Cowok Ribet


Gue masih betek aja cuma gara-gara ulah seseorang ritme hidup gue jadi berantakan #eaaaaa yang awalnya berjalan sesuai rencana dan jadwal malah sekarang jadi nggak jelas. Semacam lo lagi nyusun kardus bekas mie instant menjulang ke atas kemudian ada yang menarik kardusnya di tengah-tengah pondasi, mau nggak mau susunannya jadi berantakan. Roboh. Ancur lebur. Menyebalkan.

Hampir satu bulan tapi masih belum terbiasa. Gue yakin pasti bisa kok cuma butuh waktu aja buat ngikutin ritme hidup gue yang baru.

BTW, gue kok lama-lama berasa kayak robot ya. Bangun tidur berangkat kerja. Pulang kerja langsung tidur. Begitu seterusnya. Nggak pernah ngalamin hal-hal luar biasa akhir-akhir ini. Padahal banyak hal-hal keren terjadi di sekitar gue tapi gue kok berasanya biasa aja dan nggak bisa menarik minat gue. Lempeng gitu aja. Gue berasa kayak jadi Pi di film Life of Pi, berasa di tengah lautan di atas sekoci tanpa tau arah tujuan ke mana. Ya ngikutin ombaknya ke mana aja membawa gue. Bedanya gue nggak sama harimau di dalam sekocinya. Nggak jelas. Meraba-raba. Melayang-layang. Mengawang-awang bak layang-layang di lautan seberang #eaaa #maksa

Apa guenya aja kali ya ngebawa idup terlalu serius? Apa perlu gue santai kayak di pantai lalu berlari ke hutan dan berteriak,

“PECAHKAN SAJA GELASNYA! BIAR RAMAI! BIAR MENGADUH SAMPAI GADUH!”

Tapi gue nggak mau. Sayang gelasnya. Nanti dimarahin mom Channets apalagi itu bonus dari sabun colek favoritnya.

Tapi ya emang tipikal gue juga sih. Beda-beda. Gue kalo lagi ngadepin sesuatu harus yang beneran fokus dan nggak boleh keganggu kalo nggak ya bisa berantakan. Gue bukan orang yang mampu ngadepin banyak hal dalam sekali eksyen. Yang ada gue nanti malah kolaps. Diibaratkan gue hape yang RAM-nya cuma 64 MB tapi dipaksa menjalankan puluhan aplikasi gede-gede dan berat ya jatohnya lemot. Kadang ngelag, sesekali freeze lalu not responding dan parahnya ngehang akhirnya mati total. Ew!

Itu kalo hape. Bedanya gue kan manusia. Gue harus lebih oke ketimbang hape. Masa iya kalah sama hape?

Iklan

Menangkap Senja di Pantai Senggigi


Beberapa hari yang lalu gue sempat yang excited banget karena gue diajakin temen buat explore salah satu pantai yang belum pernah gue datengin sama sekali. Namanya pantai Sungkun.

“Oh, my GOD!!! I’m so excited! Oh, my! I can’t feel my face!!!”

Meski gue lahir dan gede-gede di Lombok, honestly, gue masih banyak banget tempat-tempat yang belum gue kunjungin. Apalagi saat ini Lombok jadi pusat perhatian di mana orang-orang beramai-ramai mengunjungi Lombok dan gue masih sibuk dengan kerjaan gue.

Kendala utama gue saat ini adalah transportasi. Makanya gue lebih suka naik pick up ketimbang naik motor. Karena memang motor gue udah nggak bersahabat lagi, bentar-bentar mati di tengah jalan, kalau naik mobil pick up kan lebih asyik masih bisa tiduran dan ngobrol sama temen-temen sambil menyanyi-nyanyi dengan perasaan riang gembira.

Setelah fix dapet tebengan, gue tambah seneng dong. Beberapa minggu sebelumnya gue nggak bisa ikutan karena kendala motor dan nggak dapet tebengan. Nggak masalah juga sih. Gue mikirnya simpel. Ada tebengan gue ikut, nggak juga nggak masalah.

Malamnya gue kecewa banget. Orang yang gue tebengin tiba-tiba nggak bisa ikut karena ada pekerjaan mendadak. Syedihnya. Katanya nggak apa-apa? Ya nggak apa-apa tapi tetep aja kecewa padahal udah heboh sendiri update sana sini kalo besok bakal pergi jalan-jalan. Yoda deh kalo begitu.

