Thinee And The Old Man With White Beard


green nature movies gandalf wizards the hobbit middleearth ian mckellen grey pilgrim mithrandir gan_wallpaperswa.com_64

Pagi-pagi sekali aku berjalan menuju sungai yang jaraknya lumayan jauh dari rumaku  sambil menenteng sebuah ember kecil berwarna hitam. Ember hitam itu berisi perlengkapan mandi karena memang aku mau pergi mandi di sebuah sungai yang biasa kami sebut dengan sebutan Kokoq Bawaq (Kokoq=Sungai dan Bawaq=Bawah). Terletak lumayan jauh dengan dataran yang cukup rendah dari pemukiman penduduk di desaku. Sepanjang perjalanan, aku harus menyusuri pematang sawah yg berkelok. Kakiku terasa basah karena memijak rumput berembun. Sisi kiri dan kananku terhias oleh hamparan tanaman padi yang sudah mulai menguning. Benar-benar pagi yang menyejukkan pikirku apalagi posisi matahari belum terlalu tinggi dan udara yang aku hirup sungguh fresh!
Aku melihat sungai masih terlihat sepi-karena biasanya setiap pagi sudah ramai oleh penduduk yang biasanya mandi di sungai tersebut-pemandangan yang tidak biasa. Aku tertegun sejenak memandang aliran sungai yang tak begitu deras tapi sangat jernih, asli, murni, belum terkontaminasi limbah apapun. Setahu saya sumber aliran air sungai ini berasal dari pegunungan terdekat.
Ketika hendak bersiap turun ke sungai tersebut aku tiba-tiba saja melihat sesuatu hanyut. Perasaanku mendadak kesal melihat kenyataan ada orang yang membuang sampah di sungai ini. Apa mereka tidak berpikir tindakan mereka itu bisa mencemarinya? Dengan perasaan dongkol aku berusaha ke tengah sungai yang ternyata tidak terlalu dalam seraya mendekati benda tak kukenal yang hanyut tersebut.

“Apa ini?” gumamku lirih.

Aku memperhatikan ternyata sampah hanyut tersebut hanya selembar kertas usang kecokelatan. Aku memicingkan mata untuk melihat lebih detail lagi kertas tersebut. Di sana terdapat banyak semacam tulisan-tulisan arab yang tidak aku mengerti bagaimana membacanya. Kuperhatikan sekelilingku masih terlihat sepi. Tak seorang pun tampak sedang membuang sampah. Ah sudahlah lebih baik aku segera mandi kalau tidak aku bisa membeku disini kataku dalam hati sambil menepi meletakkan kertas usang bertuliskan tulisan arab itu di tepi sungai.

Selang beberapa saat ternyata ada kertas usang lain yang hanyut begitu saja! Begitu aku memungutnya, baik bentuk,warna dan ukurannya sama persis dengan yang pertama hanya saja tulisannya berbeda meski masih memakai tulisan arab. Aku jadi curiga bahwa ada orang yang sengaja membuang sampah di sungai ini namun anehnya di sepanjang sungai ini tak ada seorangpun!
Usai membersihkan diri aku mulai memperhatikan lembaran lembaran cokelat yang aku kumpulkan tersebut – tetap tidak mengerti dengan maksud dari tulisannya – mengenai jumlahnya aku kurang tahu yang jelas jumlahnya lumayan banyak. Aku berencana untuk memperlihatkannya pada seseorang bila nanti aku sampai di rumah. Sampai dalam perjalanan pulang aku belum juga menemukan seseorang melintas di sekitar sungai. Padahal setahu saya setiap pagi apalagi melihat matahari sudah lumayan tinggi biasanya banyak orang entah itu pemilik sawah atau pun orang yang hendak mandi. Aku jadi ngeri sendiri. Dalam kebingunganku aku merasakan tangan seseorang menepuk pundakku dari belakang.

“Hey..”

Aku terkejut bukan main dan sontak menoleh ke belakang. Tampak seorang lelaki tua dengan outfit serba putih termasuk rambut, kumis serta janggutnya yang panjang. Tampilannya persis seperti GANDALF dalam film Lord Of The Ring kurang lebih.

“A..anda siapa?” tanyaku terbata-bata

“Boleh tahu benda yang kau bawa itu apa?”

“Err..ini ember”  jawabku spontan sambil mengangkat ember berwana hitam yg ku tenteng dengan tangan kiri.

“Bukan yang itu tapi benda yang ada di tangan kananmu” lelaki tua beruban itu menunjuk kumpulan kertas usang kecokelatan yang ada di tangan kananku

Sejenak aku terdiam kebingungan tak tahu harus menjelaskan apa.

“A..aku sendiri tidak tahu apa ini sebenarnya” kedua bola mataku melirik kertas basah misterius itu, “aku menemukannya hanyut begitu saja di sungai itu.”

“Bagus” jawabnya sambil mengelus janggut putihnya dengan tangan kanan-aku pikir tak hanya tampilannya saja yang mirip dengan GANDALF tapi suaranya sama persis bedanya cuma orang ini memakai bahasa indonesia- “Asal kau tahu saja, kertas usang yang ada di tangan kananmu itu adalah milikku. Aku sengaja membuangnya dan berharap ada orang yang menemukannya.”

Oh, jadi kakek tua ini yang buang sampah sembarangan! liat saja nanti aku omelin habis-habisan gerutuku dalam hati padahal kenyataannya badanku gemetar setengah mati melihat orang semisterius ini.

