Wati:Saleswati


CHAPTER 7

Minggu pagi yang cerah. Matahari bersinar dengan cantiknya. Udara pagi yang sejuk mengitari seluruh wilayah. Keheningan pagi itu tiba-tiba saja terusik oleh teriakan Wati.

“AAAAAAAA……..!!!!”

Orang-orang berduyun-duyun mendatangi sumber suara karena penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Wati.

“Kenapa? Kenapa? Kenapa?” tanya orang-orang itu.

“Aku sedang latihan vokal, bapak-bapak, ibu-ibu.” jawab Wati dengan polos sambil merapikan Poni Maria Mercedesnya.

Bubar.

“AAAAAAAAA…….!!!”

“Kamu kenapa lagi, Wati?” tanya orang-orang itu lagi.

“AAAAAA…..Robert Pattinson!! AAAAAA…..!!!”

Bubar lagi.

“AAAAAAAAA…….!!!!”

Tak ada yang peduli.

“AAAAAA……..!!!!!”

Hening.

Wati berlari ke rumah tetangga sebelah mengambil TOA.

“AAAAAAAAAA…..!!!”

Hening.

“Hiks…nggak ada yang peduli lagi sama gue. Malangnya nasib gue.” Wati terkulai lemas di dekat tong sampah milik tetangga sebelah.

“Kamu tenang sajaah…,” suara lembut tiba-tiba muncul. Wati menoleh ke kiri dan ke kanan melangkahkan kaki ke depan dan ke belakang lalu membentuk putaran. Dansa dong woy!

“Di sinih….,”

“Kamuh Ibuh Perih….?” tanya Wati ikut melembutkan suaranya.

Sesosok berkilau itu mengangguk slow motion.

“Tapih…kok gendut?”

“Ini gue, Ningsih, woy!”

“Tapi kok berkilau?” tanya Wati dengan wajah imut.

“Gue pake kelap-kelip dong. Gliter-Gliter unyu biar makin cantik, yuk ah bangkit kita ngemoll aja.”

“Tapi, gue lagi ada masalah. Masalah yang sangat besar dan rumit. Pokoknya complicated banget.”

“Fufufu…,” Ningsih tertawa misteri, “Jadi selama ini lo menganggap gue apa? Hah? Jawab! Kalau lo punya masalah, cerita ke gue, gue udah nganggep lo saudara gue sendiri. Sebagai seorang sahabat, gue bakal selalu ada disamping lo. Jadi kalau lo punya masalah cerita dong.” bentak Ningsih.

“Gue…gue…,” Wati terbata-bata menjelaskan masalahnya kepada Ningsih. Sambil terus berurai air mata, kedua tangan memegang perutnya.

“Apaaaa?? Nggak mungkin! Siapa pelakunya? Udin? Cowok Cakep Kelas Sebelah? Siapa?”

“Bukan, bodoh. Berat badan gue naik dan gue stress. Gue bakal kalah cantik dan seksi sama Siti dan Ijah. Bagaimana kalau Udin berpaling dari gue?”

Ningsih berusaha menenangkan sahabatnya itu seraya memeluknya , “aduh…cup..cup..cup…nggak mungkin lah…Udin bakal cinta mati sama lo, secara lo lebih cantik dari Siti apalagi si Ijah. yuk ah kita ngemoll aja, kita refreshing biar lo nggak stress.”

Baru saja mereka beranjak dari tempat itu tiba-tiba langit berubah gelap. Angin kencang bertiup. Kilatan-kilatan berpendar di angkasa dengan kecepatan 69/detik. Suasana sekitar makin gelap sampai sebuah petir menyambar tepat di depan mereka. Wati dan Ningsih berpelukan erat sambil berteriak kencang.

“AAAAAA….!!!!”

Tanah bekas sambaran petir itu retak. Kemudian retakannya melebar sedikit demi sedikit seolah akan mencul sesuatu dari tanah tersebut membuat Wati dan Ningsih mundur tiga langkah. Satu. Dua. Tiga. Tak terjadi apa-apa. Mereka maju tiga langkah untuk memastikan retakan misterius itu. Satu. Dua. Tiga.

Asap tebal mengepul dari retakan itu. Sesosok makhluk menampakkan diri. Wanita kurus dan langsing bertubuh jenjang dengan sepatu Boots berhak super tinggi yang berwarna pink berpose bak model terkenal. Wanita itu mengenakan rok mini berwarna hitam dan kemben berwarna pink yang dihiasi dengan rompi batik. Gelang-gelang berkilau menghiasi kedua lengannya yang berkacak pinggang anggun. Rambut pirangnya yang lurus menambah kesan seksi dan glamour dengan make up tebal berikut lipstik pinknya seolah menyala-nyala diterpa kilatan-kilatan dari langit.

“Ka..kamu..Nicki Minaj ya..y..ya?” tanya Wati terbata-bata

“Bukan, aku Nicki Tirta” jawab wanita misterius dengan ekspresi datar. Antingnya yang bulat dan menggelantung sampai mendekati bahunya bergerak-gerak mengikuti arah angin, “Sebenarnya itu nama samaranku, orang-orang biasa mengenalku dengan sebutan Saleswati. Karena aku datang ke sini untuk menawarkan produk kecantikan. Aku biasanya selalu mendengar jeritan hati setiap wanita yang selalu merasa dirinya kurang cantik apalagi bagi wanita yang merasa tubuhnya gendut. Bila kau bertriak gendut, aku akan memberikan jawabannya. Demi menjaga kelangsingan umat manusia. Demi menjaga kecantikan umat manusia. Berjuang dengan kelangsingan dan kecantikan. Aku, Saleswati datang menjawab kegalauan hati  kalian.” jelasnya panjang lebar dengan ekspresi datar sambil memeragakan pose unik.

Wati dan Ningsih masih berpelukan dengan bola mata yang terpana melihat wanita unik itu.

“Khususnya kamu, gadis gendut,” Saleswati menunjuk ke arah Ningsih dengan telunjuknya yang tak kalah jenjang. Kutek warna pink-nya menyala-nyala oleh kilatan yang berlendar di langit, “ada progran khusus yang bisa membuatmu langsung kurus dan langsing, dengan begitu kepercayaan dirimu akan meningkat yang pastinya juga akan membuatmu makin cantik, apa kau tertarik?”

Ningsih bangkit lalu berkacak pinggang, “Maaf ya, gue udah cukup bahagia dengan keadaan gue seperti ini, lagian gue udah berasa seksi kok, biar kata gue gembrot tapi ya beginilah gue, apa adanya gue meski kadang gue iri sama Wati yang memiliki tubuh sempurna,” Ningsih menatap Wati dengan tatapan sendu, “Tapi, bagaimanapun juga menjadi diri sendiri adalah yang terbaik. Gue emang gendut tapi gue yakin dan percaya gue bersinar dengan cara gue sendiri!!!” Bertepatan dengan kalimat terakhirnya, petir menyambar dengan dahsyat membuat Saleswati begidik dan mundur 5 lima langkah seperti pacar tetangga sebelah yang memiliki pacar berdekatan. Cukup 5 langkah dari rumahnya langsung sampai.

“Dasar gadis bodoh, kalau kau tidak mau tidak apa-apa, karena temanmu ini akan menjadi konsumenku, HAHAHAHAHA!!!”

Saleswati mengeluarkan cambuknya dan melempar sebuah Borgol ke arah Ningsih yang secara ajaib langusng membuatnya terikat dan lenyap.

“Aaahhh!! Ningsih!!!” Teriak Wati secara dramatis.

“Kau telah masuk dalam perangkapku gadis manis, kalau kau bisa lolos dari jebakanku ini, berarti kau bisa menyelamatkan sahabatmu yang gembrot ini, WAHAHAHAHAHA!!! Selamat tinggal!”

Wanita jenjang itu lenyap membawa sahabatnya.

“Gue harus gimana? Hiks…” isak Wati seraya menutup wajahnya dengan keduabelah tangannya.

Hening. Sekeliling Wati mendadak gelap. Ia berusaha berjalan sambil terus menangis meskipun tak tahu apa yang harus ia lakukan. Wati melihat setitik cahaya dari kejauhan. Ia berusaha mendekat ke arah sumber cahaya tersebut hingga ia mendapati dirinya di sebuah kedai mie ayam.

“Selamat datang,” Sapa seorang nenek bertubuh pendek.

Wati terdiam memandang wanita tua itu. Ada yang aneh. Seorang nenek berbikini dengan kulit keriput memakai stocking jaring-jaring yang seksi. Tangan kanannya memegang sebuah cambuk.

“KAU MAU MAKAN APA??? CTAR!! CTAR!!!!” Bentak nenek itu sambil mengayunkan cambuknya.

Wati merapikan poni Maria Mercedesnya sambil ketakutan setengah mati lalu duduk di bangku yang telah di sediakan. Di hadapannya tiba-tiba muncul semangkuk mie ayam hangat siap disantap. Yummy.

“MAKAN CEPAT!!! CETAR!!! CETAR!!!” nenek itu kembali mencambuk meja beberapa kali. Wati serta merta meraih sendok dan garpu yang ada di samping mangkuk mie ayam. Ketika ia hendak menggunakan sendok dan garpu tersebut, Wati merasa kesusahan. Entah mengapa dua benda tersebut sangat berat.

“Fufufufu…,” nenek itu tertawa misterius. “Saya perkenalkan produk terbaru kami, Heavy Rotation eh salah emangnya JKT48. Yang benar adalah Heavy Spoork. Program pelangsingan ini terdiri dari semangkuk mie ayam super lezat dan panas dengan sendok dan garpu super berat. Dengan mengikuti program ini, kamu akan mengeluarkan banyak keringat karena mie ayamnya yang panas dan sendok serta garpu yang super berat, kalau tidak salah masing-masing memiliki berat 50 KG. HAHAHAHA!!! Masih sanggup makan mie ayamnya? CETAR!!! CETAR!!!” Nenek unik itu mengayunkan cambuknya dengan bersemangat.

Tapi dengan kegigihan demi menyelamatkan sahabatnya, Wati berhasil menggerakan sendok dan garpunya lalu menyondok mie ayam super panas.

“HEAAAAAAA!!!! ENYAAAAKKKKKKK!!!”

“TIDAKKKKKK!!!! KAMU TIDAK MUNGKIN MENGALAHKAN PRODUK BARUKU!!! AAAAAAAA!!!!” Nenek itu berteriak sangat keras. Tubuhnya perlahan berubah menjadi debu sampai yang terdengar hanyalah suara teriakannya yang kemudian lenyap perlahan.

Wati bersimbah peluh. Keadaan sekelilingnya kembali gelap. Ia memberanikan diri melangkahkan kakinya lagi meski ia tak tahu akan melangkah kemana.

“Selamat datang,” sapa seorang lelaki kurus berkacamata berbentuk Trapesium. Kacamata itu mengingatkan Wati kepada Bu Mingce.

“Ini dimana?”

“Di hati kamuh, hihihi…” lelaki itu tertawa imut sambil menutup mulutnya. “Baiklah, selamat datang di Rumah PR. Di sini, kamu harus menyelesaikan PR yang telah disediakan dengan peralatan yang juga telah disediakan. Silakan.”

Wati hanya tersadar ketika ia mendapati dirinya tengah duduk di sebuah meja dengan buku PR serta perlatan tulis menulis lengkap di depannya. Memang terlihat biasa saja, tetapi ketika Wati meraih pensil untuk memulai mengerjakan PR tersebut, ia tak bisa mengangkatnya. Kasusnya sama persis dengan Heavy Spoork yang baru saja ia selesaikan.