Besoknya, gue guling-gulingan sendiri di rumah nggak tau mau ngapain kemudian muncul ide buat main ke pantai terdekat buat mengobati kekecewaan. Jadi deh pergi ke pantai Senggigi. Salah satu pantai paling terkenal di Lombok.

20160103_183354.jpg

Pantai yang terletak di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat ini emang nggak ada matinya. Dari jaman gue tau namanya pantai, gue udah kenal pantai Senggigi. Biasanya masa liburan sekolah atau sehabis lebaran gue biasanya ke pantai Senggigi. Kalo dulu lebih heboh, ke Senggigi bareng orang sekampung. Kalo sekarang udah jarang berame-rame mungkin karena udah punya kendaraan masing-masing kali ya.

20160103_180734.jpg

20160103_180817.jpg

Terus, apa yang ditawarkan oleh pantai Senggigi?

20160103_180907.jpg

Dari jaman nenek moyang, yang bakal kita liat di pantai ya paling sunset, berenang atau main pasir. Mancing juga oke tuh atau surfing bisa juga. Dong nggak mungkin lah lo ke pantai mau nyari bioskop?

20160103_180844.jpg

Semainstream-mainstreamnya ya pasti dong yang paling ditunggu adalah sunsetnya. Kita semua tau dong ya sunset itu pasti begitu-begitu aja tapi entah kenapa gue masih tetep suka ngeliat sunset. Sama kayak makan nasi, semua orang tahu rasa nasi itu seperti apa tapi toh tetep dimakan setiap hari. Hahahahaha apa deh analoginya gaje.

20160103_181901.jpg

20160103_181259.jpg

20160103_181435

“Tempat yang sama, pose yang sama dan suasananya pun sama tetapi aku yakin dari sekian kesamaan yang terlihat, masing-masing memiliki cerita yang berbeda”.

 

 

 

 

 

Stupid Thing Called Chance II


Memang ya kalo yang namanya belum rejeki itu mau susah payah kayak gimana, mau sekeras apapun usahanya pasti nggak bakal dapet. Cuma gue kadang suka nyesel. Kalo emang that thing not for me ya mending nggak usah mampir deh. Gue nggak usah tau biar nggak kecewa. Betek rasanya. Udah berusaha keras. Ngorbanin waktu dan biaya tapi hasilnya zonk!

Gue banyak banget ngikutin kesempatan-kesempatan yang dateng menghampiri. Ikut ini itu buat memperbaiki taraf hidup dan gue tau pasti kalo pun gagal at least gue udah nyoba ketimbang duduk diam terpaku sambil ngupil yang ada nanti gue nyesel kalo ngelewatin kesempatan itu dan at least lagi siapa tau gue berhasil. Hahahahaha.

Sampe detik ini, alhamduillah ya, suka masih ada juga kesempatan-kesempatan yang dateng menghampiri cuma masalahnya sekarang adalah umur. Ya. Umur. Bukannya masalah bisa atau nggak tapi emang umur gue nggak mendukung. Umur gue udah ketuaan. Rata-rata kesempatan yang sekarang dateng bermasalah dengan umur. Ngebetein nggak sih? Kalo kemaren rintangannya masalah pendidikan yang juga sangat gue sesali dan sekarang masalah umur.

Gue kadang mempertanyakan hal-hal itu ketika hidup orang-orang di sekitar gue mulai menuntut. Gue harus ini. Gue harus itu. Nyelesein ini. Nyelesein itu. Bla bla bla. Terus dulu, pas gue mau ini mau itu kalian kemana? Gue mau sekolah ini sekolah itu kalian ada di mana? Gue mau belajar ini belajar itu where the hell you at???

Gue ngebayangin kalo dulu misalnya gue punya pendidikan yang bagus, mungkin saja sekarang hidup gue bisa lebih baik. Maybe. Kesempatan-kesempatan yang kemaren dateng pasti bisa gue dapetin.

Gue kadang sakit hati. Menyesal. Gedeg. Jengkel ketika kenyataan nggak sesuai dengan harapan.