“Boleh tahu namamu siapa?”

“Thinee” jawabku singkat.

“Thinee.. karena kau telah menemukan milikku yang berharga ini,  aku akan memberikanmu sebuah hadiah.”

Aku sangat terkejut mendengar perkataan lelaki tua itu. Mulutku tak mampu berucap sepatah kata pun. Speechless.

“Tetapi hadiah itu tidak akan aku berikan secara langsung. Kamu harus menemukan sendiri hadiah itu.” lanjutnya

“Bagaimana caranya?”

“Kamu cukup menemukan sebuah bangunan berwarna hijau, karena di situlah hadiahmu berada.”

Mendengar kalimat “bangunan berwarna hijau” pikiranku langsung mengingat-ingat suatu tempat yang sepertinya sangat familiar. Aku seolah tahu tempat itu. Bayangan bangunan berwarna hijau di bawah pohon bambu tergambar jelas di otakku saat itu.

“Kamu harus berusaha menemukannya, berjuanglah.” kata-kata lelaki tua itu membuyarkan vision yang aku lihat dan menyadarkan aku bahwa lelaki misterius itu sudah tidak berada di hadapanku lagi. Begitupun dengan kertas usang kecokelatan itu lenyap begitu saja dari tangan kananku. Kusapu pandangan sekelilingku dengan kedua bola mataku namun sayang tak seorangpun yang terlihat. Pandanganku terlihat berputar perlahan makin lama makin cepat sehingga membuat kepalaku terasa pusing. Beberapa saat kemudian aku sudah mendapati diriku di atas tempat tidur. Ternyata aku bermimpi.

Hari berikutnya aku menceritakan mimpiku ini kepada ibu. Dia mengatakan kalau lokasi sekitar sungai itu memang sudah terkenal angker dari dulu. Dia menyuruhku untuk tidak terlalu memikirkan hal itu karena kejadian yang aku alami tak ubahnya hanya sebuah mimpi, bunga tidur. Dia juga menjelaskan sesuatu kepadaku.

“Kau ingin tahu siapa yang memberikan nama Thinee padamu?”

“Siapa, bu?”

“Nama Thinee diberikan oleh seorang kakek bernama Dhar. Dia adalah pemilik sawah di sekitar sungai itu dan di sana sudah terkenal keangkerannya sejak dulu bahkan ada yang bilang kalau lokasi itu merupakan area kerajaan dari makhluk lain semacam jin dan sebagainya yang tak bisa dilihat manusia biasa.”

“Apakah yang di mimpiku itu kakek Dhar?”

“Iya mungkin saja, tetapi setahu ibu kakek Dhar tidak mempunyai janggut panjang berwarna putih seperti dalam mimpimu.” jelasnya sambil mengelus kepalaku pelan dengan tangan lembutnya. “Atau bisa saja mimpimu itu semacam wangsit. Seseorang dari dunia lain ingin memberimu sesuatu yaah..  semacam ilmu mungkin.”cbisiknya seraya tersenyum simpul dengan kedua bola mata melirik ke arah kiri atas.

Jantungku mendadak berdegup kencang mendengar penuturan ibuku tadi. Jika benar ada yang memberiku semacam ilmu gaib atau bahkan ilmu sihir bisa jadi ketenaran Harry Potter bisa ku saingi.

“Sudahlah tak usah kau pikirkan anggap saja itu semacam teguran jika menolong seseorang harus tanpa pamrih biarlah Tuhan yang membalasnya kelak.”

Mendengar nasehat itu aku menjadi sedikit lega namun jauh di dalam lubuk hatiku yang paling dalam masih tersimpan rasa penasaran yang kuat. Andai saja Ichihara Yuuko benar-benar ada dalam kehidupan nyata aku pasti sudah mengunjungi Toko-nya meskipun ia meminta bayaran apapun demi menafsirkan mimpiku.

Keesokan harinya lagi aku memberanikan diri untuk pergi ke area sekitar sungai. Tidak seperti dalam mimpiku, lokasi sekitar sungai sudah terlihat ramai oleh orang-orang yang sedang membajak sawah. Aku menyusuri tepiannya melewati pematang sawah yang agak licin sampai menemukan tempat yang banyak ditumbuhi pohon bambu. Mengingat gambaran yang ada di mimpiku ketika kakek berjanggut putih itu menyebutkan, “Carilah bangunan berwarna hijau” entah kenapa lokasi inilah yang muncul di otakku. Tapi sayang kenyataan yang aku lihat hanya hamparan rumput liar di sela-sela tumbuhan bambu.

Mimpi yang benar-benar membuatku  sedikit gila.

Dan ketika hendak meninggalkan tempat itu, seseorang menepuk pundakku.

Iklan

6 Komentar

  1. 30/11/2011 pada 3:35 PM

    dasar kakek….jadi bikin ceritanya kakek-kakek..muahahaha

  2. @rrezquitah said,

    05/12/2011 pada 10:48 AM

    cieeeee lanjutin kak, kegantung bgt

  3. yisha said,

    21/01/2012 pada 9:21 AM

    suka cerpenmu..
    makasih ya setuju saling follow 🙂

  4. Ida said,

    30/07/2014 pada 5:12 PM

    mau ga jelas dan iseg tetap lanjutkan, membacanya saya seolah2 melihatmu riadun, sedikit tidak saya tahu sejarah keluargamu jadi sedikit tidak bisa menebak tokohnya jg hehehehehe:)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: