Wati:Watiception


CHAPTER 6

Wati membuka matanya dengan lebar. Tangannya reflek merapikan Poni Maria Mercedes-nya. Tak terjadi apa-apa. Ia kebingungan setengah mati dengan apa yang ia alami. Pertama, teman-teman dan guru yang hilang, kemunculan Telur misterius dan terakhir lahirnya seorang bayi dari Telur aneh itu. Namun, di hadapannya kini tak terjadi apa-apa. Ningsih yang sedang duduk di sampingnya sedang asyik mengunyah Abon Kuda rasa jeruk saus cabe yang dibumbui dengan rempah-rempah warisan suku Maya, Ibu Mingce yang sedang duduk di meja guru sedang asyik mencoba kacamata berbentuk Planet Saturnus dan terakhir ia melihat Udin dan Cowok Cakep Kelas Sebelah sedang asyik mengobrol seperti biasanya. Demikian pula Siti sedang asyik dipijit oleh Ijah.

“AAAAAAAAH….!!!!” Wati berteriak sekuat tenaga sehingga menjadi pusat perhatian di kelasnya.

“Kamu kenapa Wati?” tanya Ibu Mingce dengan ketus. Kali ini ia mengenakan Kacamata berbentuk segitiga sama kaki berwarna kelabu. Ia melangkah dengan anggun menuju ke arah Meja Wati. Kedua tangannya berkacak pinggang sambil sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan. Tak lupa ia melambai-lambaikan tangannya bak ratu sejagat.

“Maafkan saya, bu. Saya bingung apa yang sebenarnya terjadi”.

Wajah Ibu Mingce mendekat ke wajah Wati sampai ia bisa melihat pori-porinya yang besar seperti kulit jeruk. Ia lalu berbisik.

“Kalau lo cuma mau cari perhatian Udin, lo salah besar. Udin nggak bakal mau meratiin lo sampai kapanpun! Ngerti!!!”

Wajah Wati memucat. Keringat dingin mengucur deras di punggungnya. Ningsih memeluk tubuh Wati sambil merapikan kacamatanya yang melorot. Wati tampak ketakutan usai Ibu Mingce berjalan meninggalkan meja mereka.

“Ibu sudah nggak mau ngurusin masalah nggak penting seperti ini. Setelah ini, Wati, lo harus ke ruangan kepala sekolah secepatnya. Siapa tahu dia bisa membantu masalah lo. Oke, anak-anak sampai di sini pelajarannya”. Wati melihat Ibu Mingce melirik ke arah Udin dengan senyum semangat. Ia juga melihat Ibu Mingce mengganti model kacamata segitiga sama sisinya dengan model kacamata segitiga siku-siku.

Siti berjalan menuju meja Udin dan Cowok Cakep Kelas Sbelah berusaha untuk mencari perhatian tapi nihil. Dua cowok cakep itu justru begandengan keluar kelas dengan santai meninggalkan Siti yang cemberut.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Wat. Aduh sampai keringat lo banyak gini” Ningsih berusaha menyeka keringat yang mengalir sangat banyak di wajah sahabatnya.

“Gue sendiri nggak ngerti apa sebenarnya yang terjadi sama gue. Gue bingung. Kepala gue pusing banget. Gue ngalamin peritiwa aneh dan berlapis..”

“Berapa lapis?” Ningsih memotong penjelasan Wati dengan wajah bersemangat.

“Ratusan..”

Kemudian hening.

Kepala sekolah Wati bernama Kripi. Seperti namanya ia sedikit Creepy. Lelaki beruban dengan tubuh super kurus. Wajahnya dipenuhi seribu kerutan. Hobinya adalah menari Ballet. Ia menghabiskan berjam-jam di ruangannya untuk berlatih kreasi baru dari gerakan tari legendaris, Swan Lake. Meski aneh, Pak Kripi terkenal baik hati dengan jiwa yang tenang. Ia disegani semua orang. Pribadi yang murah senyum dan bijaksana dan berwibawa. Wi….bawa mobil, wi…bawa motor, wi…bawa kartu kredit, wi..bawa rumah. Dan yang terakhir itu mustahil.

Wati memberanikan diri untuk menemui Pak Kripi seperti saran Ibu Mingce. Dengan ditemani Ningsih ia berjalan menuju ke ruangannya. Samar-samar mereka mendengar suara musik klasik yang memang berasal dari ruangan Pak Kripi. Ketika hendak mengetuk pintu, tiba-tiba terdengar suara mengalun lembut menyapa mereka.

“Masuklah…” suara itu mengalun merdu

Mereka berdua sontak merinding mendengar suara itu. Bertepatan dengan itu, pintu ruangan Pak Kripi terbuka dengan sendirinya dengan pelan. Wati dan Ningsih berpelukan sambil berjalan memasuki ruangan itu. Beberapa kali mereka menelan ludah dengan bola mata menyapu sekeliling ruangan. Ruangan Pak Kripi ternyata sangat luas. Tampak seperti gymnasium. Lantainya terbuat dari kayu mengilat. Ningsih berlutut dan menghembuskan napasnya beberapa kali sampai mengembun di lantai. Ningsih menggosoknya dengan ujung rok seragamnya yang kemudian menampilkan bayangan berkilau.

“Ada yang bisa saya bantu” terdengar suara lembut dari seorang lelaki tua kurus berkeriput memakai baju Ballet lengkap. Musik klasik yang biasa terdengar mengiringi tari Ballet masih berkumandang dengan merdunya.

“Be..be..begitu..eh begini..pak…” Kata Wati terbata-bata yang pembicaraannya langsung dipotong Pak Kripi.

“Aku sudah tahu masalahmu, nak” Pak Kripi tersenyum. Bola matanya seolah tenggelam tak terlihat ketika ia tersenyum, “Tapi sebelumnya izinkan bapak menjelaskannya sambil melatih tarian Swan Lake-ku yang belum sempurna ini”.

Volume musik klasik pengiring tari Ballet Pak Kripi meninggi. Wati kebingungan, bagaimana Pak Kripi tahu semuanya? Padahal dia belum bercerita sedikitpun. Pak Kripi benar-benar Creepy. Wajah Wati dan Ningsih memucat.