By the way, itu cuma gambaran pikiran gue doang. Bagaimana mungkin hal-hal tersebut bisa jadi nyata kalo ALLAH sendiri nggak menghendaki. Apa benar hidup gue bakal lebih baik dari sekarang cuma dengan punya pendidikan tinggi? Apakah dengan ngedapetin kesempatan-kesempatan itu gue bakal hidup bahagia? Bisa aja gue ngedapetin semua yang gue harepin tapi konsekuensinya hal-hal membahagiakan yang gue dapet selama ini menjadi hilang ato bahkan tidak pernah gue alami? Segala hal yang ada pada gue lenyap. Orang-orang yang gue temui beserta pengalaman-pengalaman berharga yang gue dapetin juga sirna?

Akan selalu ada timbal baliknya. Sama halnya ketika gue dihadapkan dengan jalan bercabang. Gue harus memilih salah satunya. Masing-masing jalan memiliki tantangan dan kesulitan sendiri-sendiri. Tergantung gue-nya aja bagaimana melewati jalan tersebut toh inti dari semuanya adalah mencari kebahagiaan.

Pada akhirnya kelebihan dan kekurangan memang nggak akan bisa dipisahkan karena unsur pembentuk kehidupan adalah kelebihan dan kekurangan itu sendiri.

Friendjones


Aku tidak mengerti perasaan apa sesungguhnya ini. Aku juga tidak tahu cinta itu ternyata bisa menyebabkan rasa sakit yang begitu dahsyat sehingga membuat ragaku menjadi tak karuan. Tapi tunggu dulu, aku bukannya tak pernah jatuh cinta sbelumnya. Beberapa kali dan memang tidak terlalu sering berikut patah hati tapi tak semenyakitkan ini. Ketika aku merasa telah menemukan “orangku satu-satunya” orang yang akan mengisi hari-hariku yang sepi namun ternyata tidak. Ketika aku menganggap bahwa dialah orangnya tapi ternyata dia tidak menganggapku sama sekali. Istilah kekiniannya adalah Friendzone. Toengggggg!!!

Lumayan menyebalkan. Tapi entahlah, apa aku cuma terlalu terbawa perasaan atau seperti kata teman-temanku, aku terlalu drama. Memang. Scorpio terkenal drama queen. Opps, drama king!

Dua hari, perasaanku tak menentu. Makan tak enak, tidur pun demikian. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati. Sulit menerima kenyataan bahwa kita-kami tak lebih dari teman. Aku mencoba cuek namun tak mampu. Malah makin terpikirkan. Menyebalkan!

Imbasnya, kesehatanku drop! Dua hari terakhir terbujur lemah tak berdaya.  Kata dokter tekanan darahku menurun sampai 60! Mengerikan! Aku tidak boleh terus begini. Aku harus kembali fit. Aku harus kembali bersemangat. Menghadapi berbagai macam aral rintangan yang menghadang di dunia yang fana ini.

Kalau boleh membandingkan, semenjak aku mulai rajin berolah raga, dua tahun terakhir aku tak pernah sakit. Tapi di tahun ini, sampai detik ini kesehatanku drop hingga dua kali!

Sepertinya sendiri dulu memang lebih baik.

Karena aku yakin dan percaya bahwa hari yang cerah dan indah telah menantiku.

Do You Think Of Me


Malam itu aku secara tidak sengaja menonton sebuah video musik dari Misha B yang berjudul Do You Think Of Me. Aku ingat lagu ini pernah menjadi Track Of The Week (lagu baru terpilih yang akan diputar selama seminggu penuh di jam-jam tertentu untuk memperkenalkannya kepada pendengar dengan harapan lagu tersebut berpotensi menjadi hits) di radio tempatku bersiaran. Lumayan bagus terutama liriknya menjadi “sesuatu” di sanubariku. Entah mengapa setiap menyanyikan lagu ini, aku tak kuasa menahan air mataku karena mengingatkanku tentang orang itu. Vision tentang gambaran wajahnya berkelebatan di depan mataku. Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang merindukan seseorang lalu berpikir apakah orang itu sedang memikirkannya atau tidak? Apakah orang itu rindu padanya atau tidak. Bahkan beat lagu ini begitu menghentak dan seolah mengajak berdansa tapi mengingat liriknya yang mendayu-dayu aku jadi berpikir meskipun aku bergoyang di lantai dansa, hatiku akan tetap merasa sakit. Beberapa kali aku mencoba menyanyikannya dengan perasaan bahagia tapi selalu terhenti di bagian chorusnya. Aku tak sanggup. Wajah orang itu terpampang di pelupuk mataku. Aku menangis. Biarkan saja orang menganggapku cengeng. Aku pikir menangis bukan masalah cengeng atau tidak. Menangis adalah hal yang manusiawi. Ketika kamu ingin menangis ya menangis saja. Lepaskan beban yang ada di pikiran dan hati kamu. Paling tidak hal itu bisa membuatmu sedikit lega.

