Wind Of Windytopia


“Hei Windy lihat langit terlihat mendung” teriak seorang pemuda di bawah Pohon Cemara yang tumbuh tepat di depan sebuah Rumah Kost tempat ia tinggal.

Aku membuka jendela lalu mendongak ke langit dan memang langit terlihat gelap.

Dari Jendela aku melompat ke dahan Cemara yang berhadapan langsung dengan Jendela kamar pemuda itu.

“Rey jam berapa sekarang?”

“Sekitar jam 4 sore” jawabnya seraya mendongak ke arahku yang sedang berdiri di atas dahan Pohon Cemara. Aku melihat Rey berlari ke dalam Rumah. Sesaat dia sudah berdiri melipat tangan di depan Jendela.

“Apa kau akan menghalaunya lagi?”

Aku mengangguk pelan

“Tapi sampai kapan?”

“Sebisanya”

“Lihat Pohon Cemara yang kau pijak. Daunnya sudah mulai mengering dan berguguran karena hujan tak pernah berhasil meresapi bumi akhir-akhir ini”

“Tapi aneh kok Rumput tetangga selalu terlihat hijau meski tak pernah turun Hujan?” Candaku

“Aku serius Win, kalau sepanjang Tahun kau menghalau hujan apa jadinya Bumi ini? Jangan kan Hewan dan Tumbuhan, Aku pun bisa mati”

“Bagaimana kalau hujan sepanjang Tahun?”

“Itu sama saja, Makhluk hidup butuh Panas dan Air untuk hidup Win, tapi harus seimbang tidak kurang tidak lebih,mengertilah”

Aku melihat Rey menampilkan wajah memelas. Pandangannya menyapu halaman rumah yang tandus.

“Tapi aku tidak ingin pulang Rey” kataku sambil melayang mendekati Jendela tempat ia berdiri. Kedua tangannya menyambut tangan yang aku ulurkan. “aku tak ingin cahaya warna warni itu muncul. Orang-orang dari Bangsa Angin akan datang menjemputku melaluinya. Kalau sampai Cahaya itu muncul berarti saat itu perpisahan kita. Seperti yang kau tahu aku takut cahaya itu menampakkan diri. Ya  meski terlihat indah namun sangat menakutkan bagiku.Aku tak mau hujan sampai turun. Aku ingin hidup selamanya denganmu Rey kau juga harus mengerti aku”. Aku memeluk tubuhnya yang Kurus.Tangannya terasa membelai rambutku yang hitam dan panjang.

“Bagaimana kalau aku ikut denganmu?” Rey melepaskan pelukanku dan menatapku tajam “Ikut ke tempat asalamu..Wind..Windy..”

“Windytopia”

“Ya Windytopia! Dengan begitu kau tak perlu lagi mengahalau hujan sepanjang tahun agar Pelangi tak menampakkan diri”

“Tak semudah itu Rey, Bangsa Angin takkan pernah menyetujui hubungan kita. Kita berbeda”.

Inilah yang paling aku takutkan entah kenapa aku bisa jatuh cinta dengan Manusia. Andai saja waktu itu tak ada yang menolongku di Bukit Pupa-Saat dimana kemunculan pertamaku di Bumi-mungkin aku takkan jatuh cinta dengan Manusia ini. Aku bahkan tak ingat persis hal apa yang membuatku bisa terdampar disini. Tahu-tahu begitu terbangun aku melihat sesosok pemuda kurus dengan senyum menawan yang akhirnya membuatku seolah tak mampu hidup tanpanya. Senyum yang menenggelamkanku dalam perasaan yang tak mampu aku deskripsikan. Senyum yang mampu memenjarakan jiwaku bahkan melebihi Penjara Azkaban.

Bunyi Gelegaran Petir membuat kami berdua tersentak. Tangan Rey dengan reflek mendekap tubuhku. Aku merasakan aura protektif terpancar dari tubuhnya. Angin sepoi terasa memasuki Jendela dan membelai tubuhku. Aku melayang pelan tanpa kendaliku. Tubuhku bergerak melayang ke arah Jendela.

“Windy!”Teriak Rey

Aku mengisyaratkannya untuk tenang tapi hal itu tak mampu menyapu raut wajah kecemasan yang terpancar. Angin ini mencoba berkomunikasi denganku. Aku memejamkan mata dan berusaha merasakan sapaan-sapaan halusnya. Angin ini ingin memberitahuku sesuatu

“Senja ini..beberapa saat lagi ya..tapi..”