Pak Kripi memulai tarian Swan Lake-nya. Ia berputar-berjinjit-melompat-kayang. Ia mulai berbicara sambil menari, “Aku bisa mengatakan kejadian ini adalah peristiwa yang sangat langka. Kemampuan yang luar biasa. Berhubung yang mengalami adalah Wati, jadi bisa aku katakan peristiwa yang disebut Watiception” kalimat terakhirnya diikuti gerakan imut sambil kayang. “Watiception adalah peristiwa dimana Wati-sebagai orang yang mengalami-bermimpi atau berhalusinasi kemudian dalam mimpi tersebut kamu bermimpi lagi. Mimpi betingkat. Mimpi berlapis”.

“Berapa lapis?” tanya Wati dan Ningsih berbarengan.

“Ratusan” jawab Pak Kripi sambil tersenyum ketika dia sedang melakukan gerakan ngangkang. “tapi beberapa orang, termasuk saya, yang memang memiliki kemampuan menjelajah mimpi akan sangat menguntungkan jika ada orang yang yang mengalami kejadian ini. Aku bisa dengan bebas menjelajah mimpi dan mencuri ide-ide orang. Tapi aku bukan orang yang seperti itu. Aku adalah orang baik, tidak sombong dan rajin menabung” mata kanannya berkedip manja sambil memamerkan gerakan Angsa mematuk Ular Sendok. “Tak usah khawatir, itu hanya mimpi. Mimpi special dan unik. Oh ya, aku mau melakukan gerakan legendaris, sebaiknya kalian keluar karena aku tak mau siapapun melihat gerakan ini sebelum waktu yang ditentukan”. Pak Kripi tersenyum. Senyum yang menenggelamkan bola matanya.

Hari berikutnya, Wati kembali seperti biasa. Kegundahan hatinya lenyap seusai ia diberi penjelasan oleh Pak Kripi. Ia kembali menyebar kabar telah jadian dengan Udin yang selalu dibantah oleh Siti dan Ijah. Ningsih sibuk mengunyah koleksi Abonnya. Sedangkan Udin masih tetap berdua kemanapun dengan Cowok Cakep Kelas Sebelah.

Di siang yang terik, tepatnya pada tiang jemuran yang penuh dengan jemuran berupa pakaian dalam berbagai ukuran, berdiri sesosok misterius dengan pose keren mengenakan jubah hitam. Tangannya memegang sebuah Teropong berwarna hitam sedang memperhatikan Wati dan teman-temannya. Sebuah Panci melayang mengenai kepalanya yang membuatnya goyah dari posisi kerennya di atas tiang jemuran.

“Woy!!! Turun lo!! Maling Jemuran!!!” teriak ibu-ibu gemuk dengan roll rambut warna warni. Sosok berjubah hitam itu melompat dengan cepat mengindari lemparan-lemparan senjata berupa peralatan rumah tangga.

“Dia ternyata ada di sini..fufufu…” sosok itu tertawa dramatis sampai- sampai ia tak melihat Tiang Listrik di hadapannya.

JDUKK!!!

Labilia Emotica Nervouse


Aku terlalu emosi. Aku juga terlalu egois dan labil. Aku tak pantas bersikap seperti ini. Aku kadang malu akan sikapku yang seperti ABG. Aku bukan teenager lagi. Fase itu telah lewat bertahun-tahun silam. Tapi pada kenyataannya, aku lebih banyak bersikap seperti remaja kebanyakan. Sudah sepantasnya aku harus bersikap dewasa karena pada dasarnya aku telah dewasa.

Virus Labilia Emotica Nervouse (LEN) masih menjangkitiku. Kalian perlu tahu jenis virus ini. Jenis virus yang telah lama ada tapi tak ada yang menyadarinya. Namun baru kali ini aku memberinya nama. Labil, Emosional, Kekanakan dan mengambil keputusan tanpa pikir panjang adalah gejala khusus yang ditimbulkannya. Menganggap diri selalu benar juga termasuk gejala lainnya. Virus ini biasanya menjangkiti remaja dan tidak bisa diobati. Virus ini akan menghilang ketika seseorang mengalami perubahan fase remaja menuju dewasa. Tidak benar-benar menghilang hanya saja seseorang akan mampu menguasai dan mengendalikan efek-efek yang ditimbulkan oleh virus tersebut. Tapi, beberapa orang kadang masih terjangkit virus ini meski mereka sudah dewasa. Sepertiku contohnya.

Aku telah berusaha keras untuk bisa mengendalikan efek dari virus ini. Tapi hasilnya nihil. Sepertinya aku membutuhkan seorang dokter spesialis LEN. Tapi dimana? Jelas-jelas sejarah menyebutkan penyakit ini tak bisa disembuhkan karena memang tak ada obatnya. Aku merasa jiwa remajaku abadi dan terperangkap dalam raga yang kian menua.

Hal ini menjadi sebuah mimpi buruk ketika memikirkan suatu saat aku membina rumah tangga. Aku akan dituntut menjadi seorang kepala keluarga. Pemimpin bahtera rumah tangga yang sangat membutuhkan tanggung jawab besar. Dan aku akan tetap seperti ini? Aku harus segera melakulan sesuatu sebelum terlambat.

Woman On Fire


Yup, hari ini aku harus semangat apa pun yang terjadi. Hidup itu memang berat tapi aku pikir aku harus tetap semangat menjalaninya.

Tak ada gunanya juga berkeluh kesah. Ibuku saja selalu bersemangat setiap harinya. Padahal banyak masalah yang ia hadapi. Ia selalu berapi-api melakukan sesuatu. Semangat.

Ada energi yang mengalir  di dalam tubuhku ketika aku mendengar teriakannya memanggil pembeli untuk menawarkan barang dagangannya. Membuatku terbamgun di pagi yang mendung. Aku juga tak boleh patah semangat. Aku juga akan menjalani hari-hariku dengan semangat yang berapi-api. Semangat.

She just a woman and she’s on fire.