“Ini adalah lini produk terbaru kami. Khusus untuk anak-anak sekolah yang ingin pintar tapi tetap dengan tubuh fit langsing menawan, fufufufufu…” Sesekali lelaki itu membetulkan posisi kacamata model Trapesiumnya. “selain soalnya yang super sulit, perlatan untuk mengerjakannya sangat berat. Dari Pensil, Ballpoint, Setip, Penggaris dan lainnya semuanya memiliki berat yang beragam. Mulai dari 100 KG ke atas. Otakmu akan berpikir keras dan tubuhmu akan mengangkat beban berat dengan begitu keringat akan bercucuran dan bayangkan berapa kalori yang akan terbakar? Fufufu….”

“YEAAAHHHHH!!! GU..GUE..SE..DI..KIT LA..GI.. SE..SE LE..SAI!!! HIAAAAAA…!!!” Wati dengan sekuat tenaga berusaha menorehkan Pensilnya yang super berat untuk menyelesaikan PR tersebut.

“TIDAAAAKKKKK!!!!!” Lelaki berkacamata Trapesium itu berteriak sampai ia lenyap dengan sendirinya.

Wati kehabisan tenaga. Bajunya basah kuyup oleh keringatnya yang banyak. ia  terkulai tak berdaya. Pandangannya terlihat mengabur. Samar-samar ia melihat wanita pirang dengan cambuk di tangannya menggeret Ningsih ke arahnya.

“Kamu memang sahabat yang baik, tapi sayang kamu gagal melewati tes ini.” Wanita itu lalu mendorong tubuh Ningsih yang terborgol ke jurang.

‘TIDAKKKKKKK!!!!”

Ternyata Wati hanya bermimpi aneh kembali. Tapi kali ini mimpinya tak berlapis. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan merasakan tubuhnya basah kuyup oleh keringatnya sendiri. Sempat beberapa kali otaknya berpikir kalau akhir-akhir ini ia kerap bermimpi aneh. Wati berjalan ke arah cermin seraya merapikan poni Maria Mercedesnya, tersenyum. Ia berharap mimpi ini tak ubahnya hanyalah bunga tidur.

Hari Minggu yang panas. Hari dengan keringat bercucuran di mana-mana. Sesekali Ningsih mengibas-ngibaskan tangannya mencoba menyejukkan diri. Telunjuknya beberapa kali membenarkan posisi kacamatanya yang melorot di atas hidungnya. Pikirannya saat ini tertuju pada kulkas di rumahnya yang penuh dengan berbagai camilan Abon kesukaannya dan aneka jenis es krim tentunya.

Karena kebiasaannya ngemil, tubuh Ningsih makin tambun. Sebenarnya ia iri akan bentuk tubuh Wati yang langsing. Pernah beberapa kali ia mengkuti program pelangsingan tapi hasilnya nihil. Boro-boro berat badannya menurun, justru makin meningkat. Nafsu makannya menjadi-jadi ketika selesai melakukan olah raga. Ya, sama saja bohon dong.

Bunyi bel di rumah Ningsih berdering. Ningsih berlari ke arah pintu hendak membukanya. Dan ternyata Wati mendatangi rumahnya.

“Wati? Muka lo kenapa sembab gitu?”

Wati menjelaskan mimpinya semalam sedetil-detilnya. Ningsih berencana ingin menanyakannya lagi kepada Pak Kripi tapi Wati melarangnya. Ia menganggap ini semacam bunga tidur yang memang membingungkan tapi ia tak mau terlalu memikirkannya dan membuat repot sahabatnya.

“Ya, kadang gue sebenarnya memang iri sama badan lo yang singset, ya tapi gimana, agak susah sih pengen kayak lo.”

“Gampang sih kalau lo emang pengen, gimana kalau kita nge-gym bareng?”

“Ah, sudahlah gue suka kok sama badan gue kayak gini, gue suka sama diri gue sendiri yang sekarang, gue nyaman dan gue nggak mau maksain diri buat punya badan kayak lo. Selain nyiksa, guenya juga nggak nyaman. Jadi diri sendiri adalah yang terbaik dan gue yakin gue bisa bersinar dengan cara gue sendiri, ya nggak?”

Wati tersenyum dengan ucapan sahabatnya itu. Kata-kata yang baru saja ia lontarkan, sama persis dengan yang ia ucapkan di mimpinya semalam. “You are my best friend,” Wati memeluk tubuh Ningsih dengan erat.

Di luar sana, seseorang dengan teropong hitam sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. Sesosok berjubah hitam yang sedang mengikuti mereka akhir-akhir ini.

“Woy!!! Turun lo!! Maling Jemuran!!!” teriak ibu-ibu gemuk dengan roll rambut warna warni. Sosok berjubah hitam itu melompat dengan cepat mengindari lemparan-lemparan senjata berupa peralatan rumah tangga. Tapi, sebuah Panci tepat mengenai kepalanya yang tertutup jubah.

“Sial!”

Iklan

Wati:Watiception


CHAPTER 6

Wati membuka matanya dengan lebar. Tangannya reflek merapikan Poni Maria Mercedes-nya. Tak terjadi apa-apa. Ia kebingungan setengah mati dengan apa yang ia alami. Pertama, teman-teman dan guru yang hilang, kemunculan Telur misterius dan terakhir lahirnya seorang bayi dari Telur aneh itu. Namun, di hadapannya kini tak terjadi apa-apa. Ningsih yang sedang duduk di sampingnya sedang asyik mengunyah Abon Kuda rasa jeruk saus cabe yang dibumbui dengan rempah-rempah warisan suku Maya, Ibu Mingce yang sedang duduk di meja guru sedang asyik mencoba kacamata berbentuk Planet Saturnus dan terakhir ia melihat Udin dan Cowok Cakep Kelas Sebelah sedang asyik mengobrol seperti biasanya. Demikian pula Siti sedang asyik dipijit oleh Ijah.

“AAAAAAAAH….!!!!” Wati berteriak sekuat tenaga sehingga menjadi pusat perhatian di kelasnya.

“Kamu kenapa Wati?” tanya Ibu Mingce dengan ketus. Kali ini ia mengenakan Kacamata berbentuk segitiga sama kaki berwarna kelabu. Ia melangkah dengan anggun menuju ke arah Meja Wati. Kedua tangannya berkacak pinggang sambil sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan. Tak lupa ia melambai-lambaikan tangannya bak ratu sejagat.

“Maafkan saya, bu. Saya bingung apa yang sebenarnya terjadi”.

Wajah Ibu Mingce mendekat ke wajah Wati sampai ia bisa melihat pori-porinya yang besar seperti kulit jeruk. Ia lalu berbisik.

“Kalau lo cuma mau cari perhatian Udin, lo salah besar. Udin nggak bakal mau meratiin lo sampai kapanpun! Ngerti!!!”

Wajah Wati memucat. Keringat dingin mengucur deras di punggungnya. Ningsih memeluk tubuh Wati sambil merapikan kacamatanya yang melorot. Wati tampak ketakutan usai Ibu Mingce berjalan meninggalkan meja mereka.

“Ibu sudah nggak mau ngurusin masalah nggak penting seperti ini. Setelah ini, Wati, lo harus ke ruangan kepala sekolah secepatnya. Siapa tahu dia bisa membantu masalah lo. Oke, anak-anak sampai di sini pelajarannya”. Wati melihat Ibu Mingce melirik ke arah Udin dengan senyum semangat. Ia juga melihat Ibu Mingce mengganti model kacamata segitiga sama sisinya dengan model kacamata segitiga siku-siku.

Siti berjalan menuju meja Udin dan Cowok Cakep Kelas Sbelah berusaha untuk mencari perhatian tapi nihil. Dua cowok cakep itu justru begandengan keluar kelas dengan santai meninggalkan Siti yang cemberut.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Wat. Aduh sampai keringat lo banyak gini” Ningsih berusaha menyeka keringat yang mengalir sangat banyak di wajah sahabatnya.

“Gue sendiri nggak ngerti apa sebenarnya yang terjadi sama gue. Gue bingung. Kepala gue pusing banget. Gue ngalamin peritiwa aneh dan berlapis..”

“Berapa lapis?” Ningsih memotong penjelasan Wati dengan wajah bersemangat.

“Ratusan..”

Kemudian hening.

Kepala sekolah Wati bernama Kripi. Seperti namanya ia sedikit Creepy. Lelaki beruban dengan tubuh super kurus. Wajahnya dipenuhi seribu kerutan. Hobinya adalah menari Ballet. Ia menghabiskan berjam-jam di ruangannya untuk berlatih kreasi baru dari gerakan tari legendaris, Swan Lake. Meski aneh, Pak Kripi terkenal baik hati dengan jiwa yang tenang. Ia disegani semua orang. Pribadi yang murah senyum dan bijaksana dan berwibawa. Wi….bawa mobil, wi…bawa motor, wi…bawa kartu kredit, wi..bawa rumah. Dan yang terakhir itu mustahil.

Wati memberanikan diri untuk menemui Pak Kripi seperti saran Ibu Mingce. Dengan ditemani Ningsih ia berjalan menuju ke ruangannya. Samar-samar mereka mendengar suara musik klasik yang memang berasal dari ruangan Pak Kripi. Ketika hendak mengetuk pintu, tiba-tiba terdengar suara mengalun lembut menyapa mereka.

“Masuklah…” suara itu mengalun merdu

Mereka berdua sontak merinding mendengar suara itu. Bertepatan dengan itu, pintu ruangan Pak Kripi terbuka dengan sendirinya dengan pelan. Wati dan Ningsih berpelukan sambil berjalan memasuki ruangan itu. Beberapa kali mereka menelan ludah dengan bola mata menyapu sekeliling ruangan. Ruangan Pak Kripi ternyata sangat luas. Tampak seperti gymnasium. Lantainya terbuat dari kayu mengilat. Ningsih berlutut dan menghembuskan napasnya beberapa kali sampai mengembun di lantai. Ningsih menggosoknya dengan ujung rok seragamnya yang kemudian menampilkan bayangan berkilau.

“Ada yang bisa saya bantu” terdengar suara lembut dari seorang lelaki tua kurus berkeriput memakai baju Ballet lengkap. Musik klasik yang biasa terdengar mengiringi tari Ballet masih berkumandang dengan merdunya.

“Be..be..begitu..eh begini..pak…” Kata Wati terbata-bata yang pembicaraannya langsung dipotong Pak Kripi.

“Aku sudah tahu masalahmu, nak” Pak Kripi tersenyum. Bola matanya seolah tenggelam tak terlihat ketika ia tersenyum, “Tapi sebelumnya izinkan bapak menjelaskannya sambil melatih tarian Swan Lake-ku yang belum sempurna ini”.

Volume musik klasik pengiring tari Ballet Pak Kripi meninggi. Wati kebingungan, bagaimana Pak Kripi tahu semuanya? Padahal dia belum bercerita sedikitpun. Pak Kripi benar-benar Creepy. Wajah Wati dan Ningsih memucat.