Angin sepoi itu terasa menjauhiku usai menyampaikan sesuatu kepadaku. Aku membuka mataku dan bergerak ke arah jendela menatap langit  yang menggelap. Gerimis mulai berjatuhan.Kutarik lengan Rey yang kurus dengan paksa. Melesat dengan Cepat memijaki dahan demi dahan Pohon Cemara itu.Terbang.Dia takkan merasa aneh karena beberapa kali aku pernah mengajaknya melayang mengitari tempat tinggalnya.

“Apa yang akan kau lakukan Win..?”

“Bukit Pupa”

***

Bukit Pupa terlihat sangat berbeda. Warna hijau hamparan rumput yang luas telah menguning. Pemandangan yang sangat berbeda dibandingkan dengan pertama kali aku muncul disini. Kalau saja aku tak menahan hujan hal ini takkan menjadi serumit ini.  Aku begitu Egois. Aku sangat menyesal. Tapi ini semua kulakukan agar aku tetap bersama Rey.

“Rey dengar, Bangsa Angin telah murka. Karena aku telah menghalau Hujan beberapa kali akhir-akhir ini dan hal ini telah membuat cuaca menjadi tak seimbang. Sore ini akan terjadi hujan badai yang sangat dahsyat. Tapi kau tak perlu khawatir karena kali ini pun aku akan menghalaunya”.

“Aku akan membantumu”.

“Sejak kapan kau merasa memiliki sihir hah?” Aku menaikkan alir kiriku seraya menujuk-nujuk dadanya “Kau tenang saja semuanya akan baik baik saja”

“Ya paling tidak membantumu mengayunkan tongkat atau semacamnya..”

“Cukup, Rey ini masalah serius”

“Tapi Win..”

Aku mendaratkan kecupan di bibirnya bertepatan ketika gerimis berubah hujan. Aku meraih kedua tangannya dan mengenggamnya erat.

“Kalau kita memang berjodoh kita pasti akan bertemu kembali suatu saat nanti. Kau cuma perlu mengingat tempat ini, Bukit Pupa dan kelak bila kau merindukanku tataplah langit, ketika Pelangi berpendar di langit senja saat itulah aku akan datang”

Bola matanya yang bening tampak mulai berkaca-kaca. Rey mendekapku erat di tengah guyuran Hujan yang makin menderas.

“Ini akan sangat sulit sekali Win” isaknya.

“Untuk terakhir kali kumohon tersenyumlah. Aku ingin melihat senyuman itu”.

Aku tak kuasa membendung air mataku yang seketika bercucuran berbaur dengan hujan yang membasahi pipiku.

“Jangan lupakan aku, Selamat tinggal Rey” bisikku di telinganya

Aku melepaskan pelukan eratnya yang dan melayang terbang menjauhi lokasi dimana ia berdiri.

“WINDY…..!!!”

Teriakkan Rey terdengar bergetar haru. Aku menoleh. Rey tersenyum. Senyuman terakhir yang aku lihat. Senyuman yang menenggelamkanku hingga aku tak mampu untuk kembali kepermukaan. Tenggelam. Selamanya.

“Kau harus kembali Win, kembali untukku. Disini, Bukit Pupa aku akan menunggumu disini. Aku yakin hari dimana Pelangi berpendar di langit senja kau pasti datang. Aku percaya itu. WINDY….!!!!”. Teriaknya

Aku harus mengakhiri semua ini.

Suasana sekitar telah berubah drastis. Langit begitu gelap dengan Hujan yang semakin deras. Sesekali berpendar kilatan-kilatan yang cukup minyalaukan. Langit bergemuruh diikuti petir yang menjilat-jilat seolah alam begitu murka. Aura hembusan angin yang tak begitu besahabat mengombang-ambing tubuhku di bawah guyuran Hujan yang makin menjadi. Aku lalu menangkupkan kedua tanganku di bawah dagu seraya memjamkan mata berusaha meredam kemarahan mereka. Aku mencoba berkonsentrasi menghadapi terpaan Hujan yang dinginnya terasa menusuk-nusuk tulang. Ku kerahkan semua kekuatanku agar bencana ini – paling tidak bisa ku kurangi kalau memang tak bisa kuhalau secara  keseluruhan.

Aku telah mengerahkan seluruh kemampuanku. Tubuhku terasa lemas tak berdaya. Ketika kelopak mataku terbuka mendadak pandangan sekitar memutih. Pudar. Samar- samar aku melihat seseorang berdiri di kejauhan dan tersenyum ke arahku.

“Senyum itu…, Rey kau kah itu?”Ya hanya itu yang aku ingat.

***