Hujan, Ini Salahamu


Haruskah aku salahkan hujan? Tapi memang benar. Hujan kemarin telah membuat konflik di antara kami. Semua berjalan seperti biasa sampai akhirnya hujan itu turun dan membuatku tersentak kaget lalu terbangun dari sehelai Tikar robek siang itu. Aku harus segera berangkat kerja. Yang aku takutkan bukan terlambat. Bukan. Aku melirik jam dinding yang kacanya telah pecah sepintas. Waktu menunjukkan jam kerjaku masih terlalu dini untuk berangkat sekarang. Tapi apa mau dikata, hujan mulai turun dan menghalangiku untuk berangkat ke tempat kerja. Andai saja Jas Hujanku masih bagus mungkin aku takkan setergesa-gesa seperti ini. Otakku menggambarkan jelas titik-titik robekan pada Jas Hujan itu ketika aku mulai memikirkannya. Yang aku inginkan sekarang hanya berangkat ke tempat kerja secepat mungkin sebelum hujan ini akan semakin lebat.

Konflik mulai terjadi. Tanpa menghiraukan apapun aku dengan cepat bersiap untuk segera berangkat. Mulai dari memanaskan Motorku yang berwarna biru, memasukan kertas-kertas laporan dan sebagainya. Aku juga berencana untuk menykip makan siangku. Aku terlalu takut hujan ini akan membasahiku nanti dan mengacaukan hariku. Tak lupa aku meneguk segelas air pada gelasku yang berwarna kuning yang memang selalu ku siapkan sendiri setiap harinya. Ketika aku dalam keadaan minum, dia bertanya padaku sambil mengaduk nasi yang ada di dalam bakul.

“Hari ini mau bawa bekal?”

Aku terdiam. Bagaimana mungkin aku bisa menjawab pertanyaan dalam posisi minum.

“Cemin!!! Mau bawa bekal nggak?” nadanya meninggi sambil diiringi candaan yang sukses membuatku memanas. Cemin adalah nama nenek pikun dari pihak keluarga lelaki. Begitu aku selesai meminum air dari gelas kuning itu, aku tak mampu menahan emosiku yang telah mencuat sampai ke ubun-ubun.

“Kan nggak harus pakai teriak! Bagaimana aku menjawab dalam keadaan minum!!!” kataku berteriak.

Aku merapikan semua barang-barangku dan langsung pergi tanpa pamit dalam guyuran hujan yang kini  menggerimis. Ada perasaan menyesal dengan kelakuanku beberapa menit yang lalu. Tetapi egoku terus membisiku bahwa yang aku lakukan itu adalah hal yang benar.

Malamnya, hal itu menjadi pembahasan lagi. Konflik pun tak terhindari. Beberapa menit aku adu argumen dengannya sampai akhirnya aku terlelap diiringi lagu-lagu yang mengalun dari sebuah MP3 Player.

Hari yang benar-benar sial. Ini semua salah hujan. Aku yakin andai saja saat itu hujan tidak turun, pasti hal ini takkan pernah terjadi. Hujan, ini adalah salahmu.

Superhero Asli


Aku terlalu lelah menghadapi ini. Suasana yang tak begitu harmonis membuatku semakin stress. Aku telah mencoba untuk bertahan tapi tak kunjung membuahkan hasil. Semuanya berubah. Atasan terasa ogah-ogahan mengurusi semua problem yang ada. Sepertinya aku harus segera menemukan sesuatu yang baru sebagai penggantinya. Aku tahu ini sangat sulit. Dengan pendidikan yang standar dan keterampilan yang tak begitu banyak aku menjadi pesimis bisa survive.

Andai saja aku lepas, apa aku akan dengan mudah mendapatkan yang baru? Aku tak terlalu memedulikan jumlah yang aku dapat. Asal aku bisa melakukannya dengan bahagia dan tanpa beban itu saja sudah cukup. Percuma saja menghasilkan banyak tapi batin tertekan. Bukan tidak mungkin lagi lama-lama aku akan stress kemudian menjadi gila. Cukup membayangkannya saja, bulu kudukku merinding hebat.

Tapi ada begitu banyak konsekuensi yang harus aku hadapi jika aku benar-benar lepas dari semua ini. Sepertinya aku harus segera menemukan senjata baru sebagai perlindunganku sebelum aku melepaskan tumpuan yang ini. Selain itu, menemukan yang baru memang sangat sulit. Minggu-minggu yang terasa berat. Konflik muncul dimana-mana. Aku jadi tak tahu harus bagaimana. Aku akan mecoba bertahan sampai semua tunggakan itu habis sambil mencari hal yang baru di sekitarku. Semoga saja masih ada tempat buatku yang telah matang ini.

Beberapa hari yang lalu, aku sempat bertanya perihal SUPERHERO. Aku bertanya, apakah di kehidupan nyata itu SUPERHERO benar-benar ada? Kalau memang ada, kemana dia? Padahal aku sedang membutuhkan pertolongannya tapi sang SUPERHERO itu tak kunjung datang menolongku. Aku lalu tersadar. Untuk apa aku bekoar-koar mencari sosok SUPERHERO yang konon bisa menolongku yang sedang dalam kesulitan. Padahal SUPERHERO itu selalu ada di dekatku. Di sampingku. Bahkan tak pernah meninggalkanku. Aku hanya tak menyadarinya. DIA-lah SUPERHERO yang sebenarnya.

Aku hanya bisa berserah padaNYA. Apapun yang terjadi adalah kuasaNYA. Ini adalah takdirNYA. Yang harus aku lakukan adalah berusaha dan berdoa memohon kemurah hatianNYA. Semoga DIA menunjukkan jalan yang tebaik buatku. Dan melepaskanku dari semua teman-teman yang setia mengikuti semua orang kapanpun dan di manapun mereka berada. Amin.

Tapi teman-teman yang setia itu takkan pernah benar-benar pergi. Teman-teman itu hanya menghilang sejenak kemudian mereka akan muncul lagi dengan sosok yang baru. Semua orang tahu akan hal itu.

Amazing Amazing 25


GYAAAAAAAAAA……!!!!!

AAAAAAAAAAAA……!!!!!

Gue mau teriak sekencang-kencangnya. Bisa-bisanya gue berpikiran begitu kepada mereka. Mereka “Sekelompok Orang” itu maksud gue. Kumpulan orang-orang keren yang telah membuat kejutan yang nggak gue sangka dan nggak gue duga. Ya iyalah…namanya aja kejutan. Bisa-bisanya mereka keren begitu. Ughhhh….mereka sukses ngerjain gue.