I’ll leave the light on,
In case you come back, in case you come back.
I’m pinning my hopes on you
Gotta believe that, yes I believe that.
It’s been too long, I’ve tried to stay strong
But you’re a life away
Do you hear me calling your name, yeah?
 
 [Chorus:]
Every time the night falls down,
So do you wonder what I’m doing now
Do you think of me?
You didn’t mean to let me down
I just wonder what you’re doing now
Do you think of me?
At all (One heart, one love, one way)
At all (One heart, one love, one way)
Do you think of me?
 
I’m living by the telephone
You never call back
Why don’t you call back?
I’m crying waterfalls
Gotta believe that
Why won’t you come back?
It’s been too long,
And I’ll try to stay strong
But you’re a life away
Do you hear me calling your name, yeah?
 
[Chorus:]
Every time the night falls down,
Do you wonder what I’m doing now?
Do you think of me?
You didn’t mean to let me down
I just wonder what you’re doing now
Do you think of me?
At all (One heart, one love, one way)
At all (One heart, one love, one way)
Do you think of me?
 
I never told you you’re my
Somebody, everybody, somebody, everybody, somebody, everybody!
Want you to know that you’re my
Somebody, everybody, somebody, everybody, somebody, everybody!
Yeah, do you think of me?

[Chorus:]
Every time the night falls down,
So do you wonder what I’m doing now
Do you think of me?
Oh leave me, let me down
See, I just want to do it now
Do you think of me?
I say oh, oh, and oh, oh
Do you think of me oh, oh?

I never told you you’re my
Somebody, everybody, somebody, everybody, somebody, everybody!
I never told you you’re my
Somebody, everybody, somebody, everybody, somebody, everybody!
Do you think of me?

Apakah orang itu memikirkanku? Apakah orang itu saat ini memikirkan apa yang sedang kulakukan? Entahlah. Tapi aku tidak mau bohong. Aku sering memikirkannya. Aku sering bergumam, “Sedang apa ya dia?”

Ada yang bilang kepadaku, “Apapun yang terjadi, ikatanmu dengan orang itu tidak akan pernah terputus meski kalian tidak pernah bertemu. Ada ikatan batin yang tak bisa dilihat oleh mata telanjang dan itu hanya bisa kamu rasakan. Aku yakin meski orang itu tidak pernah menelpon atau mengirimimu SMS, dia pasti selalu memikirkanmu. Konon kalau kita ingin bertemu dengan orang yang sudah lama tidak pernah kita temui, tutup matamu dan pikirkan wajahnya. Dan ketika kamu membuka mata, kamu pasti bertemu denganya.”

Aku tidak terlalu percaya. Tapi aku diam-diam melakukannya. Hihi. Dan terbukti. Setiap kali aku memikirkan orang itu, aku pasti bertemu secara tidak sengaja. Aku tahu ini takdir karena aku tidak percaya dengan kebetulan. Mungkin inilah yang disebut ikatan itu. Ikatan batin yang tak terlihat oleh mata telanjang dan hanya bisa dirasakan.

Aku melihat sosok orang itu
Aku berlari mendekatinya
Memeluknya dengan erat
Menangis di pelukannya
Lalu bersujud
Dan mencium kedua kakinya
Memohon ampun
 
Hanya bayangan saja. Kenyataannya aku hanya mampu melihatnya dari kejauhan kemudian menangis lagi.
 
Do you think of me?
 

#GueEmangGituSih


Lo merasa jahat nggak sih ketika lo ngelaporin sebuah pelanggaran atau sebuah kejadian yang emang menyalahi aturan? Jadi inget jaman sekolah dulu, pas guru nggak ada di kelas, ada yang ribut namanya akan dicatat oleh orang yang ditunjuk guru sebagai tukang catat. Ada perasaan nggak enak banget kan ketika temen lo sendiri yang bikin kesalahan. Mau dicatat, kasian, temen soalnya. Nggak dicatat, dia udah bikin salah. Jadi dilema.