Pak Kripi memulai tarian Swan Lake-nya. Ia berputar-berjinjit-melompat-kayang. Ia mulai berbicara sambil menari, “Aku bisa mengatakan kejadian ini adalah peristiwa yang sangat langka. Kemampuan yang luar biasa. Berhubung yang mengalami adalah Wati, jadi bisa aku katakan peristiwa yang disebut Watiception” kalimat terakhirnya diikuti gerakan imut sambil kayang. “Watiception adalah peristiwa dimana Wati-sebagai orang yang mengalami-bermimpi atau berhalusinasi kemudian dalam mimpi tersebut kamu bermimpi lagi. Mimpi betingkat. Mimpi berlapis”.

“Berapa lapis?” tanya Wati dan Ningsih berbarengan.

“Ratusan” jawab Pak Kripi sambil tersenyum ketika dia sedang melakukan gerakan ngangkang. “tapi beberapa orang, termasuk saya, yang memang memiliki kemampuan menjelajah mimpi akan sangat menguntungkan jika ada orang yang yang mengalami kejadian ini. Aku bisa dengan bebas menjelajah mimpi dan mencuri ide-ide orang. Tapi aku bukan orang yang seperti itu. Aku adalah orang baik, tidak sombong dan rajin menabung” mata kanannya berkedip manja sambil memamerkan gerakan Angsa mematuk Ular Sendok. “Tak usah khawatir, itu hanya mimpi. Mimpi special dan unik. Oh ya, aku mau melakukan gerakan legendaris, sebaiknya kalian keluar karena aku tak mau siapapun melihat gerakan ini sebelum waktu yang ditentukan”. Pak Kripi tersenyum. Senyum yang menenggelamkan bola matanya.

Hari berikutnya, Wati kembali seperti biasa. Kegundahan hatinya lenyap seusai ia diberi penjelasan oleh Pak Kripi. Ia kembali menyebar kabar telah jadian dengan Udin yang selalu dibantah oleh Siti dan Ijah. Ningsih sibuk mengunyah koleksi Abonnya. Sedangkan Udin masih tetap berdua kemanapun dengan Cowok Cakep Kelas Sebelah.

Di siang yang terik, tepatnya pada tiang jemuran yang penuh dengan jemuran berupa pakaian dalam berbagai ukuran, berdiri sesosok misterius dengan pose keren mengenakan jubah hitam. Tangannya memegang sebuah Teropong berwarna hitam sedang memperhatikan Wati dan teman-temannya. Sebuah Panci melayang mengenai kepalanya yang membuatnya goyah dari posisi kerennya di atas tiang jemuran.

“Woy!!! Turun lo!! Maling Jemuran!!!” teriak ibu-ibu gemuk dengan roll rambut warna warni. Sosok berjubah hitam itu melompat dengan cepat mengindari lemparan-lemparan senjata berupa peralatan rumah tangga.

“Dia ternyata ada di sini..fufufu…” sosok itu tertawa dramatis sampai- sampai ia tak melihat Tiang Listrik di hadapannya.

JDUKK!!!

Wati:Kelabangwati (Edisi Special)


Gadis berkacamata tebal itu bernama Wati Parker. Gadis manis berponi yang ia sebut poni Maria Mercedes itu terkenal culun di sekolahnya. Meski culun, prestasi di sekolahnya sangat gemilang. Ia kerap mendapat juara pertama di setiap smester bahkan ia kini mendapatkan beasiswa dari sekolahnya.

Wati Parker seorang yatim piatu. Ia kini tinggal bersama paman dan bibinya, Bem dan Mei Parker. Meski beberapa orang yang ia cintai telah tiada Wati tak pernah merasa kesepian. Ia memiliki sahabat dekat yang kaya raya bernama Ningsih Osbron, gadis bertubuh gemuk pewaris tahta perusahan Orcrop yang terkenal.

Musim panas yang cerah dan panas telah tiba. Ya iyalah panas namanya saja musim panas sudah pasti suasana menjadi panas. Tapi kali ini perdebatan tentang musim panas akan dicukupkan sampai disini karena cerita tentang petualangan Wati akan dimulai dari sini.

Musim panas kali ini adalah musim panas paling panas dari musim dingin yang dilewati oleh Wati Parker dengan hati yang selalu berdebar tentunya. Sebentar lagi kelasnya akan mengadakan tur ke kebun binatang yang terletak di kota sebelah. Wati memiliki kemampuan fotografi yang keren dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya untuk itu ia di tugaskan sebagai pengambil gambar dalam tur tersebut.

Siang itu dengan memakai pakaian jadul milik bibi Mei ketika masih gadis. Baju berlengan panjang dengan motif bunga sepatu yang besar. Wati melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke sekolahnya. Sesekali ia merapikan posisi kacamatanya yang besar, bulat dan tebal dan sesekali pula ia merapikan poni Maria Mercedes-nya yang sesekali tertiup angin di jalan.

Wati Parker, siswi culun yang sering dibully oleh teman-temannya kini tiba di sekolahnya yang mewah dan megah. Ia memasuki halaman sekolahnya dengan berlari-lari kecil dramatis slow motion sambil mendekap buku pelajarannya yang tebal. Ia tak lupa memejamkan mata seraya terus berlari-lari kecil dramatis slow motion persis seperti drama-drama Korea yang sering ditontonnya.

BRUKK!!!

Wati menabrak seseorang.

Dan orang itu adalah Siti Tomson. Gadis cantik dari keluarga kaya yang sangat rajin membullynya di sekolah.

“Heh!! Kalo jalan liat-liat dong!!! Buta ya!!” Siti membentak Wati.

“Tapi aku kan lari-lari kecil.”

“Berani ngelawan gue ya, nih rasakan!” Siti hendak menampar Wati tapi seorang laki-laki tampan berambut merah secepat kilat menahan tangannya.

“Udah lah Sit, sebaiknya kita cabut dari sini.” Ajak lelaki berambut merah itu seraya merangkul Siti. Dan hal yang tak terduga terjadi. Lelaki berambut merah itu menoleh ke arah Wati dan tersenyum ke arahnya.

Wati seperti melayang ke udara menembus awan-awan seputih salju dan terus meluncur sampai langit ke tujuh hanya dengan melihat senyuman laki-laki berambut merah itu. Lelaki itu terkenal dengan nama UJ, Udin Jane Klakson. Dia adalah laki-laki yang sejak lama ditaksir oleh Wati. UJ adalah siswa populer di sekolahnya. Ia jago menyanyi dan akting. Beberapa alat musik ia kuasai. Orang tuanya memiliki perusahaan pembuat Klakson terbesar di kotanya. Yang kadang membuat dada Wati teriris adalah mengetahui kalau UJ dan Siti Tomson telah resmi berpacaran. Meski begitu ia tetap berharap suatu hari ia bisa berpacaran dengan UJ.

Suasana kebun binatang Gajah Kayang tak begitu ramai. Pengunjung hanya berasal dari sekolah Wati saja. Wati terlihat asyik sendiri memotret pemandangan yang ada di sekitar. Sesekali ia menjepret beberapa burung yang melintas di hadapannya. Salah seorang guide kebun binatang Gajah Kayang sedang asyik menjelaskan jenis-jenis hewan yang ada di tempat tersebut ketika Wati melihat UJ berdiri memandang seekor burung kakak tua. Jantung Wati berdebar kencang. Entah keberanian dari mana, ia mendekati Uj.

“Hei.” Sapa Wati.

“Oh, hei, kamu Wati Parker kan?”

“Ya, benar. Err.. Boleh aku mengambil gambarmu?” Wati mengangkat kameranya. “Itu kalau diizinkan. Err..untuk koran sekolah.” Wati terbata-bata.

“Tentu.” UJ berpose dengan gagahnya di samping burung kakak tua dan Wati dengan semangatnya menjepret UJ beberapa kali sampai Siti datang menjambak rambut Wati.

“Heh! Gatel lo ya, rayu-rayu cowok gue. Asal lo tahu ya UJ itu cowok gue. Ngerti!” Siti berlalu dengan cepat di hadapan Wati sambil merangkul UJ.

Wati kembali sibuk memotret-motret beberapa objek yang ada di sekitarnya. Penjelasan tur guide tentang laba-laba membuat Wati tertarik untuk mendekatinya.

“Jadi ini adalah jenis Laba-laba janda ungu yang sangat langka. Memiliki nama latin Violetus Widow dan hanya tersisa 69 ekor saja dan hanya terdapat di kebun binatang Gajah Kayang ini.”

“Tapi disini jumalahnya 68 ekor pak.” Sahut salah seorang siswa berambut lurus.

“Oh, mungkin yang seekor sedang ke toilet.” Semua siswa tertawa.

Dan ketika Wati hendak memotret lagi, sesuatu terjatuh ke salah satu tangannya. Dan mendadak terasa sakit. Sesuatu itu terasa seperti menggigitnya. Begitu Wati hendak melihat tangannya, tampak seekor Laba-Laba terjatuh dari tangannya. Wati tak mau peduli apapun itu yang pasti kini tangannya terlihat bengkak gara-gara gigitan Laba-Laba itu.

Wati: The Baby


CHAPTER 5

Setelah larutan gula garam itu bercampur dengan larutan kimia 69 lalu bereaksi dan meledak dahsyat, suatu keanehan terjadi. Telah terbentuk sebuah telur super besar. Telur itu tergeletak begitu saja di samping Wati yang tak sadarkan diri. Begitupun dengan yang lain, tak ada satupun yang tersadar usai ledakan dahsyat itu. Telur misterius itu berbentuk seperti telur ya iyalah masa bentuknya kotak? Cuma saja ukurannya yang jauh lebih besar dari pada ukuran telur pada umumnya. Telur itu berwarna putih bersih seukuran dengan Bola Basket tetapi lebih besar sekitar 69% dari ukuran Bola Basket pada umumnya.

Telur itu perlahan melayang dan berpendar memancarkan cahaya menyilaukan ketika Wati mulai tersadar dari pingsannya. Wati perlahan bangkit dan berusaha menghalau kilauan cahaya dari Telur misterius itu dengan tangannya agar tak langsung mengenai matanya. Ia merapikan poni Maria Mercedes-nya kemudian bangkit dan melihat sekelilingnya yang telah porak poranda. Merapikan pakaiannya yang compang camping dari debu yang melekatinya. Sekelilingnya bertebaran mayat yang bergelimpangan tak beraturan.

“Temen-temen gue? Ningsih? Udin? Cowok cakep kelas sebelah? Ibu Mingce? Jangan tinggalkan gue!!!” Teriak Wati histeris.

Telur aneh itu meredupkan cahayanya dan melayang mendekati Wati yang sedang menangis.

“Ta? Ugiugiya? Ta?” Suara Telur itu menyapa Wati.

“Telur bisa ngomong? Wow keren.” Dengan cepat Wati mengusap air matanya yang bercucuran dan memegang Telur sebesar Bola Basket itu.

“Ta ta ta?”

“Apa? Gue dikasih 3 permintaan? Eh tapi kok gue bisa ngerti bahasa Telur? Emang ini telur apa sih?” Wati menggoyang-goyangkan Telur itu sekuat tenaga.

“TAAAAAA!!!!!”

“Eh maaf, kamu pusing ya? Ya maaf.”

“Ta ugiyauga ta!”