Lo semua inget kan beberapa minggu lalu pas gue ulang tahun??? Nggak??? Oke terimakasih. Beberapa waktu lalu gue posting tentang ulang tahun gue dari tahun ke tahun dimana ultah yang paling mengesankan adalah ultah ke 17 dan 25 dengan alasan seperti yang gue sebutin di postingan waktu itu.

Sumpah! Ini ultah gue yang paling keren! Paling kece! Paling semua-semua deh pokoknya.  “Sekelompok Orang” itu kan mendadak menghilang menjelang hari ulang tahun gue. Menjauhi gue tanpa alasan yang jelas. Yang biasanya gue heboh-hebohan di group Whatsapp dan Twitter kini minghilang. Sepi. Hampa. Garing  tanpa mereka. Meski  begitu, gue tetep positif thinking. Mungkin mereka sedang sibuk. Mungkin mereka ada kegiatan lain yang lebih penting. Oke, gue terima. Gue tungguin sampai siang tapi tetap saja tidak ada ucapan selamat ke gue. Padahal gue liat mereka online dan saling mention di Twitter. Gue lalu sengaja me-retweet semua ucapan selamat ultah ke gue dengan tujuan “Sekelompok Orang” itu melihatnya. WOOYYYY!!!! GUE ULANG TAHUN LOH HARI ENEH!!!! KOK PADA ADEM AYEM AJE!!!! Begitulah kira-kira makna tersirat dari retweet-retweet gue. Biar mereka sadar. Biar mereka ngeh. Ternyata nihil. Mereka sibuk balas-balasan mention dengan yang lain. *merana kontraksi*

Gue nggak sampai kehabisan ide. Hari udah sore, mereka tetap diam 69 bahasa. Gue sengaja membuat tweet-tweet profokatif agar mereka paling nggak lirik tweet gue. Sautin tweet gue gituh. Ternyata oh ternyata mereka masih cuek dan diam membisu 6969 bahasa. Oke. *merana bersalin*

Meski begitu gue nggak mau berburuk sangka. Gue nggak mau mikir macem-macem. Gue harus tetap berpikiran positif sama mereka *tarik napas*. Sampai detik-detik terakhir hari itu nggak ada satu pun ucapan dari mereka. Dengan pribadi yang maskulin gue tetep saja berpikir positif. Bisa saja kan ya mereka sibuk banget sampai lupa ultah gue. Ah, paling besok juga mereka nyapa gue. Gue yakin mereka nggak akan setega itu. Di otak gue, gue sulam kata-kata “TOO MUCH SU’UDZON WILL KILL YOU” dengan warna kuning berkilau gede banget lengkap dengan renda-renda lucu, imut dan menggemaskan yang seolah –olah memanggil untuk dicubit *serius ini lebay dan gaje*

Esoknya? Happy dong? Pasti Dong? ENGGAK!!!!! “Sekelompok Orang” itu makin cuek sama gue.

BETEK!!!!

BETEK!!!!!!!!

Ah, sudahlah bodo amat. Mau diinget kek. Mau nggak kek bodo amat!! Emang siapa gue cobak??? Sumpah nyesek SLI 008!!!

Sampai salah satu dari mereka secara tiba-tiba mention akun Twitter gue. “Hubungi H.Liem ASAP” gitu kira-kira mentionnya. Gue senyum. Gue ngerti akhirnya apa yang sebenarnya telah terjadi. Gue tersadar dengan sikap mereka belakangan tak lain hanya ingin ngerjain gue doang!!!! *tampar-tampar pisang* Tanpa gue hiraukan mentionnya gue buru-buru ke H. Liem. Gue ditelepon, gue diSMS, gue cuekin. Beberapa saat terbersit di benak gue yang tadi ada sulaman kata-kata berenda warna kuning untuk membalas mereka tapi gue urungkan niat itu. Gue udah cukup betek akibat ulah mereka. Otak gue udah lumayan runyam.

Dan apa yang gue terima benar-benar stoking!! Eh salah, benar-benar shocking!!!. Gue dikirimin banyak hadiah!! Gyaaa!!! *hugs diagonally* Ini benar-benar menyenangkan. Minggu paling menyenangkan. Bayangin aja gue ke Kantor Pos setiap hari untuk mengambil hadiah yang dikirim oleh “Sekelompok Orang” keren ituh!!  Everyday with surprise!! I can’t believe it!! So Excited!!!

Ditambah lagi, hadiah yang dikirim adalah benda-benda keramat. Rata-rata berwarna kuning. And they know very well I love yellow. Berasa liat apa gitu yak kok semua menguning gini. Lagian isinya benar-benar bukan hadiah biasa. Empetri berwarna kuning. Bisa musik? Ya iyalah. Tapi bukan musik biasa. Isinya adalah voice note ucapan selamat ulang tahun. Apalagi ada lagu special di dalamnya. *merona electric* Keren banget kan???? Berikutnya ada peralatan makan dan Novel dengan warna kuning yang sejak lama udah gue incer. Asli berasa emak-emak pas liat ada alat makan di dalamnya. *Shock Elastical*. Lalu ada penutup mata dengan gambar mata Spongebob lengkap memakai mascara. Awalnya gue pikir ini Jelly yang di nyot nyot dikenyot nyot..!!! Nyot nyot dikenyot nyot..!! eh bukan ternyata. Taunya buat relaksasi mata. *berbinar konstitusional*. Dua novel yang luar biasa keren hadiah berikutnya. Udah lama banget pengen punya novel THG apalagi pas udah ada filmnya eh taunya dapet sama Delirium *senyum supersonic*. Dan ini benar-benar gila. Hadiah berikutnya gue dapet sehelai handuk berwarna kuning!!! Konon katanya bisa nambahin kekuatan Supertowel—Supertowel adalah super hero tampan idola yang ngirim handuk–. Kurang gila apalagi cobak??? *ngakak RSJ*. Adalagi gue dapet Binder yang warna kuning. Lah kertasnya juga berwarna kuning. Dengan ini gue punya wadah buat nempelin semua alamat-alamat mereka dan Horcrux. Apa?? Horcrux???