Gue soalnya tipe orang yang nggak suka banget ngeliat kecurangan atau ngeliat sesuatu yang nggak bener. Ingin rasanya cuek tapi dalem hati gue berontak. Ngapain lu diem aja? Udah laporin aja. Gue juga orangnya nggak tegaan. Gampang kasian sama orang even mereka pernah bikin salah sama gue. Gue juga takut banget dijudge sama orang. Entah sebagai tukang ngadu lah, tukang cari muka lah. Padahal gue nggak niat macem-macem. Gue cuma merasa nggak enak aja mereka melakukan hal-hal yang menurut gue nggak bener dan kalo gue pikir bisa lumayan mengancam perusahaan.

Sori-sori aja deh, gue emang kadang suka sebel sama atasan tapu kalo begitu caranya gue nggak suka. Bayangin aja, kita udah dipercaya buat kerja di perusahaan cuma karena beberapa kali dibikin sebel atasan bukan berarti harus menghianatinya.

Sekali lagi sori-sori aja men, kalo lo nemu tulisan ini, lo udah pasti tau siapa orang yang bikin semuanya kebongkar.

#GueEmangGituSih

Kenapa Sih Gue Kayak Gini?


Kenapa sih gue kayak gini? Kenapa sih gue kayak gini? Kenapa sih gue kayak gini? Kenapa?

Akankah gue pada akhirnya bakal tau, nemuin apa yang seharusnya gue lakuin?

Kadang gue ngerasa, bahwa gue bakal naynyiin sebuah lagu sepanjang hidup gue.

Terus, sekarang apa sih yang terjadi sama gue, hidup gue?

Oh,
Coba ada seseorang yang bisa ngejelasin ke gue.

Kenapa ini susah banget atau kenapa ini terjadi sama gue?

Oh,
Coba ada seseorang yang bisa bikin gue ngerti kenapa gue kayak gini?

Kenapa sih gue kayak gini?

Sekarang gue ngerasa harus ngelakuin ini kemudian gue harus ngelakuin itu.

Tapi, pada akhirnya gue nggak tau apa yang seharusnya gue lakuin?

Hari ini, gue ngerasa bener, besok, gue ngerasa salah.

Gue ngerasa bahwa hidup gue turun naik.

Haruskah gue berubah?

Oh,
Apa yang harus gue percaya, haruskah gue percaya?

Oh,
Haruskah gue berkembang, berubah?

Oh,
Gue nggak tau kalau gue ingin.

Oh,
Apa yang bakal terjadi sama gue, hidup gue, masa depan gue?

Gimana menurut lo?

Apa yang bakal terjadi sama gue, hidup gue, masa depan gue?

Akankah gue bakal tetap pakai cara yang sama? Haruskah gue berubah?

Kenapa sih gue kayak gini?

Gila.

It’s just the way I am.

The Chronicle of Narcissus


Heiii!!! Jumpa lagi. Kali ini mau ngepost cerita tentang asal mula istilah Narsis. Sebelumnya gue udah sering loh ceritain hal ini. Pernah juga gue post di Twitter dan sekarang gue pindahin ke blog aja. Kali aja waktu itu ada yang belum baca soalnya udah lama juga pasti kan kelelep sama postingan tweet-tweet gue yang gaje itu hahaha.

Asal mula istilah Narsis ini sebenarnya memiliki beberapa versi. Tapi berhubung ini blog gue ya pasti dong gue pake versi gue sendiri. Gue dapet cerita ini dulu jaman SMA gitu pas ada tugas dari guru Bahasa Indonesia buat bikin sebuah cerita atau saduran atau apalah gitu untuk kemudian dipresentasikan di depan kelas. Ya di depan kelas masa iya depan Bik Ijah. Gue iseng baca-baca koran bekas yang udah usang banget dan berdebu nemu di jalan pas mau pergi mandi ke sungai. Disitu gue nemu tulisan yang ngebahas tentang istilah narsis.

Pada tau kan narsis itu apa? Beberapa tahun belakangan kan emang istilah narsis sempat buming banget. Ngaca-ngaca dikit dibilang narsis. Poto-poto pake kamera hape tetangga sebelah dibilang narsis. Rapihin rambut dikit dibilang narsis tapi kok pas nyabut bulu idung sambil ngaca kok ngga dibilang narsis? Nah itu dia, setelah gue sempet gugling-gugling memesona di dunia maya gue banyak nemuin definisi narsis. Ya singkatnya narsis itu adalah sifat yang gemar memuji diri sendiri secara berlebihan. Suka akan diri sendiri. Suka banget liat poto-poto di pesbuk yang close up. Intinya seperti itu deh senang melihat diri sendiri.