“Baiklah gue bakal nyebutin permintaan gue. hmm apa ya? Yang pertama gue mau temen-temen gue hidup kembali.” Wati mulai mengucurkan air mata ketika ia mengingat teman-temannya dan para korban yang tewas bergelimpangan karena ledakan dahsyat itu. “Terus yang kedua gue minta keadaan dibalikin seperti semula seperti bangunan-bangunan yang hancur lebur ini. Lalu yang ketiga gue minta tiga permohonan lagi. Yang pertama gue pengen es krim soalnya gue lagi haus banget lalu yang kedua gue minta mie rebus, gyaaa udah lama gue nggak makan mie rebus dan yang terakhir gue minta tiga permohonan lagi. Yang pertama gue minta…”

“TAAAAAAAA!!!!! TATATATA BAM RATATATA!!”

“Ih wow biasa aja kali Lur, apa? Cuma dapet ngabulin satu aja? Ih suka PHP-in gue deh. Tapi nggak apa-apa sih yang penting keadaan bisa balik seperti semula.”

“Ta ta ta”

“Oke gue tutup mata.”

Wati memejamkan mata. Mengintip sedikit.

“TAAAA!!!”

“Oke oke bawel.”

Telur itu kembali memancarkan kilauannya yang menyilaukan. Hanya dalam lima detik kemudian semua kembali normal. Bangunan-bangunan yang porak poranda telah kembali seperti keadaan semula seolah tak pernah terjadi apapun. Tanpa sadar, Wati kemudian mendapati dirinya di kelasnya. Ia melongo menatap sekelilingnya. Menengok Udin dan Cowok cakep kelas sebelah sedang saling menatap. Melihat Ningsih yang sedang mengunyah Abon Kebo di sampingnya.

“Kenapa lo? Mau?” Lirik Ningsih sambil menekan kacamata bulatnya yang melorot di atas hidungnya yang pesek. Mulutnya asik bergeol mengunyah Abon Kebo rasa Strawberry saus Tomat yang dibumbui dengan rempah-rempah warisan nenek moyang.

“HUAAA cyiin!!!!” Teriak Wati histeris sambil memeluk Ningsih dan menangis sejadi-jadinya.

“Lo kenapa sih?”

***

“Hmm..jadi gitu? Tapi kok gue nggak ngerasa apa-apa sih karena emang nggak terjadi apa-apa.” Kata Ningsih sambil ngunyah Keripik Pohon Beringin dengan santai.

“Ya gue juga nggak ngerti. Anehnya gue kok bisa ngerti apa yang diucapkan sama Telur ini.” Wati menyodorkan Telur yang besarnya 69% dari Bola Basket itu.

“Wah besarnya.” Ningsih terkesima, “Kira-kira kalau di dadar jadi berapa porsi ya?”

“TAAAA!!!” Teriak Telur itu sambil mendekat ke arah Wati.

“Katanya dia takut kalau dengar kata dadar.” Jelas Wati.

“Dadar..dadar..dadar..!!!” Ningsih mengucapkan kata itu berulang-ulang.

Telur itu tiba-tiba mengecilkan ukurannya sambil memancarkan kilau merah berkedap kedip. Wati kemudian membuat Telur itu menjadi gantungan kunci tas jeruknya yang mungil.

Malamnya, Telur itu masuk ke dalam mimpi Wati yang kala itu sedang bermimpi mencuci 3 benda paling tak disukainya untuk dicuci: Jeans, Sprei dan Handuk. Dalam mimpi aneh itu, telur itu bisa menetas bila ia di dekap oleh 2 orang dengan jenis kelamin berbeda selama 1 menit 9 detik. Bahkan telur itu sendiri menjelaskan kepada Wati bahwa ia adalah sesuatu yang seolah tak berwujud. Ia bisa menetas menjadi apa saja yang diharapkan oleh orang yang menetasinya.

Keesokan harinya di pagi yang dingin, Wati ditemani Ningsih bersama-sama masuk ke ruang kelasnya. Disana ia melihat Siti dan Ijah sedang asyik mengobrol. Obrolan mereka terhenti begitu melihat Wati dan Ningsih memasuki kelas.

Siti adalah siswi tercantik dan terpopuler di sekolah Wati. Siti adalah teman sekelas Wati. Ia adalah salah satu siswi terkaya di sekolah. Memiliki tinggi setara dengan Wati. Rambutnya hitam pendek model bob tanpa poni. Keningnya yang mulus sedikit maju, kadang dia dipanggil “Bunyuk” karena keningnya yang begitu maju sedangkan matanya sedikit menjorok kedalam. Ia berprofesi sebagai Model serta Bintang iklan dan beberapa bulan terakhir ia memulai mencoba peruntungan di dunia seni peran dengan membintangi beberapa serial drama dan film. Ia juga tak lama lagi akan menjajal dunia tarik suara serta akan mengeluarkan album solo perdananya. Bisa dikatakan sosok Siti adalah jelmaan gadis sempurna yang memiliki segalanya. Pintar, Cantik, Seksi dan kaya. Namun satu hal yang membuatnya kurang adalah cinta tak berbalasnya kepada Udin.

Sedangkan Ijah adalah sahabat baik Siti. Persis seperti persahabatan Wati dan Ningsih Tapi lebih tepat disebut pelayan dari pada sahabat karena Ijah cenderung melayani segala kebutuhan Siti. Orang tua Ijah bekerja sebagai pelayan selama bertahun-tahun di keluarga Siti. Meski diperlakukan seperti pembantu dimana saja, Ijah tetap setia dan menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk melayani Siti. Semacam aura pelayan telah mendarah daging dalam tubuhnya. Tubuh Ijah kurus dengan tinggi melebihi Siti. Bentuk mukanya yang lonjong berdagu lancip serta tulang pipi yang menonjol seolah menegaskan tampangnya yang judes. Jika Siti memakai model rambut dengan gaya Bob, lain halnya dengan Ijah yang menggunakan gaya kepang dua.

“Mau apa kalian?” Tanya Siti yang kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Wati lalu melipat kedua tangannya di depan dada dengan tatapan sinis.

“Mau masuk kelas kak.” Jawab Wati dengan imut sambil merapikan poni Maria Mercedes-nya dan berlalu menuju mejanya.

“Apa ini?” Siti meraih gantungan kunci berbentuk telur dengan kedipan berwarna merah yang menggantung di tas punggung jeruk mini Wati. Karena tarikan Siti begitu kuat membuat gantungan kunci itu terlepas dari tasnya.

“Kembalikan, itu hanya gantungan kunci biasa.” Wati berusaha merebutnya dari tangan Siti tapi sayang Dia jelas-jelas dengan sengaja melemparnya ke luar tepat melalui Pintu kelas mereka.

“Oops.”

Namun ketika Telur itu melewati Pintu kelas, Udin dan Cowok Cakep Kelas Sebelah melewatinya dan secara reflek menangkapnya. Telur itu tiba-tiba membesar seperti ukuran semula.

“Udin..itu milikku.” Kata Wati hendak mengambil Telur tersebut.

Wati menangkupkan kedua tangannya pada permukaan Telur itu ketika Udin hendak menyerahkannya dengan ekspresi datar.

Tepat ketika Udin dan Wati memegang Telur itu bersamaan, 1 menit 9 detik kemudian tiba-tiba saja tangan mereka tak bisa dilepaskan dan beberapa detik kemudian telur itu bergetar hebat. Muncul retakan-retakan kecil yang kemudian membesar dan meluas. Telur itu menetas.

Sesosok bayi mungil keluar dari cangkang telur raksasa itu dan melayang-layang di antara Udin dan Wati. Sesaat mereka saling adu pandang tanpa kedipan sampai bayi mungil itu mulai menggeliat-menguap dan mulai membuka matanya yang bening. Bulu matanya yang lentik bergerak pelan begitu ia memandang wajah Wati seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Mama.” Ucap bayi mungil itu dengan suara imut. Tangannya yg mungil menyentuh pipi Wati.

Bayi itu mengalihkan pandangan ke arah Udin sambil melayang mendekatinya. Tangan mungilnya menyentuh pipi Udin. “Papa.”

“AAAAAAAAAAAAA!!!!!!!” Semua berteriak.

Wati:Gadis Penjual Korek Kuping (Edisi Special)


EDISI SPECIAL

Namaku Wati. Umurku sekitar 6-9 tahun. Aku sendiri tak begitu ingat berapa tepatnya umurku saat ini. Jadi aku hanya bisa mengatakan umurku berkisar antar 6-9 tahun. Aku tinggal bersama ibu tiriku yang jahat. Dia selalu menyiksaku dan memaksaku bekerja sepanjang hari untuknya. Aku tak bisa melawan, karena dialah keluargaku satu-satunya.

Aku sangat merindukan Ibu dan Ayahku. Andai saja ibu dan ayah tak pergi begitu cepat ke surga pasti aku takkan hidup semenderita ini. Tapi pesan ibu, aku harus jadi gadis yang kuat. Gadis yang kuat bertahan untuk tak tertawa ketika seseorang menggelitiki lubang hidung atau kupingmu. Ya gadis yang kuat.

Aku memiliki 2 Saudara tiri bernama Siti dan Ijah. Aku kadang iri dengan mereka. Mereka begitu dimanja dan tak pernah ikut bekerja dan itu sangat menyebalkan. Mereka selalu dibelikan semua yang mereka inginkan. Baju, Sepatu, Sandal, Album K-Pop, DVD K-Drama, DVD Bollywood dan masih banyak lagi. Mereka juga diizinkan bersekolah. Sedangkan aku harus tetap bekerja agar bisa mendapatkan jatah makan dari Ibu tiriku.

Ibu tiriku mempunyai sebuah usaha yang setiap harinya aku kerjakan. Ibu tiriku adalah pembuat Korek Kuping. Jadi aku memiliki tugas untuk menjual Korek Kuping ke beberapa desa setiap harinya, sampai habis. Ya sampai habis. Kalau tidak, aku takkan mendapat jatah makan. Orang-orang mengenalku dengan sebutan “Gadis Penjual Korek Kuping”.

Pagi yang dingin menyambutku ketika aku dibangunkan dengan paksa oleh ibu tiriku. Aku di perintahkan untuk segera bersiap-siap pergi menjual Korek Kuping yang telah ia siapkan. Pagi yang bersalju pikirku ketika aku melihat tumpukkan putih di Jendela. Aku bangkit dari sehelai tikar yang ujung-ujungnya telah robek dikunyah tikus. Memakai baju rombeng beberapa lapis dan mengenakan sepatu yang tak kalah robeknya. Tak lupa aku memakai kerudung kuning jaket hitam andalanku yang telah lama diberikan seorang lelaki kurus yang sangat tampan. Ia tak mau menyebutkan namanya. Ia hanya mengatakan kalau jaket ini adalah jaket HPF. Jaket yang terdapat logo unik di sebelah kanan atas dan bertuliskan “Potterheads Indonesia” di bagian belakangnya. Jaket yang benar-benar hangat. Benar-benar orang yang mesterius tapi tampan gumamku.

“Hari ini tidak ada sarapan untukmu, ini sebagai hukuman karena kemarin kau tak menjual habis Korek Kuping-nya.” Kata ibu tiriku dengan ketus. Aku hanya terdiam sambil merapikan poni yang aku sebut poni Maria Mercedes dan dengan cepat meraih keranjang yang berisikan tumpukan Korek Kuping siap jual. Sepintas aku melihat Siti dan Ijah sedang asik mengolesi roti gandum mereka dengan tertawa penuh kepuasan ketika aku berlari keluar rumah yang bersalju.

“Kalau hari ini Korek Kupingnya tak habis terjual, kau juga takkan mendapat makan malam! Ingat itu!” Teriak ibu tiriku di ambang pintu dan langsung menutupnya dengan suara menjeblak.