Gambar

Yup. Seperti yang gue jelasin barusan. Hadiah-hadiah tersebut bukan hadiah biasa. Ada sebuah misi tersimpan di dalamnya. Masing-masing hadiah terdapat belahan-kepingan-pecahan-serpihan-bagian yang disebut Horcrux dimana gue dapet tugas buat ngumpulin semuanya lalu merangkainya menjadi sebuah benda utuh yang konon akan memunculkan kalimat magis berupa ramalan misterius yang bisa gue gunakan untuk menemukan harta karun dengan mendaki gunung lalu melewati lembah serta sungai menglair indah ke samudera bersama teman bertualang!!! HEYYY NINJA GOZARU!!!. Kurang keren apalagi cobak?????

Setelah perjuangan dan perjalanan panjang  melawan segala macam bentuk aral ritangan yang menghadang, akhirnya gue berhasil mengumpulkan Horcrux itu. Keren.

Gambar

Udah gitu aja?? Udah abis ya kejutannya??? Ck..ck..ck..ternyata belum habis. Ada lagi yang ngirimin gue sebuah video yang keren!!! Penulis keren itu  bahkan mengundang Agnes Monica dan Rihanna buat ngucapin ulang tahun ke gue!!! Hahahaha….!!! Cek aja disini kalo nggak percaya :p

Pada akhirnya gue Cuma bisa bilang terimakasih banyak kepada “Sekelompok Orang” keren itu. Kok bisa sih orang keren seperti mereka exis di dunia yang fana dan kejam ini?. Gue sempat berpikir, segitu kuatkah ikatan gue dengan mereka. Jujur, ketika gue nerima bingkisan dari Pak Pos kemudian mendengarkan voice note mereka, gue nggak sadar gue sampai menitikkan air mata. Oke, ini lebay tapi kenyataannya demikian. Gue sampai menangis. Ya, menangis dengan mata berkaca-kaca elastis. Gue sejenak nggak mampu berkata-kata mendengarkan dendangan mereka. Kok bisa?? Apakah ini mimpi??? *cubit pipi bibik tetangga sebelah* Bahkan mereka belum bertemu secara langsung dengan gue tapi perasaan yang mengikat gue dengan mereka terasa begitu kuat. Tak terlihat tapi sangat kuat. Kalian memang benar-benar keren *rangkulan hangat* Perasaan tadi gue ngomong keren mulu. Terserah. Blog-blog gue juga. Suk-suk gue dong woooooo!!!!

Di bawah ini gue umumin list pemenang #Amazing25Awards berdasarkan voice note yang masuk.

  1. The sexiest voice goes to @Aztee_Harahap asli suara lo cekcih *wink #Amazing25Awards
  2. Soft and warm voice goes to @ilynois kalo dengerin terus pasti tidurnya lelep banget :p #Amazing25Awards
  3. The voice of galau goes to @alifiapm ga di chat ga di vn bahas galau mulu. #Amazing25Awards
  4. The total voice goes to @rrezquitah jingle HBD-nya total bgt udah kayak audisi idol! #Amazing25Awards
  5. The childish voice goes to @zaidarjunior berasa dengerin anak TK. Yang terakhir ngomong apa sik? Hwaiting apa Hai pink?
  6. The cutest voice goes to @nisoo_ suaranya imuuut banget. Hihi.. #Amazing25Awards
  7. Next, the voice of religious goes to @RirizziriR dari awal sampai akhir nggak lupa salam. #Amazing25Awards
  8. The british voice goes to @AyyaAssagaf asli aksen britishnya bikin envy. Eh ya gw bukan lakinya Umbridge tapi anaknya woy! #Amazing25Awards
  9. The flat voice goes to @Yodhee asli ni bocah ngomongnya rataaaa dan datar persis kayak tipi tetangga sebelah 😐 #Amazing25Awards
  10. The customer service voice goes to @ndazhou beneran suaranya kayak temen kerja gw yg jd CS. #Amazing25Awards
  11. The kamtib voice goes to @raynsyam sumpah!!!! Pertama denger berasa kena razia. #Amazing25Awards
  12. The romantics voice goes to bebih @Yu_Liz entah kenapa suara jingle HBD-nya romentik bgt! *meleleh konstitusionL* #Amazing25Awards
  13. The craziest voice goes to @ChindiAfrinda mau di TL, RU, BBM omongannya semuanya gila. :p #Amazing25Awards
  14. The voice of buntut goes to @Nagince suaranya sih bagus tapi karena yang paling terakhir ya…gitu de :p #Amazing25Awards
  15. Dan Voice of the year 2012 goes to….. @Nagince lagu ciptaannya itu loh bikin berkaca-kaca, berlinang dan berurai air mata

NB:Keputusan juri tidak bisa diganggu gugat.

Sekali lagi gue ngucapin terimakasih buat “Sekelompok Orang” keren itu atas kejutan-kejutan dan bingkisan kerennya tapi sayang nggak ada bingkisan berupa Gelas, Piring, Mangkuk atau Payung cantik.

Takdir telah mempertemukan kita di dunia maya dan gue percaya bahwa takdir jugalah yang akan mempertemukan kita di dunia nyata suatu saat nanti. 🙂

Matur tampiasih nggih @nagince @Yu_Liz @raynsyam @Aztee_Harahap @ndazhou @PBG1111 @ChindiAfrinda  @FJrean @Ilynois @alifiapm @rrezquitah @zaidarjunior @nisoo_ @RirizziriR @AyyaAssagaf @Yodhee 🙂 🙂 🙂

The Power of Togetherness


Aku bingung dengan perasaan apa yang kemarin aku rasakan. Ada perasaan bahagia yang tak bisa aku deskripsikan. Duduk berhadap-hadapan dengan ibu membuatku bahagia sekali. Aku lalu bernyanyi di hadapannya sambil memijit-mijit lengannya yang gemuk. Ibuku sedang memasak nasi.

“Oh mama…hari ini mama cantik sekali..” dendangku malu-malu sambil tersenyum.

Ibu melirikku sambil tersenyum, “pasti ada maunya”.