Istilah Narsis pertama kali dipake dulu banget dlm sebuah psikologi sama Sigmund Freud yang ngambil dr tokoh dalam mitologi Yunani yaitu Narkissos atau Narcissus yang dikutuk untuk mencintai dirinya sendiri.

Untuk lebih jelasnya gue bakal ngedongengin deh yuk.

Lampu padam. Tirai terbuka. Penglihatan berputar-putar. Perlahan tapi makin lama makin cepat. Putar. Putar. Putaaaaaaaarrrrrr!!!! Nguiiiiingggggggggggggg….!!!!!!!

Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang gadis cantik yang tinggal dengan seorang ibu dan dua saudara tiri yang kejam…

“Perasaan itu Cinderella deh”

“Bawellll!!!”

Oke kita ulang. Jaman dulu banget. Dulu banget bangetan deh pas jaman masih banyak peri-peri dan dewa dewi beseliweran gitu ada seorang dewa sungai bernama Kefissos lagi pacaran sama seorang peri bernama Liriope-gue mikirnya ntar anaknya namanya Hexos aja kali yak trus jadi dewa pelega tenggorokan- mereka ni pacaran lama banget trus akhirnya nikah deh yeeyyy. Selamat ya buug *kiss* . Abis Kefissos sama Liriope ini nikah mereka dikaruniai seorang bayi! Bayi Cowok! Imut! Lucu! Ganteng! Keren! Oke! Pokoknya semua Teope begete dah ni bebi. Lalu mereka namain tu bayi-cowo-ganteng pake nama Narkissos atau Narcissus. Cieee namanya oke deh. Pas si Narcissus ni masih mini gitu di diramal sama seorang peramal bernama Teiresias. Doski bilang ni si Narcissus bakal berumur panjang asal dia nggak ngeliat dirinya sendiri. Kesian amat ya jaman dulu belum ada cermin kali.

Nah lambat laun kan Narcissus ini jadi gede. Dia makin cakep. Makin ganteng. Zayn Malik? lewaaaaat!!! Mark Feehily??? Nyemplung laut gih!! Chris Evans??? Tendang ke Segitiga Bermuda! Doski jadi incaran cewek-cewek cantik kala itu. Jadi semacam Primadona lah banyak banget yang suka sama doski. Ya tapi namanya orang cakep suka sombong dan jual mahal gitu. Mentang-mentang jadi incaran para gadis si Narcissus jual mahal. Dari semua cewek yang naksir nggak ada satupun yang diterima sama dia. Cakep-cakep geblek ih.

Sampe ada peri cewek bernama Echo/Ekho.

” Echo, echo, echo, echo Neoye moksori ga nal jakku gwerophijanha like a echo, echo..” *nyanyi Echo-nya SNSD*

Echo ini udah cinta mati banget sama Narcissus. Kemana aja doski pergi di ikutin aja. Ke gunung, ke hutan, ke lembah, kemana aja si Echo ngebuntutin Narcissus. Tapi kesian banget si Echo nggak diperatiin. Lalu akhirnya Echo beraniin diri buat nembak si Narcissus. Dia nyatain perasaan sukanya sama Narcissus tapi hasilnya? DITOLAK!!!. Echo sedih banget. Selain itu Echo juga idupnya kesepian. Si Echo kemudian berdoa nih dalam kesedihan atas penolakan cintanya itu. Dia lalu berlari ke hutan sambil menangis tapi nggak kepantai katanya takut dimarahin sama Cinta yang gelasnya pecah (?).

Doanya si Echo lalu didenger sama Dewi Nemesis. Saking gedeg-nya Dewi Nemesis ngutuk si Narcissus biar doski jatuh cinta sama dirinya sendiri. Buug jahat amat sih sama Narcissus kan kesian.