Aku tak kuasa menahan air mataku. Sekuat tenaga aku menahannya sambil berjalan di jalan yang penuh dengan tumpukkan salju namun aku tak sanggup. Padahal ibuku selalu berpesan kepadaku agar aku menjadi gadis yang tak gampang menangis. Gadis yang takkan menangis meski sedang mengiris bawang sekarung.

“Pagi manis.” Sapa seseorang belakangku.

Aku menoleh kebelakang dengan dramatis. Poni Maria Mercedes dibawah kerudungku yang kuning berayun dengan slow motion.

“Udin.” Gumamku lirih. Bola mataku berbinar melihat bocah laki-laki tampan yang telah lama aku sukai itu.

“Sudah laku berapa?” Tanyanya sambil merapikan topinya.

“Belum ada satupun yang laku, aku baru saja keluar untuk berjualan.” Kataku sambil mengangkat bahu. Aku berusaha mengalihkan pandanganku karena aku belum sanggup menatap wajahnya yang tampan.

“Kau pasti belum sarapan..” Udin mengeluarkan sesuatu dari saku celananya yang berwarna cokelat. “Makanlah roti ini, aku tahu pasti wanita monster itu tak memberimu sarapan seperti biasanya.”

“Terimakasih.” Aku meraih roti itu dan langsung memakannya dengan lahap. Aku melihat Udin ternsenyum memperhatikanku mengunyah roti tersebut.

“Maaf.” Kataku malu.

“Tak apa, makanlah.”

Aku menghabiskan roti pemberian udin itu dengan lahap. Aku memang jarang mendapat jatah makan dari ibu tiriku sehingga makanan yang aku makan terasa sangat lezat saking laparnya bahkan meski hanya sebuah roti tawar biasa.

“Hari ini kamu rencananya berjualan ke daerah mana?” Tanya Udin yang berjalan di sampingku.

“Ya paling disekitar sini saja. Apalagi hari bersalju seperti ini aku tak sanggup untuk berjualan lebih jauh lagi.”

“Sebenarnya aku ingin ikut membantumu berjualan, tapi hari ini aku ada janji.”

“Janji?” Aku menghentikan langkahku. “Dengan siapa?”

“Dengan dia.” Udin menunjuk bocah laki-laki tampan sedang menunggunya di perempatan jalan yang bersalju. Dia adalah Cowok Cakep Daerah Sebelah.

Menurut sepengetahuanku, mereka telah bersahabat sejak lama. Aku kerap melihat mereka selalu berdua. Aku bisa merasakan aura persahabat mereka sangat kuat sekali bahkan melebihi saudara kandung sekalipun.

“Esok hari, aku akan membawakanmu roti lagi tak peduli kau mendapat jatah sarapan atau tidak.” Bisik Udin lalu melangkah mendekati Cowok Cakep Daerah Sebelah.

“Sampai ketemu lagi, dan tangkap ini.” Udin melemparkan sesuatu ke arahku. Dengan sigap aku menangkapnya. Ternyata sebuah permen berwarna merah. Permen Rujak rasa sambel goreng. Salah satu permen favoritku. Setidaknya rasa pedasnya akan mampu menghangatkan tenggororkanku di hari yang bersalju ini kataku dalam hati seraya memasukkan permen rujak itu ke dalam mulutku. Ahh.. Hangatnya.

Salju turun makin lebat membuat suasana sekitar makin dingin. Sesekali aku menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku dan meniupnya. Lumayan menghangatkan meski hanya beberapa detik saja.

“Korek..korek..” Kataku dengan suara serak menjajakan daganganku.

“Beli koreknya nak.” Seorang yang tua memberhentikan kereta kudanya.

“Mau rasa apa pak?”

“Kamu jual korek apa nak?”

“Aku menjual Korek Kuping pak.”

“Aku pikir kamu menjual Korek Api.” Orang tua itu berlalu dengan kereta kudanya.

Udara semakin mendingin. Tubuhku terasa membeku. Aku bersandar disebuah toko cokelat yang menjajakan berbagai macam cokelat di etalasenya. Terlihat sangat lezat. Beberapa kali aku menelan ludah melihatnya.

“Apa yang kau lakukan disini?? Pengemis sialan!!!” Teriak seorang laki-laki tinggi besar. Ia mengusirku dengan paksa dan menendangku dengan kasar hingga aku terjatuh. Keranjang Korek Kuping-ku terjatuh dengan isinya yang berhamburan. Belum sempat aku mengumpulkannya, kereta kuda melindas keranjangku dan beberapa Korek Kuping-ku hancur olehnya. Aku berusaha mengumpulkan sisa Korek Kuping yang masih utuh dan meletakkannya ke dalam keranjangku yang telah bengkok tak beraturan.

Aku duduk di sebuah jalan sempit yang dipenuhi salju menatap barang daganganku yang tersisa. Aku tak tahu harus bagaimana kalau sampai hal ini diketahui oleh ibu tiriku. Jangankan jatah makan malam, aku bahkan akan disuruh tidur diluar rumah.

Aku mulai menangis ketika aku membayangkan wajah ibuku.

“Ibu…aku kangen. Aku ingin bersamamu.” Kataku lirih sambil terisak.

Tiba-tiba saja dari keranjangku yang penyok berpendar sinar keunguan. Aku terlonjak bangun dan mundur beberapa langkah. Sesosok wanita anggun dengan gaun bulu-bulu berwarna ungu muncul dari pendaran cahaya itu. Kedua tangannya memegang sebuah tongkat berwarna yang juga berwarna ungu mirip dengan Korek Kuping.

“Ka..ka..mu siapa?” Tanyaku gugup.

“Fufufu..aku adalah peri Korek Kuping. Aku datang untuk menolongmu anak manis.”

“Menolongku, ibu ibu peri..”

“Hmmm.. Sebaiknya jangan panggil aku Ibu Peri. Panggil aku Ceu Peri.”

“Baiklah Ceu Peri.”

“Kamu anak yang baik tapi kurang beruntung. Untuk itu Ceu Peri akan menolongmu. Ceu Peri akan membuatmu bahagia.”

“Bagaimana caranya Ceu Peri?”

“Kau perlu mengorek kupingmu dengan Korek Kuping ini. Maka kau akan bahagia. Setiap korekannya akan menimbulkan sensasi membahagiakan yang tiada tara. Cobalah.” Ceu Peri menyodorkan satu set Korek Kuping berwarna ungu. “Setelah kau melakukannya Ceu Peri bisa pastikan kau akan bahagia dan kau juga bisa bertemu dengan orang yang sangat kau rindukan.”

“Benarkah, Ceu Peri?”

“Percayalah, Ceu Peri pergi dulu karena ada beberapa hal yang harus dikorek eh dikerjakan.” Wajah Ceu Peri merona karena malu sebelum ia menghilang dari pandanganku.

“Benarkah Korek Kuping ini bisa membuatku bahagia? Benarkah benda ini bisa mempertemukanku dengan orang yang aku rindukan?” Aku meraih salah satu Korek Kuping ungu itu dan mulai mengorek kuping. Mataku sontak berbinar, berkaca-kaca, berlinang lalu berurai air mata. Perasaan ini benar-benar membahagiakan. Bahagia yang tiada duanya. Suasana dingin disekitarku tiba-tiba saja menghangat. Hangat sekali. Demikian seterusnya ketika aku mencoba mengorek kuping dengan Korek Kuping kedua, ketiga dan seterusnya sensasi luar biasa bahagianya makin meningkat. Tubuhku seperti melayang ke udara bebas ketika aku menggunakan Korek Kuping terakhir. Selain itu aku melihat sesosok yang sangat aku rindukan selama ini, Ibu.

“Ibu..apakah itu kau ibu?” Tanyaku

“Iya sayang, ini ibu.”

“Ibu aku rindu sekali.” Kataku sambil melayang ke arahnya.

“Apakah kau mau bersama ibu selamanya?”

“Aku mau ibu..aku mau bersama ibu selamanya. Aku tak mau berpisah dengan ibu.”

“Kalau begitu raihlah tangan ibu, begitu kau menyentuhnya, kita takkan terpisahkan. Selamanya.”

Aku meraih tangan itu. Aku mengenggamnya dengan kuat. Tubuhku terasa begitu ringan yang kemudian melayang-layang bersama dengan ibu menuju tempat yang sangat membahagiakan. Perasaanku begitu bahagia. Aku belum pernah merasakan perasaan sebahagia ini sebelumnya. Terimakasih Ceu Peri, sekarang aku bisa bahagia bersama ibuku selamanya.

Wati:Cerdas Cermat


CHAPTER 4

Wajah Wati merona setiap kali ia mengingat kejadian itu. Kejadian paling berani seumur hidupnya: menyatakan cinta kepada cowok yang dia sukai sejak lama. Ditambah lagi ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan alias cintanya berbalas, menurutnya.

“Terus gimana cyin?” Tanya Ningsih penasaran disuatu pagi yang cerah.

“Ya gitu deh, Udin ternyata nerima cinta gue. Tahu gitu gue udah nyatain dari dulu.”

“Aaah so sweet..” Ningsih memeluk sahabatnya itu dengan kuat sambil membenarkan posisi kacamata tebalnya, “tapi lo serius kan?”

“Masa gue bohong sih?” Wati melepaskan pelukan kuat Ningsih ketika ia melihat sosok Udin sedang berjalan berdua dengan cowok cakep kelas sebelah dari kejauhan, “lo liat aja nih gue buktiin”

Wati merapikan poni Maria Mercedes-nya.

“Hai, Din.” Sapa Wati sok asik.

Udin terdiam dingin saling pandang dengan cowok cakep kelas sebelah.

“Eh, nanti malam kan ada film bagus Din, kita nonton yuk.” Ajak Wati manja sambil menarik-narik lengan Udin.

“Maaf Wati, gue nggak bisa, soalnya beberapa hari lagi kan gue ada cerdas cermat jadi gue harus belajar”

“Oh ya! Gue lupa! Lo kan udah terpilih buat wakilin SMA kita buat ikutan cerdas cermat tingkat kabupaten. Kok bisa sih gue lupa gini? Tapi lo nggak perlu khawatir, gue nggak bakal gangguin lo untuk saat ini. Lo mesti fokus sama cerdas cermat ini ya kan Din?”

Udin telah berlalu ditemani cowok cakep kelas sebelah beberapa detik yang lalu. Angin bertiup sepoi meniup dedaunan yang ada di belakang Wati.

“Ahahahaha…!” Ningsih tertawa heboh, “Masih yakin Udin suka sama lo? Dingin gitu sama lo.”

“Pasti dong. Lo nggak liat barusan gue pegangin lengannya dia diem aja dan ada benarnya juga sih, dia kan wakilin sekolah ini buat ikutan cerdas cermat jadi sudah sepatutnya dia belajar giat demi sekolah tercinta kita ini dan bukan nonton film bareng gue.”

“Ya udah lah, suka-suka lo deh. Tapi gue ingetin aja sih, Udin sepertinya nggak suka sama lo. Tatapannya itu dingin banget tapi nggak cuma sama lo doang sih, sama cewek yang lain juga dingin banget. Gue sebenarnya agak nggak percaya aja kalo dia udah nerima cinta lo.”

“Just wait and see! Gue bakal umbar kemesraan nantinya biar semua sekolah tau kalo kita udah jadian.”

Bel berbunyi empat kali, pertanda akan ada pengumuman yang akan disampaikan.

“Perhatian anak-anakku tercinta. Hari ini ibu guru akan mengumumkan sebuah berita penting, ehem, ” suara wanita yang berasal dari pengeras suara terdengar sedikit genit itu berdehem . Wati langsung menyadari bahwa itu adalah suara Ibu Mingce, guru pelajaran sejarah.

Ibu Mingce adalah seorang guru pelajaran sejarah yang modis dengan dandanan menor. Wanita itu bertubuh pendek dan sedikit gemuk. Bila berjalan akan mengeluarkan suara “tok tok” yang khas dari sepatunya. Ia mengenakan jilbab dan sebuah kacamata yang tak biasa. Kacamata bulat? Itu biasa. Kacamata oval? Biasa juga. Kacamata bulan separuh? Biasa. Ibu Mingce menggunakan kacamata berbentuk bintang yang ditaburi batu Swarovski berkilau di setiap pinggirannya yang jika ditotal berjumlah 69 biji. Ia juga hobi mengenakan baju dengan warna senada. Entah dari warna Baju, Kerudung, Tas, Lisptick dan Sepatu begitu juga kacamata yang tak biasa itu akan berganti sesuai warna baju yang ia kenakan. Selain itu ibu Mingce gemar memakai barang-barang bermerk.

“Dari hasil kesepakatan kemarin,” ibu Mingce melanjutkan pengumumannya melalui pengeras suara masih dengan suara genit. “Telah terpilih tiga orang siswa yang akan mewakili sekolah kita untuk mengikuti cerdas cermat tingkat Kabupaten dan akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Mereka adalah Udin, Cowok cakep kelas sebelah, dan Ijah.”

“Oh ternyata cowok cakep kelas sebelah itu kepilih juga ya?” Gumam Ningsih lirih disebelah Wati yang sedang merapikan poni Maria Mercedes-nya.

Ibu Mingce melanjutkan, “Tapi berhubung Ijah sedang sakit maka sekolah telah menetapkan penggantinya yaitu Siti. Tapi berhubung Siti juga sedang ada syuting iklan, maka sekolah telah menetapkan penggantinya yaitu Wati.”

Wati dan Ningsih saling adu pandang dengan mata melotot masih tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Serempak mereka saling tampar dan berteriak heboh.

“KYAAAAAA!!!!”

***

Buguru Mingce memasuki kelas Wati dengan langkah teratur dan rapi. Hari ini ia memakai setelan warna kuning yang merupakan warna favoritnya. Suara “tok-tok” sepatunya memecah keheningan kelas itu. Dengan posisi kedua tangan di pinggang ia menyapa kelas itu.

“Selamat pagi anak-anak” Salamnya seraya merapikan gagang kacamata bintang berkilaunya. Lipstick kuningnya terlihat sangat aneh dan agak menyilaukan. “seperti yang ibu umumkan barusan, dikelas ini ada dua siswa yaitu Udin dan Wati akan mewakili sekolah kita dalam cerdas cermat yang akan diadakan beberapa hari lagi. Sebenarnya ibu telah berharap banyak pada Siti, tapi ibu tau juga jadual syutingnya sangat padat.” Ibu Mingce melangkah rapi bak di catwalk dengan “tok tok” khasnya mendekat ke meja Wati. Begitu ia tiba di depan mejanya, ia berkacak pinggang anggun dengan kaki dilebarkan sedikit. Persis pose poto model. Mata di balik kacamata bintang berkilau itu melirik tajam ke arah Wati. “Jadi jangan buat sekolah ini kecewa! ngerti!” Ibu Mingce membuang pandang dengan gemulai melangkah ke setiap sudut di kelas itu. Ia berhenti di beberapa sudut sambil berpose dengan pose yang bebeda.

“Oke, Udin dan Wati ikut ibu ke kantor, yang lain buka buku paket sejarah kalian halaman 69”

***

Ternyata di kantor ibu Mingce telah menunggu cowok cakep kelas sebelah. Ia tersenyum. Senyumnya begitu manis. Awalnya Wati berpikir senyum itu untuknya dan ternyata dia tersenyum untuk Udin yang dengan cepat mendahului Wati memasuki ruangan ibu Mingce dan langsung duduk di samping cowok cakep kelas sebelah. Wati kemudian duduk di samping Udin yang kini berada di antaranya dan cowok cakep kelas sebelah. Mereka sedang sibuk mengobrol tanpa menghiraukannya.

“Jadi begini..” Ibu Mingce memulai pembicaraan “tapi tunggu dulu, penglihatan ibu sedikit terganggu. Sepertinya ibu perlu mengganti kacamata dulu.”

Ibu Mingce melepas kacamata bintangnya yang berwarna kuning menyala. Dalam sekejap ia menggantinya dengan kacamata lain berwarna kuning dan bertabur kristal Swarovski tapi dengan bentuk berbeda:Kacamata Love.

Wati menyipitkan mata melihat kacamata baru ibu Mingce.

“Wati, kau tak perlu menghitung berapa jumlah kristal Swarovski-nya. Karena sudah pasti jumlahnya 69.” Ucap ibu Mingce dengan ketus sambil menatap bayangannya disebuah cermin berwarna kuning.

Ibu Mingce lalu menjelaskan segala sesuatunya dengan mendetail. Dari materi hingga posisi duduk mereka. Dia memutuskan posisi duduk Wati adalah diantara Udin dan cowok cakep kelas sebelah karena memang ia sendiri perempuan. Wati memperhatikan semburat kekecewaan dia wajah Udin dan cowok cakep kelas sebelah ketika mereka mendengar keputusan itu. Tangan mereka berdua saling menggenggam seolah tak mau dipisahkan. Tetapi bagi Wati, hanya dekat dengan Udin sudah bisa membuatnya bahagia apalagi sampai duduk disampingnya dengan durasi yang cukup lama sanggup membuatnya lupa segalanya. Bodo amat. Yang pasti Udin akan selalu mencintaiku sampai kapanpun. Dia telah resmi menjadi pacarku. Batinnya membenarkan.

Hari itu akhirnya tiba. Setelah melalu perjuangan keras, Udin cs berhasil memasuki babak final. Di sepanjang babak penyisihan entah kenapa Wati begitu jadi sangat bersemangat dan hampir berhasil menjawab semua pertanyaan tanpa bantuan Udin dan cowok cakep kelas sebelah. Mereka berdua hanya memancarkan wajah merana di sepanjang pertandingan. Mereka merasakan seolah ada dinding yang memisahkan mereka berdua. Meski begitu mereka berdua selalu berpegangan tangan dengan kuat dibelakang Wati. So sweet.

Di babak final tibalah saat peragaan busana eh soal peragaan.

Juri membacakan sebuah soal. “Pertolongan pertama pada penyakit Diare?”

“Membuat larutan gula garam” jawab Wati.

“Bisa dipraktekkan?”

“Eh, Din lo aja yang maju” Saran Wati ke Udin.

“Tapi kan?” Mata udin menatap cowok cakep kelas sebelah dengan memelas. Tangan mereka beradu berpegangan makin kuat.

“Atau lo aja yang maju praktekin hei cowok cakep kelas sebelah.” Ucap Wati berbalik menghadap ke arah cowok cakep kelas sebelah yang kemudian memamerkan wajah tak kalah memelas dan tak berdosa ke arahnya.

“Ah ribet! Gue aja yang maju!” Ucap Wati yang kemudian bangkit meninggalkan mereka yang saling memandang satu sama lain.

“Berjuanglah Wati!” Teriak Ningsih dikerumunan penonton dibelakang para juri sambil membawa pom-pom.

“Baiklah pemirsa kembali bersama dengan saya, Wati dalam acara..”

“Ini bukan acara TV woy!” Potong salah seorang Juri berambut kribo.

“Eh ya maaf.” Wajah Wati merah seperti warna cat tembok tetangga sebelah. “baiklah, bahan-bahan yang diperlukan adalah, gula, garam, dan air secukupnya. Pertama-tama tuangkan segelas air lalu masukkan satu sendok mujung gula dan setengah sendok garam lalu aduk yang rata. Jadilah larutan gula garam ala Chef Wati.”

“WOOOOOW” seluruh penonton serempak ber-WOW- melihat larutan gula garam buatan Wati yang berkilau.

“100 untuk regumu” Ucap salah satu Juri yang berkonde.

Wati kemudian menunduk memberi hormat dan hendak kembali ke tempat duduknya. Namun ia tak sengaja menyenggol sebuah botol berisi cairan berwarna hitam hingga terjatuh dan pecah.

“GAWAT!!!” Teriak juri yang rambutnya berdiri. “ITU ADALAH UNSUR KIMIA 69! KALAU SAMPAI ITU BERCAMPUR DENGAN LARUTAN GULA GARAM AKAN SANGAT BERBAHAYAAAAAAA!!!!”

“TIDAAAAK!!!!” Teriak Wati.

“WATIIIIII!!!!” Teriak Ningsih

“UDIIIIIN!!!” Teriak Ibu Mingce

“BAKSOOOOO!!!” Teriak mamang-mamang Bakso di luar ruangan.

DUARRRRRRRRRR!!!!!!!!!

Wati:The First Love


CHAPTER 3

Hari itu cerah. Tak seperti hari-hari belakangan ini. Wati duduk santai di kantin ditemani sobat dekatnya yang bertubuh gemuk, Ningsih. Sesekali ia merapikan poni Maria Mercedes-nya lalu menyendok kuah bakso-nya yang masih panas. Meniupnya pelan sambil menatap seseorang di meja yang berada tak jauh dari mejanya.

“Liat apa lo cyin?” Tanya Ningsih. Pandangannya tak beralih dari bakso-nya. “Serius amat”

“Nggak ada sih, cuma ada yang menarik perhatian gue di seberang sana”

“Siapa sih?” Ningsih dibuat penasaran. Dia mengikuti arah pandangan Wati dan melihatnya.

“Buset!! Ganteng banget!! Pantas aja lo sampe nggak kedip liat cowok itu. Dia bukannya anak kelas sebelah ya?”

“Ia sih cakep, cuma yang gue liat bukan cowok yang itu. Tapi noh yang di seberang”

Cowok. Berkulit hitam. Menjajakan lollypop bulet-gepeng-sebesar-kipas.

“Lah, sejak kapan lo demen sama mamang-mamang jualan Lollypop?”

“Bukan! Tapi gue pengen beli Lollypo-nya. Gue kan lagi demen-demennya sama K-Pop. Berasa kurang eksis kalo nanti kita potoan nggak pakai Lolly gede” jelas Wati dengan ekspresi manja.

“Tinggal beli doang lo ribet amat”

“Masalahnya gue lagi sakit gigi makanya agak dilema buat beli”

“Eh ngomong-ngomong lo lagi deket sama siapa sekarang cyin? Cerita dong” Pinta Ningsih sambil merapatkan Kursinya ke samping Wati. Ia menjauhkan Mangkuk bakso-nya yang telah dilahap habis beserta kuahnya dari hadapannya.

“Hmmm..kalau gue sih emang udah suka banget sama seseorang dari dulu. Lo gimana?” Wati bertanya balik.

“Gue…ada sih cuma sekarang kan part lo. Jadi lo yang cerita duluan. Gue nggak enak sama author-nya, nanti gue dibilang tukang rebut part orang lagi” jelas Ningsih dengan nada malas. Memutar bola matanya.

“Oke deh”

“Terus..terus siapa cowok itu?”

“Dia….,” Pandangan Wati mulai menerawang. Wajahnya merona tersipu malu. Wajah Ningsih nampak serius mendengarkan sambil mengunyah kerupuk Merk “Sedang Ingin”. “Cowok itu tinggi, putih, badan-nya proporsional. Pokoknya cakep banget. Dia juga baik hati dan nggak sombong meski dia nggak rajin menabung tapi gue tetap suka. Senyumnya, matanya ah the way he talk, the way he move bikin gue melting deh. Dia adalah cinta pertama gue”. Tutur Wati dengan dramatis. Sayup-sayup terdengar lagu Fisrt Love-nya Utada Hikaru dari gerobak mamang-mamang Cilok yang sedang lewat.

“Terus sekarang doski ada dimana buug?” Tanya Ningsih dengan wajah keseriusan yang meningkat hingga 69%. Mulutnya masih asik mengunyah kerupuk.

“Dia ada di sekitar kita. Kita satu kelas dengan dia. Sekarang cowok itu sedang duduk dengan cowok paling cakep dari kelas sebelah”. Telunjuk Wati menunjuk sesosok cowok yang sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya di seberang meja mereka. Ningsih ternganga. Terkesima. Terpesona dan terpana melihat cowok itu. Bahkan ketampanannya melebihi tampan-nya cowok kelas sebelah. Dari kejauhan, ia melihatnya dengan gerakan slow motion. Mulutnya menganga menumpahkan remah-remah kerupuk yang baru saja dikunyahnya. Ningsih sampai sesekali menghalangi wajahnya dari kilauan yang dipancarkan cowok tersebut.

“Si..si..U..Udin?” Tanya Ningsih terbata-bata tak percaya. “Co..cowok paling oke, pa..paling cakep, paling po..populer di sekolah kita?”

“Hu um,” angguk Wati dengan imut sambil menyentil Poni Maria Mercedes-nya. “Dia dulu satu SD loh sama gue. Dari pertama liat dulu pas masih SD doski imutnya minta ampun dan gue langsung jatuh cinta. Makin kesininya dia makin cakep kyaaaaaa…”

“Kalo dia sih gue juga suka. Cakep gitu. Eh, tapi lo udah bilang suka nggak sama dia? Eh, tapi masa lo yang bilang suka?” Ningsih melanjutkan ritual makan kerupuknya.

“Hari ini, rencananya gue mau ngomong sama dia, gue udah nggak tahan nyimpen perasaan gue bertahun-tahun. Dan gue nggak mau masalah ini berlarut-larut. Gue pengen move-on. Gue nggak mau galau lagi gara-gara si Udin.” Semangat Wati berapi-api. Ibu kantin sampai numpang meminta api untuk menyalakan kompor dari semangat Wati yang berkobar.

“Bener tuh buug, mending lo ungkapin deh dari pada keduluan yang lain, misalnya sama gue gitu”.

“Maksud lo? Lo jangan ikutan suka sama si Udin. Sebagai sobat terbaik gue, lo harusnya dukung gue, bukan nusuk gue dari belakang.”

“Lah cuma becanda kali, kan gue udah bilang tadi gue juga udah punya cowok yang gue suka.”

Wati tersenyum. Dia memeluk tubuh Ningsih yang gemuk. Melepaskan pelukannya dan mencubit kedua pipi sahabatnya yang chubby. Dari rambut Ningsih yang bergelombang, berdebam beberapa kutu. Terus kenapa? Ya, nggak ada. Cuma pengen kasi tau aja sih.

Tepat pukul satu siang bel pulang berbunyi. Beberapa siswa terlihat berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Berdua, bertiga dan ada juga yang sendirian melewati koridor sekolah. Ningsih menunggu Wati yang sedang berlari menuju parkiran di depan gerbang sekolah. Wati berniat menumpahkan isi hatinya kepada Udin di parkiran. Udin biasanya keluar sekolah paling akhir karena spertinya ia mempunyai semacam klub dengan siswa cakep-cowok kelas sebelah- dan Wati berpikir mereka adalah sahabat akrab. Dimana saja Wati melihat Udin, ia tentunya melihat keberadaan cowok kelas sebelah yang cakep itu.

Suasana parkiran tampak lengang. Tak ada seorang pun di tempat itu. Dari balik tembok muncullah sosok Udin memakai Hoodie berwarna abu-abu yang menutupi semua kepalanya. Kedua tangannya di masukkan ke dalam kantong Hoodie yang berada persis di depan perutnya. Dengan kilauan ketampanan yang memukau. Di sekitar wajahnya muncul cahaya sparkling-sparkling dan sesekali tersenyum. Dari kejauhan, Wati dibuat melting hanya dengan menatapnya.

“OMG! Bahkan kalau gue diciptakan sebagai es abadi, gue yakin, gue pasti langsung meleleh diterpa senyuman itu” ucap Wati lirih.

Udin tak melihatnya mendekat. Ia baru saja menyentuh Stang motornya ketika Wati menepuk punggungnya. Udin berbalik. Mengangkat kedua alisnya. Dan tersenyum.

Sedetik kemudian, Wati meleleh dan meresap langsung ke dalam tanah hanya memandang wajah itu dari jarak yang sangat dekat.

“Umm…gini Din, Umm… Apa ya?,” Wajah Wati mulai memerah, memanas, dan sangat gugup. ia tak sanggup mengucapkannya sambil bertatap muka. Ia lalu memunggungi Udin. Meremas tali tas penggung berbentuk Jeruk mini-nya yang berwarna Kuning. “Gue.. Se..sebenarnya suka sama lo Din, lo tau kan kita udah temenan lama. Sejak pertama liat lo di SD dulu, gue langsung suka sama lo. Gue serius,” tatapan mata Wati menerawang ke langit-langit dan kembali mengingat-ingat masa lalunya. ” Entah kenapa setiap mikirin lo, selera makan gue ilang. Gue nggak enak makan, nggak enak tidur. Soalnya lauknya cuma pakai Garam doang. Dan ketika gue tidur, gue digangguin tikus mulu. Eh lo ingat kan waktu pertama kita kenal lo nabrak-nabrak gue gituh. Emang banyak sih yang doyan nabrak gue karena terpesona akan kecantikan gue. Eh ya lo ingat dong pas kita main dokter-dokteran? Lo sampai nyuntik gue pake suntikan sapi. Sakit sih emang sampai gue di lariin ke Rumah Sakit cuma gue pikir itu adalah tanda kasih sayang lo ke gue. Terus pas kita main mama-mamaan. Lo rela masakin gue upil segde duku hanya buat gue. Dan itu romantis banget tau nggak. Pada akhirnya gue akhirnya ngeberaniin diri gue buat ngungkapin perasaan gue sama lo. Hati mungil gue berkata kalau lo juga punya perasaan yang sama dengan gue kan, Din”

“Hmm..oke, baiklah” Jawab Udin.

Kedua mata Wati membesar. Mulutnya menganga. Sedikit shock tapi membahagiakan. Ia tak kuasa menahan air matanya yang beberapa detik lalu berlinang lalu berurai dan sekarang mengucur deras seperti pompa air tetangga sebelah.

Meski demikian ia masih belum mampu menatap Udin secara langsung. Wati masih saja memunggunginya.

“Berarti kita resmi jadian dong ya?”

“Oke”

“Tapi lo beneran suka kan sama gue?”

“Pastinya”

“Seperti yang gue harapkan. Karena gue selalu yakin dan percaya suatu hari nanti hari yang cerah dan indah berkilau akan menanti kita” angin berhembus kencang menerpanya diikuti suara deburan ombak yang dramatis. Rambutnya yang lurus berayun anggun.

Wati bahkan tak menyadari bahwa semua yang baru saja ia katakan tak satupun di dengar oleh Udin. Kenyataannya, kedua telinganya yang tersembunyi di balik Hoodie-nya sedang asik mendengarkan suara orang yang menelponnya.

Apapun yang terjadi, Wati kini sangat bahagia. Menurutnya, ia dan Udin kini resmi berpacaran. Tapi entahlah sampai kapan hal ini akan terus berlanjut.

Wati:The Profesor


CHAPTER 2

Laboratorium itu gelap. Tak ada secercah cahaya lampu sedikitpun. banyak terlihat botol-botol dan gelas reaksi mengeluarkan asap yang mengeluarkan bunyi BLUP BLUP BLUP beserta peralatan lainnya. Dibeberapa sudut ruangan terdapat patung anatomi manusia yang sudah terlihat usang dan berdebu. Sarang laba-laba menyelimuti beberapa benda di sekitarnya. Diluar langit mendung namun belum ada setetes gerimis pun berjatuhan. Udara sekitar mendingin. Hanya kilatan-kilatan cahaya dari langit sesekali berpendar dan menampilkan siluet 2 sosok misterius dlm kegelapan ruangan.

Sosok pertama terlihat pendek dengan rambut panjang bergelombang tanpa poni. Tubuhnya sedikit gemuk. Ia tampak mengenakan kacamata tebal bergagang hitam dan sesekali terlihat mengkilap diterpa kilatan-kilatan di langit. Sosok kedua, memiliki postur tubuh tinggi yang proporsional. Rambutnya panjang dan berponi. Ia juga tampak mengenakan kacamata tebal bergagang hitam.

Dalam keheningan ruangan itu, terdengar suara percakapan lirih antara mereka berdua.

“Bagaimana Profesor Wati? Apakah semuanya sudah beres?” Tanya sosok yang bertubuh gemuk dengan nada sedikit berbisik.

“Sepertinya begitu Profesor Ningsih, Gue yakin penemuan kita kali ini bakal bikin kita kaya” kata sosok tinggi berponi yang dipanggil dengan sebutan Profesor Wati.

“Hmm..” Profesor Ningsih menjepit dagunya dengan sela ibu jari dan telunjuknya seraya bergumam dengan tatapan serius “Berhubung kita telah menjadi Profesor, bagaimana kalau kata “lo gue” tidak perlu kita pakai untuk saat ini”

“Ide bagus Profesor Ningsih” Jawab Profesor Wati sambil membenarkan posisi kacamatanya.

“Seminggu lagi kita akan jadi kaya raya dan terkenal dengan penemuan ini. Pada acara minggu depan di TV, kita akan memamerkan hasil penemuan kita ke seluruh dunia! Hahaha”

“Benar sekali. Ini adalah titik balik dalam hidup gue, eh aku. Setelah berjuang bertahun-tahun akhirnya kita bisa menyelesaikan penemuan fenomenal ini. Banyak keringat dan air mata telah kita korbankan demi ini. Aku tak habis pikir bagaimana reaksi teman-teman gue, keluarga gue, tetangga sebelah gue yang TV-nya flat dan kucing gue yang belang bisa melihat keberhasilan ini” Seru Profesor Wati sambil berlinang lalu berurai air mata.

“Gue-nya Profesor Wati, tolong dihilangkan, saya ingatkan”

Setelah melakukan uji coba penemuannya, akhirnya tibalah saat-saat yang mereka tunggu.

Mereka mempersiapkan diri dengan matang. Mereka akan mempresentasikan hasil penemuan mereka di depan banyak orang dan akan disiarkan secara langsung di 69 negara pada pukul 06.09 dengan juri sebanyak 69 orang.

