Tetapi hadiah itu tidak akan aku berikan secara langsung. Kamu harus menemukan sendiri hadiah itu.” lanjutnya

“Bagaimana caranya?”

“Kamu cukup menemukan sebuah bangunan berwarna hijau, karena di situlah hadiahmu berada.”

Mendengar kalimat “bangunan berwarna hijau” pikiranku langsung mengingat-ingat suatu tempat yang sepertinya sangat familiar. Aku seolah tahu tempat itu. Bayangan bangunan berwarna hijau di bawah pohon bambu tergambar jelas di otakku saat itu.

“Kamu harus berusaha menemukannya, berjuanglah.” kata-kata lelaki tua itu membuyarkan vision yang aku lihat dan menyadarkan aku bahwa lelaki misterius itu sudah tidak berada di hadapanku lagi. Begitupun dengan kertas usang kecokelatan itu lenyap begitu saja dari tangan kananku. Kusapu pandangan sekelilingku dengan kedua bola mataku namun sayang tak seorangpun yang terlihat. Pandanganku terlihat berputar perlahan makin lama makin cepat sehingga membuat kepalaku terasa pusing. Beberapa saat kemudian aku sudah mendapati diriku di atas tempat tidur. Ternyata aku bermimpi.

Hari berikutnya aku menceritakan mimpiku ini kepada ibu. Dia mengatakan kalau lokasi sekitar sungai itu memang sudah terkenal angker dari dulu. Dia menyuruhku untuk tidak terlalu memikirkan hal itu karena kejadian yang aku alami tak ubahnya hanya sebuah mimpi, bunga tidur. Dia juga menjelaskan sesuatu kepadaku.

“Kau ingin tahu siapa yang memberikan nama Thinee padamu?”

“Siapa, bu?”

“Nama Thinee diberikan oleh seorang kakek bernama Dhar. Dia adalah pemilik sawah di sekitar sungai itu dan di sana sudah terkenal keangkerannya sejak dulu bahkan ada yang bilang kalau lokasi itu merupakan area kerajaan dari makhluk lain semacam jin dan sebagainya yang tak bisa dilihat manusia biasa.”

“Apakah yang di mimpiku itu kakek Dhar?”

“Iya mungkin saja, tetapi setahu ibu kakek Dhar tidak mempunyai janggut panjang berwarna putih seperti dalam mimpimu.” jelasnya sambil mengelus kepalaku pelan dengan tangan lembutnya. “Atau bisa saja mimpimu itu semacam wangsit. Seseorang dari dunia lain ingin memberimu sesuatu yaah..  semacam ilmu mungkin.”cbisiknya seraya tersenyum simpul dengan kedua bola mata melirik ke arah kiri atas.

Jantungku mendadak berdegup kencang mendengar penuturan ibuku tadi. Jika benar ada yang memberiku semacam ilmu gaib atau bahkan ilmu sihir bisa jadi ketenaran Harry Potter bisa ku saingi.

“Sudahlah tak usah kau pikirkan anggap saja itu semacam teguran jika menolong seseorang harus tanpa pamrih biarlah Tuhan yang membalasnya kelak.”

Mendengar nasehat itu aku menjadi sedikit lega namun jauh di dalam lubuk hatiku yang paling dalam masih tersimpan rasa penasaran yang kuat. Andai saja Ichihara Yuuko benar-benar ada dalam kehidupan nyata aku pasti sudah mengunjungi Toko-nya meskipun ia meminta bayaran apapun demi menafsirkan mimpiku.

Keesokan harinya lagi aku memberanikan diri untuk pergi ke area sekitar sungai. Tidak seperti dalam mimpiku, lokasi sekitar sungai sudah terlihat ramai oleh orang-orang yang sedang membajak sawah. Aku menyusuri tepiannya melewati pematang sawah yang agak licin sampai menemukan tempat yang banyak ditumbuhi pohon bambu. Mengingat gambaran yang ada di mimpiku ketika kakek berjanggut putih itu menyebutkan, “Carilah bangunan berwarna hijau” entah kenapa lokasi inilah yang muncul di otakku. Tapi sayang kenyataan yang aku lihat hanya hamparan rumput liar di sela-sela tumbuhan bambu.

Mimpi yang benar-benar membuatku  sedikit gila.

Dan ketika hendak meninggalkan tempat itu, seseorang menepuk pundakku.

« Older entries