Dan kejadian juga. Pas Narcissus lagi asyik jalan gitu di tepi sungai dengan ketampanannya yang makin berkilau. Dia nggak sengaja ngeliat bayangannya terpantul di sungai yang jernih dan tenang itu. Doski kaget! Berdebar! Terperangah! Narcissus heran! Kok ada sih makhluk secakep, setampan, seganteng ini? Dia terpesona sama bayangannya sendiri. Dia terus liatin bayangannya sendiri di sungai itu. Saking terpesonanya Narcissus terpeleset dan jatoh di sungai itu. Dan sungainya dalem banget. Untung nggak ada Buaya, meski takdirnya bakal mati paling nggak kan dia nggak mati dikunyah Buaya. Narcissus kemudian tewas tenggelam karena terpesona sama kegantengannya sendiri. Benar benar tragisss!!! T_T

Mengetahui hal itu, Dewi Nemesis merasa nyesel banget udah ngutuk Narcissus. Makanya buug jadi orang jangan jahat-jahat amat kan kesian doski belum merit juga udah mati trus sekarang mpok Nemesis nyesel kan??? Buat nebus kesalahannya, Dewi Nemesis lalu ngubah jasad Narcissus jadi bunga yang konon bernama Bunga Narsis atau biasanya disebut Bunga Dafodil.

Bunga Narsis/Dafodil

Gue nggak pernah liat sih bunga yang namanya Bunga Narsis/Dafodil cuma sering liat di komik-komik gambar bunga ini.

Nah gitu deh cerita asal usul istilah narsis itu beasal. Wah berasa gue jadi pendongeng nih akakakak XDDDD

Nggak ada yang salah dengan Narsisme karena semua orang memilikinya sedari lahir. Intinya jangan berlebihan. Sebaik apapun sesuatu itu bila dilakukan secara berlebihan akan menjadi sesuatu yang tidak baik :).

END.

Karena Ku Sanggup


“Baby now let you go, now leave me alone”

“Broken heart, tell me apart”

“I don’t need ur mercy, ain’t again your lady”

“And this melody…”

“Did you hear it, let’s shout it again, take me back to reffrain”.

Disappear Me…


Aduh udah nggak ada semangat buat ngapain lagi. Keadaan udah makin memburuk. Masalah juga nggak kunjung selesai kerjaan gue makin nggak beres. Udah nggak tau gue mesti ngapain lagi. Gue udah cobain ngerapiin idup gue yang udah berasa kayak mau ancur aja tapi hasilnya nihil, gue tambah kacau. Ingin rasanya ngilang dari dunia ini. Atau lebih ekstrim gue ngapus ingatan orang tentang gue jadi pas gue ngilang nggak bakal yang ada yang ngerasa kehilangan atau bahkan sedih gara-gara gue nggak ada. Biar gitu, tanpa gue ngapus ingatan orang pun kalo gue ngilang emang nggak bakal ada orang yang nyariin gue apalagi bersedih. Karena gue nggak punya orang yang benar-benar sayang sama gue, benar-benar cinta sama gue, benar-benar nerima apa adanya gue. Tapi emang butuh keberanian super ekstra buat ngelakuinnya. Gue sampai detik ini pas gue nulis di blog gue yang unextraordinary ini gw masih dilema, antara melakukannya atau tidak. Perasaan kayak gini emang nggak ngenakin banget. Saat ini adalah saat dimana gue ngerasa benar-benar rapuh. Sedikit sentuhan saja bisa bikin gue ancur. Gairah idup gue udah semakin menipis bahkan hampir lenyap. Idup yang flat tanpa ada tonjolan sedikit saja yang membuat idup gue jadi seru. Kadang ada sih beberapa hal yang bikin gue semangat menjalani idup, tapi hanya sesaat. Kekuatannya terlalu minim buat nyemangatin gue. Kurang.

Katanya peri itu ada. Mana? Gue butuh seorang peri buat ngabulin permohonan gue. Tapi siapa bilang sih kalo peri itu ada? Gue terlalu banyak mengkhayal. Terlalu banyak menonton film. Tapi kalo emang peri itu ada gue ingin banget meminta sesuatu padanya. Gue bakal minta agar ingatan tentang gue pada semua orang di dunia ini dihapus. Biar nggak ada satu orang pun di dunia ini kenal sama gue. Ya gue pikir sia-sia saja sih inget sama gue, kenal sama gue, tahu gue tapi nggak dipeduliin kan. Atau kalau bisa gue aja yang dihapus. Gue minta sama peri itu untuk kembali ke masa lalu dan bikin Ibu sama Ayah gue nggak pernah ketemu dengan begitu gue pasti akan menghilang dan gue pun nggak akan ngalamin berbagai macem kejadian menyakitkan. Kedengarannya sangat menyenangkan

Please disappear me…

« Older entries