Dengan senyum menawan, Profesor Wati dan Profesor Ningsih telah siap dengan pose unik mereka di depan Kamera. Mereka sama-sama mengenakan setelah jubah berwarna putih bersih.

“Action!” Teriak salah seorang di belakang kamera yang menyorot mereka.

“Selamat pagi pemirsa..” Profesor Wati memulai acara tersebut dengan merapikan poni Maria Marcedes-nya “Kali ini kami akan memamerkan hasil penelitan tergress kami selama beberapa tahun terkahir. Bukankah begitu Profesor Ningsih?”

“Benar sekali Profesor Wati, kami telah melewati berbagai macam aral rintangan menghadang. Mendaki gunung, melewati lembah dan sungai mengalir indah ke Samudera bersama teman bertualang..hei Ninja Gozaru!!”

“Kita juga telah banyak mengorbankan keringat dan air mata dan finally kita berhasil menemukan sebuah penemuan mutakhir yang akan mengubah dunia” sambung Profesor Wati.

“Apa saja itu, Prof?”

“Anda pernah datang bulan?”

“Pernah”

“Pernah pakai pembalut dong?”

“Pasti”

“Kalau makan pembalut?”

“Alhamdulillah belum pernah”

“Pastilah anda pernah mengalami pembalut bocor dan berkerut?”

Profesor Ningsih mengangguk imut sambil menangkupkan kedua tangannya pada kedua pipinya yang chubby. Dia berkedip-kedip manja.

“Anda tak perlu khawatir. Kini telah ditemukan sebuah pembalut masa kini. Hasil penelitian bertahun-tahun dengan perpaduan ilmu pengetahuan maka terciptalah TRIPLEX! Pembalut pertama yang benar-benar anti kerut dan anti bocor”

Terdengar suara WOW panjang dari penontong yang menonton langsung demonstrasi tersebut.

“Untuk lebih meyakinkan, rekan saya akan menampilkan rekaman testimoni konsumen yang pertama kali mencobanya. Silakan Profesor Ningsih”

“Dan baiklah kita akan menyaksikan video testimoni berikut ini” Profesor Ningsih memencet sebuah Remote Control ke arah layar sebesar gawang sepak bola tepat di belakang Profesor Wati.

Video menampilkan gadis gemuk yang agak mirip sekali dengan Profesor Ningsih tapi berambut pirang.

“Aku anggota Cherleader, kadang nggak pede kalo lagi tembus. Apalagi pas lagi nge-cheer dan di tonton banyak orang. Biasanya aku pake pembalut merk SOF*EX tapi suka bocor dan bikin malu. Namun setelah memakai TRIPLEX bye-bye bocor dan kerut. Benar-benar anti kerut dan bocor. Saking anti kerutnya, membuatku jalan ngangkang. Terimakasih TRIPLEX”

“WOOOOOOOOOW” audiens ber-WOW panjang menyaksikan Video testimoni.

“Tapi..tapi..”Lanjut Profesor Ningsih “Bagaimana kalau ternyata bocor juga? Kan tidak ada yang sempurna di dunia ini?”

Audiens yang menonton terdengar ribut bergumam dengan teman disampingnya.

“Tenang saja. Setiap pembelian 1 set TRIPLEX akan kita berikan bonus berupa…selusin pembalut biasa”

“Wow Fantastis! Bombastis! Fenomenal” teriak Profesor Ningsih diikuti WOW panjang lagi dari penonton.

“Jadi tunggu apalagi, pesan sekarang juga di kosong delapan satu sembilan lima lima delapan puluh ribu”

“Dimana?”

“Di kosong delapan satu sembilan lima lima delapan puluh ribu”

“Dimana?”

“Di kosong delapan satu sembilan lima lima delapan puluh ribu”

Hening. Pesanan membludak.

Wati:Pelatih Senam


CHAPTER 1

Pagi yang mendung. Semendung wajah seorang gadis SMA bernama Wati. Rambutnya panjang dan hitam. Di depan keningnya berjejer poni yang ia sebut sebagai poni Maria Mercedes. Sedikit terinspirasi dari Telenovela semasa kecilnya. Tubuhnya tinggi dan lumayan proporsional. Wati adalah gadis yang modis dan feminin. Penampilan adalah nomer satu baginya. Salah satu ciri khasnya adalah selalu membawa tas punggung mini kuning berbentuk buah Jeruk. Dia kelas 2 SMA. Ia kini sedang duduk di sebuah ruangan sepi dengan cermin full di salah satu dindingnya. Sepertinya ia berada di sebuah Gym. Bola matanya yang hitam melirik pintu masuk yang terbuka lebar. Terpancar aura kejengkelan di wajahnya yang bulat. Beberapa kali ia mengibas-ngibaskan rambut panjangnya yang hitam sambil melirik ke dinding yang penuh cermin dan merapikan poni Maria Mercedes-nya. Ketika beberapa anak sebaya Wati–laki-laki dan perempuan–masuk ke dalam ruangan tersebut. Wati berdiri dengan kedua tangan disilangakan di depan dadanya.

“Dari mana kalian?” Tanya Wati dengan ketus. Bibirnya berubah segaris. Tatapan sinis menyapu wajah mereka satu persatu.

“Kita baru dateng” jawab salah seorang gadis berambut bob yang tubuhnya agak gemuk.

Wati mengibaskan rambutnya yang panjang sambil merapikan poni Maria Mercedes-nya.

“Apa? Baru dateng? Jam segini baru dateng? Coba kalian pikir kalau dalam lomba senam kali ini team dari SMA kita kalah, siapa coba yang bakal disalahin? Siapa coba? Gue! Gue yang memiliki tubuh proporsional dengan kecantikan luar dalam penuh pesona yang mampu memikat para lelaki di luar sana”

“Kok bisa? Bukannya yang jadi pelatih..”

“Eits, lo salah, Banci Kaleng..” Wati menjulurkan telunjuknya seraya mengoyang-goyangkannya di depan wajah pemuda kurus berambut Pink.”Coba tolong dicatat. Yang jadi pelatih kalian adalah gue, Wati. The fabulous girl in town 2012″

Beberapa anak berbisik-bisik dengan teman sebelahnya.

“Sebaiknya kita lebih cepat memulai latihannya, ayo”. Saran Wati sambil menepuk-nepuk tangannya.

“Tapi kok lo ga pake baju senam sih?” Tanya gadis kurus bermuka runcing dan berbibir monyong.

“Gini ya teman-teman, tugas gue itu sebagai pelatih senam ya nggak perlu lah gue ikutan pakai pakaian senam. Cukup pakai seragam putih abu saja toh yang akan ikutan lomba kan kalian bukan gue. Oke? Sebaiknya kalian rapikan barisan aja”

Tanpa instruksi lagi beberapa anak itu menuruti perintah terakhir Wati. Mereka berbaris rapi menghadap dinding bercermin. Wati melangkah ke depan mereka dengan anggun bak di atas catwalk.

“Oke teman-teman, sebelum memulai senam pasti dong ya kita butuh musik buat mengiringi senam kita supaya lebih semarak. Ada yang tahu musik yang biasa dipakai senam?”

“SKJ” Jawab gadis bertubuh paling gemuk. Perutnya terlihat bergelambir.

“Salah, Paus bunting. SKJ itu jaman 90-an dan berhubung sekarang lagi jamannya K-Pop jadi gue putusin buat pake musik K-Pop! Yeeei!!”

Hening. Saling pandang satu sama lain.

“Untuk menjuarai lomba senam tahun ini memang agak berat teman-teman. Selain kita harus menumbangkan juara bertahan, beberapa peserta baru juga bermuculan. Jadi kita harus berjuang sekuat tenaga sampai tetes darah penghabisan. Jadi gue udah nyiapin gerakan legendaris yang gue yakin bakal bikin kita juara”.

Wati menjelaskannya panjang lebar dengan semangat yang berapi-api.

“Coba..lo..” Wati menunjuk salah seorang pemuda di barisan kedua tepat di belakang gadis berbibir monyong.” ya. Lo yang cowok rambut Pink sini maju praktekin gerakan yang gue teorikan”

Pemuda berambut pink itu maju ke depan dengan lemah.

“Haduh ini kenapa milih cowok lemes gini sih buat ikutan lomba. Nama lo siapa?”

“Pinkzie”

Wati menangkupkan kedua telapak tangan di kedua pipinya yang merona. Melongo dengan mulut berbentuk huruf O. “Oh My God! Nama lo unyu banget, berikutnya gue ambil nama ini karena gue enggak mau ada yang lebih imut dari gue”

Wati merapikan poni Maria Mercedes-nya. Melirik sinis ke arah Pinkzie. Kedua tangannya kembali terlipat di depan dadanya.

“Lo masih inget gerakan yang gue teoriin barusan huh?”

“Masih, muter-muter-lompat-gulung-gulung-lompat-kayang kan?”

“Bagus, sekarang praktekin”

Pinkzie melakukan gerakan itu dengan senang hati. Gerakan memutarnya nyaris sempurna. Lompatannya pun demikian meski bagian gulung-gulung-lompat-nya terdapat kesalah sedikit. Tapi di bagian kayangnya…

KREKK!!!

Terdengar seperti ada yang patah. Ya dan memang ada yang patah. Tim Dokter sekolah mereka dengan sigap menaikan tubuh Pinkzie yang terlipat rapi. Wajah Pinkzie tampak bahagia dan puas. Dia tersenyum.

“Wajahnya menyiratkan kedamaian, Hiks” Wati berurai air mata.

Berikutnya. Gadis berwajah runcing dan bergigi monyong, Bimolee melakukan gerakan yang juga nyaris sempurna. Bimolee sangat pandai di gerakan melompat. Tapi sayang ketika ia melakukan lompatan terakhir, ia gagal untuk kembali. Giginya tersangkut di atap ruanga. Tim Dokter sekolahpun menandunya.

“Bahkan perjuangan terakhirnya yang menyakitkan ia tersenyum bahagia memamerkan giginya, so sweet, hiks” Wati kembali berurai air mata.

Berikutnya gadis bertubuh subur, Blutut juga mumulai aksinya memamerkan gerakan yang di teorikan oleh Wati. Seperti Pinkzie dan Bimolee, Blutut pun nyaris sempurna hanya saja ketika gerakan melompatnya membuat tempat latihan rubuh. Ia pun ditandu oleh tim Dokter sekolah.

“Benar-benar perjuangan yang hebat kalian” Wati menangis sejadi-jadinya.

Handphone Wati berdering di dalam tas punggung mini Jeruk miliknya. Ia meraih dan mengeceknya.

“Oke teman-teman latihan hari ini di cukupkan sampai disini saja karena gue ada keperluan mendadak. Ini benar-benar latihan terkeren yang pernah gue alamin seumur hidup. Serius. Sumpah. Gue nggak bakal lupain perjuangan teman-teman kita barusan yang telah berkorban dan berlatih keras demi lomba ini. Gue terharu. Gue berurai air mata. Dan gue yakin kita bakal menang di lomba kali ini. Gue…nggak bisa ngomong apa lagi..gue ..permisi”

Wati berlari-lari kecil sambil mengusap air matanya yang bercucuran meninggalkan teman-temannya yang telah terbaring kelelahan. Tempat latihan porak poranda. Hancur.

Sesosok lelaki botak tiba-tiba muncul.

“Selamat siang anak-anak. Saya adalah pelatih senam kalian dan mari kita mulai”

“AAAAAAAA!!!!”