Dan kami tertawa bersama.

Selepas shalat maghrib, makan malam telah siap. Beberapa lauk telah berjejer di lantai seolah memanggil ingin disantap. Tanpa kuminta, ibu telah mengambilkanku sepiring nasi hangat yang asapnya masih mengepul karena baru saja matang. Aku memulai suapan pertamaku saat ibu sedang asyik mengupas mangga. Beberapa saat kemudian ibuku memulai makan malamnya.

“ternyata makan bareng itu enak ya, bu?”

“ya itulah kebersamaan. Biar kata lauknya cuma sambel doang kalau kita makan bareng nikmatnya tak terkatakan. Ada semacam kekuatan yang muncul ketika kita duduk bersama menyantapnya. Ikatan tak kasat mata yang memepererat hubungan satu sama lain”. Ibu menjelaskan panjang lebar tanpa melihat ke arahku. Dia terlalu sibuk menikmati suapan-suapannya.

Sejenak aku berpikir bahwa ucapan ibu memang benar. Makan bersama terasa begitu spesial. Aku ingat ketika alu masih di bangku Sekolah Dasar, ibu memasak nasi dengan sebuah panci. Biasanya, di dasar panci tersisa kerak nasi yang biasa kami sebut “Empik”. Hanya sekumpulan nasi yang mengeras. Ibu lalu memanggilku dan teman-temanku yang sedang sibuk  bermain di samping rumah. Ibu mengepalnya setelah Empik tersebut di taburi garam. Nikmatnya tak terdeskripsikan. Aku ingat, kami saling memandang dengan tawa ceria menikmati Empik tersebut. Aku takkan merasa sebahagia ini jika menyantapnya seorang diri. The power of togetherness. Ikatan tak kasat mata menyatukan kami dalam suka.

Malam itu hujan deras. Dan yang mengejutkanku, setelah pulang dari menonton film Bollywood di rumah tetangga sebelah, aku tak mendapati ibu di teras. Sejenak aku melihat keadaah teras yang ternyata becek karena hujan. Hal ini biasa aku alami. Ada beberapa titik pada atap rumah mungilku yang kebocoran. Kali ini lokasi bocornya persis di atas teras yang merupakan tempat tidur ibuku. Aku melihat pintu kamarku terbuka. Didalamnya, ibuku telah meringkuk pulas di balik selimutnya yang tebal. Tak ada tempat lain, akupun langsung merebahkan diri di sampingnya. Aku berpikir, aku bahkan tak ingat kapan terakhir aku tidur dengan ibu. Hihi.

Hujan malam itu semakin deras. Bunyi tetesan air pada ember penalang bocor di teras mengiringi malamku yang dingin di samping ibu.

Ketika aku terbangun keesokan harinya, aku tak mendapati ibu di sampingku. Aku beranjak ke luar dan membuka pintu. Ah, dia sedang membuatkanku sarapan. Ia tersenyum. Aku juga ikut tersenyum.

“Good morning”.

Kebahagian itu justru muncul setelah kita mengucap syukur tapi sayangnya hal itu jarang kita sadari.

Try To Say I Love You


Aku memimpikannya. Gadis yang aku katakan sebagai cinta pertamaku itu. Sensasinya luar biasa. Beberapa bulan terakhir aku tak pernah bertemu. Biasanya aku bertemu tanpa sengaja ketika pulang dari tempat kerja. Dan kini ia hadir di dalam mimpiku. Ia terlihat begitu cantik di mimpiku. Faktanya ia memang selalu terlihat cantik di mataku. Haha.

Aku bertemu di sebuah sekolah. Entah itu sekolah apa dan dimana aku tak begitu mengingatnya. Kulitnya yang hitam manis, senyumnya yang khas, dan tubuhnya yang pendek tak ada yang berubah. Hanya saja model rambutnya terlihat lebih kekinian, lurus rebonding atau mungkin hanya pakai shampoo??? Entahlah.

Bahkan di dunia mimpi aku masih belum sanggup mengatakannya. Ah kenapa aku terlalu pengecut untuk sekedar mengatakan, “Hei, gue suka sama lo. Lo mau nggak jadi cewek gue?”.

Aku terlalu takut. Penolakan demi penolakan semacam menjadi mimpi buruk yang kini telah berevolusi phobia. Setiap hendak mengungkapkan rasa suka, ia mulai menghantui dan membayangi hari-hariku.

Aku tak tahu hal ini akan berlanjut sampai kapan. Yang jelas, memimpikannya menjadi sebuah anugerah. Berbicara dengannya dari jarak dekat membuat jantungkku berdebar makin kencang. Dan itu terasa luar biasa menyenangkan.

Adakah yang mau mengajariku bagaimana mengatakan, “Gue cinta sama lo”.

The Name Of Umbridge


Aku dikejutkan oleh sebuah kejadian yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya siang itu. Di siang hari yang panas aku menemukan sesosok manusia gemuk dan pendek berbaju pink yang ternyata adalah seorang perempuan. Ia begitu kotor. Mukanya penuh dengan warna hitam coreng moreng. Aku berusaha sekuat tenaga untuk memindahkannya dari tempat itu sampai menuju ke gubuk reotku. Namaku Riadun. Umurku baru saja menginjak 19 tahun. Aku hidup seorang diri tanpa tahu silsilah keluargaku. Yang aku tahu hanyalah namaku. Aku berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Tapi aku punya tempat yang paling sering aku tempati. Sebuah gubuk di pinggiran Hutan Terlarang. Kecil tapi begitu nyaman. Aku tak sempat bersekolah di Hogwarts. Karena suatu alasan yang aku tak mengerti ternyata aku memiliki kemampuan sihir hanya saja aku tak pernah mengasahnya. Pernah suatu ketika, saat ulang tahunku yang ke 11, entah kenapa lilin-lilin yang ada di sebuah toko di Diagon Alley menyala dengan sendirinya begitu aku melintas. Lilin-lilin itu tak bisa padam. Aku begitu ketakutan saat itu lalu melarikan diri. Aku tak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi sampai aku tahu ternyata aku memang memiliki kemampuan sihir.

Tapi semua telah terlambat. Umurku kini telah melewati batas sehingga tak bisa belajar di Hogwarts. Seharusnya di titik ini aku telah lulus dari sekolah sihir paling keren itu. Aku juga ingin bertemu langsung dengan Harry Potter. Anak laki-laki yang bertahan hidup.

Wanita itu terbangun. Matanya yang besar dan bundar sedikit menonjol beberapa kali berkedip. Ia tampak seperti Kodok dengan wajah yang lebar dan bergelambir. Kulitnya memang pucat. Itu terlihat jelas ketika aku selesai membersihkan wajahnya yang kotor.

“Ehem..ehem..dimana ini?” Mulutnya yang lebar dan kendur mulai bertanya. Suaranya nyaring dan kekanak-kanakkan. Ia menoleh ke arahku.

“Kamu siapa? Dimana mahkluk setengah Kuda itu? Aku begitu jijik dengan mereka”.

Aku hendak mendekatinya untuk menyuruhnya tenang.

“Tunggu! Siapa kamu? Kamu jangan macam-macam denganku. Asal tahu saja, aku adalah Dolores Umbridge. Kepala sekolah Hogwarts. Berani melangkah, kau akan berurusan dengan kementrian”.

Aku lalu menjelaskan semua kejadian yang menimpanya ketika ia tak sadarkan diri. Dan ini sangat keren. Ternyata dia adalah kepala sekolah Hogwarts. Suatu keberuntungan bisa bertemu orang hebat seperti Dolores Umbridge. Tapi, kemana Dumbledore? Apa yang terjadi sehingga posisinya diganti oleh wanita ini?

Ketik hendak menanyakan hal itu, Dolores Umbridge lalu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dari penuturannya, wanita ini terlihat begitu setia pada kementrian yang kini sedang dipimpin Cornelius Fudge. Entah kenapa, aku merasa begitu nyaman ketika berada di dekatnya. Apalagi setelah ia memutuskan untuk mengajariku sihir. Beberapa waktu yang lalu aku pergi ke toko Mr.Ollivander di Diagon Alley untuk membeli sebuah tongkat sihir setelah Mrs.Umbridge–aku kini diharuskan memanggilnya Mrs.Umbridge setelah sebelumnya aku memanggilnya Bibi–memberiku beberapa Galleon.

“Kayu Limau dengan inti bulu Unicorn, empat belas seperempat inci, dan sangat lentur cocok untukmu” kata Mr.Ollivander dengan tatapan kosong ke arahku ketika membeli tongkat sihir pertamaku.

Mrs.Umbridge begitu tegas dan disiplin dalam mendidikku. Ia memang kejam tapi aku menyukai itu. Paling tidak bisa menjadi cambuk untuk tetap fokus pada apa yang sedang aku kerjakan. Tak heran, tanganku penuh dengan luka-luka dari pena yang tintanya benar-benar meresapi kulitku setelah menerima hukuman darinya akibat lalai dari tugas yang ia berikan. Mrs. Umbridge juga menceritakan bagaimana ia menghukum Harry Potter dengan hukuman yang sama karena telah melakukan kebohongan besar dengan mengatakan Kau-Tahu-Siapa telah kembali. Aku pikir hukuman itu pantas diterima Harry Potter. Ia seharusnya tidak membuat kebohongan publik yang meresahkan seluruh dunia. Setelah mendengar hal ini, aku jadi kehilangan respect kepada Harry Potter. Ternyata ia tak sekeren seperti yang dikatakan orang-orang. Harry Potter tak ubahnya seorang pembual kelas kacangan yang mengandalkan ketenarannya untuk memengaruhi dan membohongi publik.

Selain itu, Mrs.Umbridge juga menceritakan kepadaku bahwa sebelumnya ia ditugaskan menjadi guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam tapi dengan misi terselubung yang ia susun dengan Cornelius Fudge, ia membuat berbagai macam perubahan. Cornelius Fudge begitu takut jika Dumbledore bertindak lalu menggulingkan posisinya di Kementerian.

“Mrs. Umbridge..”

“Ehem..ya..”

“Kalau ..misalnya aku masuk Hogwarts, kira-kira aku masuk asrama apa?” Tanyaku malu-malu.

“Slytherin, sudah pasti”. Jawab Mrs.Umbridge dengan suara nyaring.

Slytherin? Padahal aku berharap masuk Hufflepuff tapi itu tak jadi masalah. Aku pikir Slytherin adalah asrama yang tak kalah keren.

“STUPEFY!!!” lantangku sambil mengarahkan tongkat sihiku pada sebuah batu yang kini telah meledak dan berubah menjadi abu.

“ehem..kau begitu hebat menggunakan mantera ini” puji Mrs.Umbridge

Setelah itu pun mantera Stupefy menjadi mantera andalanku.

Di lain kesempatan Mrs. Umbridge mulai mengajariku bagaimana cara membuat Patronus. Pada awalnya aku begitu kesulitan sampai akhirnya aku tahu bagaimana cara membuatnya. Dengan memikirkan hal-hal yang sangat membahagiakan maka Patronus yang muncul akan makin sempurna.

“Expecto Patronum!” teriakku. Dari ujung tongkatku muncul sinar keperakan membentuk sebuah kreatur. Kreatur berbentuk ikan. Oh tidak, itu berbentuk manusia. Dan ternnyata bukan. Itu adalah bentuk dari Mermaid. Putri Duyung. Aku biasanya memikirkan bagaimana aku dididik oleh Mrs.Umbridge untuk menciptakan Patronus yang sempurna. Perasaanku ketika memikirkan hal ini begitu bahagia sehingga yang muncul pada akhrnya Patronus sempurna.

Pada akhirnya aku semakin dekat dengan Mrs.Umbridge. Aku merasakan ikatan yang kuat dengannya. Aku merasa bahwa ia adalah ibuku yang telah hilang. Apalagi setelah ia mengganti namaku dan memberikan namanya menjadi nama belakangku, Riadunezious Umbridge.

Di lain hari aku akhirnya memanggilnya dengan sebutan mom. Meski ia kejam, ia telah banyak melakukan hal untukku. Terimakasih mom Dolores Umbridge.

Riadunezious Jane Umbridge.

Wati:Kelabangwati (Edisi Special)


Gadis berkacamata tebal itu bernama Wati Parker. Gadis manis berponi yang ia sebut poni Maria Mercedes itu terkenal culun di sekolahnya. Meski culun, prestasi di sekolahnya sangat gemilang. Ia kerap mendapat juara pertama di setiap smester bahkan ia kini mendapatkan beasiswa dari sekolahnya.

Wati Parker seorang yatim piatu. Ia kini tinggal bersama paman dan bibinya, Bem dan Mei Parker. Meski beberapa orang yang ia cintai telah tiada Wati tak pernah merasa kesepian. Ia memiliki sahabat dekat yang kaya raya bernama Ningsih Osbron, gadis bertubuh gemuk pewaris tahta perusahan Orcrop yang terkenal.

Musim panas yang cerah dan panas telah tiba. Ya iyalah panas namanya saja musim panas sudah pasti suasana menjadi panas. Tapi kali ini perdebatan tentang musim panas akan dicukupkan sampai disini karena cerita tentang petualangan Wati akan dimulai dari sini.

Musim panas kali ini adalah musim panas paling panas dari musim dingin yang dilewati oleh Wati Parker dengan hati yang selalu berdebar tentunya. Sebentar lagi kelasnya akan mengadakan tur ke kebun binatang yang terletak di kota sebelah. Wati memiliki kemampuan fotografi yang keren dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya untuk itu ia di tugaskan sebagai pengambil gambar dalam tur tersebut.

Siang itu dengan memakai pakaian jadul milik bibi Mei ketika masih gadis. Baju berlengan panjang dengan motif bunga sepatu yang besar. Wati melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke sekolahnya. Sesekali ia merapikan posisi kacamatanya yang besar, bulat dan tebal dan sesekali pula ia merapikan poni Maria Mercedes-nya yang sesekali tertiup angin di jalan.

Wati Parker, siswi culun yang sering dibully oleh teman-temannya kini tiba di sekolahnya yang mewah dan megah. Ia memasuki halaman sekolahnya dengan berlari-lari kecil dramatis slow motion sambil mendekap buku pelajarannya yang tebal. Ia tak lupa memejamkan mata seraya terus berlari-lari kecil dramatis slow motion persis seperti drama-drama Korea yang sering ditontonnya.

BRUKK!!!

Wati menabrak seseorang.

Dan orang itu adalah Siti Tomson. Gadis cantik dari keluarga kaya yang sangat rajin membullynya di sekolah.

“Heh!! Kalo jalan liat-liat dong!!! Buta ya!!” Siti membentak Wati.

“Tapi aku kan lari-lari kecil.”

“Berani ngelawan gue ya, nih rasakan!” Siti hendak menampar Wati tapi seorang laki-laki tampan berambut merah secepat kilat menahan tangannya.

“Udah lah Sit, sebaiknya kita cabut dari sini.” Ajak lelaki berambut merah itu seraya merangkul Siti. Dan hal yang tak terduga terjadi. Lelaki berambut merah itu menoleh ke arah Wati dan tersenyum ke arahnya.

Wati seperti melayang ke udara menembus awan-awan seputih salju dan terus meluncur sampai langit ke tujuh hanya dengan melihat senyuman laki-laki berambut merah itu. Lelaki itu terkenal dengan nama UJ, Udin Jane Klakson. Dia adalah laki-laki yang sejak lama ditaksir oleh Wati. UJ adalah siswa populer di sekolahnya. Ia jago menyanyi dan akting. Beberapa alat musik ia kuasai. Orang tuanya memiliki perusahaan pembuat Klakson terbesar di kotanya. Yang kadang membuat dada Wati teriris adalah mengetahui kalau UJ dan Siti Tomson telah resmi berpacaran. Meski begitu ia tetap berharap suatu hari ia bisa berpacaran dengan UJ.

Suasana kebun binatang Gajah Kayang tak begitu ramai. Pengunjung hanya berasal dari sekolah Wati saja. Wati terlihat asyik sendiri memotret pemandangan yang ada di sekitar. Sesekali ia menjepret beberapa burung yang melintas di hadapannya. Salah seorang guide kebun binatang Gajah Kayang sedang asyik menjelaskan jenis-jenis hewan yang ada di tempat tersebut ketika Wati melihat UJ berdiri memandang seekor burung kakak tua. Jantung Wati berdebar kencang. Entah keberanian dari mana, ia mendekati Uj.

“Hei.” Sapa Wati.

“Oh, hei, kamu Wati Parker kan?”

“Ya, benar. Err.. Boleh aku mengambil gambarmu?” Wati mengangkat kameranya. “Itu kalau diizinkan. Err..untuk koran sekolah.” Wati terbata-bata.

“Tentu.” UJ berpose dengan gagahnya di samping burung kakak tua dan Wati dengan semangatnya menjepret UJ beberapa kali sampai Siti datang menjambak rambut Wati.

“Heh! Gatel lo ya, rayu-rayu cowok gue. Asal lo tahu ya UJ itu cowok gue. Ngerti!” Siti berlalu dengan cepat di hadapan Wati sambil merangkul UJ.

Wati kembali sibuk memotret-motret beberapa objek yang ada di sekitarnya. Penjelasan tur guide tentang laba-laba membuat Wati tertarik untuk mendekatinya.

“Jadi ini adalah jenis Laba-laba janda ungu yang sangat langka. Memiliki nama latin Violetus Widow dan hanya tersisa 69 ekor saja dan hanya terdapat di kebun binatang Gajah Kayang ini.”

“Tapi disini jumalahnya 68 ekor pak.” Sahut salah seorang siswa berambut lurus.

“Oh, mungkin yang seekor sedang ke toilet.” Semua siswa tertawa.

Dan ketika Wati hendak memotret lagi, sesuatu terjatuh ke salah satu tangannya. Dan mendadak terasa sakit. Sesuatu itu terasa seperti menggigitnya. Begitu Wati hendak melihat tangannya, tampak seekor Laba-Laba terjatuh dari tangannya. Wati tak mau peduli apapun itu yang pasti kini tangannya terlihat bengkak gara-gara gigitan Laba-Laba itu.

« Older entries